CINTA GAVESHA

CINTA GAVESHA
Kecemburuan Aurel


__ADS_3

Sagara duduk sendirian di balkon lantai 2 dekat kamarnya. Sambil menghisap sebatang rokok, Sagara sangat menikmati kesendiriannya malam ini. Walaupun Saga nyaman dengan posisi itu, namun tidak dengan pikirannya. Pikiran pria itu saat ini sedang bertarung.


Sagara terus mengingat kejadian demi kejadian saat dirinya bersama Vesha dan juga Aurel. Semakin lama hubungannya dengan Aurel, Sagara semakin tahu banyak sekali perbedaan diantara Aurel dan Vesha.


Helaan nafas gusarnya keluar bersamaan dengan asap rokok yang dikeluarkannya dari mulut dan hidungnya. Sagara mematikan rokoknya dan kembali menatap lurus ke arah depan.


Sagara meraih ponselnya, dan membuka galeri dalam ponselnya tersebut. Seulas senyum terbit di wajahnya saat melihat deretan foto Vesha dan bersama ketiga sahabatnya. Disana Vesha tersenyum dan tertawa begitu tulus. Saat itu juga Sagara tersadar, kalau Vesha yang dulu sangat berbeda dengan Vesha yang sekarang.


Seketika Sagara tersadar kalau senyum Vesha tidak seperti dulu karena ulahnya sendiri. Sagara mengenal Vesha cukup lama, ia tahu kalau gadis itu akan bersikap dingin ketika hatinya telah dihancurkan oleh seseorang.


"Kamu benar-benar bodoh, Ga."


Sagara memukul pelan kepalanya, ia benar-benar merasa bodoh karena telah melakukan kesalahan besar. Secara tidak langsung dirinyalah orang yang membuat senyum Vesha menghilang.


"Maafin aku, Sha!"


Sagara kembali bergumam pelan. Pria itu mengusap wajahnya sambil menyugar rambutnya kebelakang. Sagara menatap langit malam ini yang hanya terlihat bulan sabit dengan dua bintang disana. Pikirannya masih terus tertuju pada Vesha, itupun tanpa disadari oleh Sagara. Untuk sesaat pria itu seakan melupakan siapa kekasihnya yang sebenarnya.


Ditempat lain, seorang gadis juga sedang duduk sendirian sambil menatap langit malam ini seperti apa yang sedang Sagara lakukan. Gadis cantik itu tersenyum lebar saat melihat salah satu bintang memancarkan kilaunya. Namun pancaran matanya terlihat begitu nanar.


"Aku merindukanmu, Ga. Aku sangat ingin memelukmu," gumam gadis itu.


Bulir bening keluar begitu saja dari bola mata indahnya yang bulat dengan bulu mata lentiknya. Gadis itu mengusap kasar air matanya saat menyadari ada suara langkah kaki dari dalam.


"Vesha," panggil orang itu.


Gadis itu pun menoleh dan tersenyum. "Mama," jawab Vesha.


Vita tersenyum melihat putrinya, ia pun berjalan menghampiri dan duduk di sebelah Vesha.


"Lagi melamunkan apa?" tanya Vita seakan menggoda putrinya.


Vesha hanya tersenyum malu. "Apa sih, ma. Aku cuma lagi pengen ngadem saja di sini," jawab Vesha.


Vita tersenyum menggoda sambil menyenggol lengan putrinya dengan lengannya.


"Lagi mikirin cowok yang tadi nganterin kamu, ya?" goda Vita.


Vesha langsung menatap sang mama yang sedang memainkan kedua alisnya. "Nggak, Ma. Untuk apa aku mikirin Chandra,"


"Oh, namanya Chandra. Dia juga ganteng, nggak kalah sama si Saga," ucap Vita yang masih terus menggoda Vesha.


"Ya Allah, Mah. Mama kenapa sih? Apa jangan-jangan Mama mau selingkuh dari Papa terus cari brondong seperti Chandra?"


Kini Vita tergelak mendengar pertanyaan Vesha. Keduanya tertawa terbahak-bahak, sambil menggelengkan kepalanya.


"Kamu ini, kalau Papa dengar bagaimana? bisa-bisa Mama terus dikawal Papa kemanapun Mama pergi," jawab Vita sambil tertawa.


Vesha tertawa. "Bagus dong, Ma. Itu tandanya Papa semakin cinta sama Mama," ucap Vesha.

__ADS_1


Vita sedikit mendengus sambil tersenyum miring. "Cinta sih cinta, tapi kadang Papa kamu itu over protektif banget. Kadang Mama sampai risih atas sikap Papa kamu itu," keluh Vita.


"Itu namanya bucin akut," goda Vesha pada sang mama.


Mereka kembali tertawa, dan malam ini keduanya saling bercerita. Vita menceritakan kisah pertemuan antara dirinya dengan Adam. Vesha terharu dengan kisah cinta kedua orang tuanya. Bahkan Vesha juga tidak menyangka kalau kedua orang tuanya mengalami cinta yang sangat rumit. Cinta segitiga diantara Adam, Safira dan Darel.


"Tapi pemenang hati Papa tetap Mama," ucap Vesha.


Vita tersenyum lebar. "Iya, kamu sangat benar. Karena Mama cinta pertamanya Papa," jawab Vita saat sekilas bayangan masa lalu kembali melintas dalam pikirannya.


Vita memang cinta pertama Adam, memang benar kalau cinta lama akan mengalahkan segalanya. Bahkan cinta yang baru pun akan kalah dengan cinta yang telah lama tersimpan dalam hati.


Suara deheman mengalihkan perhatian kedua perempuan beda generasi itu. Senyum kedua perempuan itu melebar saat melihat kedatangan orang yang sedang mereka bicarakan.


"Serius sekali, apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Adam yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.


Adam berjalan menghampiri keduanya. Vita dan Vesha tersenyum menyambut kedatangan pria yang mereka cintai.


"Hanya membicarakan urusan perempuan," jawab Vita seraya mdongenggeser tubuhnya agar Adam bisa duduk disebelahnya.


Adam menaikkan satu alisnya. "Bagi-bagi dong, siapa tahu Papa semakin paham dengan urusan perempuan," ucap Adam seraya memainkan kedua alisnya.


Vita mendelikkan matanya menatap suaminya. "Terus biar Papa gampang dekat dengan perempuan lain gitu?" selidik Vita dengan mata memicing.


Adam tersadar dengan ucapannya. "Eh, nggak gitu Ma. Maksud Papa biar Papa semakin paham dengan kalian berdua. Perempuan yang hanya selalu ada didalam hati dan pikiran Papa," jawab Adam yang sudah salah tingkah.


"Wajah Papa lucu kalau sedang panik," ucap Vesha menggoda Adam.


Adam pun tertawa. "Anak ini," Adam mengacak rambut sang putri dengan penuh kasih sayang.


*


Dua Minggu berlalu, Vesha dan teman-temannya telah disibukkan dengan ujian dan pembuatan skripsi pembelajaran mereka di akhir tahun ini. Hubungan Vesha dengan Sagara akhir-akhir ini terlihat baik-baik saja. Mereka tetap saling tegur sapa, dan sedikit berbincang walau hanya sebentar saja. Masih terlihat jelas oleh Sagara, kalau Vesha selalu menjaga jarak antara dirinya dengan pria itu


Tanpa disadari Sagara, kalau ketiga sahabatnya lebih dekat dengan Vesha ketibang dirinya. Namun tidak dengan Aurel, kedekatan antara Sagara dan ketiga sahabatnya itu yang sangat dekat dengan Vesha, membuat Aurel kesal dan cemburu. Terkadang tanpa diketahui Sagara, Aurel sering melihat Sagara berbincang dengan Vesha. Seperti saat ini, Aurel sangat kesal saat hendak menyusul Sagara dikelasnya.


Aurel melihat Sagara sedang berbincang dengan Vesha di depan kelas mereka. Aurel pun langsung menghampiri keduanya dengan perasaan kesal bercampur cemburu.


"Kak Saga," panggil Aurel dengan nada terdengar seperti sebuah bentakan.


Sagara dan Vesha yang sedang berbincang sambil tertawa kecil, sempat terkejut melihat kedatangan Aurel. Sagara sempat melirik ke arah Vesha yang ternyata sedang memasang wajah datar dan dingin mengarah ke arah Aurel. Seakan ingin menghindar dan menjauhi Aurel Vesha segera menoleh ke arah Sagara.


"Maaf, aku duluan." ucap Vesha dan dibalas anggukan oleh Sagara.


Vesha tersenyum tipis dan segera melangkahkan kakinya meninggalkan keduanya.


"Permisi!" ucap Vesha yang berlalu begitu saja melewati Aurel.


Aurel yang sudah sangat kesal pun mencoba berbalik badan dan menarik pundak Vesha, agar gadis itu berbalik menghadapnya.

__ADS_1


Vesha menatap Aurel dengan tatapan dingin. "Ada apa?" tanya gadia itu pada Aurel.


Aurel yang sudah sangat kesal dan marah akibat cemburu pun langsung amarahnya pada Vesha dengan mencaci maki gadis itu.


"Dasar cewek gatel, udah jelas-jelas Kak Saga nggak cinta sama kamu. Tapi kamu masih saja kekeh untuk deketin Kak Saga. Dasar cewek murahan," bentak Aurel seraya menunjuk-nunjuk wajah Vesha.


Sagara tercengang dengan ucapan Aurel, ia pun langsung mendekati keduanya. Sagara menarik tangan Aurel dengan sedikit kasar.


"Kamu apa-apan sih, baru datang sudah berkata kasar begitu sama Vesha?" Sagara berkata dengan rahang yang sudah mengeras menahan amarahnya.


Aurel tercengang mendengar perkataan Sagara yang terkesan membela Vesha.


"Kenapa? Kakak nggak suka aku bilang begitu sama nih cewek? Tapi faktanya begitu kan, kalau dia itu cewek murahan," Aurel berkata begitu menyolot dengan mata melotot.


Chandra yang mendengar keributan di luar kelas pun segera keluar. Pria itu langsung Mendekat ke arah Vesha.


"Kamu nggak apa-apa, Sha?" tanya Chandra sambil menelisik seluruh tubuh Vesha.


Chandra terlihat sangat cemas dan takut kalau Aurel dengan nekat mencelakai Vesha.


"Aku nggak apa-apa, Chan." jawab Vesha seraya tersenyum tipis.


Chandra bernafas lega setelah mendengar jawaban Vesha. Setelah meyakinkan Vesha tidak apa-apa, Chandra langsung menatap ke arah Aurel dan Sagara dengan tatapan tajam. Sagara pun menatap tidak suka pada Chandra yang begitu perhatian pada Vesha.


"Kalau kalian berdua punya masalah dalam hubungan kalian, tolong selesaikan sendiri. Tidak perlu membawa-bawa orang lain ke dalam hubungan kalian, dan untuk kamu," ucap Chandra seraya menunjuk Aurel.


"Ubah sikap kasar kamu itu, masalah tidak selalu dapat diselesaikan dengan amarah. Dan tolong ubah sikap kekanak-kanakan kamu itu," sambung Chandra yang merasa tidak takut menyampaikan pendapatnya pada Aurel.


"Jangan pernah melibatkan Vesha dalam hubungan kalian berdua. Ingat itu!" ucap Chandra kembali seakan pria itu sedang mengancam Aurel dan Sagara.


Aurel tertegun mendengar ucapan Chandra. Chandra yang sudah tidak peduli dengan kedua pasangan kekasih itu yang hubungannya bisa dikatakan sedang berada diujung tanduk. Chandra lebih memilih membawa Vesha pergi dari tempat itu.


"Kita pergi," ajak Chandra pada Vesha dan dibalas anggukan oleh gadis itu.


Namun sebelum benar-benar pergi, Chandra kembali menatap Sagara yang sedang menahan gejolak perasaan tidak suka pada Chandra saat melihat pria itu menggandeng tangan Vesha.


"Tolong beri nasehat pada kekasihmu itu, Ga. Jika sekali lagi aku melihat dia berkata kasar pada Vesha, maka aku yang akan turun tangan. Aku tidak peduli dengan apa yang kalian miliki," ucap Chandra seakan sedang memberi sebuah ancaman pada Saga dan Aurel.


Saga terdiam, dan menatap punggung Chandra dan Vesha dengan tatapan yang sulit diartikan. Lalu ia pun tersadar kalau dirinya dan Aurel menjadi pusat perhatian teman sekampusnya. Disana terlihat sekitar lima orang sedang berkumpul. Di sudut lain juga masih ada yang berkumpul. Dengan perasaan sangat kesal, Sagara menarik tangan Aurel dengan sedikit kasar dan pergi dari tempat tersebut.


"Saganya juga bodoh, ngapain cewek kayak gitu masih dipacarin saja. Mendingan sama Vesha yang sudah jelas kita kenal baik," ucap salah satu teman sekelas Saga saat melihat kepergian keduanya.


"Iya, kamu benar. Kalau diperhatikan Aurel itu kayak perempuan sakit jiwa," sahut teman yang lainnya.


"Husst, kalau ngomong hati-hati! Nanti ada yang dengar bisa berabe," ucap gadis dengan pakaian berhijab.


"Sudah-sudah, sebaiknya kita temui Pak Andra. Kita minta bimbingannya untuk skripsi. Jangan sampai kita kena marah sama dosen killer itu,"


Kelima orang itu pun pergi dan segera menuju ruangan dosen untuk bertemu dengan dosen pembimbing mereka yang terkenal killer.

__ADS_1


__ADS_2