
Menjelang pernikahan salah satu upaya Vesha memantapkan hati adalah dengan mendengar nasihat tentang pernikahan. Jadilah yang mencintai dan bukan hanya untuk dicintai karena pernikahan hanya bersama orang yang mencintai bukan dicintai, itu lah salah satu nasihat yang Vesha dengar dari kedua orang tuanya.
Memang benar kata pujangga, cinta abadi pernikahan dijalani dengan hati yang tulus.
Maka dari itu Vesha selalu berdoa, semoga pernikahannya bisa bertahan dalam terpaan musibah, tidak usang oleh rasa, tidak sirna oleh usia, tidak lekang oleh masa.
Vesha juga selalu menerapkan rasa saling percaya terhadap Bryan. Begitupun juga Bryan, bahkan pria itu pun sangat percaya pada Vesha. Karena Bryan sudah membuktikannya sendiri, Vesha mampu menjaga hatinya. Maka dari itu ia pun juga selalu menjaga hati untuk Vesha. Wanita yang akan menjadi istrinya, wanita yang sangat ia cintai.
Langit senja kembali menghiasi kota Jakarta sore ini. Vesha sudah dalam proses pingitan. Ia tidak diperbolehkan keluar rumah, maupun bertemu dengan Bryan. Karena dua hari lagi mereka akan menikah.
Vesha yang saat ini sedang dalam perawatan tubuh, sangat menikmati pijatan dari orang yang sengaja dikirim Bryan untuk memanjakan tubuh calon istrinya itu.
Vita masuk ke dalam kamar bersama Dewi, kebetulan sekali memang Dewi sedang berkunjung ke rumah Adam dan Vita.
"Sepertinya kau sangat menikmati massage nya, Sha." cetus Dewi.
"Iya, sampai merem begitu. Jangan-jangan dia tidur," celetuk Vita seraya terkekeh.
Vesha langsung membuka matanya dan tersenyum miring.
"Mama sama Tante mengganggu saja. Aku benar-benar sangat menikmati pijatannya. Ini sangat membuat aku rileks," gerutu Vesha.
Pegawai wanita itu tersenyum. "Syukurlah kalau Nona menyukai dan menikmati pijatan saya," sahut wanita itu.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya pelayanan massage untuk Vesha pun selesai. Kini Vesha sedang menikmati wedang jahe buatan Vita, dan seketika itu juga tubuhnya semakin terasa segar dan hangat.
Malam harinya setelah makan malam, Vesha kedatangan tamu. Adam dan Vita sempat terkejut dengan kedatangan Sagara malam ini. Ada sedikit rasa khawatir dalam diri keduanya, mereka takut kalau kedatangan Sagara malam ini akan menjadi penghalang pernikahan Vesha dan Bryan. Karena bagaimanapun juga Sagara adalah orang yang pernah singgah di hati Vesha. Walaupun itu hanya masa lalu.
Adam mempersilakan Sagara untuk masuk ke dalam dan mengobrol di ruang tamu. Vesha datang seraya tersenyum, tanpa disadari Vesha senyumnya itu telah membuat Sagara tertegun dan semakin terpesona.
"Hai, Ga!" ucap salam Vesha.
"H-Hai," jawab Sagara yang nampak gugup.
Vesha mengerutkan dahinya saat ia duduk di hadapan Sagara.
"Tumben kamu datang kesini. Ada apa, Ga?" tanya Vesha.
Sagara nampak gelisah dan gugup. Sesekali ia melirik ke arah dalam, takut Adam maupun Vita mendengar perbincangan mereka.
__ADS_1
Vesha menyadari kalau saat ini Sagara sedang gelisah, dan sepertinya ia akan mengatakan sesuatu hal yang sangat penting.
"Tenang saja, Mama dan Papa sudah masuk ke dalam kamar mereka." ujar Vesha.
Ya, memang Adam dan Vita diminta masuk ke dalam kamar. Vesha sudah memberi pengertian pada kedua orang tuanya, kalau dirinya dapat menjaga perasaannya. Sagara semakin salah tingkah karena Vesha tahu apa yang saat ini ia rasakan.
Sagara tersenyum. "A-Aku hanya tidak enak saja kalau Om sama Tante mendengar pembicaraan kita," ucap Sagara.
Vesha tersenyum. "Ya sudah, sekarang apa yang ingin kamu katakan? Mumpung mereka masih di dalam kamar," tanya Vesha.
Sagara mengatupkan bibirnya. "Eum, a-aku…" Sagara menjeda ucapannya.
"Cih, kenapa jadi gugup begini sih?" batin Sagara.
Pria itu meremaa jemarinya, rasanya benar-benar gugup. "Maaf, Sha!" hanya itu kata yang keluar dari bibir Sagara.
Vesha mengerutkan dahinya. "Maaf untuk apa, Ga?" tanya Vesha.
"Kalau bicara itu jangan setengah-setengah, Ga. Kamu ngomong aja apa yang ingin kamu katakan, jangan sampai suatu saat kamu menyesal karena tidak mengatakannya," sambung Vesha.
Sagara menelan salivanya kasar. "Iya, kamu benar. Aku tidak ingin menyesal di kemudian hari," ucap Sagara.
Berbanding terbalik, kini Vesha yang mendadak tertegun dan gugup mendengar pernyataan dari Sagara. Vesha mengerjapkan matanya berkali-kali, entah kenapa tenggorokannya saat ini mendadak kering.
"A-Aku ambilkan kau minum. Tunggu sebentar!" Vesha langsung berdiri dan sedikit berlari menuju dapur.
Di dapur Vesha langsung menarik nafas panjang-panjang, bahkan ia pun memukul pelan dada kirinya.
"Astaghfirullah, kenapa jadi segugup ini sih?" gumam Vesha pelan.
Tidak jauh berbeda dengan Vesha, Sagara pun merasakan hal yang sama dengan Vesha. Tetapi bedanya, Sagara sedikit merasa sangat ringan dan tidak merasa ada beban yang menempel dalam dirinya. Apa yang selama ini dipendamnya telah terlepas begitu saja.
"Haah, akhirnya!" gumam Sagara.
"Aku bisa mengatakan apa yang selama ini aku pendam. Maafkan aku, Sha."
Sagara kembali bermonolog, tanpa sadar sudut matanya mengeluarkan air mata. Sagara segera menghapusnya, ia tidak ingin Vesha melihatnya menangis. Tidak lama Vesha pun datang sambil membawakan minum untuk dirinya dan Sagara.
"Minum, Ga. Aku tahu kamu juga haus," Vesha menyerahkan gelas yang berisikan es teh manis.
__ADS_1
Mengingat cuaca sangat panas akhir-akhir ini. Sagara pun menerima gelas berisikan es teh manis buatan Vesha.
"Terimakasih, Sha!" ucap Sagara.
Mereka pun saling meminum minuman masing-masing. Seketika itu juga tenggorokan mereka merasa tidak kering lagi. Keheningan pun kembali tercipta, hingga akhirnya Sagara memecahkan keheningan diantara keduanya.
"Sha, aku tidak ada maksud untuk membuatmu mengingat semua yang terjadi diantara kita. Aku hanya ingin kamu tahu kalau aku masih memiliki perasaan terhadapmu," ucap Sagara.
Sagara membasahi bibirnya yang kering. "Jujur aku sangat merindukan kamu yang selalu manja dan begitu peduli dengan diriku. Terkadang aku berharap sangat kalau kamu bisa kembali bersamaku. Aku tidak akan pernah mengulangi kesalahanku yang dulu,"
"Aku rindu kamu yang dulu, Sha. Bolehkah aku berharap bisa kembali bersamamu?" tanya Sagara.
Vesha tertegun melihat wajah Sagara yang penuh harap itu. Bahkan Vesha dapat melihat kejujuran pada sorot mata Sagara.
Vesha pun menghela nafasnya. "Mungkin aku kejam jika aku menolak cintamu. Aku mengerti apa yang kau rasakan, namun tetap saja itu tidak mungkin untuk kita bersama lagi. Kau tahu aku akan menikah dalam dua hari lagi,"
"Jujur saja, aku lebih ingin persahabatan kita diutamakan untuk kedepannya. Itu akan lebih baik dari segalanya, karena selama ini kamu sudah kuanggap sebagai teman baikku dan sampai kapan pun akan seperti itu," ucap Vesha.
"Maaf, aku tidak bisa menerima cintamu. Bagiku kamu sudah seperti saudara dan aku tidak ingin menghancurkan hubungan yang sudah ada ini. Aku pun juga tidak ingin mengecewakan pria yang sangat tulus mencintaiku. Bryan adalah pria yang sangat memperjuangkan diriku. Jadi aku tidak ingin membuatnya sakit hati karena telah mengecewakannya," sambung Vesha.
"Maaf, karena aku menolakmu. Karena ada hati yang harus aku jaga," Vesha kembali berkata.
Sagara tersenyum tipis mendengar penuturan jawaban atas perasaannya dari Vesha. Pria itu menghela nafasnya, jadi memang sudah sangat terlambat dirinya menyadari perasaannya terhadap gadis itu.
"Aku sangat terlambat, ya? Maafkan aku karena baru menyadari perasaanku," ujar Sagara.
Vesha tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku hanya bisa berdoa dan berharap kamu menemukan wanita yang lebih baik dariku. Tapi aku minta satu hal padamu. Ketika kamu sudah mendapatkannya, aku harap kamu bisa menjaganya dengan baik. Jangan lakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya," pesan Vesha.
"Cukup aku saja yang merasakan sakit atas apa yang telah kamu lakukan. Jangan ada Vesha kedua dan seterusnya yang kamu sakiti," sambung Vesha dalam memberi petuah untuk Sagara.
"Cinta yang tulus itu mahal, lho…! saking mahalnya tidak ada yang sanggup membeli cinta yang tulus itu," goda Vesha seraya tertawa garing.
Sagara pun ikut tertawa mendengar ucapan Vesha yang terakhir. Tapi memang benar 'kan, kalau cinta itu memang sangat mahal. Bahkan orang terkaya sedunia pun tidak dapat membeli cinta yang tulus. Karena cinta yang benar-benar tulus tidak dapat diukur dengan uang atau kekayaan duniawi.
Gavesha Arabella
__ADS_1
(Langit, Marvin, Bryan, Vesha, Sagara dan Chandra)