CINTA GAVESHA

CINTA GAVESHA
Modus Sagara


__ADS_3

Aurel keluar dari restoran tersebut setelah pria yang bertemu dengan dirinya itu pergi terlebih dahulu. Aurel sengaja pergi belakangan biar tidak ada orang yang mengenalinya dan melihat dirinya sedang bersama pria lain.


Aurel sedikit berjalan menuju halte bus untuk menunggu taksi online yang dipesannya. Karena restoran tersebut sangat dekat sekali dengan halte bus, jadi dirinya memilih titik pertemuan di sana saja.


Aurel kembali fokus dengan ponselnya. Jalan raya tidak terlalu padat, namun cukup ramai kendaraan yang lewat. Kebetulan sekali Langit yang baru saja pulang dari apartemen Marvin melewati jalan tersebut.


Dari kejauhan Langit dapat melihat Aurel yang sedang menunggu di halte tersebut. Karena Langit berkendara tidak terlalu ngebut seperti biasanya, entah kenapa kali ini pria itu mengendarai motornya sangat santai.


Langit menghentikan laju motornya tepat di depan halte. Lalu pria itu pun memanggil nama Aurel.


"Aurel," panggil Langit sedikit berteriak.


Aurel pun mendongakkan kepalanya dengan ujung alis yang saling bertautan.


"Kak Langit," gumamnya.


Langit pun turun dari motor sambil melepaskan helmnya. Ia pun menghampiri gadis itu.


"Nunggu jemputan?" tanya Langit.


Aurel pun mengangguk. "Iya, aku sedang menunggu G*** car," jawab Aurel.


"Batalkan saja," cetus Langit.


Dahi Aurel berkerut dengan mulut sedikit mangap. "Kenapa harus dibatalkan?" tanya Aurel yang sedang bingung.


"Aku akan mengantarmu," jawab Langit yang membuat Aurel terkejut.


"Bareng Kak Langit?" tanya balik Aurel yang ingin memastikan pendengarannya tidak salah dengar.


"Iya, lagi pula arah apartemen kamu dan rumahku itu satu arah," jawab Langit.


"Tapi, aku sudah memesannya. Dikit lagi mobilnya sampai," ucap Aurel.


Langit menghela nafasnya pelan. "Batalkan saja, aku yang akan membayar ongkos taksinya jima mobilnya sudah sampai. Jarang-jarang aku mengajak orang lain untuk naik ke motorku," sahut Langit.


Aurel nampak bingung, mobil yang dipesan Aurel pun tiba dan membuat Aurel semakin bingung. Gadis itu pun berdiri dan menghampiri mobil taksi online yang dipesannya. Namun Langit terlebih dahulu menghampiri mobil tersebut.


"Atas nama Aurel ya, Pak?" tanya Langit.


"Iya, Mas."


Langit tersenyum. "Maaf Pak, orderannya bisa dicancel saja. Sebagai gantinya Saya bayar full tarif sesuai orderan di aplikasi Bapak," kata Langit.


Sopir taksi online tersebut nampak sedikit kesal. Namun dengan cepat Langit mengeluarkan selembar uang merahan.


"Lebihnya untuk Bapak," ucap Langit.


Sopir itu pun tersenyum. "Terima kasih, Mas."


Langit mengangguk dan berjalan kembali menghampiri Aurel. Aurel yang masih bingung pun juga mendekat ke arah Langit.


"Sudah di cancel. Aku sudah mengganti ongkosnya," ujar Langit.


"Tapi,"


"Cepat! Aku tidak akan mengulangi tawaranku lagi," Langit berkata seraya berjalan menuju motornya.


Aurel sedikit berdecak kesal. "Dia menyebalkan sekali. Kalau terpaksa mendingan nggak usah nawarin bareng. Bikes banget jadi orang," gerutunya pelan dan tidak ada yang mendengarkannya.


"Cepat!" Langit kembali berteriak dan membuat Aurel semakin kesal.


Aurel terpaksa mengikuti perintah Langit. Walau sebenarnya dalam hatinya sudah sangat kesal dan sangat ingin menoyor kepala Langit yang sedang mengendarai motornya itu.


Beberapa menit berlalu, motor Langit sudah sampai di depan lobi gedung apartemen dimana Aurel tinggal. Aurel pun turun dari motor Langit dan Langit sendiri melepas helmnya.


"Terima kasih, Kak. Oh, ya tadi Kak Langit ngasih supir taksinya berapa? Biar aku ganti sekarang," ucap Aurel seraya bertanya.


"Transfer saja. Berikan nomor WhatsApp kamu biar nanti aku kasih nomor rekening milikku. Aku tidak biasa menerima uang cash. Apalagi di depan umum seperti ini," jawab Langit.


Aurel sedikit diam dan mengerti kemana arah ucapan Langit. Pria itu ternyata gengsinya sangat tinggi, atau bukan karena gengsi yang tinggi. Mungkin saja Langit sedikit malu jika menerima uang di depan umum, karena dirinya tidak ingin dikira sebagai tukang ojek online.


"Oh, boleh. Nomorku…" ucapan Aurel terpotong oleh ucapan Langit.


"Tunggu sebentar, aku baru saja mengeluarkan ponselku," Langit langsung berceletuk sambil mengeluarkan ponselnya.


Aurel menahan tawanya. "Maaf!" jawabnya.


"Berapa?" tanya Langit bernada sedikit ketus.


"0858xxxxxxxx," jawab Aurel


"Oke. Sudah aku save dan itu nomorku," ucap Langit setelah melakukan misscall pada nomor Aurel.


Aurel tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Langit pun bersiap kembali dengan memakai helmnya.


"Aku pamit," ucap Langit.


Aurel mengangguk. "Hati-hati, Kak. Sekali lagi terima kasih karena sudah mengantarku pulang,"

__ADS_1


Langit tidak menjawabnya lagi, ia segera pergi meninggalkan gedung apartemen tempat tinggal Aurel. Bersamaan dengan Langit yang pergi, Aurel pun masuk ke dalam dan mendapat sambutan hangat dari petugas keamanan dan resepsionis yang bekerja di gedung apartemen tersebut.


Sementara itu Vesha dan Chandra sedang menunggu antrian di sebuah klinik dimana Shena sedang praktek. Ya, gadis itu bekerja sama dengan sang kakak sepupunya yang juga seorang dokter yang sudah memiliki izin praktek untuk membuka sebuah klinik.


Nama Chandra pun dipanggil dan mereka berdua masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Shena tersenyum menyapa sahabatnya itu, namun tidak dengan Chandra. Padahal Vesha sudah memberitahukan Shena kalau jangan bersikap jutek terhadap Chandra. Namun sepertinya Shena tidak mengindahkan ucapan Vesha.


Shena mengernyitkan dahinya saat melihat wajah Chandra yang ada luka memar.


"Habis bertarung dengan banteng dimana?" tanya Shena dengan sinis.


Vesha mendengus seraya menggelengkan kepalanya. "Nanti aku ceritakan. Sebaiknya kamu obati saja dia," jawab Vesha.


Shena mencebikkan bibirnya dan akhirnya gadis itu pun memeriksa wajah Chandra sambil membersihkan darah yang hampir mengering di sudut bibir pria itu. Chandra sempat meringis saat tanpa sengaja Shena sedikit menekan luka di wajah Chandra.


"Oops, sorry!" ucap Shena.


Sepertinya itu bukan tidak disengaja, melainkan disengaja Shena untuk memberi pelajaran pada Chandra. Entah salah apa Chandra pada Shena, hingga gadis itu sangat benci ketika melihat Chandra.


Chandra tersenyum tipis, walau rasa nyeri di sudut bibirnya begitu terasa. "Tidak apa," jawab Chandra.


Shena memutar bola matanya saat melihat Chandra yang memaksakan dirinya untuk tersenyum. Shena pun sudah selesai memeriksa dan mengobati luka diwajah Chandra.


Gadis itu kembali ke tempat duduknya dan terlihat sedang menuliskan sesuatu di sebuah kertas.


"Ada alergi obat?" tanya Shena pada Chandra yang baru saja menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi sebelah Vesha.


"Tidak ada," jawab Chandra.


Shena mengangguk dan masih sibuk menulis. Shena memberikan kertas yang sudah berisikan obat yang harus ditebus Chandra pada pria itu.


"Ini resep obatnya, kuberikan obat pereda nyeri yang hanya diminum saat kamu merasakan nyeri saja. Aku juga memberikan salep untuk luka di wajahmu itu,"


"Obatnya diminum setelah makan. Jangan lupa, apapun sakitnya kamu harus tetap istirahat yang cukup,"


Shena memberikan pesan dan saran pada Chandra. Pria itu sempat tertegun saat mendengar Shena yang berbicara cukup panjang padanya. Ini pertama kalinya gadis itu berinteraksi dengan dirinya cukup lama. Tidak seperti biasanya, jika mereka bertemu Shena hanya berkata satu atau dua kata saja.


Chandra menerima resep tersebut dan mengangguk. "Iya, terima kasih," jawab Chandra yang tersenyum.


Vesha dan Chandra pun sudah selesai dan mereka pun berpamitan pada Shena. Namun sebelum mereka benar-benar keluar dari ruangan Shena, gadis itu berkata sesuatu pada Vesha.


"Kamu berhutang penjelasan padaku, Sha. Nanti malam kamu harus menjelaskannya padaku," ucap Shena.


Vesha melirik sejenak ke arah Chandra, lalu kembali menatap sahabatnya. "Iya, bawel!" celetuk Vesha yang membuat Chandra dan Shena tertawa kecil.


*


Langit pun mulai gelap, Sagara dan kedua orang tuanya sedang sibuk menikmati hidangan makan malam. Tidak ada yang bersuara, hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang saling beradu dengan piring.


Sagara sempat melirik ke arah sang bunda yang sedang asyik tertawa saat menerima sebuah panggilan yang entah dari siapa. Cukup lama mereka berbincang di sambungan telepon tersebut, akhirnya Safira menyudahinya.


"Telepon dari siapa sih, Bun? Kayaknya seru banget ngobrolnya," tanya Sagara yang langsung mendapat tatapan aneh dari sang bunda.


Safira menaikkan satu alisnya. "Kok, jadi kamu yang kepo? Ayah kamu saja nggak kepo kayak kamu," celetuk Safira seraya tertawa mengejek.


Sagara berdecak. "Bukannya kepo, Bun. Tapi cuma pengen tahu saja," jawab Sagara membenarkan dirinya.


Darel dan Safira tertawa. "Itu dari Tante Vita. Besok Bunda mau mampir ke tokonya untuk mengambil pakaian pesanan Bunda," ujar Safira.


Sagara mengernyitkan dahinya. "Tante Vita, mamanya Vesha?" tanya Sagara.


"Iya," jawab Safira.


"Memangnya besok Bunda nggak sibuk?" tanya Sagara.


Darel memicingkan matanya, dia memang sejak tadi hanya menyimak saja. Akan tetapi darel.bingung karena tidak biasanya Sagara terdengar sangat bawel dalam bertanya.


"Kamu ini banyak pertanyaannya juga ya, Ga. Sejak kapan jiwa kepo kamu berkembang biak?" celetuk Darel yang langsingembuat Safira tertawa.


Sagara berdecak kesal mendengar pertanyaan dari sang ayah yang seperti sedang mengejeknya.


"Besok Bunda tidak sibuk. Makanya Bunda menyempatkan diri untuk ke toko Tante Vita," jawab Safira yang masih tertawa.


Sagara nampak tidak bersemangat. "Kalau Bunda besok sibuk, biar Gara saja yang mengambil pesanan Bunda di toko Tante Vita," ucap Sagara yang membuat Safira dan Darel saling melirik.


Sagara yang mendapat tatapan aneh dari kedua orang tuanya pun langsung menatap mereka bingung.


"Kenapa?" tanya Sagara.


Darel dan Safira pun saling melirik, lalu kembali menatap ke arah Sagara.


"Tidak kenapa-kenapa. Hanya saja Ayah dan Bunda heran mendengar kamu berkata seperti itu. Tidak biasanya kamu mau direpotkan sama Bunda," jawab Darel yang sempat mencurigai putranya yang memiliki suatu siasat.


Sagara melongo mendengar jawaban dari sang ayah. "Gara 'kan hanya menawarkan diri, Yah. Tetapi kalau Bunda tidak sibuk, ya sudah. Besok Gara mau langsung main ke apartemen Marvin saja," ujar Sagara.


"Hemm, alasan." celetuk Safira.


Sagara kembali berdecak kesal sambil memutar bola matanya malas. Sagara tidak meladeni ucapan sang bunda yang ia ketahui kalau Safira sedang menggoda dirinya.


Keesokan paginya seperti biasa Safira sibuk menyiapkan sarapan untuk sang suami dan putra semata wayangnya itu dengan dibantu ART yang sudah lama bekerja disana.

__ADS_1


Mereka bertiga sudah berkumpul dan sama-sama menikmati hidangan nasi goreng seafood buatan Safira. Disaat sedang sibuk makan, ponsel Safira yang diletakkan di meja ruang keluarga pun berdering.


Safira segera berjalan meninggalkan sarapannya untuk menerima panggilan dari telepon tersebut. Safira terlihat sedang berbincang, Sagara sempat melirik dan memperhatikan raut wajah sang bunda yang sedikit berbeda.


Safira terlihat menghela nafasnya sambil berjalan menuju meja makan setelah mengakhiri perbincangannya di sambungan telepon.


Sagara mengerutkan dahinya saat melihat sang bunda kurang bersemangat.


"Bunda kenapa kelihatan lesu gitu? padahal tadi baik-baik saja," tanya Sagara sambil memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya.


Safira menghela nafasnya pasrah. "Bu Rt tadi telepon, katanya dia minta ditemani untuk kunjungan ke rumah Bu Rw ," jawab Safira yang sudah tidak bersemangat.


Jelas saja Safira tidak bersemangat, hari ini adalah hari dimana dirinya tidak ada jadwal kemanapun. Safira memang sering terlibat dengan kesibukan di Rt wilayah perumahaan tersebut.


Sagara tersenyum tipis, jika bundanya itu sibuk artinya Safira tidak bisa datang ke butik Vita. Sagara mengulum senyumnya,baginya ini adalah kesempatan untuk dirinya beralasan bisa bareng dengan Vesha.


"Terus Bunda nggak jadi ke butik milik Tante Vita dong?" tanya Sagara.


Safira diam sejenak dan kembali menghela nafasnya. "Tidak jadi," jawabnya lesu.


"Padahal bajunya mau Bunda pakai besok malam ke acara ulang tahun teman Bunda," lanjut Safira yang sudah sangat tidak bersemangat.


Darel menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis melihat tingkah sang istri. "Minta tolong saja sama Gara, Bun. Dia pasti mau mengambilkannya untuk Bunda," ujar Darel seraya melirik ke arah Sagara.


Sagara pun mengangguk dengan cepat. "Iya, biar Gara saja yang mengambilnya."


Safira yang masih menekuk wajahnya pun menatap ke arah putranya dengan alis yang terangkat satu.


"Memangnya kamu tahu dimana butik Tante Vita berada?" tanya Safira.


Sagara tercengang dengan mulut terbuka sedikit. Lalu ia cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Tidak tahu, Bun. Tapi 'kan ada Vesha, nanti aku minta diantarkan saja sama dia," jawab Sagara yang tidak kehabisan akal.


Darel menjentikkan jarinya. "Nah, ide bagus."


"Sudahlah Bunda jangan dipikirkan, biar Gara saja yang mengambil pakaian Bunda. Bunda beritahu Vita saja kalau kamu minta tolong Vesha untuk mengantarkan Gara ke butiknya selepas kuliah nanti," Darel kembali berkata dengan memberikan solusi terbaik.


Terbaik menurut Sagara yang sudah kita tahu kalau pria itu saat ini sedang tersenyum penuh kemenangan. Sudah dapat dipastikan kalau di dalam hatinya Sagara sedang bersorak gembira karena keinginannya terwujud.


Safira tersenyum. "Ya, sudah. Nanti Bunda hubungi Vita," jawab Safira yang sudah terlihat kembali seperti biasa.


Sagara yang sudah selesai dengan sarapannya pun segera berangkat untuk ke kampus. Pagi ini dirinya harus menyerahkan laporan skripsinya ke dosen pembimbingnya untuk pengoreksian.


Setibanya di kampus, Sagara segera mencari keberadaan Vesha. Kali ini dirinya tidak ingin terlambat untuk mengajak gadis itu untuk mengantarkannya ke butik milik orang tua Vesha. Sagara segera berlari saat melihat sosok yang sedang dicarinya.


"Vesha," teriak Sagara.


Akibat teriakan Sagara semua yang ada di lorong kelas pun banyak yang menoleh dan memperhatikan Sagara dan Vesha. Mereka pikir kalau akan terjadi perdebatan atau pertengkaran seperti yang pernah terjadi diantara mereka berdua.


Vesha menoleh dengan dahi yang sedikit berkerut. "Ada apa, Ga?" tanya Vesha


Sagara tersenyum tipis sambil mencoba menetralkan nafasnya yang ngos-ngosan.


"Tante Vita sudah memberitahukan belum?" tanya Sagara kembali.


Vesha semakin dibuat bingung oleh Sagara. "Kamu malah balik tanya ke aku. Aku saja tidak tahu Mama ku akan memberitahukan aku soal apa," jawab Vesha.


Sagara menepuk keningnya. "Mungkin Bundaku belum Mama kamu," ujar Sagara.


Mereka berjalan sambil berbincang. Lalu Vesha tersenyum miring dengan menaikkan kedua bahunya.


"Memangnya soal apa?" tanya Vesha.


"Ah, itu. Bunda aku memintaku untuk ke butik Mama kamu. Tapi aku tidak tahu dimana butiknya, maukah kamu mengantarkanku ke sana?"


Vesha nampak berpikir, sejenak ia pun diam. Vesha pun menoleh ke arah Sagara.


"Boleh, kebetulan aku juga ingin buat laporan sama Mama untuk penjualan online yang aku tangani," jawab Vesha.


Sagara cukup tercengang mendengar jawaban Vesha. Bukan masalah mengenai gadis itu setuju untuk menemaninya, tetapi dengan bisnis online yang dijalani gadis itu.


"Kamu bisnis online juga?" tanya Sagara.


Vesha mengangguk cepat seraya tersenyum tipis. "Iya, aku menjual online sebagian pakaian yang ada di butik Mama. Sebagian lagi aku punya sendiri barang-barang lainnya yang dijual," jawab gadis itu.


Sagara semakin tercengang atas pengakuan Vesha. Jadi selama ini Vesha bukanlah gadis manja yang selalu ada dipikirannya. Bahkan diam-diam gadis itu memulai berbisnis dan bekerja hingga menghasilkan uang sendiri.


"Sudah berapa lama kamu berjualan online?" tanya Sagara.


"Eum, kalau tidak salah sudah mau jalan 4 tahun," jawab Vesha.


Sagara benar-benar tidak bisa berkomentar apapun. Semua yang selalu dipikirkan buruk tentang Vesha itu adalah salah besar. Sagara sangat menyesal telah meninggalkan gadis baik seperti Vesha. Bukan hanya baik, gadis yang berjalan di sebelahnya itu sangatlah mandiri. Tidak seperti Aurel yang selalu manja terhadapnya.


Padahal Vesha terbilang gadis yang sangat berkecukupan. Namun Vesha tidak pernah menunjukkan kemewahan yang didapatkan dari kedua orang tuanya. Sagara tidak tahu saja kalau bagi Vesha, kekayaan yang dimiliki kedua orang tuanya adalah milik kedua orang tuanya sendiri. Bukan milik Vesha, maka dari itu Vesha memilih untuk belajar berbisnis dan bekerja secara online dan hidup mandiri sejak dini.


Dari kejauhan Aurel mengepalkan kedua telapak tangannya. Terlihat pancaran rasa cemburu dalam diri gadis itu.


"Awas kamu, Sha. Lihat saja permainan yang akan dimulai hari ini," gumam Aurel dengan seringaian liciknya.

__ADS_1


Aurel pun segera berjalan menuju kelasnya. Begitupun juga dengan Vesha dan Sagara yang tidak sadar kalau mereka sudah sampai di depan kelas mereka. Mereka berdua pun masuk kedalam dan kembali menjadi pusat perhatian siswa yang lainnya.


__ADS_2