CINTA GAVESHA

CINTA GAVESHA
Permintaan Maaf Sagara


__ADS_3

Vesha yang sejak tadi hanya menyimak, masih diam dan belum menjawab pertanyaan Sagara. Walau sebenarnya lidahnya sangat ingin berucap. Vesha menghela nafasnya sambil membasahi bibirnya yang kering.


Apa yang dilakukan Vesha tidak luput dari perhatian Sagara. Apalagi saat Vesha bermain di bibirnya, seketika bayangan antara dirinya dengan Aurel saat berciuman kemarin kembali melintas. Membuat Sagara kembali memikirkan gadis itu.


Sagara menggeleng kuat sambil memukul pelan kepalanya. Vesha yang melihat itu pun mengerutkan alisnya, gadis itu pun memicingkan matanya menata Sagara yang masih memukul pelan kepalanya.


"Kamu kenapa, Ga?" tanya Vesha


Sagara menghentikan aksinya saat mendengar suara lembut dari Vesha. Ia pun menoleh dan melihat gadis di sebelahnya sedang menatap dirinya dengan tatapan bingung dan juga heran.


Sagara memasang wajah bingung saat mendengar Vesha memanggilnya. Pria itu terlihat menggelengkan kepalanya kembali.


"Ah, tidak apa-apa. Maaf!" jawab Sagara.


Vesha yang masih tercengang pun hanya mengangguk pelan. Gadis itu sedikit berdehem guna menetralkan kegugupan yang ada.


"Aku memaafkanmu," ucap Vesha.


Sagara langsung menoleh dan menatap Vesha. Namun gadis itu nampak menundukkan wajahnya. Sagara tersenyum karena sangat senang permintaan maafnya diterima oleh Vesha.


"Terima kasih, Sha."


Tanpa sadar Sagara langsung memeluk Vesha, dan membuat tubuh gadis itu membeku. Vesha sangat terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Sagara.


Vesha masih terlihat gugup, walau pelukan dari Sagara telah terlepas. Vesha tersenyum kaku dan terlihat salah tingkah. Sagara menyadari atas tindakannya yang memeluk Vesha secara tiba-tiba. Pria itu juga menjadi salah tingkah.


"Maaf!" ucap Sagara


Vesha mengangguk dengan menundukkan kepalanya. "Iya, tidak apa-apa," jawab Vesha.


Sagara mengangguk. "Eum, Sha. Jadi, sekarang kita masih bisa berteman kayak dulu kan?" tanya pria itu.


"Maksud aku, aku dan kamu tidak mungkin bisa kembali bersama. Karena kamu tahu kan, kalau aku sudah bersama Aurel," sambung Sagara


Vesha terdiam, entah kenapa ada rasa nyeri dalam dirinya. Bolehkan ia berharap kalau Sagara kembali mengajaknya untuk menjalin kasih dan memperbaiki hubungan mereka dari awal? Namun sepertinya itu hanyalah keinginan dari sebelah pihak. Bukan dari dua belah pihak.


Ia sadar kalau cinta Sagara bukan untuk dirinya, namun untuk Aurel seorang. Akan tetapi tidak dapat dipungkiri kalau dalam hati kecil Vesha sangat berharap bisa kembali bersama Sagara.


Vesha tersenyum getir seraya mengangguk pelan. "Ya, kita teman. Kamu tenang saja, aku tahu posisiku saat ini," jawabnya sambil tertawa hambar.


"Maaf, Sha. Bukan maksud aku untuk…"


Vesha langsung menatap Sagara dan memotong ucapan pria itu. "It's ok, Ga. Aku tidak apa-apa kalau kita tetap akan berteman," ucap Vesha seraya tersenyum tipis.


Sagara yang merasa tidak enak pun hanya bisa menganggukkan kepalanya. Vesha kembali menatap lurus ke arah depan, sesekali gadis itu nampak menghela nafas gusarnya.


"Sha," panggil Sagara.


Vesha langsung menoleh. "Iya,"


"Eum, kenapa kamu memotong rambutmu?" tanya Sagara lagi.


Vesha menyentuh rambut sebahunya. "Oh, ini. Karena aku bukan kekasihmu lagi," jawab Vesha sambil tertawa hambar.


Sagara tertegun mendengar jawaban Vesha, namun ia pun ikut tertawa hambar. Sagara merasa sangat bersalah dengan gadis di sebelahnya. Akan tetapi, hatinya tidak bisa dibohongi kalau dirinya tidak mencintai Vesha. Dihati Sagara hanya ada nama Aurel, bukan Vesha. Itu yang selalu ada dibenak Sagara.

__ADS_1


"Sebaiknya kita kembali ke depan. Tidak enak membuat orang tua kita menunggu lama," usul Vesha dan menyadarkan Sagara dari lamunannya.


Sagara yang mendengar Vesha berkata begitu terlihat merubah ekspresinya seakan tidak rela harus menyudahi obrolan mereka. Namun berbeda dengan Vesha, sungguh berlama-lama dekat dengan Sagara membuat hatinya tidak baik-baik saja. Rasa gugup dengan debaran jantung yang kencang membuat otak Vesha tidak dapat bekerja dengan baik.


"Ah, iya. Sebaiknya kita temui orang tua kita," jawab Sagara yang pasrah, walau kenyataannya ia tidak terima kalau waktu berdua dengan Vesha hanya sebentar saja.


Sagara terpaksa menuruti keinginan Vesha, walau dalam hatinya masih sangat ingin ngobrol bersama Vesha. Mereka berdua kembali ke ruang tamu, dimana kedua orang tua mereka sedang terlibat obrolan santai.


Adam dan yang lainnya menoleh bersamaan saat menyadari kedatangan Vesha dan Sagara. Mereka semua pun tersenyum menyambut kedatangan anak-anak mereka.


"Sudah?" tanya Darel.


Vesha dan Sagara saling melirik dan mengangguk bersamaan.


"Sudah, Yah."


"Sudah, Om."


Jawab keduanya secara bersamaan. Darel pun tersenyum dan dapat bernafas lega, karena masalah yang mereka hadapi telah selesai. Hubungan kedua keluarga pun semakin membaik.


Adam dan Vita mengajak Darel, Safira dan Sagara untuk makan siang bersama. Mengingat jam makan siang sudah terlewat setengah jam yang lalu. Tanpa terasa mereka berbincang cukup lama.


Kini mereka semua sudah berkumpul di meja makan. Vesha memilih duduk diantara Safira dan Vita. Sesekali ia tersenyum malu saat kedua orang tuanya dan Darel menggoda dirinya. Tanpa sadar Sagara tersenyum melihat wajah Vesha yang menurutnya sangat menggemaskan saat gadis itu tersipu malu.


*


Pagi menjelang, semua orang kembali memulai aktivitas mereka masing-masing. Begitupun juga dengan Vesha, sepert biasa gadis itu sudah sibuk bersiap diri untuk memulai aktivitasnya kembali untuk pergi ke kampus.


Disaat sedang sibuk merapikan beberapa buku yang dimasukkan ke dalam tasnya, ponselnya pun berdering. Sebuah pesan masuk dari Sagara mengalihkan fokusnya pada buku tersebut. Seulas senyum terbit di wajah gadis itu saat membaca deretan huruf dari pesan Sagara.


✉️


Pesan dari Sagara membuat hati Vesha berbunga-bunga, tentu saja itu membuat gadis itu semakin bersemangat untuk pergi ke kampus. Vesha segera membalas pesan dari pria yang masih dicintainya.


📨


("Boleh, kamu jemput aku sekarang saja! Aku sudah siap,")


✉️


("Ok, tunggu aku!")


Vesha masih terus tersenyum, ia pun bergegas kembali merapikan buku dan setelah selesai ia pun segera keluar kamar. Adam sempat menawarkan Vesha untuk bareng, namun gadis itu menolaknya. Akhirnya Adam hanya mengantar sang istri ke butiknya saja, dan meninggalkan Vesha sendirian di deoan teras.


Selang 20 menit, Vesha menunggu Sagara di depan teras rumahnya. Namun selama itu belum juga Sagara menampakkan batang hidungnya. Helaan nafas berat dihembuskan Vesha yang sesekali melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Dahinya berkerut karena hampir setengah jam Sagara belum datang, padahal rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah Vesha.


"Gara jadi jemput nggak sih? Kok lama banget," keluhnya pelan.


Karena terlalu lama menunggu Sagara datang menjemput, akhirnya Vesha memberanikan diri untuk menghubungi pria itu. Hampir tiga kali Vesha menghubungi pria itu, namun tidak pernah dijawab oleh Sagara.


Beberapa detik berlalu, ponsel Vesha bergetar tanda sebuah pesan WhatsApp masuk. Vesha memejamkan matanya sejenak sambil menghela nafasnya dalam-dalam. Gadis itu terlihat seakan mencoba menahan rasa kesalnya setelah membaca pesan dari Sagara.


Bagaimana Vesha tidak kesal dengan pria itu. Tanpa berdosa Sagara meminta Vesha untuk berangkat ke kampus sendiri saja, ia tidak bisa menjemput Vesha di rumah karena Aurel memintanya untuk dibawakan sarapan, karena gadis itu sedang tidak enak badan.


Vesha kembali menghela nafasnya sambil berdiri. Dengan perasaan kesal bercampur dongkol dalam hatinya, gadis itu berjalan meninggalkan rumahnya. Dia harus mengejar waktu, karena sedikit lagi jam perkuliahan akan segera dimulai.

__ADS_1


Vesha langsung memesan ojek online, bahkan gadis itu sedikit berlari saat keluar dari perumahan tempat tinggalnya. Sedikit lagi ia akan tiba di halte bus, Vesha sengaja mematokkan posisinya di halte bus karena untuk mempermudah si driver ojek onlinenya.


Tidak menunggu lama, ojek yang dipesannya pun telah tiba. Vesha segera naik ke atas motor ojek tersebut setelah memakai helm.


Setibanya di kampus, Vesha berlari untuk mengejar waktu agar tidak terlambat masuk kelas. Ternyata bukan hanya dirinya yang sedikit terlambat datang ke kampus, Vesha melihat Sagara yang juga sedang berlari dari arah parkir motor. Mereka pun berpapasan.


"Kamu terlambat juga?" tanya Sagara dengan nafas terengah.


Vesha hanya mengangguk. "Iya," jawabnya singkat.


Sagara yang mendengar jawaban Vesha hanya ala kadarnya pun meminta maaf pada gadis itu.


"Maaf, ya! Gara-gara aku ke apartemen Aurel, kamu jadi telat begini." kata Sagara.


Vesha pun menoleh. "Tidak apa! aku tidak terlalu mempermasalahkannya, karena ku bukan siapa-siapa kamu," jawab Vesha.


Sagara hanya diam, ia tahu kalau Vesha masih kesal dengan dirinya. Lebih baik Sagara diam dan tidak ingin membuat Vesha bertambah kesal dengan dirinya. Namun berbeda dengan Vesha, ia lebih memilih menghindari obrolan panjang oleh Sagara, mengingat waktu mereka sangat mepet untuk masuk ke kelas.


Setibanya di kelas mereka berdua sangat beruntung, karena dosennya belum masuk ke ruangan. Keduanya pun dapat bernafas lega, mereka masuk bersamaan dan menjadi pusat perhatian murid lainnya yang berada di ruangan tersebut.


Terutama ketiga kura-kura ninja yang menatap Vesha dan Sagara dengan tatapan penuh pertanyaan dan curiga. Vesha tidak peduli dengan tatapan semua orang, ia langsung duduk di vangku kosong yang ada di belakang. Sedangkan Sagara langsung duduk di dekat Langit yang ada di tengah.


Langit memicingkan matanya sambil mendekatkan tubuhnya dengan menggeser bangkunya.


"Ga, kenapa kamu bisa datang bersamaan dengan Vesha? Apakah kalian sudah berbaikan, dan kembali berpacaran?" tanya Langit dengan suara terdengar seperti sebuah bisikan.


Sagara pun menoleh. "Tidak! aku tidak bareng sama dia. Mungkin memang sedang kebetulan saja," jawab Sagara


Langit hanya ber oh ria saja, lalu ia sedikit menoleh ke arah Vesha yang ada di bangku paling belakang. Vesha pun sempat melihat tatapan Langit.


Vesha menaikkan satu alisnya seakan sedang bertanya ada apa pada Langit. Namun Langit hanya membalasnya dengan senyuman saja, tentu itu membuat Vesha menautkan kedua alisnya dan menatap heran pada pria itu.


"Aneh," gumam Vesha.


Waktu terus berlalu, jam perkuliahan pun telah usai. Namun Vesha, Sagara dan Chandra masih harus tetap berada di kampus untuk menemui dosen pembimbing mereka dalam menyelesaikan skripsi ketiganya. Begitupun juga dengan Marvin dan Langit yang juga sedang menghadap dosen pembimbing mereka.


Setelah ketiganya sudah selesai dengan pembimbingan. Ketiganya pun berjalan beriringan keluar dari kampus.


"Sha, kamu pulang bareng aku saja." kata Sagara.


Chandra melirik sekilas. "Bukannya kamu sudah janji akan menemani Aurel di apartemennya?" celetuk Chandra.


Sagara terdiam. "Itu.."


"Vesha pulang sama aku. Sebaiknya kamu temanmu kekasihmu yang sedang sakit," Chandra kembali berceletuk sambil menarik tangan Vesha dengan perlahan.


Vesha tertegun saat tiba-tiba Chandra menarik tangannya. Sagara terlihat kesal saat melakukan hat dengan lancangnya Chandra menarik tangan Vesha. Dengan cepat Chandra membawa Vesha ke parkiran. Kini mereka telah tiba di parkiran, Sagara berlari menyusul dan langsung sedikit menarik Vesha untuk mendekat dengan dirinya.


"Aku antar kamu dulu, setelahnya aku temui Aurel. Kamu pulang sama aku saja, ya!" ucap Sagara pada Vesha.


Baru saja gadis itu akan menjawab, namun dengan cepat Chandra kembali berceletuk.


"Sudahlah, Ga. Daripada kamu bolak balik seperti itu, sebaiknya Vesha sama aku saja. Kamu lebih baik langsung temui kekasihmu itu. Jangan sampai di tengah jalan Aurel menelponmu dan membuat menuruni Vesha di pinggir jalan. Seperti beberapa bulan yang lalu," ketus Chandra.


Vesha dan Sagara terdiam, terutama Vesha yang mengingat akan kejadian yang lalu dimana dirinya diturunkan di dekat halte bus. Vesha menghela nafasnya dan menatap Sagara.

__ADS_1


"Maaf, Ga. Aku tidak ingin membuat Aurel salah paham denganku, dan tidak ingin merusak hubungan kalian. Yang dikatakan Chandra benar, sebaiknya kamu segera temui Aurel. Apalagi saat ini dia sedang sakit. Dia lebih membutuhkanmu, Ga." ungkap Vesha.


Sagara sedikit merasakan tidak nyaman dan malu setelah gadis itu berkata demikian. Sagara hanya diam dan masih berdiri merenungi kesalahannya dulu. Sedangkan Vesha sudah menaiki motor Chandra dan meninggalkan Sagara sendirian. Chandra tersenyum menyeringai penuh kemenangan saat Vesha memilih dirinya untuk mengantarkannya pulang.


__ADS_2