CINTA GAVESHA

CINTA GAVESHA
Bab 49


__ADS_3

Setelah kedatangan Gricella yang tiba-tiba saja menuduhnya berselingkuh, kini Vesha harus berhadapan dengan Bryan. Ya, setelah mendapat video dari Gricella saat di restoran tadi. Bryan segera meninggalkan pekerjaannya dan menyusul Vesha.


Semua terkejut dengan kedatangan Bryan ke restoran tersebut disaat mereka sedang menikmati makan siang. Sagara dan yang lainnya sempat mencegah Bryan yang hendak membawa Vesha pergi dari restoran tersebut. Namun Vesha menggeleng dan memberi penjelasan pada pria itu kalau dirinya akan baik-baik saja.


Dengan berat hati Shena dan yang lainnya membiarkan Bryan membawa Vesha pergi dari tempat itu. Sagara sangat mengkhawatirkan Vesha, bagaimanapun juga Vesha adalah gadis yang pernah menjadi kekasihnya. Walaupun ia pernah menorehkan luka di hati gadis itu.


Bryan menggandeng tangan Vesha selama keluar dari dalam restoran. Sagara yang hatinya masih terasa gelisah pun akhirnya memilih mengejar Vesha dan Bryan. Pria itu pun berlari mengejar keduanya tanpa menghiraukan panggilan dari Marvin.


"Bryan, Vesha!" panggil Sagara dengan suara agak berteriak saat mengejar keduanya.


Baik Vesha dan Bryan pun sama-sama menoleh, dan menghentikan langkah mereka.


"Ada apa?" tanya Bryan dengan tatapan dingin.


Sagara berhenti tepat di depan keduanya, dengan nafas sedikit tersengal. Sagara sempat melirik sekilas ke arah Vesha, lalu ia kembali menatap ke arah Bryan.


"Tolong jangan berbuat kasar dengan Vesha. Jika ada masalah, tolong selesaikan dengan kepala dingin," jawab Sagara yang mengingatkan Bryan.


Bryan tersenyum smirk. "Tidak perlu kau ingatkan aku seperti itu. Karena aku sangat mencintai Vesha," ucap Bryan.


Pria itu pun berbalik dan kembali membawa Vesha pergi dari tempat itu. Sagara berdecak kesal mendengar jawaban dan sikap Bryan yang arogan, kedua tangannya pun mulai terkepal kuat.


Setibanya di parkiran, Bryan dan Vesha sudah masuk ke dalam mobil. Bryan langsung menyalakan mesin mobilnya, namun pria itu masih diam dan belum juga menjalankan mobilnya. Membuat Vesha bingung dan segera menoleh ke arah Bryan.


"Ada apa, kenapa tidak jalan?" tanya Vesha yang masih bingung.


Bryan masih diam dan tangannya meremas kemudi mobil, pria itu menghela nafasnya kasar. Detik kemudian ia pun menoleh ke arah Vesha, dan kembali membuat gadis itu merasa takut dan juga gelisah akan tatapan yang diberikan oleh Bryan.


"Apa ada masalah? Apa aku berbuat kesalahan padamu?" Vesha kembali bertanya, namun sekali lagi Bryan tidak menjawabnya.


Tatapan keduanya saling mengunci, debaran jantung di antara kedua sama-sama berdetak begitu kencang. Dengan pergerakan cepat, Bryan memajukan tubuhnya dan tangannya meraih tengkuk Vesha.


Bryan mencium Vesha, membuat gadis itu diam mematung. Ini sangat mendadak, dan tentu saja Vesha belum siap menerima serangan tersebut. ******* lembut dapat Vesha rasakan, bahkan sebuah gigitan pelan begitu terasa di bibirnya yang seakan memaksa agar Vesha sedikit membukanya.


Vesha pun mulai menikmati sentuhan benda kenyal milik Bryan tersebut. Perlahan mata gadis itu pun memejam saat menikmati ciuman mereka. Vesha juga mulai membalas ciuman tersebut.


Bryan melepaskan pagutan keduanya saat merasakan Vesha hampir kehabisan nafas. Pria itu menempelkan keningnya dengan kening Vesha. Tatapan keduanya pun saling bertemu, nadas keduanya pun sedikit tersengal. Bryan mengusap lembut pipi kekasihnya itu.


"Kenapa kamu membuatku gelisah, Sha?" lirih Bryan bertanya pada Vesha.

__ADS_1


Kedua alis Vesha bertautan, perlahan ia pun menjauhkan wajahnya. "Apa maksudmu, Bryan? Aku tidak mengerti, tolong jelaskan apa yang membuatmu gelisah?" tanya Vesha balik.


Bryan diam sejenak, matanya tidak teralih dari wajah Vesha. Membuat gadis itu merasa malu karena tatapan pria itu.


"Kedekatan kamu dengan Sagara membuat aku gelisah, Vesha. Aku tidak tenang saat kau bersama dengannya," jawab Bryan yang masih terus mengusap wajah Vesha dengan ibu jarinya.


Vesha mengerjapkan matanya berkali-kali. Vesha teringat kalau Bryan pasti sudah tau soal dirinya yang sedang bersama Sagara saat Gricella datang. Ya, gadis itu ingat kata-kata Gricella yang mengatakan kalau dia telah mengirimkan sebuah video pada Bryan.


"Apa ini menyangkut video yang dikirimkan Gricella, dan kamu percaya akan hal itu?" Vesha sedikit memiringkan kepalanya saat bertanya pada Bryan.


Bryan menggelengkan kepalanya. "Aku bukannya tidak percaya padamu, sayang. Tapi.."


"Tapi kamu meragukan diriku yang duduk berdua dengan Gara?" potong Vesha dengan cepat.


Bryan kembali menggeleng dengan cepat. "Tidak, bukan itu juga maksudku. Entah kenapa aku selalu khawatir kalau dia akan kembali merebutmu dariku. Aku hanya takut kalau Sagara berbuat tidak-tidak padamu," jawab Bryan.


Vesha tersenyum tipis saat melihat ekspresi Bryan yang terlalu berlebihan menurutnya. Vesha sangat senang dicintai sampai seperti itu oleh Bryan, cinta yang baru dirasakannya setelah dulu hanya merasakan dirinyalah yang mencintai di dalam hubungannya saat itu bersama pria bernama Sagara.


Akan tetapi Vesha masih memiliki rasa khawatir dalam dirinya, mengingat hubungan mereka yang belum mendapatkan restu dari Naura.


"Gara tidak akan melakukan hal bodoh yang dapat melukai hatiku lagi, Bryan. Aku sangat mengenalnya," jawab Vesha.


Hati Bryan mencelos kesenangan mendengar ucapan Vesha. Akhirnya selama hampir satu tahun ia mendekati Vesha, kini gadis itu sudah menunjukkan dan bahkan menyatakan cintanya pada Bryan.


Bryan mengecup tangan Vesha berkali-kali. "Terimakasih sayang, akhirnya kamu membalas cintaku. Aku sangat bersyukur karena Tuhan mendengar semua doaku," ujar Bryan dengan perasaan bahagianya.


Mereka sama-sama melempar senyum dan tawa. Rasa bahagia menyelimuti kedua hati yang sedang berbunga. Sampai Bryan lupa akan rasa takut dan khawatirnya terhadap Sagara yang akan merebut hati Vesha.


Sementara itu di rumah keluarga Heinzee, Gricella nampak memasuki rumah tersebut dengan wajah yang tertekuk. Naura yang sedang duduk bersantai di kursi taman sempat memicingkan matanya saat melihat putrinya pulang dengan wajah kurang mengenakan.


Gricella langsung masuk ke dalam tanpa menghiraukan sapaan dari beberapa pelayan yang ada di ruang tamu dan di dekat tangga. Naura pun memilih menyudahi membaca novelnya dan menghampiri Gricella. Saat masuk ke dalam, seorang pelayan yang melihat kedatangan Naura pun sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Dimana Gricella?" tanya Naura pada pelayan itu.


"Nona muda ada di dalam kamarnya, Nyonya." jawab pelayan tersebut.


"Hmm, terimakasih."


Naura pun lantas pergi meninggalkan pelayan tersebut dan segera menuju kamar Gricella. Ia harus bertanya pada putrinya itu, kenapa pulang dalam keadaan seperti itu. Setelah tiba di depan kamar sang putri, Naura segera mengetuk pintu kamar Gricella.

__ADS_1


Sudah beberapa kali mengetuk, namun tidak mendapatkan sahutan dari gadis itu. Karena rasa khawatirnya yang sangat besar, akhirnya Naura memutuskan untuk masuk tanpa mendapatkan izin dari sang anak.


"Cella," panggil Naura.


Namun gadis itu hanya diam dan menangis. Hingga membuat Naura semakin khawatir dan segera menghampiri putri kesayangannya itu.


"Sayang ada apa?" tanya Naura setelah duduk di sebelah Gricella.


Tangan Naura mengusap lembut wajah dan rambut Gricella. Ia pun menghapus air mata gadis itu.


"Cella, katakan pada Mommy! Apakah ada seseorang yang menyakiti hatimu?" tanya Naura kedua kalinya.


Namun Gricella masih enggan buka suara, gadis itu hanya menangis. Bahkan tangisannya pun semakin kencang dan begitu sesak. Naura langsung memeluk tubuh putrinya dan mengusap lembut punggung Gricella.


"Ssst, sudah tenanglah! Ceritakan pada Mommy apa yang saat ini kamu rasakan," bisik Naura disela pelukan mereka.


Gricella semakin terisak di dalam pelukan sang mama. Cukup lama gadis itu meluapkan tangisnya di depan Naura. Hingga saat merasa sedikit mereda, Gricella merenggangkan pelukannya.


Dengan kasar ia menghapus air matanya. "Mom, apakah aku salah jika aku melihat kekasihnya Kak Bryan berduaan dengan pria lain dan menuduhnya selingkuh?" pertanyaan Gricella sukses membuat Naura kesal saat mendengar kata kekasihnya Bryan.


"Maksud kamu si wanita tidak tahu diri itu?" tanya balik Naura.


Gricella mengangguk. "Iya, Mom." Gricella menarik nafas saat dadanya terasa sesak.


Ia pun menceritakan semuanya pada Naura apa yang telah terjadi. Bahkan Gricella juga mengatakan perasaan kecewanya terhadap ketiga temannya yang hanya diam dan tidak membantu dirinya saat berhadapan dengan Vesha dan teman-temannya. Naura mengepalkan kedua tangannya, aura kemarahan pada Vesha pun kembali meluap.


"Awas saja wanita itu! Mommy tidak akan membiarkan wanita itu menjadi bagian dari keluarga ini," ujarnya yang terlihat sangat geram.


"Apa yang akan Mommy lakukan terhadap wanita itu?" tanya Gricella.


Naura mengangkat dagunya, terlihat jelas rahang yang mengeras akibat menahan kemarahan dalam dirinya.


"Mommy akan pastikan wanita itu tidak akan bekerja lagi di perusahaan kita. Besok kita temui wanita itu disaat Kakak kamu keluar bersama Devano," jawab Naura.


Gricella nampak menunjukkan wajah bingungnya. "Mommy tahu jadwal Kak Bryan?" tanya Gricella.


"Hmm, tadi pagi Daddy kamu yang mengatakan kalau Bryan akan bertemu klien Daddy bersama Devano. Sedangkan wanita itu tidak ikut karena harus menjaga perusahaan," jawab Naura seraya tersenyum smirk.


Gricella pun ikut tersenyum licik mendengar jawaban dari sang mommy.

__ADS_1


__ADS_2