
Hari dan momen indah yang dinantikan oleh Vesha dan Bryan telah tiba. Kini keduanya sedang berhadapan dengan pak penghulu dan beberapa saksi, serta tamu undangan yang menghadiri Akad Nikah Vesha dan Bryan di hari Jum'at ini.
Suara lantang dari saksi dan para tamu undangan yang mengatakan kata 'SAH' memenuhi seluruh ruangan yang ada di rumah Vesha. Ya, akad nikah dilaksanakan di rumah mempelai wanita.
Itupun atas permintaan Vesha sendiri, padahal Naura sudah menawarkan untuk melakukan di sebuah gedung serba guna atau di ballroom hotel. Namun Vesha kekeh menolak tawaran dari ibu mertuanya itu.
Vesha hanya ingin pernikahan secara sederhana saja, namun sakral di mata Tuhan. Akan tetapi Vesha tidak dapat menolak saat Naura mengatakan akan meresmikan pernikahan mereka di sebuah hotel. Mengingat banyaknya rekan bisnis dari suami dan mertuanya itu. Begitupun juga dengan para sahabat dan kerabat Vesha serta orang tuanya sendiri.
Setelah melaksanakan akad nikah, Vesha dan Bryan akan melakukan resepsi pernikahan besok pagi di hari Sabtu jam 10 di ballroom hotel XX. Kini semua para tamu undangan yang hanya dihadiri kerabat dan para sahabat sedang menikmati jamuan yang telah tersedia.
Terlihat Vesha dan Bryan masih sibuk bersalaman dengan para tamu. Senyum merekah terus terpancar dari wajah kedua mempelai. Dari kejauhan Sagara tersenyum getir melihat wanita yang ia cintai dan perna ia lukai. Sagara menghela nafasnya ia pun terpaksa melangkahkan kakinya menghampiri Vesha dan Bryan, walaupun terasa begitu berat.
Namun sebuah tepukan lembut di pundaknya membuat Sagara menghentikan langkahnya. Sagara menoleh dan mendapati ketiga sahabatnya berdiri tersenyum lebar. Bukan hanya ada ketiganya, Aruna dan Karina juga ada disana.
"Kita temui Vesha dan Bryan bersama-sama," ujar Aruna seraya tersenyum.
Sagara tersenyum dan mengangguk. "Ayo," ajak Sagara pada kelima orang itu.
Mereka pun berjalan bersamaan menuju pelaminan dimana Vesha dan Bryan sedang menunggu kedatangan mereka. Vesha tersenyum lebar melihat para sahabatnya ternyata datang ke acara akad nikahnya.
"Aku pikir kalian akan datang besok. Ternyata kalian datang hari ini," ucap Vesha dengan mata berkaca-kaca.
"Hei, kenapa pengantin baru terlihat bersedih seperti ini?" tanya Aruna yang lebih dahulu bersalaman, lalu memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri Vesha.
"Aku terharu karena akhirnya kalian datang juga di acara akad nikah ku," lirih Vesha.
Aruna merenggangkan pelukan mereka dan mengusap pipi Vesha. "Maaf tidak memberitahukan kamu kalau kami akan datang. Kami sengaja ingin memberi kejutan padamu," ucap Aruna.
Vesha tersenyum lirih. "Jagat sekali," keluhnya.
Aruna dan yang lainnya tertawa. "Sudah ya, pengantin baru tidak boleh bersedih. Kamu tidak lihat suamimu sejak tadi memberi tatapan tajam padaku. Karena telah membuat kamu menangis," goda Aruna dan membuat Bryan tercengang mendengar sindiran Aruna.
Vesha dan yang lainnya pun tertawa, begitupun juga dengan Bryan.
"Terimakasih kalian mau datang ke acara akad nikah kami," ujar Bryan tulus.
Semuanya mengangguk, Sagara pun bersalaman dan memeluk sebentar pada Bryan.
"Selamat, Bro. Akhirnya kalian sudah halal. Tolong jaga Vesha jangan kau sakiti dia seperti apa yang pernah aku lakukan dulu," bisik Sagara disela pelukan mereka.
Bryan menepuk punggung Sagara. "Thanks, Bro. Tentu saja aku akan selalu menjaga hatinya," jawab Bryan.
Sagara melepaskan pelukannya pada Bryan dan tersenyum, lalu ia menatap ke arah Vesha dan sedikit mendekat. Sagara mengusap kepala Vesha.
"Selamat untuk pernikahanmu. Berjanjilah padaku untuk selalu bahagia," ucap Sagara tulus dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Vesha tersenyum seraya mengangguk. "Iya, aku janji." Jawabnya lirih.
Sagara menoleh ke arah Bryan. "Boleh aku memeluk istrimu untuk terakhir kalinya?" izin Sagara pada Bryan.
Bryan nampak ragu, namun detik berikutnya ia pun mengangguk. "Jangan lama-lama, banyak mata disini." Jawab Bryan seraya tersenyum.
__ADS_1
Mendapat lampu hijau dari Bryan, Sagara langsung memeluk Vesha. Bryan sengaja mengizinkan Sagara untuk memeluk istrinya. Karena bagaimanapun juga Sagara adalah pria yang pernah mengisi kekosongan hati istrinya itu sebelum ia merasakan sakit akibat ulah pria itu sendiri.
Sagara melepaskan pelukannya sambil mengusap air matanya, begitupun juga dengan Vesha. Tanpa diduga-duga, Chandra menyerobot dan langsung memeluk Vesha. Membuat semuanya terkejut termasuk Bryan.
"Hei," suara Sagara begitu lantang membentak Chandra.
Hingga akhirnya Sagara bungkam karena tiba-tiba saja Aruna, Langit, Karina dan Marvin pun ikut memeluk Vesha. Membuat gadis itu tertawa cekikikan melihat tingkah sahabatnya.
"Yang mau memeluk Vesha bukan kamu aja, Ga. Kami pun juga ingin memeluk sahabat kami," celetuk Langit.
"Benar," sahut Marvin, Aruna, Chandra dan Karina.
Sagara dan Bryan saling melirik, lalu mereka pun tertawa seraya menggelengkan kepalanya.
"Jangan lama-lama memeluk istriku," celetuk Bryan sambil tertawa.
Kerusuhan yang mereka ciptakan telah menjadi pusat perhatian para tamu undangan. Akibat tawa kencang dari mereka membuat para tamu ikut tertawa melihat kekonyolan para pemuda yang mengerumuni Vesha dan juga Bryan.
Adam dan Vita menggelengkan kepala mereka melihat tingkah dari teman-teman putrinya.
"Tingkah mereka konyol sekali," ucap Vita dengan tawa kecil.
Adam pun tersenyum menanggapi ucapan istrinya. "Dengan begitu hubungan mereka tetap baik," ucap Adam.
"Ya, Papa benar. Mama harap hubungan persahabat mereka terus sampai tua nanti," jawab Vita.
"Hmm, aamiin."
*
Tawaran Bryan ditolak oleh semua keluarga Vesha dari nenek Tini. Mereka mengatakan kalau tidur berkumpul bersama-sama itu lebih enak daripada tidur terpisah di hotel. Mereka juga mengatakan kalau momen seperti itu sangat langka, mengingat semua orang pada sibuk dengan urusan masing-masing.
Suasana canggung menyelimuti diri Vesha dan juga Bryan. Ini adalah hal pertama untuk keduanya, apalagi ini pertama kalinya Bryan masuk kedalam kamar Vesha.
"Sudah Maghrib, kita sholat bersama ya!" ujar Bryan mengajak Vesha.
Vesha pun mengangguk. "Iya," jawabnya.
Keduanya pun segera berwudhu. Bryan benar-benar berdiri di hadapan Vesha sebagai imamnya untuk kesekian kalinya. Dulu saat masih berpacaran bahkan dikator pun Bryan selalu mengajak Vesha untuk sholat berjamaah bersama.
Setelah mengucap salam terakhir, Vesha meraih tangan Bryan dan menciumnya. Begitupun Bryan, tangan kirinya menyentuh kepala sang istri sambil membacakan doa. Lalu pria itu mencium pucuk kepala Vesha yang masih berbalut kain mukena.
Vita menyuruh Vesha dan Bryan ke lantai bawah untuk makan bersama. Setibanya di bawah, Bryan menatap kagum pada keluarga Vesha yang sudah menunggu kedatangan dirinya dan Vesha sambil duduk di bawah. Ini pertama kalinya ia makan bersama keluarga dengan cara lesehan. Walau ia pernah makan di restoran yang menyajikan tempat lesehan, tapi rasanya tetap beda. Ini makan bersama keluarga sang istri.
Makanan ditaruh di tengah-tengah mereka. Vita dan Dewi saling bekerja sama menyendok dan memberikan nasi pada orang tertua mereka. Tidak lupa keduanya pun melayani suami mereka. Vesha pun demikian, ia mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk sang suami.
Bryan tersenyum berbinar diperlakukan seperti itu oleh sang istri.
"Terimakasih sayang," ucap Bryan pelan.
Vesha hanya tersenyum dan mengangguk. Ia pun juga mengambil nasi dan lauk untuk ia makan. Mereka menikmati makan bersama sambil berbincang dan tertawa bersama. Terkadang gurauan dilontarkan untuk kedua pengantin itu, hingga Vesha terlihat begitu malu.
__ADS_1
Bryan benar-benar sangat bahagia bisa menjadi bagian dari keluarga Vesha. Kumpul keluarga seperti inilah yang sejak dulu Bryan inginkan dalam hidupnya. Dulu saat neneknya masih hidup, Bryan dan kekuarganya sering makan bersama seperti ini di rumah sang nenek. Namun semenjak sang nenek meninggal di usia Bryan yang ke 8 tahun, Bryan tidak pernah lagi makan lesehan seperti itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Sebagian dari mereka sudah ada yang tertidur. Begitupun juga dengan Vesha dan Bryan yang sedang merebahkan tubuh mereka sambil menikmati kenikmatan yang telah mereka berdua ciptakan. Sensasi menggairahkan dari sentuhan tangan Bryan pada tiap inci lekuk tubuh Vesha. Menciptakan alunan suara yang begitu menggairahkan di telinga Bryan.
Bryan menatap kagum pada pahatan indah ciptaan Tuhan yang sangat sempurna di matanya. Pria itu kembali mencium dan menggigit pelan leher Vesha. Hingga turun ke bawah leher, tangannya pun bergerak cepat bermain di dua bukit tinggi yang terlihat sangat menggoda.
Bibir pria itu kembali mencium, lalu menjilat dan menghisap dua boba berwarna pink yang ada di bukit tinggi itu. Suara laknat itu kembali keluar dari bibir Vesha. Bryan semakin menggila, ia sudah tidak tahan dengan pemanasan ini.
Hawa panas di tubuhnya semakin membara, ada sesuatu yang harus segera dituntaskan. Dengan cepat Bryan membuka seluruh pakaiannya dan juga pakaian Vesha. Bryan mulai melakukan aksinya, ini pertama kali baginya. Namun Bryan melakukannya dengan baik, ia mengikuti naluri kelelakiannya dalam menjalankan tugasnya sebagai suami untuk memuaskan sang istri. Begitupun juga dengan Vesha.
Bryan tersenyum, Vesha pun juga. Mereka sama-sama bangga dan senang karena berhasil memiliki satu sama lain, bahkan keduanya sama-sama menjadi yang pertama.
Menjelang subuh, Vesha terbangun dengan tubuh yang terasa pegal dan juga sakit dibagian pangkal inti bawahnya. Ringisan kecil terdengar dari bibir Vesha, lalu ia melirik ke arah Bryan yang masih terlelap. Vesha menghela nafasnya, ia teringat kejadian semalam. Entah berapa lama Bryan melakukan itu pada dirinya. Yang Vesha tahu saat ini tubuhnya sangatlah lelah.
Vesha berusaha bergerak pelan, dan berjalan sedikit tertatih karena rasanya sangat sakit dan perih. Didalam kamar mandi ia segera menyiapkan air hangat untuknya berendam. Mungkin dengan cara itu tubuhnya akan kembali segar.
Bryan mengerjapkan matanya saat tangannya merasakan hampa. Tidak ada sosok yang ingin dipeluknya. Bryan membuka matanya, dan mengedarkan matanya mencari sosok itu.
Bryan tersenyum saat melihat sosok yang dicarinya baru saja keluar dari kamar mandi. Vesha tersenyum malu dan berjalan menunduk menuju lemari pakaiannya.
"Bangunlah, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Setelah itu kita sholat subuh bersama," titah Vesha yang masih sibuk mengambil baju di lemari.
Bryan pun tidak membantah, ia pun segera mengambil celana boxernya. Setelah memakainya, Bryan segera menuju kamar mandi. Vesha tersenyum karena Bryan begitu patuh padanya, walaupun sebenarnya Vesha tahu kalau Bryan sangat menginginkan ciuman di pagi hari setelah bangun tidur. Vesha pun sebenarnya ingin melakukannya, akan tetapi ia teringat sudah mengambil air wudhu.
*
Vesha tersenyum menatap kagum pada penampilan dirinya di depan cermin. Vesha terlihat begitu cantik dengan gaun berwarna senada dengan Bryan.
Hari ini adalah acara resepsi pernikahan mereka yang akan digelar di hotel mewah di Jakarta.
Bryan tidak pernah bosan menatap kagum pada sang istri. Cantik, itu adalah hal yang selalu Bryan katakan pada Vesha.
"Aku tidak sabar ingin cepat-cepat sore hari," bisik Bryan saat mendekatkan dirinya pada Vesha.
Kini mereka sedang berdiri di pelaminan. Vesha mengerutkan dahinya mendengar ucapan sang suami.
"Mau ngapain cepat-cepat sore?" tanya Vesha yang bingung.
Bryan tersenyum smirk. "Melakukan hal seperti semalam," bisik Bryan.
Bola mata Vesha melotot dengan bibir mengerucut melihat ekspresi Bryan yang sangat menyebalkan.
"Tidak bisakah kamu sabar dan tidak berkata mesum seperti itu, heoh?" sungut Vesha.
Bryan hanya tertawa melihat sang istri kesal dengannya.
(Vesha saat menatap dirinya di depan cermin.)
(Karina dan Langit)
__ADS_1