
Vesha terbangun karena mencium aroma masakan. Dahinya mengernyit saat mendengar suara gaduh di bagian dapur. Begitupun juga dengan Shena yang ikut bangun, sambil mengucek matanya.
"Apa Papa sedang masak?" tanya Shena dengan suara khas bangun tidurnya.
Vesha mengangkat kedua bahunya. "Mungkin saja," jawab Vesha.
Shena memicingkan matanya. "Jika beneran itu Papa yang sedang masak, itu artinya kita adalah anak durhaka." celetuk Shena.
Vesha langsung menatap tajam ke arah Shena. "Sebaiknya aku keluar," jawab Vesha.
"Mmm, ya memang sebaiknya begitu. Aku mau lanjut tidur lagi. Nanti bangunkan aku jam 10," pinta Shena.
Vesha hanya mendengus kesal mendengar ucapan sahabatnya itu. Bukannya ikut bangun malah lanjut tidur. Vesha pun berlalu begitu saja ke kamar mandi untuk mandi sebelum ia benar-benar keluar kamar.
Setelah 20 menit berlalu, Vesha pun sudah keluar dari dalam kamar mandi. Gadis itu segera memakai pakaiannya dan menggulung rambutnya dengan handuk kecil.
Kini Vesha mengenakan pakaian celana pendek dan kaos putih, ia keluar kamar sambil mengeringkan rambutnya. Pergerakan Vesha terhenti saat melihat sang papa baru saja keluar dari dalam kamar.
Dahi Vesha berkerut. "Papa baru bangun?" tanya Vesha dengan tatapan bingung.
Adam menaikkan satu alisnya. "Baru bangun dua kali," jawab Adam yang semakin membuat Vesha bingung.
"Tadi habis sholat Subuh Papa tidur lagi, karena badan Papa sedang merasa tidak enak." ucap Adam yang memahami kebingungan dalam diri Vesha.
Vesha hanya ber oh ria saja. Lalu ia mendengar kembali suara gaduh dari arah dapur.
Vesha menatap ke arah Adam, namun pria itu malah berjalan terlebih dahulu menuju dapur. Vesha pun mengikuti Adam ke dapur, setibanya disana kedua matanya melotot sempurna saat melihat sosok yang begitu familiar sedang tersenyum sambil memasukkan makanan ke dalam wadah.
"Selamat pagi, maaf aku membuat kegaduhan di pagi hari dan maaf juga karena sudah lancang menggunakan dapurnya," ucap Bryan dengan menampilkan senyum canggungnya.
Adam melirik sekilas ke arah Vesha, lalu ia kembali menatap datar ke arah Bryan. Adam menghela nafasnya saat melihat beberapa menu sarapan pagi ini.
"Kau memasak ini semua?" tanya Adam.
Bryan mengangguk. "Iya, Om. Aku sengaja memasak lebih untuk Tante Vita. Saya ingin bertemu dengan Neneknya Vesha," jawab Bryan.
Vesha yang masih tercengang dengan kedatangan Bryan pun menoleh ke arah Adam yang juga sedang menatap ke arahnya.
"Semalam dia datang sangat larut dan mengganggu waktu istirahat Papa. Sebaiknya kamu sarapan terlebih dahulu sebelum menghadapi bocah ini," ucap Adam seraya melirik tajam ke arah Bryan.
Bryan hanya mengulum senyumnya menanggapi ucapan Adam, pria itu pun melirik ke arah Vesha. Tatapan mereka saling mengunci, Vesha langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain dan memilih ikut duduk di sebelah Adam.
"Shena belum bangun?" tanya Adam
"Belum, Pa. Dia minta dibangunkan jam 10 nanti," jawab Vesha.
"Hmm, nanti juga dia bangun saat perutnya lapar," ujar Adam.
Vesha mengangguk, memang benar apa yang dikatakan Adam. Shena pasti akan bangun saat perutnya akan keroncongan. Vesha melihat nasi goreng seafood kesukaannya. Matanya pun bersinar cerah, ia pun segera mengambil sendok, namun dengan cepat Bryan membantu mengambilkan nasi goreng itu untuk Vesha.
__ADS_1
Vesha tertegun dengan sikap berani Bryan saat ada di depan Adam. Bryan hanya tersenyum melihat wajah Vesha yang begitu menggemaskan.
"Terima kasih," ucap Vesha.
"Sama-sama," jawab Bryan yang masih terus memperhatikan wajah Vesha.
Jujur saja ia sangat merindukan gadis itu. Saat melihat Vesha datang bersama Adam, saat itu juga Bryan sangat ingin memeluknya. Namun diurungkan karena ada Adam di sebelah Vesha. Bryan harus bisa menahan rasa itu sampai ada kesempatan untuk memeluk Vesha.
Bryan sejak tadi hanya terus memperhatikan wajah Vesha. Sedangkan Vesha sendiri hanya cuek dan terus makan, walau ia tahu kalau saat ini Bryan sedang memperhatikannya. Adam pun berdehem pelan, dan membuat Bryan mengerjapkan matanya.
"Fokuslah pada makananmu, Tuan Bryan. Jika kau sudah selesai, saya akan izinkan kau bicara dengan putriku," sindir Adam tanpa melihat ke arah Bryan.
Bryan menelan salivanya dengan kasar. Lalu ia mempercepat makannya, agar segera berbicara pada Vesha. Vesha hanya melirik ke arah sang papa. Bibirnya pun tertutup rapat, dan merutuki sang papa di dalam hatinya.
"Kenapa Papa malah mengizinkan aku bicara sama Bryan sih? Rasanya aku ingin kabur saja dari sini," gumam Vesha dalam hatinya.
Vesha memilih tidak menghabiskan makanannya. "Aku sudah selesai! Papa mau ke rumah sakit hari ini?" tanya Vesha seraya berdiri sambil membawa piring kotornya.
Bryan yang melihat Vesha sudah selesai pun segera menghabiskan makanannya. Adam pun juga sudah selesai dengan sarapannya.
"Hmm, Papa akan kesana pagi ini juga. Sekalian membawakan sarapan untuk Mama kamu," jawab Adam.
"Boleh saya ikut, Om? Sekalian saya ingin menjenguk Nenek," tanya Bryan.
Adam menaikkan satu alisnya, dan sedikit melirik Vesha yang sedang mencuci piring.
Bryan pun tersenyum. "Terima kasih, Om!" ucapnya.
"Hmm," jawab Adam.
Adam pun kembali ke kamarnya, sementara itu Bryan memanfaatkan kesempatan itu untuk berbicara dengan Vesha. Bryan tersenyum melihat Vesha sedang mencuci piring. Dengan cepat ia pun berjalan menghampiri dan berdiri tepat di belakang Vesha.
"Sayang," ucap Bryan seraya memeluk Vesha dari belakang.
Vesha sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Bryan. Dengan cepat ia mematikan keran air dan melepaskan dirinya dari pelukan Bryan.
"Apa-apaan sih, kamu ini?" Vesha bertanya dengan nada kesal.
"Sayang, kenapa kamu seperti ini? Apakah kamu tidak merindukan aku, hmm?" tanya balik Bryan pada Vesha.
Bryan pun mulai mendekati Vesha kembali, namun dengan cepat gadis itu mencegahnya.
Vesha mengangkat satu tangannya. "Stop!" pinta Vesha.
Bryan menatap kecewa pada Vesha. "Ada apa sayang? Kenapa kamu sepertinya tidak suka dengan kedatanganku, apakah aku punya salah padamu?"
Vesha bergeming, jujur saja ada rasa rindu dalam dirinya. Bahkan sangat rindu terhadap Bryan, namun Vesha sadar diri siapa dirinya. Bahkan ia sudah berjanji pada Naura untuk tidak masuk ke dalam kehidupan Bryan lagi.
"Kamu tidak memiliki kesalahan apapun padaku, Bryan. Tetapi kedua orang tuamu dan adikmu telah membuat aku tersinggung karena sikap mereka," jawab Vesha yang tentu hanya diucapkan di dalam hatinya.
__ADS_1
Vesha menggelengkan kepalanya. "Aku mohon padamu, Bryan. Pulanglah! Aku tidak ingin ada masalah dengan keluargamu. Aku tidak ingin Nyonya Naura tahu kalau kau ada di sini dan sedang bersamaku," jawab Vesha.
"Tolong jangan ganggu hidupku. Saat ini aku hanya ingin kedamaian," sambung Vesha terdengar begitu lirih.
Bryan menatap nanar pada gadis yang sangat ia cintai. Sampai seperti ini kah rasa sakit yang ditorehkan oleh Naura terhadap gadis yang sangat Bryan cintai? Bahkan Vesha sampai berkata seperti itu, dan memohon pada Bryan untuk tidak mengganggunya lagi.
Bryan kembali mendekat ke arah Vesha dan berhasil meraih tangan gadis itu.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskanmu sayang. Kau adalah milik Bryan Heinzee, dan tidak akan ada satupun orang pun yang bisa memisahkan kita berdua. Kecuali maut yang memisahkan," kata Bryan.
"Sayang, aku sangat minta maaf atas apa yang keluargaku lakukan kepadamu. Aku akui keluargaku tidak bersikap baik terhadapmu, terutama Mommy. Jujur aku sangat menyesal atas kejadian itu, seandainya waktu itu aku tidak pergi ke Paris. Mungkin semuanya tidak akan seperti ini," ucap Bryan.
Dahi Vesha berkerut. "Kau sudah tahu?" tanya Vesha.
Bryan menganggukkan kepalanya. "Daddy dan Gricella memberitahukannya padaku," jawab Bryan.
Dahi Vesha semakin berkerut. "Gricella?" beo Vesha.
"Iya, dia telah memberitahukan semuanya yang telah dilakukan oleh Mommy terhadapmu. Sayang, maafkan aku yang tidak ada di saat kau tertekan oleh perlakuan Mommy. Sungguh aku sangat menyesal karena telah meninggalkan kamu saat itu," lirih Bryan seraya menggenggam kedua tangan Vesha.
Vesha bergeming, ia tidak bisa berkata apapun. Disini Vesha sangat menyayangkan, kenapa bukan keluarga Bryan yang meminta maaf padanya. Tetapi kenapa harus Bryan yang meminta maaf atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
Bryan menghela nafasnya sebelum ia kembali melanjutkan ucapannya.
"Kamu tahu, Sha?"
"Aku tidak tahu!" jawab ketus Vesha.
Bryan tersenyum. "Menggemaskan sekali calon istriku ini saat sedang jutek seperti ini," Bryan menoel hidung Vesha.
Namun segera ditepis oleh gadis itu. "Apa-apaan sih?" Vesha kembali berucap ketus pada Bryan.
Bryan tetap tersenyum menanggapi keketusan Vesha. Sedangkan Vesha hanya menunduk dan berusaha menyembunyikan kegugupannya di depan Bryan. Tanpa aba-aba dari Bryan, tiba-tiba saja pria itu menarik tubuh Vesha kedalam pelukannya.
Vesha cukup terkejut mendapatkan pergerakan mendadak dari Bryan. Tangannya sudah mulai mencoba menyingkirkan tubuh pria itu. Vesha terus memberontak di dalam pelukan Bryan. Namun sayangnya tenaga Vesha tidak seimbang dengan tenaga Bryan.
"Diamlah sayang! Jangan bergerak terus, biarkan seperti ini sebentar saja. Aku sangat merindukanmu," ujar Bryan dengan suara bergetar.
Vesha pun menghentikan pergerakannya. Ia pun merasakan hal yang sama seperti Bryan. Vesha juga sangat merindukan pria itu, Vesha juga sangat merindukan pelukan dari Bryan. Rasanya terasa nyaman bagi tubuh Vesha yang terbilang sangat mungil.
"Kau benar-benar sudah membuat aku gila, Sha. Tolong jangan pernah pergi lagi dari hidupku. Percayalah padaku, aku akan tetap mempertahankan dirimu untuk selalu ada di sisiku," ucap Bryan.
Tanpa disadari kedua mata mereka saat ini sudah mulai berembun. Vesha pun membalas pelukan Bryan, dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu.
"Aku takut, Bryan. Aku takut Mommy kamu akan terus berusaha memisahkan kita. Kau tahu sendiri 'kan Mommy kamu sangat tidak menyukaiku," lirih Vesha.
Bryan mengeratkan pelukannya dan mengecup puncak kepala Vesha. "Maka dari itu aku datang kesini dan menyampaikan pesan Mommy," bisik Bryan.
Vesha menautkan kedua alisnya. "Pesan apa?"
__ADS_1