CINTA GAVESHA

CINTA GAVESHA
Aku Lebih Mencintaimu


__ADS_3

"Aku tahu kamu juga memiliki rasa itu pada Aruna, Ga. Jangan pernah bohongi hatimu lagi," cetus Vesha.


Vesha melirik suaminya dan tersenyum pada pria yang sedang menatap dirinya.


"Ayo, sayang! Sudah waktunya kita kembali ke kantor. Kamu juga sebaiknya kembali ke kantor, Ga. Jam makan siang sebentar lagi selesai," tambah Vesha.


Sagara tersadar dari lamunannya, jujur pembicaraan antara dirinya dan Vesha hari ini benar-benar membuatnya berpikir keras. Padahal simple saja, ia hanya tinggal menyadari dan mengakui perasaannya itu terhadap Aruna. Namun nampaknya Sagara masih meragukan perasaannya itu.


Vesha dan Bryan pun terlebih dahulu meninggalkan restoran itu dan membiarkan Sagara duduk sendirian di ruang private yang dipesan Bryan.


Sagara memijat pelipisnya, "astaga!" gumamnya.


Sagara berdecak kesal saat melihat jam tangannya. Dia pun segera berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar.


Semenjak pertemuannya dengan Vesha dan Bryan, Sagara lebih banyak diam. Bahkan sampai teman se divisinya itu sempat menegur dan bertanya apa yang sedang Sagara pikirkan.


Sikap Sagara yang hanya diam saja itu, sampai ke telinga Darel. Akhirnya Sagara pun dipanggil ke ruangan sang papa.


"Ada apa denganmu, Nak?" tanya Darel saat mereka sudah duduk saling berhadapan di ruangannya.


Menatap sang ayah, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Aku tidak apa-apa, Yah." Jawab Sagara.


Darel menaikkan satu alisnya. "Jangan berbohong sama Ayahmu ini. Ayah tahu kalau kamu sedang memikirkan sesuatu. Katakan sama Ayah! apa yang membuatmu lebih banyak diam untuk hari ini," ujar Darel.


Sagara tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak ada apa-apa, Yah. Sagara diam karena memang sangat ingin diam saja, dan tidak ingin berinteraksi dengan siapapun dulu."


Darel mengerutkan dahinya. "Apakah ada salah satu pegawai di divisi kamu yang mengganggumu?" selidik Darel lagi.


"Tidak ada, Yah. Mereka semuanya baik sama Sagara. Tidak ada persaingan apapun di bagian keuangan," jawab Sagara seraya tersenyum.


Darel menghela nafasnya. "Syukurlah! Kalaupun ada yang mengganggumu katakan saja pada Ayah. Biar Ayah memindahkanmu menjadi asisten Ayah,"


Sagara menggeleng dengan cepat. "Jangan, Yah! Sagara tidak mau Ayah langsung menaiki jabatan Sagara sebagai asisten Ayah. Sagara senang meniti karir Gara dari bawah," tolak Sagara.


Darel tersenyum tipis. "Ayah hanya menyampaikan perintah Tuan Richard saja. Beliau sempat berpesan pada Ayah untuk menjadikanmu asisten Ayah saja. Tapi nampaknya kamu tidak tertarik," ucap Darel.


"Bukannya Gara tidak tertarik, Yah. Hanya saja Gara baru beberapa bulan bekerja disini. Kalau tiba-tiba dipindahkan menjadi asisten Ayah, Gara takut nantinya ada kesenjangan antara pegawai yang lainnya. Sagara tidak ingin itu terjadi," jawab Sagara.


"Gara tidak ingin dibilang memanfaatkan posisi Ayah untuk meraih suatu jabatan. Tidak, Gara tidak ingin dipandang seperti itu," tambah Sagara.


Darel tersenyum lebar, dan menepuk punggung putra itu. "Ayah bangga memiliki putra seperti dirimu. Itu tandanya kau sudah dewasa," kagum Darel.


Sagara hanya tersenyum menanggapi ucapan ayahnya. Namun senyum lebar itu seketika luntur saat mendengar ucapan Darel.


"Jadi kapan kamu akan memperkenalkan kekasihmu kepada Ayah dan Bunda, hmm?" ujar Darel seraya menaikan satu alisnya.


Sagara tersenyum kecut. "Gara belum memikirkan untuk menjalin hubungan dengan wanita manapun, Yah. Gara masih ingin fokus dengan pekerjaan," jawab Sagara.

__ADS_1


Darel kembali menepuk pundak Sagara, ia merasa bangga dengan pemikiran sang putra. Sepertinya memang Sagara ingin menunjukkan kalau dirinya ingin bertanggung jawab terhadap kedua orang tuanya, dan juga bertanggung jawab dengan istrinya kelak.


"Ayah hanya berpesan padamu, jangan terlalu mengejar kekayaan di dunia. Ingat akhirat juga, jangan sampai kamu menikmati kesendirian dengan giat bekerja. Kamu sampai lupa dengan ibadah dan juga menikah. Ayah dan Bunda sudah tidak muda lagi, Ga. Kami ingin dihari tua kami bisa bermain dan menghabiskan waktu tua kami bersama cucu," nasihat Darel.


"Ayah…,"


"Ayah hanya menyampaikan apa yang Ayah dan Bunda kamu inginkan," potong Darel.


Sagara menghela nafasnya. "Iya, Ayah." Jawab Sagara.


"Besok malam akan ada acara ulang tahun perusahaan cabang. Persiapkan dirimu, dengan penampilan menarik. Ayah jamin pasti banyak gadis diluar sana yang ingin mendekatimu," ucap Darel.


"Ck, Ayah!" Sagara hanya berdecak kesal dan membuat Darel tertawa.


"Apakah Tuan Richard dan keluarganya akan hadir?" tanya Sagara.


Darel mengangguk. "Hmm, Tuan Aaram dan Nyonya Sandra pun juga akan datang. Mungkin juga nanti Tuan Kendra dan istrinya akan datang juga," jawab Darel.


Sagara mengangguk paham. "Sepertinya akan menjadi acara ulang tahun terbesar di tahun ini," gumam Sagara yang masih dapat didengar Darel.


"Benar. Karena bukan hanya acara ulang tahun perusahaan cabang saja. Tetapi ada acara lainnya juga," jawab Darel.


"Apa?"


"Anniversary pernikahan Tuan Aaram dan Nyonya Sandra," jawab Darel.


Malam pun tiba, di dalam kamar yang mewah. Terlihat Vesha sedang duduk sambil membaca sebuah novel. Pintu kamar mandi terbuka, Vesha melirik sekilas Bryan yang baru saja selesai mandi.


Vesha pun menaruh novel itu di atas nakas. Lalu ia menghampiri sang suami, mengambil handuk kecil yang ada di tangan Bryan. Vesha menuntun Bryan untuk duduk di sofa bed, tangannya terulur mengusap rambut suaminya dengan handuk kecil tersebut.


Bryan tersenyum melihat sikap istrinya, ia pun menarik pinggang Vesha agar ia bisa lebih dekat dengan sang istri.


"Aku mencintaimu," ucap Bryan yang masih terus menatap Vesha sambil tersenyum.


Vesha pun menundukkan sedikit wajahnya dan membalas senyuman Bryan.


"Aku lebih mencintaimu," balas Vesha.


Bryan kembali menarik pinggang Vesha dan membuat wanita itu terjatuh di pangkuan Bryan. Tanpa aba-aba lagi, Bryan pun menarik tengkuk Vesha dan mencium bibir ranum itu.


Vesha pun memejamkan matanya, iku menikmati ******* dan hisapan lembut dari Bryan.


Eungh….


Suara leguhan Vesha mengantarkan Bryan pada hasrat yang lebih membuncah. Rasanya ia sangat tidak tahan dengan permainan menggairahkan itu. Tangan Bryan pun tidak tinggal diam, ia memasukkan tangannya kedalam kaos pendek Vesha, lalu meremas dua buah bola silikon yang semakin besar karena ulah tangan super Bryan.


Si Opet milik Bryan pun sudah tidak tahan ingin menunjukkan aksinya. Bryan mengangkat tubuh Vesha dan merebahkannya di atas tempat tidur mereka. Bryan membuka handuknya dan menampakkan si Oper yang besar dan sudah menegang, Opet itu pun mulai masuk ke dalam rumah yang begitu hangat dan nyaman.

__ADS_1


Permainan lembut dan menggairahkan tersebut berlangsung cukup lama. Setelah pergulatan panas itu, Bryan mengecup bibir dan kening Vesha.


"Maaf, karena membuatmu lelah!" bisik Bryan seraya mengusap keringat di kening Vesha.


"Kenapa minta maaf begitu? Aku senang melakukannya. Lagipula ini juga kan kewajiban aku untuk memberi kepuasan kepadamu," jawab Vesha seraya tersenyum.


Bryan pun tersenyum dan kembali mencium bibir Vesha. "I love you," bisik Bryan lagi.


"Aku tidak perlu menjawabnya kan? Kamu juga pasti tahu apa jawabannya," balas Vesha yang dibalas kekehan kecil dari Bryan.


Bryan menarik tubuh polos istrinya, mengusap punggung Vesha dengan lembut.


"Sayang," panggil Vesha pada Bryan.


"Hmm,"


"Apakah besok malam kita jadi pergi ke pesta perusahaan cabang SRC Company?" tanya Vesha.


"Tentu jadi, sayang. Kenapa, hmm?" tanya Bryan balik.


"Tidak apa-apa, itu artinya kita akan bertemu dengan Gara lagi. Tidak apa-apa kan?"


Bryan melirik ke arah Vesha yang sedang menatapnya. Pria itu pun tersenyum.


"Memangnya kenapa kalau kita bertemu Gara lagi? Apa kamu ingin berduaan dengannya saja, hmm?"


"Awwwsss," ringis Bryan saat merasakan cubitan di pinggangnya.


Siapa lagi kalau bukan ulah si Vesha, entah kenapa wanita itu memang sering sekali mencubit bahkan memukul lengan Bryan.


"Sakit sayang," keluh Bryan.


Vesha menatap tajam ke arah suaminya. "Makanya jangan suka ngomong sembarangan. Apa kamu mau aku pergi bersama Gara dan pulang bersama dia juga, heoh?" tantang Vesha.


Bryan membulatkan matanya dan menggeleng dengan cepat. "Tidak! Aku tidak bisa terima itu. Kamu itu istriku, jadi harus pergi dan pulang bersama denganku. Apa kata netizen nantinya, kalau kamu bersama Gara?"


"Nah, itu kamu tahu kan? Makanya punya mulut dijaga," gemas Vesha pada Bryan sambil mencubit bibit Bryan.


Bryan mengerucutkan bibirnya. "Iya, maaf sayang!"


Bryan pun merangkul kembali tubuh Vesha. Tidak lama mereka pun kembali larut dalam pergulatan panas ronde kesekian mereka. Bryan benar-benar selalu tidak bisa menahan diri saat berdekatan dengan Vesha. Apalagi saat ini Vesha sedang hamil, dimata Bryan istrinya itu semakin terlihat sangat **** karena tubuhnya mulai berisi.



Bryan Heinzee


__ADS_1


Gavesha Arabella


__ADS_2