
Kejadian yang dialami Shena dan Marvin adalah benar-benar aksi pembegal yang memang sering beraksi di jalan yang kemarin dilalui oleh Shena dan Marvin. Banyak warga yang mengeluh atas aksi yang dilakukan oleh para pembegal itu.
Vesha yang mendengar apa yang telah terjadi pada Shena pun langsung mendatangi rumah gadis itu. Vesha sangat khawatir terhadap sahabatnya itu, walau ia tahu kalau Shena masih bisa menangani para pembegal itu.
Dua hari telah berlalu setelah kejadian pembegalan yang dialami Shena. Kini pihak kepolisian sudah menangkap 5 tersangka pembegalan yang sempat melarikan diri. Bahkan saat penangkapan pun salah satu dari mereka ada yang mencoba untuk kabur. Namun dengan cepat aparat kepolisian segera menembakkan timah panas ke kaki si tersangka.
Kini Shena dan Marvin dapat bernafas lega karena polisi sudah menangani kasus ini dengan sangat baik. Baik Shena dan Marvin sudah menyerahkan kasus tersebut pada pihak pengacara masing-masing.
Setelah bertemu dengan sang pengacara, Shena berencana bertemu dengan Marvin. Shena hanya ingin mengucapkan terima kasih dengan cara membawakan makan siang untuk Marvin. Namun sepertinya pria itu sedang sangat sibuk karena pekerjaannya. Jadi, Marvin mengajak Shena untuk bertemu di salah satu bengkel miliknya. Shena pun tidak keberatan karena dirinya masih mengambil cuti sejak kejadian yang dialaminya.
Disinilah Shena saat ini, duduk di hadapan Marvin di dalam ruang kerjanya. Shena memperhatikan penampilan Marvin yang terlihat sangat casual dan santai, namun tidak menghilangkan ketampanan dan kekeranan dalam diri pria itu.
Sedangkan yang saat ini sedang diperhatikan hanya sibuk menata makanan yang dibawa oleh Shena.
"Ayo, makan!" ujar Marvin mengajak Shena untuk makan siang bersamanya.
Shena langsung mengatur jantungnya yang sempat terkejut, dan takut ketahuan oleh Marvin saat gadis itu memperhatikannya.
Shena sedikit berdehem. "Tidak, kamu saja!" tolak Shena dengan halus.
Marvin menaikkan satu alisnya, dan kembali meletakkan sendoknya. "Kali ini aku memaksamu, ayo makan! atau kamu mau aku suapin, hmm?" goda Marvin.
Shena berdecak kesal. "Tidak perlu!" jawab Shena yang langsung mengambil sendok dan memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Marvin tersenyum tipis melihat Shena nurut padanya. Ia pun ikut makan bersama Shena. Sungguh hati Marvin sangat berbunga-bunga.
Disaat mereka sedang asyik makan siang, ponsel Shena pun berdering. Sebuah panggilan masuk dari sang mama berhasil membuatnya menelan paksa makanannya.
"Assalamualaikum, Mom."
"Waalaikumsalam, kau dimana?" tanya sang mommy.
Shena nampak gelisah. "Eum, aku sedang bertemu dengan temanku. Ada apa, Mom?"
Terdengar helaan dari seberang sana. "Kamu tidak lupa kan, kalau hari ini kita akan bertemu dengan teman Mommy dan juga putranya,"
Shena menepuk keningnya dan berganti menggigit kuku jempolnya. "Maaf, aku lupa!" lirih Shena.
"Mommy tunggu kamu di restoran K. Jangan sampai tidak datang atau menghilang, kamu akan tahu akibatnya!" ancam sang Mommy.
Shena mengeraskan rahangnya dan mengepalkan kedua tangannya. Marvin mengerutkan dahinya saat melihat wajah Shena yang terlihat sedang menahan rasa kesalnya.
"Baik, Mom. Aku akan kesana," jawab Shena.
Marvin berinisiatif menggenggam tangan Shena dan membuat gadis itu terkejut. Marvin tahu kalau saat ini gadis yang ada di hadapannya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Ada apa? Apakah ada masalah, hmm?" tanya Marvin setelah Shena menutup sambungan telepon dari ibunya.
Shena menarik tangannya yang sedang dalam genggaman Marvin. "Tidak ada apa-apa. Maaf aku harus segera pergi," jawab Shena yang langsung bersiap untuk pergi dari bengkel Marvin.
"Tunggu!" Marvin mencoba mencegah Shena.
Marvin menarik tangan Shena dengan lembut. "Ada apa? Apakah semuanya baik-baik saja?" selidik Marvin.
Shena masih menundukkan wajahnya, tangan Marvin memegang dagu Shena. Tatapan mereka pun bertemu, dapat Marvin lihat mata Shena saat ini sudah berkaca-kaca.
"Jawab aku, Shena!" ujar Marvin kembali.
Shena menggeleng kuat. "Maaf, aku harus pergi!" jawabnya dengan suara lirih.
"Aku tidak akan mengizinkan kamu pergi, sebelum kamu mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Oke, memang aku tidak berhak tahu semua urusanmu. Tapi, kali ini biarkan aku tahu, Shena. Karena aku sangat khawatir denganmu," ungkap Marvin.
Shena menatap nanar pada Marvin, Shena juga dapat melihat ketulusan dari Marvin yang terlihat sangat khawatir padanya. Shena menggigit bibir dalamnya, air matanya sudah mulai keluar.
"Aku dijodohkan. Tadi Mommy ku menghubungi kalau aku harus bertemu dengan pria yang akan dijodohkan denganku," jawab Shena.
__ADS_1
Marvin terkejut mendengar jawaban dari Shena. Perjodohan, sunggu pria itu tidak habis pikir dengan pemikiran orang tua zaman sekarang. Yang masih ingin melakukan perjodohan pada anak-anak mereka, apakah anak-anak mereka tidak laku sampai orang tua harus melakukan perjodohan seperti itu? Namun bukan masalah perjodohan yang menarik perhatian Marvin.
Ekspresi Shena yang seakan sedang menyembunyikan sesuatu hal lainnya yang saat ini masih ditutupi oleh gadis itu. Entah apa itu, namun Marvin akan tetap ada di sisi Shena. Karena pria itu merasa harus tetap ada di samping Shena.
"Pergilah! Temui mereka," ujar Marvin.
Shena mendongakkan kepalanya dan menatap tidak percaya pada Marvin. Hanya segitu sajakah usaha untuk mendekatinya, Shena merasakan kekecewaan dalam hatinya. Namun, kata-kata Marvin kembali membuat Shena tercengang.
"Kamu boleh menemui mereka, namun tidak untuk menyetujui pertunangan itu. Yang boleh menikahimu adalah aku, karena kamu hanya milikku," lanjut Marvin seraya tersenyum.
Bola mata Shena berbinar dan sudut bibirnya terangkat sedikit. Walaupun tipis, namun Marvin masih dapat melihat senyum tipis itu.
"Aku pamit, bye!" ucap Shena.
Marvin mengangguk dan masih tersenyum. "Pergilah, dan jangan lupa kabari aku!" jawab Marvin dan dibalas anggukan kepala dari Shena.
Shena meninggalkan ruangan Marvin dengan cepat, bukan karena ingin segera menemui sang mama. Tetapi demi menghindari Marvin, karena entah kenapa debaran jantung Shena berdetak begitu kencang saat bersama Marvin. Padahal ini pertemuan keempat mereka selama beberapa hari.
Akan tetapi Shena selalu merasakan kegugupan dan perasaan aneh yang sulit dimengerti oleh logikanya. Tambah lagi, selama beberapa hari ini Marvin selalu memperlakukannya dengan begitu lembut dan selalu mengkhawatirkan dirinya.
Sepeninggalnya Shena dari bengkelnya, Marvin segera menghubungi Langit. Saat ini Langit sudah menjadi asistennya, namun Langit ditempatkan di showroom mobil milik sang ayah yang dua hari lagi akan menjadi milik Marvin.
Sementara itu, Bryan yang sedang melakukan meeting bersama Vesha dan kliennya pun terpaksa membatalkan makan siang mereka pada kliennya itu. Bryan harus memenuhi keinginan Naura yang mengajaknya untuk bertemu dan mengenalkan teman Naura dan juga anaknya. Bryan meminta Vesha untuk menemaninya, karena hanya dengan cara itulah Bryan bisa menolak perjodohan tersebut.
"Kita ke restoran K," titah Bryan pada supir pribadinya.
"Baik Tuan," jawabnya.
Vesha menoleh ke arah Bryan. "Kau yakin aku harus ikut denganmu?" Vesha nampak ragu jika dirinya harus ikut.
Bryan tersenyum dan mengangguk. "Harus karena kamu lah yang akan menjadi istriku. Bukan wanita dari pilihan Mommy," jawab Bryan.
Tanpa Bryan ketahui, jantung Vesha berdetak kencang mendengar jawaban Bryan. Hati Vesh senang dan bangga karena Bryan tetap memilih dirinya dibanding dengan wanita pilihan orang tuanya, walaupun mereka belum bertemu.
"Kamu yakin? Padahal kamu belum bertemu dengan wanita pilihan orang tuamu," ucap Vesha.
"Tidak perlu mengkhawatirkan akan diriku yang akan berubah pikiran. Aku adalah pria berkomitmen. Komitmen apa yang sudah aku buat, maka aku akan tetap menjalaninya," jawab Bryan yang seolah mengetahui kekhawatiran dalam diri Vesha.
Memang Vesha sempat berpikir kalau Bryan akan berubah pikiran setelah bertemu dengan wanita pilihan Naura. Terlebih wanita itu cantik dan memiliki kelebihan dari dirinya.
Vesha tersenyum getir dan tidak menjawab perkataan Bryan. Bryan pun dapat merasakan kalau Vesha saat ini sedang gugup dan gelisah. Namun Bryan akan tetap setia dalam mencintai seseorang.
Shena sudah tiba di restoran yang telah ditentukan oleh sang mommy. Shena langsung masuk ke dalam restoran tersebut dan menuju ruang VIP yang telah dijanjikan.
"Assalamualaikum, maaf aku terlambat." ucap Shena saat masuk ke dalam ruangan tersebut.
Naura dan Dewi tersenyum saat melihat kedatangan Shena. Kedua wanita yang terlihat sangat dekat itu pun berdiri dan menyambut kedatangan Shena.
"Waalaikumsalam," jawab Naura dan Dewi.
"Tidak apa, Nak. Putra Tante juga masih berada di jalan, tadi dia bertemu klien dulu baru bisa ke sini." jawab Naura.
Shena tersenyum kaku. "Ia, Tante." ucap Shena yang sedikit ragu.
Entah perasaan apa yang menghantui Shena. Firasatnya kali ini merasakan akan ada kejadian buruk saat pertemuan nanti. Degup jantungnya semakin menunjukkan perasaan aneh dan dirinya mulai dilanda kegelisahan yang cukup besar. Bulir keringat sebesar jagung mulai keluar di area keningnya.
Diluar parkiran, Bryan membantu Vesha turun dari mobil. Tanpa rasa takut akan ada berita tentang dirinya dengan sang sekretaris, Bryan dengan percaya diri berjalan sambil menggandeng tangan Vesha memasuki restoran K.
Keduanya langsung menuju ruang VIP yang dimana kedatangannya sudah ditunggu oleh sang Mommy. Bryan dapat mengetahui kalau Vesha sedang merasakan gugup. Terasa sangat di tangan Bryan kalau tangan Vesha sangat basah oleh keringat dingin.
"Jangan gugup begitu, ini hanya perkenalan saja. Ingat kata-kataku tadi! Percaya padaku, percaya akan cintaku padamu. Jangan takut kehilangan diriku, aku tidak akan mudah berpaling darimu. Kecuali kamu sendiri yang memintaku untuk pergi dan menjauh darimu. Walau nantinya aku tidak benar-benar dapat menerimanya," ucap Bryan seraya terkekeh kecil.
Vesha pun tersenyum mendengar ucapan Bryan. "Baiklah! aku tidak akan pernah memintamu untuk pergi," jawab Vesha.
"Itu baru wanitaku," Bryan menoel hidung Vesha.
__ADS_1
Pintu ruangan terbuka dan mereka pun masuk ke dalam. Posisi Shena dan Dewi membelakangi Bryan dan Vesha, jadi Vesha tidak dapat melihat jelas wajah keduanya yang sangat dikenalnya. Naura tersenyum saat melihat Bryan datang, namun senyumnya semakin surut kala melihat Vesha berjalan di sebelah Bryan dengan bergandengan tangan.
Naura langsung berdiri dengan memberi tatapan tajamnya pada Vesha. Membuat Dewi dan Shena mengerutkan dahi mereka.
"Bryan, kenapa kamu membawa sekretarismu ke pertemuan ini?" tanya Naura dengan perasaan kesal.
Dewi dan Shena pun menoleh dan mereka berdua terkejut melihat kedatangan Vesha. Terlebih tatapan mereka terfokus pada tangan Bryan yang menggenggam erat tangan Vesha.
Vesha pun ikut terkejut melihat Shena dan Dewi. Tatapan Vesha semakin nanar saat menyadari kalau Shena lah wanita yang ingin jodohkan dengan Bryan.
"Shena, Mommy Wi," gumam Vesha.
"Vesha," ucap Dewi dan Shena.
Baik Dewi dan Shena pun saling melirik satu sama lain. Berbeda dengan Naura yang tidak kalah terkejutnya, Naura tidak menyangka kalau sahabatnya itu kenal dengan Vesha.
"Kamu mengenal wanita itu, Wi." tanya Naura pada Dewi.
Dewi menoleh ke arah Naura, wanita itu pun mengangguk. "Iya, aku mengenalnya. Vesha ini sahabat Shena sejak kecil," jawab Dewi.
"Apa?" Naura semakin terkejut.
Dewi mengerutkan dahinya dengan mata yang terus memicing ke arah tangan Bryan.
"Kalian berpacaran?" selidik Dewi.
Vesha yang menyadari atas kesalahannya pun segera mencoba melepaskan genggaman tangannya pada tangan Bryan. Namun Bryan semakin mempererat genggamannya dan membuat Vesha kesulitan melepasnya.
"Dia calon istriku," jawab Bryan dengan begitu enteng.
Dewi dan Naura terkejut mendengar jawaban Bryan. Namun tidak dengan Shena, karena dia juga sudah mengenal Bryan dari Vesha.
"Bryan!" bentak Naura.
Dengan penuh kekesalan dan kemarahan, Naura menghampiri keduanya dan mencoba melepaskan tangan Bryan dari tangan Vesha.
"Apa-apaan kamu ini, heoh?" Naura berhasil melepaskan genggaman tangan Bryan dan Vesha.
Vesha sempat meringis saat merasakan kuku Naura yang mencakar tangannya. Namun Vesha menahannya, ia tidak ingin membuat Bryan dan Naura bertengkar dan membela dirinya.
"Mom," ujar Bryan menahan emosinya.
"Apa? Kamu masih ingin berdekatan dengan wanita ini, heoh?" bentak Naura seraya menunjuk ke arah Vesha.
Vesha hanya menundukkan wajahnya, dengan cepat Bryan pun menarik Vesha dan menjadikan tubuh pria itu tameng untuknya.
"Stop, Mom! Sejak awal aku sudah menolak perjodohan ini. Tapi Mommy masih saja kekeh ingin menjodohkan aku dengan anak Tante Dewi. Aku sudah mengatakan kalau aku akan menikahi Vesha, tapi Mommy selalu menentangku."
Penuturan Bryan membuat Naura membulatkan kedua matanya, begitupun dengan Dewi yang semakin terkejut dengan kedekatan Vesha dan Bryan. Pasalnya Shena tidak bercerita tentang siapa laki-laki yang sedang dekat dengan Vesha.
"Apa yang kamu katakan? Mommy tidak setuju jika kamu menikahi gadis tidak tahu diri ini," dengan penuh emosi dan mata menyorot kemarahan pada Vesha.
Naura berkata begitu sarkas sambil menunjuk ke arah Vesha. Vesha mengepalkan tangannya dan berusaha menahan rasa sakit hatinya. Tanpa mereka sadari Shena melangkahkan kakinya menghampiri Vesha.
"Berhenti menghina sahabatku, Tante!" ucap Shena yang saat ini terlihat tidak suka dengan Naura.
Naura terkejut melihat ekspresi wajah Shena saat ini yang terlihat begitu dingin dengan memberi tatapan tajam padanya. Naura menelan salivanya kasar, ini kedua kalinya Naura melihat Shena seperti itu. Dulu saat Shena berusia 12 tahun, Naura pernah melihat ekspresi wajah tersebut ketika Shena sedang kesal dan tidak suka pada seseorang.
"Shena," Dewi menghampiri putrinya dan menyentuh pundak Shena.
"Sebaiknya kita duduk dulu. Kita selesaikan ini secara baik-baik, dan kamu Naura. Tolong jangan terlalu emosi dan menyudutkan Vesha. Bagaimanapun juga aku dan putriku sangat mengenal Vesha dan kedua orang tuanya." ucao Dewi seraya menatap Naura.
Dewi tersenyum saat melihat Vesha dan Bryan. Apalagi saat melihat dengan sangat tegas Bryan melindungi Vesha dari sang mommy.
"Ayo, Nak. Kita duduk dulu, Tante tahu kalian pasti belum makan siang. Ayo, kita duduk!" ujar Dewi kembali.
__ADS_1
Bryan dan Vesha tersenyum. "Terimakasih, Tante!" jawab Bryan yang langsung menuntun Vesha untuk duduk di dekatnya dan juga di dekat Shena.