
Rico nampak berpikir sejenak. "Kenapa kau ingin tahu sangat mengenai keberadaan Vesha, Lang? Apa kamu disuruh sama si Saga?" tanya Rico.
Langit menggelengkan kepalanya. "Bukan Saga yang memintaku, tapi memang aku ingin tahu. Bukan hanya aku sih yang ingin tahu, semuanya juga ingin tahu. Saga, Marvin, Chandra dan termasuk aku sendiri," jawab Langit.
Rico menghela nafasnya. "Tolong ambilin aku minum dulu sana, aku baru pulang sudah kamu interogasi. Aku haus, Lang!" pinta Rico.
"Ck, iya, iya. Tunggu sebentar!" jawab Langit yang sedikit kesal.
Langit pun masuk ke dalam rumah Rico, di dalam Langit menyapa kedua orang tua Rico yang sedang menonton televisi.
"Lho, Langit. Ada butuh sesuatu?" tanya tante Lita.
"Langit mau mengambilkan Bang Rico air minum, Tan. Kasihan dia baru pulang kerja," jawab Langit.
"Kenapa bukan dia saja yang mengambilnya, kenapa menyuruh kamu?" celetuk Henry, ayah Rico.
"Nggak apa-apa, Om. Itung-itung cari pahala," jawab Langit dengan cengirannya.
"Ya, sudah kamu ambil sendiri sana!" cetus Lita.
Langit pun mengangguk. "Iya, Tante. Ini juga mau Langit ambil," jawabnya.
Sementara itu Henry hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. "Kebiasaan si Rico," gumamnya.
Langit pun segera keluar setelah mengambilkan segelas air mineral untuk Rico. Ia pun segera menyerahkan gelas itu pada Rico.
"Terima kasih adikku," ucap Rico.
"Hmm, sama-sama," sahut Langit.
Rico pun meminum air tersebut hingga tandas. Langit menggelengkan kepalanya saat melihat Rico sangat kehausan. Rico mengelap sudut bibirnya yang sedikit basah terkena air. Lalu ia menaruh gelas itu di meja dan menatap ke arah Langit.
"Vesha ada di Surabaya," ucap Rico.
Langit nampak mengerutkan dahinya. "Bukankah waktu itu Bryan sudah ke sana dan hasilnya nihil?" tanya Langit yang bingung.
Rico menganggukkan kepalanya. "Iya, itu benar. Tadi siang tadi Vesha baru saja tiba di rumah neneknya bersama teman wanitanya itu, emmm… siapa namanya aku lupa?"
"Shena," jawab Langit dengan cepat.
"Nah, itu sama si Shena. Pas sore harinya Letnan Syarif datang dan memberitahukan kami. Dia mengatakan kalau Vesha baru saja tiba di Surabaya, rumah sang nenek. Letnan Syarif juga memberitahukan kemana selama dua hari Vesha menghilang. Dia berhasil melacak melalui CCTV di jalan raya. Ternyata selama ini Vesha pergi menggunakan mobil milik Kakak sepupunya Shena. Mereka pergi ke Anyer," jawab Rico seraya tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.
Bahkan Langit masih sangat tercengang, ia seperti itu karena semua diluar perkiraannya kalau ternyata Vesha selama dua hari berada di Anyer. Langit ikut tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"Sangat diluar perkiraan," kekeh Langit dengan disusul Rico.
"Ho'oh, meleset dari perkiraan kita semua. Karena kita semua berpikir kalau Vesha akan ke Surabaya, sebab orang tuanya pun berada di sana. Haahh…." Rico menyahut sambil menghembuskan nafasnya kasar.
"Bryan pasti sudah kesana, ya?" tanya Langit.
__ADS_1
Rico menganggukkan kepalanya. "Iya, malam ini dia baru berangkat. Dia ingin menemui Nyonya Naura sebelum menjemput Vesha," jawab Rico.
Langit mengerutkan kedua alisnya. "Soal Nyonya Naura, yang aku dengar dia tidak merestui hubungan Bryan dan Vesha. Apakah itu benar?" tanya Langit.
Rico mengangguk lagi. "Hmm, Vesha mengundurkan diri pun karena dia," jawab Rico.
Langit menghela nafasnya. "Pantas saja Saga sangat marah saat mengetahui hal itu," ujar Langit.
Sementara itu Bryan yang sudah mengetahui keberadaan Vesha dari Letnan Syarif pun segera menyiapkan perjalanannya menuju kota tersebut. Namun sebelum itu ia ingin menemui Naura terlebih dahulu. Bryan ingin mengutarakan keinginannya kepada kedua orang tuanya, untuk membawa Vesha kembali dan menikahi gadis itu.
Disinilah ia berada di rumah sakit untuk pertama kali bertemu dengan Naura. Karena semenjak Naura siuman, Bryan enggan berkunjung atau sekedar menengok sang Mommy.
Bryan membuka pintu ruang rawat Naura, disana ada Sean, Devano dan juga Gricella. Naura tersenyum lebar saat melihat putra yang sedang ia rindukan.
"Bryan, sini Nak!" pinta Naura sambil melambaikan tangannya.
Bryan memasang wajah datarnya saat memasuki ruangan tersebut. Membuat Naura tersenyum kecut dan merasa tidak enak hati saat melihat ekspresi wajah Bryan.
"Mommy senang kamu sudah kembali dari Bali. Apakah kamu lelah?" tanya Naura untuk menghilangkan rasa tidak enak hatinya.
Sebenarnya Naura merasa agak takut Bryan marah dan kesal terhadapnya, jika putranya itu mengetahui kalau kekasihnya sudah keluar dari perusahaan Heinzee. Tapi Naura segera mengenyahkan rasa takut itu, ia yakin Bryan akan menurut dengannya kali ini. Naura sangat yakin kalau Bryan tidak akan bisa marah mengingat kondisi mommynya sedang sakit.
Sean, Devano dan Gricella pun saling melirik. Mereka tahu kalau Bryan saat ini sedang dalam mode kesal, marah dan benci.
Bryan berdiri tepat di dekat ranjang Naura. "Berhubung semuanya ada disini, maka Bryan akan memberitahukan sesuatu pada kalian. Terutama kau, Mom!" ucap Bryan
Semua menatap Bryan dengan penuh tanda tanya. Terutama Naura, wanita itu penasaran sekali apa yang akan putranya itu sampaikan.
Bryan menatap sang Mommy dengan tatapan dingin. Sean mulai melangkah mendekati brankar sang istri. Gricella dan Devano pun juga ikut berdiri dari duduknya.
"Aku akan menyusul Vesha dan membawanya kembali ke Jakarta. Aku juga akan melamarnya, aku ingin segera menikahi Vesha," jawab Bryan.
Sean, Gricella dan Devano tersenyum mendengar keberanian Bryan mengungkapkan keinginannya. Namun berbeda dengan Naura yang tidak suka atas keinginan Bryan.
"Apakah Kakak sudah tahu dimana Kak Vesha berada?" tanya Gricella dengan wajah senangnya.
Bryan pun menoleh dan mengangguk. "Kakak sudah tahu dimana Vesha berada," jawabnya.
Gricella tersenyum. "Syukurlah, aku harap Kak Vesha mau kembali ke Jakarta. Aku ingin bertemu dengannya untuk minta maaf atas apa yang sudah aku lakukan terhadapnya," ucap Gricella.
Bryan tersenyum. "Tentu, Kakak akan membawanya kembali," jawab Bryan.
"Mommy tidak setuju," bentak Naura yang sejak tadi hanya diam menyimak.
Bryan langsung menoleh dan kembali memasang wajah dinginnya. Semuanya menatap ke arah Naura yang sedang menatap marah terhadap Bryan.
"Untuk apa kau membawanya kembali, Bryan? Biarkan saja dia pergi dari kota ini, biar dia tidak mengganggumu kembali," ucap Naura.
Bryan tersenyum sinis. "Mommy salah, dia tidak pernah menggangguku. Tapi Mommy lah yang telah mengganggu kehidupanku, dan mengganggu hubungan aku dengan Vesha," sahut Bryan.
__ADS_1
Naura tercengang mendengar jawaban Bryan. Dia tidak menyangka kalau putranya akan berkata seperti itu pada dirinya.
"Apa maksudmu, Bryan? Mommy tidak pernah mengganggu kehidupanmu. Memang sudah pantas wanita itu menjauh dari kehidupan kita,"
Bryan terkekeh kecil. "Inilah yang aku tidak suka dari sikap Mommy. Mommy terlalu egois dan hanya mementingkan diri Mommy dan selalu meninggikan rasa gengsi Mommy itu," bentak Bryan.
Naura membulatkan matanya mendengar Bryan membentak dirinya. Jujur ia sangat sedih karena Bryan telah membentaknya. Sean yang sejak tadi diam akhirnya ia ikut bicara.
"Bryan, tolong jaga nada bicaramu!" pinta Sean.
Lalu pria itu menatap ke arah Naura. "Mom, Daddy harap turunkan rasa gengsi dan egoismu itu. Biarkan Bryan meraih kebahagiaannya bersama Vesha. Vesha bukan gadis yang selama ini Mommy pikirkan," ujar Sean dengan suara lembut.
Sean tidak ingin membuat istrinya kembali drop. Sedangkan Naura semakin merasa kecewa karena tidak ada yang memihak dirinya.
Naura tersenyum sinis. "Kalian membela wanita itu? Apa sih istimewanya wanita tidak tahu diri itu, heoh?"
Pertanyaan Naura justru membuat Bryan tertawa getir. Pria itu menggelengkan kepalanya, dan kembali menatap wajah sang mommy.
"Mommy harus tahu, kalau Vesha ku itu sangatlah istimewa," jawab Bryan.
"Bahkan saking istimewanya, Vesha ku mendonorkan darahnya untuk Mommy." ujar Bryan kembali.
Bagai disambar petir, Naura sangat terkejut mendengar ucapan Bryan. Entah kemana wajah kesalnya itu pergi, kini telah berganti dengan wajah yang dipenuhi oleh rasa terkejut dan bingung.
Bryan tersenyum smirk. "Kenapa Mommy diam? Apakah Daddy dan yang lainnya tidak memberitahukan Mommy soal ini, hmm?" tanya Bryan dengan tatapan sinis dengan alis yang terangkat satu.
Memang Sean dan yang lainnya tidak memberitahukan soal pendonor darah itu pada Naura. Sean sengaja melakukan itu, karena dia ingin memberitahukannya saat Naura sudah benar-benar pulih dan diperbolehkan untuk pulang. Namun sayangnya Bryan terlebih dahulu memberitahukannya.
Naura menatap ke arah suami, putrinya dan juga putra angkatnya. "Bisa kalian jelaskan apa yang dikatakan Bryan tadi? Apakah itu benar?" tanya Naura dengan memberi tatapan nanar.
Sean menganggukkan kepalanya. "Itu benar," jawabnya.
Naura menggelengkan kepalanya, ia semakin merasa sangat kecewa pada sang suami karena tidak memberitahukan hal ini. Naura menundukkan wajahnya, dia sudah tidak dapat berkata apapun lagi.
"Maafkan aku tidak memberitahukan hal ini padamu secara langsung. Karena aku dan Gricella ingin memberitahukan saat kondisimu sudah lebih baik," ujar Sean seraya mendekati Naura.
"Mom," Sean meraih tangan Naura dengan lembut.
"Berdamailah dengan masa lalu, Daddy tahu kamu seperti ini karena masa lalu Bryan bersama kedua orang tua Geiko dulu. Daddy tahu kamu masih sangat sakit hati dengan mereka. Akan tetapi Vesha disini tidaklah salah, gadis itu tidak tahu menahu akan hal itu. Vesha tidak ada hubungannya dengan mereka, Mom. Daddy mohon sama Mommy, jangan menjadikan orang lain yang tidak tahu tentang masa lalu kita, untuk melampiaskan rasa dendam dan kesal kita, Mom." saran Sean dalam membujuk sang istri.
Naura tidak menjawab, wanita itu masih diam. Hanya suara isakan tangis yang didengar oleh Sean dan yang lainnya.
Bryan menghela nafasnya, lalu ia melirik ke arah jam tangannya. Sepertinya sudah waktunya ia pergi dari rumah sakit.
"Aku harus segera berangkat. Karena Mommy sudah mengetahui hal ini, jadi Bryan akan segera berangkat untuk menjemput Vesha. Setuju atau tidak, Bryan akan tetap bersama Vesha," ucap Bryan yang langsung berbalik badan.
Namun saat Bryan hendak membuka pintu ruangan tersebut, pergerakannya terhenti karena suara dari salah satu diantara orang yang akan ia tinggalkan.
"Bawa Vesha kembali,"
__ADS_1
(Gabriel Guevara as Bryan Heinzee)