CINTA GAVESHA

CINTA GAVESHA
Keputusan Orang Tua


__ADS_3

Sagara menatap lurus ke arah luar jendela mobil, entah apa yang sedang dipikirkannya. Pria itu hanya diam dan tidak banyak bicara sejak keluar dari rumah sakit. Ya, sore ini Sagara sudah diperbolehkan untuk pulang. Safira yang duduk di sebelah Sagara merasa iba karena apa yang terjadi pada putranya itu.


Safira tahu bagaimana perasaan putranya mengingat Aurel adalah orang yang berada dibalik kejadian yang membuat Sagara terluka. Safira sedikit tahu bahwa putranya itu pernah menjalin hubungan dengan Aurel. Ada rasa takut dan gelisah mengetahui hal tersebut.


Bagaimanapun juga sebagai orang tua, Safira tidak ingin anaknya berhubungan dengan wanita yang tidak benar. Apalagi Aurel sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini.


Safira menghela nafas gusarnya. "Besok Bunda akan menemani kamu ke kantor polisi. Bunda juga sudah mengatakan hal ini sama Letnan Wira. Besok kita kesana bersama Om Haikal," ucap Safira memecahkan keheningan.


Sagara yang baru saja memejamkan matanya pun kembali membukanya dan menoleh sekilas ke arah Safira, ia pun mengangguk. "Iya, Bun." jawabnya.


Sagara kembali menatap keluar jendela dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Tak lama pun matanya kembali terpejam. Keheningan pun kembali tercipta, Safira kembali menghela nafasnya. Jujur ia kesal melihat putranya yang hanya diam saja. Tidak seperti biasanya.


"Apa kamu sedang memikirkan gadis itu?" tanya Safira yang sedang menatap lurus ke luar jendela.


Sagara tersentak dan langsung menoleh dengan dahi berkerut. "Siapa yang Bunda maksud?" bukannya menjawab malah bertanya kembali.


"Aure," sahut Safira.


Sagara tersenyum tipis. "Tidak Bunda,"


"Lalu, kenapa kamu dari tadi hanya diam saja?"


Sagara menghela nafasnya. "Aku hanya sedang merasakan pusing saja, Bun. Aku Tidak sedang memikirkan dia," jawab Sagara yang masih tersenyum.


"Haah, syukurlah kalau kamu tidak sedang memikirkan gadis itu. Bagaimanapun juga Bunda tidak suka kamu dekat-dekat dengan gadis itu lagi. Apa kamu masih berpacaran dengannya?" selidik Safira.


Sagara menggelengkan kepalanya. "Bagaimana Bunda tahu soal hubunganku dan Aurel?" tanya Sagara kembali.


Safira terdiam sejenak. "Dia sendiri yang mengatakannya pada Bunda saat kamu sedang tertidur," jawab Safira.


Safira teringat dengan percakapannya saat itu bersama Aurel. "Bahkan dia mengatakan kalau Vesha selalu mengganggu hubungan kalian, karena Vesha juga mencintaimu. Apakah itu benar?"


Sagara menggeleng dengan cepat. "Itu tidak benar, Bun. Vesha tidak pernah melakukan hal itu, kalau mengenai Vesha mencintai aku itu benar. Bahkan sebelum aku dan Aurel berpacaran, aku terlebih dahulu bersama Vesha. Tapi hanya beberapa bulan saja,"


"Ya, hanya beberapa bulan saja. Karena kamu menang taruhan dari Marvin," sindir Safira.


Sagara menundukkan kepalanya. "Maaf!" lirihnya.


Safira menghela nafasnya. "Padahal Bunda sangat berharap kamu dan Vesha kembali bersama. Tapi sepertinya sangat sulit, mengingat Vesha sudah memiliki calon suami," cetus Safira saat mengingat pria yang bernama Bryan.


"Seharusnya kamu tidak memperlakukan Vesha seperti itu, Ga. Vesha itu gadis yang baik dan selalu sopan terhadap orang tua,"


Sagara hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia membenarkan apa yang baru saja sang bunda katakan. Bahkan Sagara selalu merasakan penyesalan yang dalam atas perlakuannya terhadap Vesha. Memang penyesalan itu selalu datang di akhir kan? Jadi Sagara harus rela menerima segala konsekuensi dari kesalahan yang telah diperbuatnya.


"Bund harap saat besok kamu bertemu dengannya, kamu tidk lukuh terhadapnya," pesan Safira untuk Sagara.


"Iya, Bunda."


"Bagaimanapun juga dia adalah orang yang sudah membuat kamu terluka. Ya, walaupun sasaran utamanya adalah Vesha. Tapi tetap saja Bunda tudak ikhlas jika dia tidak dihukum dengan setimpalnya," ketus Safira.


Sagara tidak menjawab lagi, pria itu hanya mengangguk. Sagara sudah tidak ingin ambil pusing tentang masalah ini. Biarlah dirinya tidak dikatakan bijak, Sagara hanya tidak ingin ribet dan kepalanya kembali pusing.


Mobil yang ditumpangi Sagara dan Safira pun telah tiba di depan rumah. Sang sopir pun membantu Sagara turun, karena tadi Sagara sempat mengatakan pusing. Akhirnya sang suopir menuntun Sagara sampai ke dalam kamarnya.

__ADS_1


"Istirahatlah!" ucap Safira dan hanya diangguki kepala oleh Sagara.


Safira dan sang sopir pun keluar dari kamar Sagara. Sagara pun langsung memejamkan matanya, entah kenapa pusing tiba-tiba saja melandanya saat sudah diperbolehkan untuk pulang.


Di kantor polisi, kedua orang tua Aurel yang baru saja tiba dari Manado langsung menemui Aurel di sana. Ibu Aurel terus menangis saat melihat sang putri telah berada di dalam jeruji besi.


"Kamu tenang saja Mama dan Ayah akan membebaskan kamu dari sini," ucap Lita.


"Harus, Ma! Aurel nggak mau masuk penjara. Aurel nggak betah lama-lama berada disini," jawab Aurel sambil menangis.


"Iya, kamu tenang sayang. Ayah kamu pasti akan mengusahakannya," ujar Lita untuk menenangkan hati Aurel.


"Mengusahakan untuk apa?"


Suara barito tersebut membuat Aurel dan Lita merenggangkan pelukan mereka dan langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Ayah," gumam Aurel seraya tersenyum.


Lita tersenyum dan langsung bangun dari duduknya. Lalu ia menghampiri suaminya. "Bagaimana, Yah. Apakah mereka bisa kamu bayar untuk membebaskan putri kesayangan kita?" Lita langsung mencecar pertanyaan pada suaminya.


Andika menghela nafasnya sambil mengusap wajahnya kasar. Lalu ia pun menatap Aurel yang juga sedang menunggu jawaban darinya.


"Ayah tidak akan membayar mereka untuk mengupayakan kebebasan Aurel. Bahkan untuk menyewa pengacara kondang pun tidak akan Ayah lakukan,"


Bagai tersambar petir, Aurel dan Lita menganga mendengar penuturan Andika. Lita menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang baru saja suaminya katakan.


"Kamu bercanda kan, Mas?" Lita tertawa hambar. "Ini tidak lucu, jika kamu bercanda."


Andika mengalihkan tatapannya ke arah lain. "Aku tidak sedang bercanda. Ini sudah menjadi keputusanku, Aurel memang harus menjalani hukumannya atas apa yang sudah dilakukannya," jawab Andika.


"Jangan macam-macam kamu, Mas!" Lita memukul dada suaminya.


Andika meraih tangan sang istri dan menahannya untuk tidak memukulnya lagi. "Aku hanya menjalani kewajibanku sebagai seorang yang taat peraturan. Bagaimanapun juga Aurel salah, dia harus belajar menerima apapun itu yang menjadi konsekuensi atas apa yang telah dibuat olehnya," jawab Andika memberi penjelasan pada sang istri.


"Apa?" Lita dan Aurel berucap bersamaan.


Keduanya sama-sama terkejut atas keputusan dari kepala keluarga mereka. Aurel menangis sungguh ia sangat tidak ingin berlama-lama di dalam penjara. Walau ia memang mengakui semua kejahatan yang telah dilakukannya. Tetapi tetap saja ia tidak ingin tinggal di sana.


Membayangkannya saja Aurel tidak mau, apalagi ini harus tinggal lama di penjara. Aurel menghampiri sang ayah dan berlutut di hadapannya.


"Aku mohon sama Ayah untuk mengeluarkan aku dari sini. Aku tidak bisa tidur di tempat seperti ini, Yah. Aku mohon sama Ayah!" Aurel mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


Ia memohon dan meminta pada sang ayah untuk mengabulkan permintaannya. Lita pun juga melakukan hal yang sama, wanita itu juga memohon pada sang suami.


Andika memejamkan matanya sejenak dengan menghela nafas beratnya. "Maaf! Ini sudah menjadi keputusanku," Andika berbalik badan dan keluar dari ruang tunggu.


Lita menatap nanar punggung suaminya, begitu pula dengan Aurel. Mereka pun kembali menangis dan saling memeluk. Mengeluarkan perasaan kesal, marah dan bimbang yang bercampur aduk di dalam hati dan pikiran kedua wanita beda generasi itu.


"Ayahmu benar-benar keterlaluan," geram Lita.


Aurel tidak menjawab, ia hanya bisa menangis dan menangis. Waktu membesuk narapidana pun selesai, Lita sangat berat membiarkan Aurel sendirian di dalam penjara sana. Tetapi dirinya harus mematuhi peraturan yang ada. Lita mengusap air matanya dengan kasar, lalu ia keluar dan berniat untuk kembali berbicara pada suaminya.


Dengan perasaan yang tidak karuan, Lita akhirnya keluar dan pergi menuju apartemen Aurel. Lita yakin kalau suaminya sudah berada di sana.

__ADS_1


Hampir satu jam ia menempuh perjalanan, kini Lita sudah tiba di gedung apartemen dimana selama ini Aurel tinggal. Setibanya di depan apartemen, ia langsung membuka kode kunci pintu apartemen Aurel tersebut dengan cardlock yang memang ia sudah miliki.


Lita masuk dan langsung mencari sosok yang sangat ingin ditemuinya. Lita menatap nyalang pada pria yang sedang duduk sambil menyaksikan acara berita yang sedang disiarkan oleh televisi.


"Ayah!" panggil Safira dengan suara membentak.


Andika pun menoleh dengan memberi ekspresi kelewat santai. "Ada apa? Kenapa kamu datang-datang sudah memanggilku dengan suara lantangmu itu, sangat tidak sopan!" sahut Andika yang kembali menatap layar televisi.


Lita yang sudah kesal pun langsung mengambil remot yang sedang dipegang oleh suaminya dengan cukup kasar. Ia pun mematikan televisi tersebut dan melempar remot itu ke sembarang arah.


Andika hanya menghela nafasnya, lalu ia menatap ke arah istrinya yang sedang berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Perlahan Andika berdiri tepat di depan hadapan istrinya.


"Apa-apaan kamu, Mas. Kenapa kamu malah membiarkan Aurel mendekam di penjara?" Lita berkata dengan nada cukup emosi.


"Bisa tenangkan dirimu terlebih dahulu?"


"Tidak bisa," ketus Lita.


Andika pun kembali menghela nafasnya dengan mengusap wajahnya. "Aku melakukan itu untuk kebaikan Aurel sendiri," jawab Andika dengan suara lembut.


Lita melototkan matanya. "Kebaikan apa, heoh? Membiarkan putri kesayangan kita mendekam di penjara seperti itu, apakah pantas disebut kebaikan?" pekik Lita.


"Kamu keterlaluan, Mas! Sangat keterlaluan," Lita kembali berteriak dengan bibir yang bergetar.


Sorot matanya memancarkan amarah dan kekesalan. Andika dapat melihat itu, ia tahu istrinya akan sangat kecewa atas keputusannya. Tetapi ini adalah jalan yang terbaik untuk putri mereka. Andika hanya ingin memberi pelajaran pada putrinya itu, sudah cukup Aurel membuat kegaduhan selama ini.


Andika mengatupkan bibirnya dengan menggigit pelan bibir dalamnya, ia melakukan itu agar dirinya tidak terpancing emosi.


"Ya, itu kebaikan untuk Aurel. Selama ini kita sebagai orang tua telah salah dalam memanjakannya, Lita. Apakah kamu tidak ingat saat kejadian lima tahun silam, dimana Aurel mencoba mencelakai Sarah?"


Lita terdiam, seakan dirinya ditampar oleh masa lalu. Masa dimana Aurel telah membuat kesalahan hampir serupa pada Sarah. Hingga Sarah harus mengalami trauma sampai saat ini.


Sarah adalah teman atau bisa dibilang sahabat Aurel saat mereka masih bersekolah menengah atas di kota Manado. Saat itu Aurel dan Sarah sangat dekat, namun kedekatannya itu membuat hati Aurel cemburu dan kesal. Karena Sarah memiliki teman pria di kelasnya. Mereka beda kelas, sehingga saat pelajaran dimulai mereka berpisah ke kelas masing-masing.


Aurel yang sudah sangat kesal dan cemburu pada Sarah pun memiliki rencana untuk mengajak Sarah ke villa milik Sarah di puncak. Sarah yang notabene nya sudah sangat dekat dengan Aurel pun mengiyakan ajakan gadis itu.


Akan tetapi tanpa Aurel ketahui, kalau Sarah telah memberitahukan teman pria nya itu kalau dirinya akan pergi bersama Aurel ke puncak. Sarah juga mengajak pria tersebut, namun sayangnya pria itu memilih menyusul Sarah saja. Akhirnya Sarah memberikan alamat villanya pada pria itu.


Singkat cerita, mereka yang sudah tiba di villa pun segera beristirahat karena perjalanan lumayan jauh. Malamnya suasana villa mulai sepi dan sedikit menegangkan. Sarah bahkan sempat merutuki dirinya karena tidak mengajak kedua orang tuanya untuk berlibur bersama-sama. Sarah juga kesal karena teman pria nya itu sampai sekarang juga belum datang.


Sekitar pukul 10 malam, lampu villa tiba-tiba mati. Sarah yang sedang sendirian di dalam kamar pun keluar, dan berniat untuk memanggil Aurel.


"Aurel," panggil Sarah.


Namun sayangnya tidak ada jawaban dari dalam kamar Aurel. Sarah pun berdecak kesal, ingin rasanya menghubungi penjaga villa akan tetapi rasanya tidak mungkin. Sarah tidak ingin mengganggu waktu istirahat si penjaga villa. Mengingat sudah perjanjiannya kalau mereka akan datang ketika pagi menjelang.


Sarah terus memanggil nama Aurel, namun hasilnya tetap nihil. Hingga di ruang tamu Sarah melihat siluet bayangan seperti Aurel yang sedang berdiri di dekat jendela.


"Aurel," panggil Sarah kembali.


"Hmm,"


Sarah tersenyum dan dapat bernafas lega saat mendengar suara sahabatnya. Ia pun berjalan mendekat ke arah Aurel. Namun sayangnya, saat dirinya sudah mendekat Aurel langsung menjambak rambut Sarah dengan sangat kuat. Bukan hanya menjambak rambut Sarah, Aurel pun menyodorkan pisau ke leher Sarah. Membuat Sarah terkejut dan terpekik atas apa yang dilakukan sahabatnya itu.

__ADS_1


"A-Aurel, a-apa yang kamu lakukan?" dengan suara bergetar Sarah bertanya pada gadis itu.


"Memberi pelajaran padamu!"


__ADS_2