
Langit cerah menghiasi kota Jakarta pagi ini, weekend cerah membuat semangat semua orang untuk berolahraga. Termasuk Vesha yang pagi ini dengan semangat ingin berolahraga di taman yang tidak jauh dari perkomplekan tempat tinggalnya.
Dengan mengendarai motor matik NMax nya, Vesha mengendarai dengan santai keluar dari perumahan itu dan segera menuju taman yang terletak di pertigaan jalan.
Vesha tersenyum saat melihat taman yang cukup ramai itu. Vesha segera memarkirkan motornya dan masuk ke dalam taman. Ponsel gadis itu tiba-tiba saja berdering dan sebuah pesan dari Chandra, Saga dan Bryan memenuhi layar ponselnya.
Sambil berjalan masuk ke taman, Vesha membalas satu persatu pesan dari ketiga pria itu. Senyum Vesha merekah saat membaca pesan dari Bryan. Tidak lama ponselnya pun berdering, Bryan memanggil.
"Assalamualaikum," ucap Vesha setelah menerima panggilan telepon dari Bryan.
"Waalaikumsalam, sayang. Kenapa kamu tidak mengatakan kalau ingin berolahraga? Kan aku bisa menjemput kamu dan berolahraga bersama," jawab Bryan dengan protes.
Vesha tertawa kecil. "Aku sebenarnya tidak niat. Tapi pas melihat langit cerah seperti ini, jadi aku jalan sendiri saja." ucap Vesha.
Bryan berdecak mendengar jawaban kekasihnya itu. "Aku susul ya!" kata Bryan.
"Hmm, terserah kamu. Tapi aku nanti pulang sendiri ya, karena aku membawa motor." jawab Vesha.
Vesha dapat mendengar Bryan yang sedang menghela nafas. "Aku tidak suka melihat kamu berkendara sendirian. Tunggu aku!" ucap Bryan.
Tanpa persetujuan Vesha, Bryan mematikan sambungan telepon tersebut secara sepihak. Vesha hanya bisa menghela nafasnya seraya menggelengkan kepalanya.
Vesha melanjutkan lari paginya di taman itu. Ya, hitung-hitung menunggu Bryan datang. Vesha sudah dua kali mengitari taman iti sambil berlari kecil dan berjalan dikala dirinya merasa sangat lelah.
Vesha memilih untuk duduk sebentar, dahaganya terasa kering. Namun sayang, air minumnya telah habis. Tetapi tenggorokannya masih terasa haus.
Vesha hendak berdiri dan sudah berniat untuk membeli minuman di kios seberang taman. Namun, tiba-tiba saja seseorang menyodorkan botol minum kehadapannya.
"Chandra," Vesha begitu terkejut karena tiba-tiba saja pria itu ada di taman tersebut.
Chandra tersenyum. "Ambillah! Aku tahu kamu masih sangat haus," ucap Chandra.
Vesha tersenyum bahagia. "Terimakasih, aku memang masih haus." Vesha meraih botol minuman tersebut dan menenggak airnya hingga setengah.
Chandra mendudukkan tubuhnya di sebelah Vesha. Ia tersenyum melihat Vesha yang tidak pernah berubah.
"Kamu masih sama seperti itu. Sangat suka minum air putih," kata Chandra.
Vesha mengelap bibirnya setelah meminum air tersebut. Lalu ia pun tersenyum. "Karena lebih sehat kalau kita banyak minum air putih," jawab Vesha.
Chandra mengangguk. "Ya, kamu benar."
Vesha menoleh sekilas. "Kamu sedang apa di sini?" tanya Vesha.
Chandra menaikkan satu alisnya. "Kamu sendiri sedang apa? Aku kesini sama halnya seperti kamu," jawab Chandra sambil tertawa kecil.
Vesha berdecak. "Menyebalkan sekali jawaban kamu, Chan."
Chandra semakin tertawa terbahak-bahak. "Hei! kamu tidak merindukan aku, Sha? Secara aku baru balik dari Yogyakarta," ucap Chandra.
Vesha mencebikkan bibirnya. "Oleh-olehnya mana? Kalau sudah ada oleh-olehnya baru aku bilang rindu sama kamu," jawab Vesha.
"Issh, kamu ini. Tenang saja, sudah aku siapkan oleh-oleh untuk kamu dan keluargamu," kata Chandra.
__ADS_1
"Ya, ya, aku hanya bercanda saja. Aku dan yang lainnya sangat merindukanmu, Chan. Bagaimana usaha disana?" tanya Vesha.
Chandra tersenyum miring sambil menaikkan kedua bahunya. "Ya, begitulah. Mulai Senin aku akan menemui pimpinan perusahaan yang sudah bekerja sama denganku," jawab Chandra.
"Alhamdulillah, semoga berjaln lancar semuanya. Kalau sudah sukses jangan sombong, ya!" seru Vesha.
Chandra terkekeh. "Untuk apa sombong, harta itu tidak dibawa mati. Lebih baik perbanyak sedekah dan membantu yang tidak mampu,"
Vesha mengangguk. "Betul sekali. Inilah yang aku sukai dari dirimu, kamu itu sellu rendah hati dan tidak sombong. Selalu menjadi kebanggaan Ibu dan adikmu di kampung," kata Vesha.
"Oh, ya. Ngomong-ngomong soal adikmu, aduh siapa namanya? Aku lupa," tanya Vesha.
"Sinta," jawab Chandra.
Vesha menepuk keningnya. "Ah, ya. Sinta, aduh aku sampai lupa namanya. Bagaimana kabarnya?" tanya Vesha lagi.
Chandra tersenyum. "Alhamdulillah baik, dua tahun lagi dia akan lulus kuliah," jawab Chandra.
"Oh, iya. Kalian kan hanya beda 2 tahun saja," ucap Vesha yang langsung diangguki kepala oleh Chandra.
Chandra dan Vesha pun masih terus berbincang. Hingga tidak terasa Bryan sudah tiba di taman tersebut. Bryan yang hendak menghubingi Vesha pun tidak sengaja matanya melihat sosok yng sedang dicarinya.
Matanya menatap tajam ke arah pria yang sedang membelakanginya. Bryan langsung berjalan cepat menghampiri Vesha. Bryan semakin kesal saat melihat Vesha tertawa dan tersenyum lepas dihadapan pria lain selain dirinya.
"Sayang,"
Vesha dan Chandra terkejut dan segera menoleh ke arah Bryan.
"Bryan," Vesha pun tersenyum dan langsung berdiri di depan pria itu.
"Akhirnya kamu datang juga," kata Vesha dengan perasaan senang.
Bryan masih memasang wajah datar. "Hmm, aku baru saja tiba," jawab Bryan.
Vesha tertegun mendengar jawaban Bryan, sepertinya pria itu benar-benar tidak suka melihat dirinya bersama pria lain. Walaupun itu teman dekatnya.
"Kak Bryan,"
Suara seorang gadis mengalihkan ketiga orang itu. Vesha, Bryan dan Chandra menoleh ke arah sumber suara tersebut. Vesha menatap penuh selidik ke arah gadia yang terlihat sangat kesal pada Bryan. Sedangkan Bryan hanya memutar bola matanya malas. Berbeda lagi dengan Chandra yang menatap tajam pada gadis itu.
"Tega banget sih, aku ditinggal begitu saja di parkiran. Aku capek tau, dari tadi cariin Kakak di taman ini," cerocos gadis itu.
"Kau," Vesha menunjuk ke arah gadis itu.
"Gricella?" tanya Vesha.
Gricella yang disebut namanya pun menatap heran ke arah Vesha. "Ya, aku Gricella. Kamu siapa, bagaimana bisa tahu namaku?" gadis itu balik bertanya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Ah, aku…"
"Dia calon istriku," potong Bryan dengan cepat.
Gricella tercengang mendengarnya, Bryan memang belum bercerita tentang Vesha yang menjadi kekasih kakaknya itu. Gadis itu bahkan saat ini sedang melototkan matanya ke arah Bryan.
__ADS_1
"Tolong matanya dikondisikan," pinta Bryan pada Gricella.
Gadis itu pun segera mengerjapkan matanya, lalu beralih ke arah Vesha. Ia menelisik penampilan Vesha, lalu tanpa sengaja matanya melirik ke arah pria yang sejak tadi juga sedang menatapnya tajam. Gricella semakin terkejut dan melototkan matanya ke arah pria itu.
"Kamu," dengan cepat Gricella menunjuk ke arah Chandra.
Sedangkan Chandra sendiri hanya memutar bola matanya saat melihat gadis itu mengenali dirinya.
Gricella nampak mendekat ke arah Chandra dan sedikit menggeser tubuh Vesha. Bryan dengan sigap menangkap tubuh gadia itu.
"Cella!" bentak Bryan saat menegur sang adik.
Namun sayangnya gadis itu tidak menghiraukan suara Bryan. Gricella hanya fokus pada Chandra.
"Ngapain kamu disini? Oh, aku tahu. Kamu itu nguntit aku ya?" cecar Gricella pada Chandra.
"Cella, kenapa kamu berkata begitu?" protes Bryan. "Jaga tutur kata kamu, Cell!" Bryan kembali memperingati adiknya itu.
Gricella berdecak kesal. "Tapi, Kak. Pria ini ngeselin banget saat di bandara waktu itu," sahut Gricella yang masih kesal.
Chandra berdecak. "Apa yang dikatakan Kakak anda itu benar, Nona. Sebaiknya anda jaga tutur kata bicara anda," ketus Chandra.
Vesha tercengang karena Chandra menjawab ucapan seseorang dengan begitu ketus. Ini pertama kalinya Vesha melihat Chandra seperti itu pada seorang wanita.
"Kamu.." pekik Gricella seraya menunjuk wajah Chandra.
"Cella, stop!" bentak Bryan.
Pria itu sedikit menghela nafasnya saat merasakan tangan Vesha mengusap lengannya. Bryan tersenyum pada Vesha dan menggenggam tangan gadis itu.
Bryan menatap ke arah sang adik. "Sebaiknya kita segera pergi dari sini, Cella. Ingat kita sedang berada dimana?" ucap Bryan yang mengingatkan adiknya kembali.
Gricella merasa sangat kesal karena Bryan memintanya untuk berhenti memaki Chandra. Tanpa memikirkan Gricella, Chandra berpamitan pada Vesha dan juga Bryan. Namun Vesha mengatakan kalau dirinya juga akan pergi. Mereka bertiga pun pergi meninggalkan taman tersebut. Bryan sedikit mwnoleh ke arah Gricella.
"Kamu bawa mobilnya, aku akan berboncengan motor dengan Vesha." ucap Bryan sambil melempar kunci mobil pada Gricella.
Gadia itu pun berdecak dengan kesal. "Kamu meninggalkan aku lagi, Kak!"
"Ssttt, tidak bisakah kamu pelankan sedikit suaramu. Kamu tidak malu jadi pusat tontonan para pengunjung taman ini, heoh?" tanya Bryan.
Gricella mengatupkan bibir sambil menghentakkan kakinya. "Menyebalkan," gerutunya.
Gadis itu pun berjalan terlebih dahulu meninggalkan Bryan dan Vesha. Saat langkahnya dekat dengan Chandra, Gricella sengaja menyenggol lengan pria itu hingga Chandra tercengang melihat tingkah gadis itu.
"Astaghfirullah, jangan sampai aku bertemu kembali dengan gadis aneh itu dimanapun aku berada," gumam Chandra.
Bryan dan Vesha menggelengkan kepalanya bersamaan. Lalu Vesha menoleh ke arah Bryan.
"Bryan, sebenarnya apa yang terjadi diantara Chandra dan adikmu?" tanya Vesha.
Bryan melipat bibirnya, lalu ia pun menceritakan apa yang terjadi. Ya, saat baru tiba Gricella menceritakan pertemuannya dengan pria yang menyenggol kopernya itu. Bryan tidak menyangka kalau pria yang dimaksud oleh adiknya itu adalah Chandra.
"Tapi selama aku mengenal Chandra, dia tidak akan bersikap ketus atau sinis jika tidak dimulai. Maaf bukan maksudku untuk menyinggung adikmu, tapi…"
__ADS_1
Dengan cepat Bryan memotong ucapan Vesha. "Adikku yang salah. Sikap Gricella memang agak sedikit arogan, hampir sama seperti Mommy."