
Malam sebelum pertemuan itu, Naura meminta dan bahkan memaksa Bryan untuk ikut bertemu dengan Dewi. Bryan memang sangat mengenal Dewi, namun tidak dengan Shena.
"Kenapa Bryan harus menemui Tante Dewi dan putrinya, Mom?" tanya Bryan.
Naura menghela nafasnya. "Mommy akan menjodohkan kalian berdua. Kamu dan putrinya si Dewi," jawab Naura.
Bryan berdecak kesal. "Perjodohan lagi, kenapa sih Mommy masih saja kekeh menjodohkan aku dengan anak dari teman Mommy? Aku sudah ada Vesha, Mom."
"Stop menyebutkan nama wanita kampungan itu," bentak Naura.
Bryan mengeraskan rahangnya, tangannya pun terkepal kuat. Bryan tidak suka mendengar Vesha dihina, walaupun itu mommy nya sendiri.
"Bryan mohon jangan menghina Vesha, Mom!" sahut Bryan.
"Tidak perlu membuang tenaga untuk membelanya, Bryan. Mommy tidak suka kamu berhubungan dengan wanita itu," cetus Naura.
"Itu kewajiban Bryan untuk melindungi wanita yang Bryan cintai," jawab Bryan.
"Kamu," geram Naura.
"Ada apa ini?"
Naura dan Bryan pun menoleh ke arah sumber suara. Disana sudah ada Sean dan juga Devano, mereka berdua baru saja kembali dari Thailand.
"Daddy," gumam Naura dan juga Bryan.
Naura pun menghampiri Sean dan mencium punggung tangan suaminya, begitupun juga dengan Bryan.
"Da-Daddy baru sampai?" tanya Naura bernada gugup.
"Hmm," jawab Sean. "Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Sean.
Naura meneguk salivanya kasar, wajahnya terlihat gelisah. Sedangkan Bryan bersikap biasa saja.
"Eum, tidak ada. Tadi kami hanya sedang membahas masalah pertemuan Bryan dan putrinya Dewi saja," jawab Naura.
"Sudah jangan dibahas lagi, sebaiknya Mommy antar Daddy ke kamar. Daddy pasti sangat lelah kan?" lanjut Naura sembari bertanya pada Sean.
Sean mengangguk seraya menghela nafasnya. Lalu dia beralih pada Devano.
"Sebaiknya kamu juga kembali ke kamar, Dev. Istirahatlah!" pinta Sean pada keponakan angkatnya itu.
Devano mengangguk. "Siap, Om!" jawabnya.
Devano pun masuk ke dalam dan segera menuju kamarnya. Begitupun juga dengan Sean dan Naura yang sudah menaiki tangga menuju kamar mereka.
Bryan memijat keningnya dan menjatuhkan bibit tubuhnya di sofa empuk di ruang keluarga.
Selang beberapa menit berlalu, ponsel Bryan pun berbunyi sebuah pesan dari Naura membuat Bryan langsung memperbaiki duduknya.
📩 (Mommy)
["Besok siang di restoran K. Datanglah, dan Mommy harap kamu tidak mengecewakan Mommy,"]
Bryan kembali menghela nafasnya, telapak tangannya terkepal dan memukul-mukul pelan keningnya.
"Kenapa sikap Mommy seperti anak-anak?" monolog Bryan dengan pelan.
__ADS_1
*
Suasana dalam ruang VIP restoran tersebut masih begitu canggung. Apalagi Naura masih saja menatap tidak suka pada Vesha. Shena mencoba membuat perasaan Vesha tenang, gadis itu selalu mencoba mengalihkan Vesha dengn terus mengajak gadis itu berbincang dan tertawa bersama.
Vesha yang awalnya terlihat tegang, kini sudah dapat terlihat santai berkat Shena. Shena juga sesekali berbincang dan menegur Bryan.
"Dewi," panggil Naura.
Semuanya menoleh dan mengarahkan perhatiannya pada Naura.
"Ada apa, Naura?" tanya Dewi dengan sikap santainya.
Dengan wajah angkuhnya, Naura memotong daging steak dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Aku ingin perjodohan Bryan dan Shena tetap dilaksanakan," ucap Naura tanpa merasa iba pada Vesha.
[Tak…]
Semua menoleh ke arah Vesha saat tanpa sengaja gadis itu menjatuhkan sendoknya di atas piringnya dengan cukup kasar. Bryan langsung menggenggam dan sedikit meremas tangan Vesha. Sedangkan Shena mengusap lembut punggung sahabatnya itu.
"Tidak, Tante. Aku tidak mau," tolak Shena dengan cepat.
"Kamu tidak bisa menolaknya, Shena. Karena ini sudah Mommy kamu sepakati sebelum kamu lahir," ucap Naura.
"Maaf Tante, terserah Tante Naura mau berpikir tentang aku seperti apa. Tapi disini aku tetap dalam pendirianku kalau aku tidak peduli dengan perjodohan ini. Lagi pula Tante Naura 'kan tahu, kalau Kak Bryan sudah memiliki calon istri. Dia…" Shena menunjuk Vesha yang sedang menundukkan wajahnya.
"Sudah jelas kan Tante tahu kalau Vesha adalah pilihan Kak Bryan. Jadi Shena mohon sekali sama Tante untuk membatalkan perjodohan ini," Shena mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
Naura tidak habis pikir dengan apa yang baru saja Shena katakan. Gadis yang sangat diinginkannya menjadi menantunya itu malah menyetujui hubungan Bryan dan Vesha. Padahal sudah sangat jelas kalau dirinya sangat tidak suka dengan Vesha yang hanya dari keluarga biasa saja.
Naura menghela nafasnya kasar, dadanya terlihat naik turun karena menahan rasa kesal dan marahnya.
"Apa kelebihan dia? Dia hanya seorang sekretaris saja, bahkan dia masuk ke perusahaan Heinzee pun karena Bryan," celetuk Naura yang tidak suka.
Dewi yang sejak tadi hanya menyimak pun mencoba menjadi penengah. Jujur saja saat ini dirinya sedang dilanda dilema, satu sisi dirinya sudah berjanji pada Naura untuk menjodohkan anak-anak mereka ketika sudah tumbuh dewasa. Satu sisi lagi, ia merutuki dirinya yang tidak mencari tahu terlebih dahulu mengenai Bryan sedang dekat dengan wanita mana.
Kalau menerima perjodohan ini, Dewi sangat tidak memiliki hati. Karena ia dan sang suami masih memiliki hubungan keluarga dengan Adam. Ya, Bram adalah saudara sepupu jauh Adam. Ibu dari Adam adalah kakak sepupu kakeknya Bram.
Apalagi sebelum Dewi dan Bram sukses, Adam dan Vita selalu membantu mereka. Dewi meremas sendok yang saat ini masih dipegangnya.
"Naura," panggil Dewi pada wanita yang masih ingin memojokkan Vesha.
"Ada apa, Wi? Kamu setuju 'kan dengan apa yang baru saja aku katakan. Perjodohan ini harus tetap kita laksanakan. Aku akan memberitahukan Sean soal ini, dan kita tinggal tentukan harinya dan tanggalnya saja," ujar Naura.
Dewi meneguk salivanya dengan kasar, baru saja ingin membalas ucapan Naura. Tiba-tiba saja Bryan berdiri dari duduknya dan berkata sesuatu yang membuat Naura terdiam.
"Mommy stop!" ucap Bryan. "Please, Mom! Tolong berhenti memaksa Bryan dan Shena untuk menerima perjodohan ini. Bukankah Mommy dengar dan lihat sendiri kalau Shena juga menolak perjodohan ini. Mommy juga lihat Bryan kesini sama siapa?" Bryan berbicara sedikit membentak.
"Tolong, Mom. Hargai keberadaan Vesha disini dan Bryan mohon juga sama Mommy untuk berhenti menjodohkan Bryan dengan Shena atau wanita manapun pilihan Mommy. Tolong hargai pilihan Bryan, Mom. Bryan hanya ingin Vesha yang menjadi pendamping Bryan dalam berumah tangga," sambung Bryan kembali.
Bryan meraih tangan Vesha. "Ayo, sayang. Sebaiknya kita pergi dari sini," ajak Bryan pada Vesha.
Vesha merasa tidak enak dan semakin bersalah. Gadis itu nampak ragu meninggalkan ruangan tersebut. Namun Shena terlihat mengangguk menyetujui kalau Vesha pergi dari tempat itu. Mau tidak mau Vesha menuruti ajakan Bryan, ia pun menatap ke arah Dewi dan Naura.
"Maaf," lirih Vesha.
Naura semakin benci dan menatap tidak suka pada Vesha. Naura menggebrak meja dengan perasaan dongkolnya.
__ADS_1
"Bryan," teriak Naura.
Dewi dan Shena hanya memejamkan matanya saat mendengar Naura berteriak memanggil nama Bryan. Karena tidak tahan akhirnya Shena sedikit membentak Naura.
"Berhenti berteriak, Tante! Apakah Tante tidak sayang dengan suara Tante?" ucap Shena dengan begitu sinis.
Naura menatap penuh kekecewaan pada Shena. "Kamu," geram Naura.
"Sudahlah, Tante. Aku dan Mommy pamit dulu," cetus Shena. "Ayo, Mom!" ajak Shena pada Dewi.
Dewi menghela nafasnya dan berdiri. "Maaf, Naura. Aku harus pulang," pamit Dewi.
Naura tercengang karena sahabatnya pun meninggalkan dirinya sendirian tanpa memberi kepastian.
"Lho, Wi. Kamu mau kemana, ini kesepakatan kita bagaimana?" tanya Naura seraya berdiri dan berusaha mengejar Dewi.
Dewi menghentikan langkahnya dan berbalik badan menghadap Naura. Dewi pun tersenyum seraya menepuk pelan pundak sahabatnya itu.
"Maaf, Naura. Aku tidak bisa melanjutkan perjodohan ini. Aku tidak ingin mengecewakan Vesha dan juga kedua orang tuanya. Karena ayahnya Vesha masih memiliki hubungan darah dengan Mas Bram," jawab Dewi.
"Aku permisi," sambung Dewi.
Naura masih tergugu mendengar jawaban Dewi. Jujur ia baru mengetahui soal ini, Naura hampir terjatuh jika tangannya tidak sigap berpegangan pada kursi.
Diperjalanan, Bryan menatap kearah Vesha yang sedang menatap ke arah luar jendela. Bryan menghela nafas sembari tersenyum tipis.
"Sayang,"
Bryan memanggil Vesha dan ia pun langsung meraih tangan Vesha. Hingga gadis itu terkejut dengan apa yang dilakukan Bryan.
"Ah, ya. Kenapa?" gugup Vesha.
Bryan tersenyum tipis melihat Vesha yang gugup. Tanpa permisi Bryan langsung membawa tubuh Vesha ke dalam pelukannya.
"Maafkan ucapan dan sikap Mommy, ya. Jujur aku sangat malu terhadapmu atas perilaku Mommy yang seperti itu," bisik Bryan.
Lama Vesha diam dalam pelukan Bryan. Lelaki itu tahu kalau saat ini perasaan Vesha sedang tidak baik-baik saja.
"Tidak perlu meminta maaf seperti itu padaku, Bryan." Vesha mengendurkan pelukannya pada pria itu.
"Nyonya Naura hanya ingin yang terbaik untuk kamu yang notabene nya adalah anak kandungnya. Putra sulung dari keluarga Heinzee. Tentu saja Nyonya Naura menginginkan gadis yang menurutnya memiliki latar belakang yang lebih baik lagi daripada diriku,"
Bryan menutup mulut Vesha dengan jari telunjuknya. "Berhenti bicara, Sha. Jangan terlalu merendah seperti itu! Aku tahu kamu adalah pilihan yang tepat untukku. Jadi, stop berkata seolah-olah kamu itu buruk dimata orang lain. Tidak, Sha! Kamu adalah gadis terbaik dan sangat sempurna,"
"Tapi, Bryan. Tidak ada manusia yang sempurna didunia ini," potong Vesha.
"Ya, aku tahu! Tapi dimataku kamu adalah gadis yang sempurna." Bryan membalas dengan sedikit membentak.
Lalu Bryan menggelengkan kepalanya. "Entahlah, aku harus berkata seperti apa lagi menggambarkan tentang dirimu. Tetapi yang selalu ada di dalam pikiran dan hatiku, kamu itu adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna yang diciptakannya untukku. Kamu sangat sempurna di dalam hidupku, Sha. Kamu sangat spesial di dalam hidupku. Kamu adalah wanita yang berhasil menerobos masuk ke dalam dinding pertahanan ku setelah bertahun-tahun aku menutup hatiku untuk seorang wanita," kali ini suara Bryan terdengar begitu tercekat.
Vesha menangkup wajah Bryan, dan dapat ia lihat mata pria itu saat ini sedang berkaca-kaca. Bryan meraih tangan Vesha yang berada di pipinya, lalu mengecup sekilas dan kembali merasakan kelembutan tangan itu.
"Tolong jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku, Sha." Bryan kembali berkata.
Namun kali ini suaranya sedikit bergetar dan pria itu juga mengeluarkan bulir air mata yang membuat Vesha tertegun. Dengan cepat Vesha memeluk kembali Bryan, dan membiarkan pria itu menangis dalam pelukannya.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu terhadapmu, Bryan. Tetapi mulai saat ini aku akan berjanji untuk tetap ada di sisimu," ucap Vesha seakan sedang berbisik pada Bryan.
__ADS_1