CINTA GAVESHA

CINTA GAVESHA
Bab 50


__ADS_3

Pagi ini Bryan dan Devano ada pertemuan dengan klien di Paris. Ini pertama kali Bryan bertemu dengan klien Sean, mengingat perusahaan sudah ditangani oleh Bryan. Jadi Sean tidak bisa ikut hadir dikarenakan dirinya sudah menyerahkan semuanya pada putranya itu. Sean meminta Devano untuk menemani Bryan, karena Devano banyak tahu menangani klien tersebut. Disini Bryan dibantu mendapatkan arahan oleh Devano.


Bryan merasakan perasaan yang tidak menentu saat memikirkan Vesha. Mungkin karena ini pertama kalinya Bryan dan Vesha berpisah jarak jauh dalam beberapa hari kedepan. Vesha sudah mengingatkan Bryan untuk tidak terlalu khawatir dengan dirinya, namun tetap saja sejak semalam dan pagi-pagi sekali Bryan menghubunginya terus.


Bryan juga memiliki alasan yang kuat akan kekhawatirannya itu. Mengingat kedua orang tua Vesha sedang berada di Surabaya. Ya, Adam dan Vita sedang berada di Surabaya tempat orang tua Vita. Kemarin siang Adam diminta untuk mengatasi perusahaan yang ada di Surabaya, dan kebetulan sekali memang Adam dan Vita ingin ke kota tersebut karena sang ibu yang sedang sakit. Jadi, Vita pun ikut Adam ke Surabaya untuk membantu merawat sang ibu mertua, sementara Adam mengatasi masalah di perusahaan.


Niatnya, Vesha akan menyusul setelah Bryan kembali dari Paris. Sepeninggalnya Bryan dan Devano untuk pertemuan penting itu, Naura dan Gricella datang ke perusahaan. Kedua wanita beda generasi itu pun berjalan dengan sedikit angkuh saat memasuki lobi perusahaan.


Beberapa pegawai menyapa keduanya saat berpapasan dengan mereka. Naura dan Gricella hanya tersenyum tipis menanggapi salam dari para pegawainya itu.


Terlihat Vesha sedang sibuk merapikan laporan yang belum sempat dikerjakannya. Vesha bertekad untuk segera merapikannya hari itu juga, walaupun Bryan memintanya untuk menyerahkannya dua hari lagi. Namun entah kenapa perasaannya mengharuskan untuk menyelesaikan hari ini.


Suara langkah kaki yang berjalan ke arahnya mengalihkan fokus Vesha dari layar laptopnya. Gadis itu pun menoleh dan terkejut melihat kedatangan Naura dan Gricella. Vesha pun berdiri dari duduknya dan tersenyum.


"Selamat pagi Nyonya, Nona muda," salam Vesha ramah.


Naura memutar bola matanya malas, begitupun juga dengan Gricella. Keduanya memberi tatapan tidak suka pada Vesha.


"Temui saya di ruangan CEO," perintah Naura pada Vesha.


Setelah berucap, Naura dan Gricella langsung melenggang masuk ke dalam ruangan Bryan. Vesha menghela nafasnya, jantungnya pun berdebar kuat. Bisa dikatakan Vesha belum siap menghadapi Naura kembali. Gadis itu pun dengan berat hati masuk ke dalam ruangan Bryan.


Saat membuka pintu, dapat Vesha lihat Naura dan Gricella sedang menatap dirinya dengan tatapan tidak suka. Vesha menelan salivanya dengan kasar, lalu ia pun berjalan perlahan menghampiri kedua wanita itu.


Naura menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan menunjukkan wajah angkuhnya.


"Aku tidak suka berbasa basi," Naura pun berdiri dan berjalan perlahan menghampiri Vesha.


Wanita itu menelisik penampilan Vesha dan berjalan memutari tubuh gadis itu. Naura sedikit menyentuh blazer milik Vesha dengan jarinya dan seakan jijik saat menyentuhnya.


Wanita itu menghela nafasnya kasar. "Entah apa yang membuat putraku tergila-gila pada gadis seperti dirimu," ucap Naura.


Jangan tanya bagaimana perasaan Vesha saat ini tentu saja dirinya bingung dan heran dengan ucapan Naura.


"Maksud Nyonya apa? Maaf saya tidak mengerti, karena saya bukan rumah sakit jiwa," celetuk Vesha.


Tentu saja pertanyaan Vesha tadi membuat Naura dan Gricella terkejut. Naura sudah memberi tatapan tajam pada Vesha, sedangkan Gricella sempat menahan tawa saat mendengar jawaban Vesha yang menurutnya diluar nalar.


"Kau ini! Benar-benar keterlaluan, apa-apaan kamu berkata seperti itu?" bentak Naura.


Vesha terlihat semakin bingung dengan ucapan dari Naura.


"Bukankah tadi Nyonya bilang kalau aku sudah membuat putra Nyonya tergila-gila? Padahal kenyataannya aku bukan rumah sakit jiwa Nyonya," jawab Vesha dengan santai.


"Pfft," Gricella kembali menahan tawanya.


Naura sempat melirik ke arah Gricella dan memberinya tatapan tajam, namun dengan cepat gadis itu berdehem dan memasang ekspresi datar. Kembali ke Naura yang semakin kesal pada Vesha.


"Ternyata bukan hanya rendahnya ternyata kamu juga bodoh," ujar Naura sambil berdecak sebal.

__ADS_1


Vesha mengerutkan dahinya. "Kalau aku rendahan, kenapa tubuhku lebih tinggi dari anda? Walaupun aku bodoh, kenapa aku mendapat gelar Summa Cum Laude? Bukankah itu aneh?" gumam Vesha pelan.


"Apa yang kau katakan, heoh?" bentak Naura kembali.


Vesha menggeleng dengan cepat. "Tidak ada Nyonya, maaf!" jawab Vesha seraya menundukkan wajahnya.


"Ck, kau benar-benar membuatku kesal! Aku minta segera kau tinggalkan perusahaan ini dan menjauh dari kehidupan kami, terutama putraku!" Naura kembali membentak Vesha.


Vesha masih memasang wajah tenangnya. "Tapi Tuan Bryan tidak mengizinkan saya untuk meninggalkan perusahaan ini, terutama dirinya. Itulah pesan yang disampaikan pada saya sebelum beliau berangkat ke Paris," jawab Vesha.


Gricella yang sedang duduk santai mendengar jawaban Vesha pun terperangah karena jawabannya itu. Sementara Naura semakin kebakaran jenggot dan semakin murka dengan Vesha.


[Plak]


Karena sudah sangat kesal, akhirnya Naura menampar wajah Vesha. Gricella cukup terkejut dengan tindakan sang mama, bahkan gadis itu langsung berdiri sambil menutup mulutnya dengan satu tangan.


"Mom!" tegur Gricella.


Tangan Naura terangkat, memberi isyarat agar Gricella tetap diam dan tidak mengganggunya. "Sudah lama aku ingin sekali menampar wanita murahan dan tidak tahu diri ini. Wanita yang sudah berani menantang diriku. Aku rasa kedua orang tuanya tidak becus dalam mendidik wanita ini. Ck, mungkin juga kedua orang tuanya yang mengajarkan wanita ini untuk tidak sopan terhadap orang lain," ucap Naura.


Vesha menatap Naura sambil memegangi wajahnya. Matanya mulai memanas, bahkan hatinya pun mulai terasa nyeri. Bukan karena sebuah tamparan, akan tetapi ini mengenai sebuah hinaan terhadap kedua orang tuanya.


"Tidak bisakah anda cukup menghina diriku saja, Nyonya Naura. Tidak perlu anda membawa-bawa kedua orang tuaku dalam menghinaku. Mereka tidak pantas mendapat hinaan dari siapapun, karena mereka kedua orang tuaku yang telah membesarkan dan mendidikku dengan baik," sahut Vesha yang tidak terima.


Naura menanggapi jawaban Vesha dengan senyum sinisnya. "Oh, begitukah? Kalau begitu seharusnya kedua orang tuamu yang menyesal, karena telah melahirkan anak seperti dirimu," hina Naura untuk Vesha kesekian kalinya.


Vesha mengepalkan sebelah telapak tangannya, karena kembali menerima hinaan dari Naura. Sementara itu Gricella terlihat begitu khawatir, terlihat jelas di wajah cantiknya itu.


Apa yang dipikirkan Gricella tentu saja akan bertolak belakang dengan keinginannya itu. Tentu saja Bryan akan marah dan kesal saat mengetahui kekasihnya dihina seperti itu oleh ibu kandungnya sendiri. Bukannya Bryan ingin menjadi anak yang durhaka, tetapi selagi ibu kandungnya itu melakukan kesalahan sudah tentu Bryan yang sebagai seorang anak akan menegurnya. Walau nantinya akan berujung pertengkaran, mengingat keduanya sama-sama keras kepala.


Vesha menatap tajam pada Naura, dan tatapan itu membuat Naura sedikit takut dengan gadis itu. Vesha melangkah mendekat ke arah Naura, dan membuat wanita itu memundurkan langkahnya.


"Berkatalah hal yang positif tentang orang lain, Nyonya. Karena kata-kata positif selalu kembali pada sumbernya," ujar Vesha.


Tangannya terangkat dan mengacungkan jari telunjuknya di hadapan Naura.


"Ingat, Nyonya! Hargailah orang lain jika anda ingin dihargai, dan jangan menghina jika anda tidak ingin terhina kembali. Jangan merendahkan orang lain jika anda tidak ingin direndahkan juga," ucap Vesha kembali dengan suara bergetar.


Naura melototkan matanya mendengar ucapan Vesha, wanita itu tidak menyangka kalau gadis di hadapannya ini berani berkata seperti itu di hadapannya.


"Anda ingin saya berhenti dari perusahaan ini dan menjauhi putra anda. Itukan yang sangat anda inginkan, Nyonya?" tanya Vesha dengan menantang.


"Aku akan menuruti apa yang anda inginkan, tapi ingat…!" Vesha kembali mengacungkan jari telunjuknya di depan Naura.


Vesha menarik nafasnya dan membuangnya dengan kasar. "Ingat ini baik-baik, Nyonya. Ketika anda merendahkan orang lain, maka sejatinya anda juga termasuk dalam golongan orang yang anda rendahkan, dan kita…" Vesha sedikit menjeda ucapannya.


"Kita sama-sama rendah, Nyonya Naura Yang Terhormat," sambung Vesha bernada sedikit ketus.


Vesha tersenyum smirk membuat Naura kembali bergidik ngeri melihat gadis itu. Namun dengan cepat Naura berbalik badan dan menuju ke arah meja kerja Bryan. Vesha hanya menatap dingin tanpa berkedip ke arah Naura.

__ADS_1


"Cepat keruangan putraku," ucap Naura saat menghubungi seseorang melalui telepon yang ada di meja kerja Bryan.


Vesha masih diam dan tetap menatap dingin ke arah Naura juga Gricella. Tidak lama pintu ruangan Bryan pun terbuka, dan seorang pria yang dikenal Naura sebagai sekretaris Devano.


Pria itu terlihat bingung melihat ketiga wanita yang masih berada di posisi berdiri. Lalu ia pun berdiri di sebelah Vesha.


"Selamat pagi, Nyonya. Apakah anda membutuhkan sesuatu?" tanya pria itu.


Naura sedikit berdehem, dirinya dapat bernafas lega karena kedatangan pria itu.


"Ya, aku membutuhkan bantuanmu, Angga. Tolong kamu urus pengunduran diri wanita ini," jawab Naura.


Pria bernama Angga itu pun langsung menatap Vesha dengan tatapan bingungnya. Pasalnya ia pun sangat tahu kalau Vesha adalah kekasih dari Bryan. Bahkan Angga sudah dipesankan Bryan untuk menjaga Vesha.


"T-tapi.."


"Cepat laksanakan apa yang aku perintahkan!" dengan cepat Naura memotong ucapan Angga dengan membentak.


Angga pun terperangah mendengar bentakan dari Naura. Pria itu dilanda kebingungan, pasalnya ia tidak berhak mematuhi perintah Naura. Walaupun wanita itu adalah orang tua dari atasannya sendiri. Naura yang melihat Angga hanya diam saja pun mulai kesal dan geram.


"Cepat lakukan perintahku, Angga!" teriak Naura.


Angga dan Gricella pun tersentak mendengar suara Naura, tetapi tidak dengan Vesha.


Gadis itu berdecak kesal. "Ck, tidak perlu berteriak seperti itu Nyonya. Ingat perawatan wajahmu sangat mahal!" sindir Vesha.


Naura melebarkan matanya. "Kurang ajar kau!"


"Tenanglah, Nyonya! Aku akan mengurus surat pengunduran diriku. Tetapi sebelum itu biarkan aku selesaikan satu pekerjaanku hari ini. Akan aku pastikan besok anda tidak akan melihatku di perusahaan ini lagi," ujar Vesha.


Angga semakin terkejut mendengar ucapan Vesha. "T-tapi Nona Vesha," Angga terlihat sangat ragu.


Vesha tersenyum tipis. "Tenang saja, Tuan. Aku akan tetap mengundurkan diri dari perusahaan ini," jawab Vesha.


"Lalu bagaimana dengan Tuan Bryan?" tanya Angga pada Vesha.


"Bryan tidak ada sangkut pautnya dengan pengunduran diri wanita ini, Angga. Jadi jangan banyak bertanya dan lakukan saja apa yang aku perintahkan!" sahut Naura.


Angga merasa tidak enak hati dengan Vesha, mengingat gadis itu tidak pernah melakukan kesalahan selama bekerja menjadi sekretaris Bryan. Bahkan Vesha dapat bekerja begitu profesional selama dua beberapa bulan.


Merasa dirinya memang harus segera oergi dari perusahaan itu, Vesha pun memilih untuk keluar terlebih dahulu dari ruangan tersebut.


"Saya permisi, karena masih ada satu pekerjaan dan saya juga harus membuat surat pengunduran diri hari ini," ucap Vesha seraya berbalik badan dn tidak peduli lagi dengan Naura dan yang lainnya.


Vesha keluar dari ruangan tersebut dan meninggalkan ketiga orang itu. Vesha kembali duduk di meja kerjanya dan langsung mengerjakan semua pekerjaannya yang sempat tertunda.


Walaupun pikirannya saat ini sedang kacau, Vesha tetap berusaha untuk tetap menyelesaikan pekerjaannya. Tidak lama Angga pun keluar dan segera menghampiri Vesha.


"Sha, bisa kamu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Angga yang masih penasaran.

__ADS_1


Vesha tidak menoleh dan hanya fokus pada laptopnya. "Tidak ada yang perlu dijelaskan, Tuan Angga. Aku akan tetap mengundurkan diri dari perusahaan ini sesuai perintah Nyonya Naura," jawab Vesha.


"Tapi, Sha.."


__ADS_2