
Mobil pribadi yang ditumpangi Bryan dan Vesha pun telah tiba di restoran D. Dimana Sagara ternyata juga baru saja tiba di restoran tersebut. Bahkan mereka pun bertemu di parkiran. Seulas senyum dengan mata berbinar cerah menghiasi wajah Vesha. Rasanya ia sangat senang saat melihat Sagara, Vesha pun segera keluar setelah Bryan membuka pintu mobil.
Vesha bergegas menghampiri Sagara, dan membuat Bryan tercengang melihat kelakuan sang istri.
"Gara," panggil Vesha seraya berjalan cepat menghampiri Sagara.
Sagara pun tersenyum dan segera melepas helmnya. Lalu ia pun turun dan segera menghampiri Vesha. Namun mendadak tubuhnya menjadi kaku saat tiba-tiba Vesha memeluknya. Sagara langsung melihat ke arah Bryan yang sedang berdiri dengan tatapan yang sulit diartikan.
"S-Sha," Sagara mendadak gugup.
Jujur saja saat ini ia pun merasa tidak enak dengan Bryan. Karena tiba-tiba saja Vesha memeluknya, Sagara sangat takut kalau setelah ini Bryan akan marah dengan Vesha dan bertindak kasar dengan wanita itu. Sagara juga tidak ingin karena dirinya lah rumah tangga Vesha hancur. Sagara mencoba melepaskan pelukan Vesha, namun wanita itu malah mengeratkan pelukannya.
Sagara pun menatap kembali Bryan dan minta pertolongan pria itu. Bryan menghela nafasnya sambil memejamkan matanya. Ia pun akhirnya menghampiri Vesha dan Sagara. Bryan menyentuh pundak sang istri.
"Sayang," bisik Bryan seakan mencoba menyadarkan Vesha.
Vesha pun menoleh dan menatap sendu pada Bryan. Bryan paham dengan tatapan itu, dan mau tidak mau ia harus mengikhlaskan istrinya memeluk pria lain.
Bryan menatap Sagara. "Biarkan saja. Ini kemauan anak kami," ucap Bryan.
Sagara nampak terkejut dengan mulut menganga mendengar ucapan Bryan.
"A-anak," beo Sagara.
Bryan mengangguk dengan ekspresi wajah tidak sukanya. "Vesha sedang hamil dan mungkin memelukmu adalah salah satu dari ngidamnya," ujar Bryan yang nampak memendam rasa cemburunya.
Sagara menghela nafasnya, bagaimanapun juga ia harus menghargai Bryan sebagai suami Vesha. Walau dalam hatinya sangat senang mengetahui Vesha ingin dekat dengannya saat sedang hamil.
Vesha mendongakkan kepalanya menatap Sagara yang masih bergeming.
"Kenapa kamu tidak membalas pelukanku, Ga?" protes Vesha.
Sagara terkejut mendengar pertanyaan Vesha, rasa takut akan Bryan cemburu dan sakit hati pun kembali menghantui. Sagara melirik Bryan sekilas, pria itu semakin terkejut saat melihat Bryan menganggukkan kepalanya.
"Sial, kenapa aku berada dalam posisi seperti ini. Kenapa juga Vesha mengidam yang aneh-aneh. Sha, kamu benar-benar membuatku tersiksa karena degup jantungku berdetak kencang saat dekat denganmu seperti ini," gerutu Sagara dalam hatinya.
Sagara tersenyum kaku, dan ragu-ragu ia akhirnya membalas pelukan Vesha. Membuat wanita itu kembali memeluk Sagara dan tersenyum senang, karena keinginannya terwujud.
"Makasih ya, Ga. Akhirnya aku bisa peluk kamu," ujar Vesha disela pelukannya.
"I-iya," jawab Sagara gugup dan gelisah.
Bryan membuang pandangannya ke arah lain. Tangannya terkepal kuat menahan gejolak rasa marah, kesal bercampur rasa cemburu menjadi satu. Mulutnya bisa berucap ikhlas, namun hatinya kenapa sangat sulit menerima istrinya mengidam memeluk pria lain.
Sagara menyadari kalau Bryan sedang cemburu pun akhirnya menyudahi pelukannya pada Vesha.
"Eum, Sha. Sebaiknya kita masuk, ya! Nanti jam istirahatku keburu habis. Aku juga sudah lapar," ujar Sagara menyadarkan Vesha.
Vesha pun melepaskan pelukannya dan mengangguk. "Ayo, aku juga sudah lapar!" ajak Vesha.
Sagara kembali tertegun saat Vesha langsung menarik tangannya dan meninggalkan Bryan yang masih berdiri pasrah. Sagara semakin tidak enak dengan Bryan.
Sagara pun berhenti, membuat Vesha ikut berhenti.
"Kok, berhenti?" tanya Vesha dengan ekspresi wajah bingung.
__ADS_1
Sagara menunjuk Bryan. "Suamimu diajak juga, Sha. Bagaimanapun juga Bryan itu suamimu," jawab Bryan.
Vesha pun menoleh ke arah Bryan yang masih berdiri. Ia pun tersenyum.
"Sayang, ayo!" teriak Vesha sambil melambaikan tangannya.
Bryan menghela nafasnya kembali dan tersenyum paksa. Bryan mengangguk lemah. Dengan langkah berat, Bryan pun menghampiri Vesha dan Sagara. Vesha tersenyum dan kembali menarik tangan Sagara, mereka berjalan terlebih dahulu. Membiarkan Bryan mengikuti mereka.
"Sabar Bryan… sabar…!" gumamnya pelan saat melihat Vesha dan Sagara sudah masuk ke dalam restoran.
Mereka langsung masuk ke dalam ruangan yang sudah direservasi oleh Bryan. Lagi-lagi Bryan harus menekan rasa cemburunya saat melihat Vesha duduk di sebelah Sagara.
Saat makanan tiba, dengan begitu telaten Sagara membantu Vesha. Bahkan pria itu menyuapi wanita itu, tentu saja itu atas permintaan Vesha bukan keinginan Sagara. Rasa lapar menghilang begitu saja pada Bryan, rasanya sudah begitu kenyang.
"Aku ke toilet dulu," ucap Vesha.
Saat Vesha keluar dari ruangan tersebut. Sagara dapat bernafas lega, ia pun menatap Bryan yang sedang menatap dirinya.
"Bryan, aku sungguh minta maaf padamu. A-aku .."
Bryan langsung memotong ucapan Sagara. "Tenang saja, aku juga tahu kalau itu keinginan Vesha yang sedang mengidam. Aku izinkan kamu dekat dengan istriku di hari ini saja. Lewat dari itu, aku sangat tidak mengizinkannya," ucap Bryan.
"Aku tidak ingin melihat Vesha menangis karena diriku. Maka dari itu apapun yang Vesha inginkan, aku akan tetap mewujudkannya selama aku masih bernafas. Sedikit lebay memang, tapi itulah aku. Karena aku sangat mencintainya," sambung Bryan.
Sagara tertegun mendengar ucapan Bryan. Tidak salah ia melepaskan wanita yang masih dicintai pada Bryan. Bryan pria yang baik, dan mungkin sangat baik.
"Walau kamu merasakan sakit hati dan menahan cemburu seperti saat ini?" tanya Sagara.
Bryan tersenyum miring dan mengangguk. "Ya, asalkan wanitaku bahagia. Akan aku lakukan apapun itu," jawab Bryan.
Bryan kembali tersenyum miring sambil mengangkat kedua bahunya. "Ya, begitulah aku jika sudah mencintai seseorang." Jawab Bryan.
Sagara menggelengkan kepalanya sambil terkekeh. Ia baru mengetahui kalau seorang Bryan bisa sebucin itu pada wanita yang sangat ia cintai.
"Kau benar-benar pria gila cinta, Bryan. Aku bahkan hampir tidak percaya kalau kau akan bersikap bucin seperti ini," cetus Sagara yang masih terkekeh melihat tingkah Bryan.
"Tapi Vesha layak mendapatkan perlakuan seperti itu. Selepas apa yang pernah ia rasakan dahulu. Sakit hati dan terluka akibat pengkhianatan," jawab sinis Bryan.
Sagara berdecak saat menyadari Bryan sedang menyindirnya. "Ck, tidak bisakah kau tidak mengungkit masa lalu. Aku sudah menyadari akan kesalahan ku, bahkan aku juga sudah minta maaf pada Vesha." Keluh Sagara.
Bryan menaikkan satu alisnya. "Aku tidak mengungkit. Aku hanya sedang mengingat saja," ketus Bryan.
Sagara menghela nafasnya. "Itu sama saja, Bryan." keluh Sagara.
Bryan tersenyum smirk. "Ya, memang sama saja. Apakah kamu sangat menyesal melepaskan Vesha?" pancing Bryan.
Sagara menautkan kedua alisnya. "Kenapa kau membahas ini lagi, Bryan. Apa yang kamu mau dariku?" tanya balik Sagara.
"Cih, bukannya menjawab malah balik bertanya. " Celetuk Bryan.
Sagara menghela nafasnya, ia pun memilih menahan rasa kesalnya pada Bryan.
"Oke, aku akan menjawabnya. Iya, aku menyesal dan sangat menyesal melepaskan Vesha. Puas kamu?" ucap Sagara dengan rahang yang mulai mengeras karena menahan kekesalannya.
Bryan tersenyum smirk. "Aku harap setelah penyesalan itu, kau tidak mengulanginya lagi. Jika ada gadis yang mencintaimu, aku harap kamu dapat menjaga hatinya. Jangan pernah melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya,"
__ADS_1
Sagara akan hendak menjawab kembali ucapan Sagara. Namun tiba-tiba saja Vesha sudah datang dari toilet. Bryan pun melirik jam tangannya. Saat Vesha baru saja duduk, Sagara menoleh dan tersenyum pada wanita itu.
"Sepertinya waktu jam makan siangmu akan habis, Gara." Cetus Bryan.
Sagara pun melirik jam tangannya, benar saja. 15 menit lagi dirinya harus sudah berada di kantor. Sagara pun menoleh ke arah Vesha.
"Aku harus segera kembali ke kantor, Sha. Terimakasih karena sudah mentraktirku makan siang," ucap Sagara.
Vesha nampak kecewa, namun bagaimanapun juga ia harus merelakannya. Mengingat Sagara bekerja dengan perusahaan orang lain. Bukan seperti suaminya yang memang seorang pemimpin perusahaan.
"Padahal aku masih ingin berbincang-bincang denganmu. Masih banyak yang ingin aku sampaikan," keluh Vesha.
"Kan bisa via WhatsApp atau telepon, sayang!" usul Bryan.
Vesha aha melirik sekilas kearah suaminya. "Rasanya tidak puas. Karena ini menyangkut seseorang," ucap Vesha pelan dan masih dapat didengar Bryan maupun Sagara.
Sagara mengerutkan dahinya. "Siapa, Sha?" tanya Sagara.
Vesha menatap Sagara dengan tatapan yang sulit diartikan. Vesha masih bergeming, wanita itu malah bersikap santai dan membuat Sagara sedikit gelisah.
"Sha, ayolah! Katakan siapa yang kamu maksud?" tanya Sagara yang tidak sabaran.
Vesha tersenyum tipis. "Aku hanya ingin menanyakan hubunganmu dengan Aruna," jawab Vesha.
Bryan yang duduk di seberang Sagara dan Vesha hanya diam dan mendengarkan apa yang ingin istrinya itu tanyakan. Sementara Sagara mengerutkan dahinya, ia heran apa yang sebenarnya ingin Vesha tanyakan. Kenapa membawa nama Aruna dan tunggu, kenapa Vesha bertanya hubungan Sagara dengan Aruna.
"Apa maksud kamu, Sha? Aku tidak mengerti," tanya Sagara.
Bryan menggaruk keningnya yang tidak gatal. Sementara itu Vesha hanya menghela nafasnya.
"Bagaimana hubunganmu dengan Aruna?" tanya Vesha kembali.
Dahi Sagara kembali berkerut. "Aku dan Aruna tidak ada hubungan apapun, Sha. Kami hanya berteman saja," jawab Sagara.
"Oh, ya?" tanya Vesha yang ragu akan jawaban Sagara.
Sagara pun mengangguk yakin. "Aku serius, Sha. Aku dan Aruna hanya berteman saja," Sagara kembali meyakinkan Vesha.
"Tapi aku merasa kalau Aruna mulai mencintaimu, Ga." ucap Vesha.
Sagara terkejut mendengar ucapan Vesha. "Tidak mungkin, Sha. Aruna mana mungkin mencintaiku," jawab Sagara sambil terkekeh.
"Dia mencintaimu, Ga!" celetuk Vesha dengan santai sambil minum jus buah pesanannya.
Sagara kembali terkejut mendengar ucapan Vesha. Namun Sagara menggelengkan kepalanya dan masih terkekeh.
"Kamu ada-ada saja, Sha. Kamu tahu kan selera Aruna itu seperti apa? Dan aku bukan tipe nya," celetuk Sagara.
Vesha mengangguk. "Ya, memang selera Aruna sangat tinggi. Tapi itu dulu, kalau sekarang ia sudah merubahnya. Ia menyukai dan mencintaimu apa adanya, Ga." Jawab Vesha.
Sagara hampir saja tersedak air liurnya mendengar jawaban Vesha. Bryan membantu Sagara untuk minum airnya.
"Terimakasih," ujar Sagara pada Bryan.
Bryan mengangguk dan hanya berdehem. Vesha mengulum senyumnya, ia tahu kalau Sagara juga memiliki perasaan yang sama seperti Aruna. Namun sayangnya pria itu masih belum menyadarinya.
__ADS_1