
Satu Minggu pun telah berlalu, baik Vesha maupun Bryan kini sedang disibukkan untuk persiapan pernikahan mereka. Mengingat pernikahan mereka digelar di Jakarta, jadi Vesha terpaksa harus kembali ke Jakarta setelah tiga hari mengadakan acara lamaran di Surabaya.
Shena selalu berjaga-jaga membantu Vesha saat gadis itu membutuhkannya. Nampaknya bukan hanya Shena yang bersiap membantu Vesha, Gricella dan Aruna pun ikut bersiaga membantu gadis itu.
Seperti saat ini, Gricella sedang berada di rumah Vesha. Sejak tiga hari gadis itu sibuk mengikuti kemanapun Vesha pergi. Bahkan sampai Vesha mengunjungi butik milik Vita pun Gricella ikut bersamanya. Hingga rasanya Vesha merasa sangat tidak enak dengan gadis itu.
"Cella," panggil Vesha.
"Iya, Kak. Ada apa?" tanya gadis itu.
Vesha menghela nafasnya. "Apakah kau tidak lelah mengikutiku terus?"
Akhirnya Vesha melontarkan pertanyaan seperti di hadapan Gricella. Tidak sesuai dengan ekspektasi Vesha, ia pikir gadis di hadapannya ini akan kesal atau marah. Namun nyatanya Gricella hanya menunjukkan cengiran deretan giginya yang putih bersih sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak," jawabnya yang masih tersenyum.
"Aku tidak lelah sama sekali. Aku senang bisa membantu Kakak," sambungnya.
Vesha menghela nafasnya. "Ya, aku pun juga sangat senang saat kau membantuku. Tetapi apakah ini tidak mengganggumu dalam bekerja? Kau sudah tiga hari berturut-turut menemaniku kemanapun aku pergi,"
Gricella tersenyum tipis menampilkan wajah imutnya. "Urusan pekerjaan sudah ada Yanto yang membantu mengurusnya. Walaupun ia membutuhkan persetujuan dariku, maka dia hanya tingga menghubungiku saja. Aku sudah berjanji sama Kak Bryan untuk selalu ada dan menemani Kak Vesha selama mempersiapkan kebutuhan pernikahan kalian," jawab Gricella yang nampak terlihat begitu santai.
Vesha menggaruk keningnya yang tidak gatal. "Aku lupa kalau sekarang ini kau adalah pemilik restoran milik Mommy. Ya sudah, terserah padamu. Sekarang tolong bantu aku carikan lokasi prewedding yang aesthetic," ucap Vesha.
"Siap," sahut Gricella yang lebih bersemangat.
Gricella pun mulai menyalakan laptopnya dan mencari lokasi yang sesuai dengan keinginan Vesha. Kenapa hanya keinginan Vesha saja, kan menikahnya dua orang. Dia dan Bryan? Memang benar yang menikah itu Vesha dan Bryan, akan tetapi kalau soal urusan prewedding seperti ini. Bryan memilih untuk menyerahkan semuanya pada Vesha. Karena pria itu sangat yakin kalau selera calon istrinya itu hampir mirip dengan selera dirinya.
Selang beberapa menit berikutnya, Gricella nampak sekali sedang memikirkan sesuatu. Lalu ia menoleh ke arah Vesha yang sedang sibuk membalas pesan dari Bryan.
"Eum, Kak." panggil Gricella pada Vesha.
Vesha pun mendongakkan kepalanya. "Ya, kenapa?" tanya gadis itu kembali.
"Untuk fotografernya Kakak sudah dapat studio yang cocok untuk preweddingnya?" tanya Gricella.
Vesha mengangguk kecil. "Sudah! Bahkan orang itu sendiri yang menawarkannya langsung. Katanya sebagai ucapan selamat atas pernikahan aku dan Kakak kamu," jawab Vesha.
Gricella menampakkan wajah berserinya. "Wah, beruntung sekali. Apakah dia temanmu atau teman Kak Bryan?"
"Dia temanku. Lebih tepatnya temanku saat kuliah dulu," jawab Vesha seraya tersenyum.
"Apakah dia membuka studio foto?"
Vesha menggelengkan kepalanya. "Tidak, tetapi yang aku tahu dari dulu memang dia sangat hobi memotret,"
"Benarkah? Aku jadi penasaran dan sangat ingin tahu hasil fotonya seperti apa?" ujar Gricella.
Vesha terkekeh. "Kau ingin melihat hasil jepretan temanku itu?" kini Vesha bertanya pada Gricella.
Gadis itu mengangguk dengan cepat. "Mau banget," jawabnya antusias.
"Tunggu sebentar!" Vesha pun beranjak dari duduknya dan menuju ke lantai atas. Dimana kamarnya berada.
__ADS_1
Sambil menunggu Vesha yang kembali dari kamar, Gricella kembali mencari tempat yang begitu bagus untuk acara prewedding kakaknya itu.
Vesha kembali dengan membawa sebuah buku album mini di tangannya. Gricella semakin bersemangat melihat kedatangan Vesha.
"Ini," Vesha menyodorkan mini album tersebut ke arah Gricella.
Dengan antusias dan rasa penasaran yang sangat tinggi, gadis itu meraihnya dan tidak sabaran ingin melihat hasilnya.
Mata Gricella menatap begitu takjub dengan hasil karya dari teman Vesha. Foto yang sangat bagus dengan gaya beraneka ragam.
"Sepertinya teman Kakak sangat profesional. Lihatlah ini, fotonya sangat keren. Aku yakin dia pernah kursus memotret," ucap Gricella.
Vesha kembali terkekeh. "Kau salah, Cella. Temanku itu tidak sama sekali mengikuti kursus memotret. Itu real hasil kemampuan sendiri secara otodidak,"
Gricella tampak terkejut. "What the…" ucap gadis itu menggantung dengan mara membulat.
"Serius, Kak?" tanya gadis itu.
Vesha menganggukkan kepalanya. "Dua rius," jawab Vesha sambil mengangkat jarinya yang membentuk huruf V.
Gricella mencebikkan bibirnya. "Bercanda kau Kak," sungutnya. "Tapi ini beneran teman Kakak yang memfotonya?" lagi-lagi pertanyaan itu terlontar dari bibir Gricella.
Sepertinya gadis itu sangat tidak percaya, karena hobi dan belajar otodidak saja bisa menghasilkan foto sebagus ini. Luar biasa dan keren sekali, pikir Gricella.
"Aku jadi ingin bertemu dan berkenalan dengan teman Kakak itu," ucap Gricella.
"Bukankah kau pernah bertemu dengannya. Bahkan yang aku tahu kau dan dia saat ini bekerjasama dalam menjalankan bisnis kalian," jawab Vesha.
Gricella nampak mengerutkan dahinya. "B-bekerja sama dengan restoran aku maksud kamu? S-siapa?" Gricella masih terlihat bingung.
Ucapan Vesha terputus karena suara bel rumahnya berbunyi. Vesha mengerutkan dahinya sambil melirik ke arah Gricella.
"Siapa yang bertamu?" tanya gadis itu pada Gricella.
Gricella hanya mengangkat kedua bahunya sambil memiringkan bibirnya. "Ini 'kan rumahmu. Jadi mana aku tahu siapa yang datang," jawabnya.
Vesha memutar bola matanya dan segera berdiri dari posisi duduknya. Ia pun segera membuka pintu rumah dan meninggalkan Gricella yang sedang sibuk pada laptopnya.
Vesha sempat terkejut melihat siapa yang datang ke rumahnya. Baru saja orang itu dibicarakan oleh Vesha dan Gricella, kini sudah berada di rumahnya. Panjang sekali anunya (umurnya 🤪).
"Chandra, Arkan," panggil Vesha.
"Hai, Sha." Salam keduanya saat melambaikan tangan mereka.
Vesha pun membukakan pintu pagar untuk keduanya. Arkan adalah asisten Chandra, ia juga teman satu kampus Vesha hanya berbeda jurusan saja.
"Ayo, masuk!" Vesha membuka lebar pintu pagar dan membiarkan Chandra dan Arkan memasukkan motor mereka.
"Aku nggak menyangka kalian akan datang ke sini," ucap Vesha dengan senang hati.
"Kebetulan kami lewat jalan sini, akhirnya aku ajak si Arkan mampir ke sini. Sekalian mau makan siang disini saja," jawab Chandra diselingi tawa kecilnya.
Vesha mencebikkan bibirnya. "Tahu banget kamu, aku habis masak ayam balado sama tumis kangkung. Dasar hidung panjang," jawab Vesha yang ikut tertawa.
__ADS_1
"Pinokio dong," celetuk Arkan.
Ketiganya pun tertawa terbahak-bahak, akhirnya Vesha menggiring kedua pria itu masuk ke dalam. Gricella yang masih berada di ruang tengah pun sangat penasaran siapa yang datang, karena ia hanya mendengar suara tawa dari ketiganya saja. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menyusul Vesha.
Jantungnya berdegup kencang, bahkan tubuhnya mendadak begitu kaku. Perasaannya mulai gugup, dan bingung harus ngapain saat melihat siapa yang datang.
"T-Tuan Chandra," gumam Gricella.
"Lho, ternyata ada Nona Gricella juga disini. Kau siapanya Nona Gricella, Sha?" tanya Arkan pada Vesha seraya menunjuk ke arah Gricella.
"Dia adiknya Bryan. Itu artinya Gricella adik iparku," jawab Vesha seraya tersenyum.
Arkan nampak sangat terkejut, pasalnya memang dia tidak tahu dan bahkan belum melihat sosok calon suaminya Vesha. Sedangkan Chandra hanya memasang wajah datar saja saat melihat adanya Gricella di rumah Vesha.
Gricella tersenyum kaku. "I-iya, aku adik iparnya Kak Vesha." jawab Gricella sambil melirik takut ke arah Chandra.
"Ayo, duduklah. Kalian mau minum apa, biar aku buatkan?" tanya Vesha.
Mata Arkan berbinar saat itu juga. "Boleh tuh dibuatkan minuman yang segar-segar," jawab Arkan.
Chandra hanya menggelengkan kepalanya saja. "Kalau aku seperti biasa saja, Sha. Kamu tahu kan kebiasaan aku minum kalau siang begini," jawab Chandra.
Vesha menganggukkan kepalanya. "Hmm, aku tahu. Tunggu sebentar!" Vesha pun berbalik badan menuju arah dapur.
Gricella semakin dibuat gugup saat Chandra melewati dirinya dan duduk di sofa dekat laptop Gricella. Sementara itu Chandra yang tidak sengaja melihat ke arah layar laptop milik gadis itu pun sedikit memajukan tubuhnya dan menatap serius ke arah layar laptop.
Chandra melirik ke arah Gricella. "Kau sedang mencari lokasi untuk prewedding Vesha dan Bryan?" tanya Chandra.
Gricella menelan salivanya sedikit. "Eum, i-iya." Jawabnya yang masih merasakan kegugupan.
Chandra tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Sepertinya ini bagus," ujar Chandra saat melihat salah satu lokasi untuk prewedding.
Arkan yang sejak tadi diam pun ikut menengok ke arah laptop Gricella. Begitupun juga dengan gadis itu yang ikut menoleh ke arah laptopnya. Tanpa disadari Chandra pun bergeser ke tengah dan membuat dirinya dihimpit oleh Arkan dan Gricella.
"Coba lihat ini, tempatnya sangat bagus. Cocok untuk kriteria Vesha dan Bryan," usul Chandra.
"Hmm, benar. Tapi ini dimana?" tanya Arkan.
"Itu Taman Tebing Koja, Tangerang." Jawab Gricella.
Chandra dan Arkan langsung menoleh ke arah Gricella yang berada di sisi kiri Chandra. Gricella pun menoleh ke arah kanannya, seketika itu juga tatapannya langsung mengunci pada mata Chandra.
Deg
Jantung Gricella langsung berdegup kencang, begitupun juga Chandra. Arkan yang berada di sebelah Chandra pun memicingkan matanya, ia merasa sedikit curiga dengan keduanya.
"Ehem..." dehem Arkan.
Baik Chandra maupun Gricella sama-sama tersadar atas apa yang telah mereka lakukan. Keduanya sama-sama merutuki diri masing-masing.
"Tempat itu bagus," ujar Chandra menghilangkan kecanggungan dan kegugupan dalam dirinya.
"Hmm, memang tempat itu sangat bagus. Apalagi saat sunrise dan sunset tiba," jawab Gricella.
__ADS_1
Tebing Koja, Tangerang