
Sepanjang jalan Chandra selalu mengajak Vesha berbicara dan terkadang pula Chandra menggoda gadis itu. Namun sayangnya Vesha hanya menanggapinya biasa saja dengan tertawa kecil. Motor Chandra berhenti di depan lampu merah pertigaan jalan dekat kampus.
"Sha, mau makan bakso nggak?" tanya Chandra dengan hati-hati.
Chandra sangat takut kalau ajakannya ditolak oleh Vesha. Karena ia selalu sering melihat Vesha hanya makan di restoran atau cafe yang tempatnya sangat higienis.
"Boleh, mau makan dimana?" tanya balik Vesha.
Jawaban gadis itu membuat Chandra sangat terkejut. "Be-benarkah kamu mau?"
"Ish, bagaimana sih! Dijawab malah ditanya lagi. Ya, ku mau lah. Apalagi di traktir," Vesha tertawa
Chandra pun ikut tertawa menanggapi ucapan Vesha. "Oke, kamu mau makan baksonya dimana?"
"Eum, terserah kamu saja. Aku ikut saja selagi itu ditraktir," jawabnya yang masih tertawa.
"Oke,"
Chandra pun memilih belok ke arah kiri, tanpa mereka sadari Sagara yang berada di belakang mereka pun mengerutkan dahinya saat Chandra memilih jalan beda arah.
"Mau kemana mereka, apa sebaiknya aku mengikuti mereka?" monolog Sagara dalam hatinya.
Beberapa detik dalam keraguan, akhirnya ia pun memilih mengikuti Chandra dan Vesha.
"Sebaiknya aku ikuti mereka dulu dan memastikan kalau Chandra tidak berbuat macam-macam dengan Vesha," gumamnya kembali.
Dengan cepat Sagara mengikuti arah kemana perginya Chandra dan Vesha. Sagara yang mengejar laju motor Chandra, kini dalam posisi yang tidak terlalu jauh.
Chandra tahu kalau Sagara mengikutinya, pria itu pun menyeringai dibalik helm yang dikenakannya. Chandra sengaja memperlambat laju kendaraannya, dan tentu saja itu membuat Vesha kembali mengerutkan dahinya.
Gadis itu sedikit mencondongkan tubuhnya. "Kenapa jalannya pelan?" tanya Vesha.
Chandra membuka kaca helmnya. "Tidak apa-apa, aku hanya sedang ingin jalan pelan. Lagipula hari ini jalan raya tidak terlalu padat," jawab Chandra.
"Ah, kamu benar." ucap Vesha yang baru menyadari kondisi jalan raya hari ini.
Tidak lama mereka sampai di sebuah ruko tempat penjual bakso langganan Chandra. Keduanya turun dari motor, dan Chandra pun membantu Vesha membuka helm yang dikenakannya. Chandra menggandeng tangan Vesha untuk masuk ke dalam.
Dari kejauhan Sagara meremas stang motornya dengan kuat. "Apa-apaan dia, beraninya dia main pegang tangan Vesha segala," geram Sagara.
Disaat Sagara sedang sibuk dalam kekesalannya terhadap Chandra, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Pria itu sempat berdecak kesal, dan segera meraih ponselnya.
Karena hatinya masih sangat kesal dan matanya masih fokus memperhatikan warung bakso tersebut, Sagara tidak melihat siapa yang sedang menghubunginya.
"Halo," bentak Sagara saat menjawab telepon tersebut.
"Kak Saga?" tegur orang di seberang sana.
Sagara tersadar dan ia pun tercengang sambil sedikit menjauhkan ponselnya. Matanya melotot saat melihat nama yang menghubunginya.
"Aurel," gumamnya.
Sagara kembali mendekatkan ponselnya dan memanggil nama kekasihnya itu. Namun sayangnya panggilan tersebut terputus, karena Aurel mengakhirinya secara sepihak. Sepertinya gadis itu kesal karena Sagara membentaknya.
Sagara hanya berdecak dan kembali menaruh ponselnya di saku celana. Ia pun memilih pergi dari tempat tersebut dan segera menuju apartemen Aurel.
Sedangkan di apartemen Aurel merasa sangat kesal setelah mendengar suara Sagara yang membentak dirinya. Hatinya tidak terima jika Sagara membentaknya seperti tadi. Beruntung itu hanya di sambungan telepon, bukan di depan orang banyak. Entahlah, mungkin jika itu terjadi saat mereka sedang diluar. Sudah dipastikan keduanya akan bertengkar hebat.
Gina yang melihat keponakannya itu sedang kesal hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kenapa lagi, heoh?" tanya Gina sambil duduk di sebelah Aurel.
Aurel masih memasang wajah cemberutnya. "Tidak apa-apa," jawab gadis itu dengan perasaan yang masih sangat dongkol.
Gina tertawa mengejek. "Kesel sama Saga karena dia belum datang?" selidik Gina dengan memainkan alisnya.
__ADS_1
Aurel hanya mendengus kesal sambil melirik sinis ke arah tantenya itu. Gina pun mendekat dan menepuk punggung keponakan kesayangannya itu.
"Jangan cemberut begitu, nanti cantiknya hilang. Tunggu saja, sebentar lagi pasti Saga akan datang," ucap Gina sedikit menenangkan Aurel.
Aurel mendengus kesal. "Dia tidak akan datang kesini, barusan aku telepon dia. Kalau dia ingin datang ke sini, kenapa tadi dia membentak Aurel?" ketus Aurel dengan kesal.
Gina mulai mengerti kenapa keponakannya itu kesal. Gina mengulum senyumnya.
"Kamu harus sabar, kalau kamu seperti ini yang ada Saga tidak akan betah dengan sikap kamu yang seperti anak kecil. Positif thinking saja, mungkin tadi dia sedang kejebak macet. Jadi, Saga sedikit membentak kamu saat menerima telepon darimu," jawab Gina yang masih berusaha menenangkan keponakannya itu.
Aurel masih menekuk wajahnya. "Sudahlah, Tante. Mendingan aku tidur, kepala aku pusing," ucap Aurel seraya berdiri dari duduknya.
Gina tersenyum miring dengan dahi berkerut. "Ya, memang sebaiknya kamu kembali beristirahat," jawab Gina.
Aurel pun tidak berkata lagi, ia memilih untuk masuk ke dalam kamarnya. Gina hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah manja keponakannya itu.
Setengah jam berlalu, bel apartemen Aurel berbunyi. Gina yang sedang berkutat di dapur pun mengerutkan dahinya.
"Mungkin itu Saga," gumamnya.
Gina berjalan ke arah pintu dan hendak melihat siapa yang menekan bel apartemen keponakannya itu. Dugaannya pun benar, di depan Sagara berdiri sambil menenteng sesuatu.
"Saga,"
Sagara pun membalikkan tubuhnya dan tersenyum. "Maaf, Tante! Aku datang lagi," ucap Saga.
"Iya, tidak apa. Aurel sejak tadi menunggumu, masuklah!" jawab Gina sambil mempersilakan Saga masuk kedalam.
Sagara pun masuk ke dalam apartemen dan langsung menaruh tasnya di sofa. Saga menoleh ke arah Gina dan menyerahkan sesuatu pada wanita itu.
"Saga bawa donat, Tan. Tadi Saga dari kampus mampir dulu ke toko donat yang ada di dekat kampus," ucap Saga seraya menyerahkan bungkusan tersebut.
Gina menerima bungkusan itu. "Terima kasih! Kamu sudah makan?" tanya Gina.
Saga menggelengkan kepalanya. "Belum, Tan." jawabnya sambil menampilkan cengirannya.
Saga mengangguk. "Biar aku saja yang membawakan makanan untuk Aurel," tawar Saga.
Gina juga membalasnya dengan anggukan. "Oke," jawabnya.
"Boleh aku melihat Aurel, Tan?" tanya Sagara.
"Boleh, masuklah! Dia sejak tadi memang telah menunggu kedatanganmu," jawab Gina.
Saga tersenyum dan mengangguk. Pria itu pun berjalan masuk ke dalam kamar Aurel. Saga membuka pintu kamar kekasihnya dengan perlahan dan menutupnya kembali. Saga tersenyum saat melihat gadis yang dicintainya. Pria itu duduk di tepi tempat tidur, tangannya terulur mengusap kepala Aurel.
Aurel merasa terganggu pun mengerjapkan matanya, dan perlahan membuka matanya. Hal yang pertama dilihatnya adalah wajah Sagara yang sedang tersenyum lembut padanya.
"Kak Saga," gumamnya.
"Hai, maaf aku baru datang!" ucap Saga.
Aurel masih tidak menjawab, bahkan terlihat jelas wajah kesalnya pada Saga. Saga yang masih tersenyum sempat menghela nafasnya.
"Kenapa datang? Pergi sana!" usir Aurel yang masih kesal dengan Saga.
"Rel," panggil pria itu dengan nada lembut.
Aurel membalikkan tubuhnya membelakangi Saga, gadis itu masih enggan untuk berbicara pada Saga karena hatinya masih tidak terima atas bentakan pria itu tadi.
"Kalau sibuk sebaiknya pulang saja, Kak. Terus kasih tahu aku kalau Kakak sibuk, jangan sampai membentakku seperti itu," ucap Aurel dengan nada sedikit keras.
Saga tertegun mendengar nada bicara Aurel. Ini bukan pertama kalinya Aurel berbicara dengan nada tinggi seakan sedang membentak Saga. Ini kedua kalinya gadis itu berkata seperti itu.
Saga menghela nafasnya sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
__ADS_1
"Maafkan aku, Rel. Tadi aku tidak tahu kalau itu kamu yang menghubungiku. Karena tadi aku sedang fokus menyetir motorku," jawab Saga memberi penjelasan yang dibumbui kebohongan.
"Pergi! Aku tidak ingin melihat Kak Saga," Aurel kembali mengusir Saga.
Saga memejamkan matanya sejenak dan kemudian membukanya kembali. Pria itu sedang berusaha menahan rasa kesal dan emosinya.
"Oke, maafkan aku," jawab Saga.
Diluar dugaan Aurel, Saga memilih pergi dan meninggalkan gadis itu di dalam kamarnya. Saat Saga keluar, Gina menatapnya heran karena raut muka pria itu terlihat sedang kesal dan murung.
"Kenapa, Ga?" tanya Gina.
Saga menghela nafasnya. "Tidak apa-apa, Tan. Saga harus segera pulang, tadi Bunda menghubungi Saga untuk cepat pulang." jawab Saga yang sedang menutupi apa yang baru saja terjadi.
Walau Sagara sedang menutupi apa yang terjadi, tetapi sebenarnya Gina tahu apa yang terjadi dengan Saga dan Aurel, karena dia tadi tidak sengaja sempat mendengar Aurel sedikit membentak Saga. Karena tidak ingin membuat Saga tidak nyaman, akhirnya ia pun mengangguk.
"Baiklah, titip salam untuk Bunda kamu." ucap Gina.
"Iya, Tante. Saga pamit Tante," jawab Saga dan dibalas anggukan kepala oleh Gina.
Di dalam kamar Aurel semakin menangis dan merasa sangat kesal karena Saga benar-benar pergi dan bukan malah membujuk dirinya. Di luar kamar Gina menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya.
"Entah harus bagaimana lagi menasehati anak itu. Sudah aku katakan untuk selalu sabar dan tidak bersikap kekanak-kanakan. Tapi nyatanya sangat sulit mengubah karakternya itu untuk lebih dewasa," gumam Gina
Gina memilih untuk membiarkan Aurel menangis di dalam kamarnya. Sepertinya wanita itu sudah cukup lelah menasehati gadis itu.
*
Chandra mengantarkan Vesha sampai di depan rumahnya. Saat mereka tiba, tidak disengaja Shena pun datang dan baru saja sampai.
"Kamu baru pulang?" tanya Shena dengan mata memicing ke arah Chandra.
Vesha tersenyum. "Iya, tadi kami mampir makan bakso dulu," jawab Vesha.
Chandra tersenyum kaku dan mengangguk pelan mengiyakan ucapan Vesha.
Shena menaikkan satu alisnya. "Dia bukannya temen si daun Saga?" tanya Shena yang memberi tatapan sinis pada Chandra.
Vesha masih tersenyum. "Lebih tepatnya sahabatnya," sahut Vesha membenarkan pertanyaan Shena.
Shena menaikkan satu alisnya, sambil ber oh ria. "Terima kasih sudah mengantar sahabat Saya. Sebaiknya Anda pulang sekarang. Karena Saya masih malas bertemu dengan orang-orang yang masih bersangkutan dengan si daun Saga itu," ketus Shena.
Chandra terdiam dan sedikit tersinggung dengan cara pengusiran yang dilakukan Shena. Vesha pun merasa tidak enak dengan Chandra.
"Shena," tegur Vesha.
Shena menaikan satu alisnya. "Kenapa? Memang nyatanya seperti itu, aku memang masih kesal dan malas melihat orang-orang munafik seperti Saga dan teman-temannya ini," ucap Shena dengan sinis menatap Chandra.
Chandra tersenyum hambar. "Maafkan Saya Nona! Saya akan segera pergi dari sini," jawab Chandra.
"Ya, harus itu. Cepat pergi dari sini!" Shena kembali mengusir Chandra.
Chandra masih membalas ucapan Shena dengan senyum manisnya. Ia pun segera berpamitan dengan Vesha.
"Sha, aku pamit. Sampai ketemu besok di kampus," pamit Chandra pada Vesha.
"Iya, kamu hati-hati. Terima kasih sudah mentraktirku bakso, dan tolong jangan ambil hati atas ucapan sahabatku ini," jawab Vesha seraya melirik Shena.
Shena memutar bola matanya malas. "Kenapa? Aku benar kan, memang sebaiknya dia segera pergi dari sini," sahut Shena yang tidak terima disinggung Vesha.
Vesha menghela nafasnya sambil menggelengkan kepalanya. Chandra hanya tersenyum menanggapi sikap ketidaksukaan Shena pada dirinya. Chandra pun pergi dari rumah Vesha setelah kembali berpamitan dengan kedua gadis itu.
Sepeninggalnya Chandra. Vesha menatap sinis pada Shane. Shena hanya mengerutkan dahinya ketika sahabatnya memberi tatapan seperti itu.
"Kenapa?" tanya Shena tanpa berdosa.
__ADS_1
"Mulut kamu itu benar-benar pedas, Shen. Pedas seperti bon cabe level 50, Kamu pantas dipanggil si mulut pedas," celetuk Vesha sambil menghentakkan kakinya sebelum berlalu pergi meninggalkan Shena sendirian di teras depan.
Shena tercengang sambil menautkan alisnya. "Si mulut pedas? keren juga tuh julukan, tapi aku kan nggak habis makan bon cabe. Ada-ada saja si Vesha," gumam Shena pelan sambil menatap bingung ke arah Vesha yang telah meninggalkannya.