
Malam pun semakin larut, Vesha dan Shena pun sudah kembali ke rumah sang nenek dan meninggalkan Vita di rumah sakit sendirian untuk menemani nenek Tini. Adam yang mengantarkan kedua gadis itu pulang, sekalian dia ingin beristirahat setelah bekerja.
Mereka pun tiba di rumah, ketiganya turun dari mobil dan masuk ke dalam. Vesha dan Shena masuk ke dalam kamar, begitupun juga dengan Adam.
Selang satu jam, Adam yang masih belum memejamkan matanya nampak mengernyitkan dahinya saat mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya. Karena kamar Adam paling dekat dengan teras, jadi mempermudahkan dirinya untuk melihat ke arah depan.
Adam pun berdiri dan berjalan menuju jendela, ia sedikit mengintip dari gorden kamar. Matanya terus menelisik memperhatikan pemilik mobil yang terparkir di depan rumahnya. Matanya semakin tajam menatap seorang pria berjalan ke depan pintu pagar.
"Bryan?" gumam
Adam pun segera keluar dari dalam kamarnya. Adam sempat melirik pintu kamar Vesha, lalu berjalan menuju pintu utama.
"Mau apa dia datang ke sini malam-malam begini?" gumam Adam lagi.
Adam keluar dan menutup kembali pintu rumahnya sebelum berjalan menuju pintu kamar. Bryan melihat Adam yang keluar pun tersenyum.
"Assalamualaikum, Om." ucap Bryan saat Adam berjalan mendekatinya.
"Waalaikumsalam, mau apa kau datang ke sini malam-malam begini?" Adam langsung mencecar Bryan.
Adam masih berdiri di depan pagar tanpa membuka pintu tersebut. Bryan tetap tersenyum, ia tahu kalau pasti Adam mengetahui apa yang telah terjadi.
Tanpa sepengetahuan Bryan, Adam saat ini sedang memperhatikan dirinya. Walau wajah Adam terlihat tenang, tetapi tatapan pria itu sangat tajam. Adam menghela nafasnya.
"Tunggu sebentar, saya ambil kunci pagar dulu!" ucap Adam.
Bryan mengerjapkan matanya, ia hanya memperhatikan punggung Adam yang berjalan masuk ke dalam rumah. Tidak lama Adam pun kembali dengan membawa kunci. Adam membuka pintu dan mempersilahkan Bryan untuk masuk. Keduanya pun masuk ke dalam dan Adam terlebih dahulu duduk di kursi yang ada di teras depan.
"Duduklah!" Adam mempersilakan Bryan duduk.
Bryan hanya mengangguk dan ikut duduk di kursi sebelah Adam.
"Mau minum kopi, teh atau air mineral?" tawar Adam.
"Tidak perlu repot-repot, Om. Saya datang kesini hanya ingin tahu kabar Vesha," jawab Bryan.
"Ya, saya tahu kau datang hanya karena Vesha. Tapi saya tahu kau adalah tamu di rumah ini, dan saya tahu kamu pun juga haus. Tunggu sebentar! Saya akan buatkan minum," ucap Adam seraya berdiri dari duduknya.
Bryan tidak dapat berkata apa-apa lagi, dia hanya diam dan mengangguk. Padahal sangat ingin mencegah Adam, namun dirinya tidak munafik kalau sedang merasa haus. Matanya terus menoleh ke dalam rumah, berharap banyak Vesha keluar. Walau sebenarnya ia tahu saat ini Vesha pasti sudah tidur.
__ADS_1
Menunggu kurang lebih lima menit, Adam akhirnya keluar dengan membawa dua cangkir teh hangat dan 1 teko kecil dengan dua toples berisikan biskuit dan kacang sukro di dalamnya. Bryan pun membantu Adam untuk menaruh cemilan dan minuman mereka diatas meja.
"Minumlah teh nya, saya tahu kamu haus!" pinta Adam seraya menyodorkan secangkir teh ke arah Bryan.
Bryan pun menerima cangkir tersebut. "Terima kasih, Om!" jawab Bryan.
"Hmm," ucap Bryan seraya menyeruput teh hangatnya.
"Kenapa repot-repot untuk datang ke sini?" tanya Adam.
Bryan menghentikan pergerakannya setelah menyeruput teh manis hangatnya. Ia menatap sebentar ke arah Adam, Bryan merasa kagum dengan pria di hadapannya itu. Terlihat begitu tenang dan sabar, walau sebenarnya Bryan tahu pria di hadapannya itu sedang kesal dengan Bryan.
Bryan menaruh cangkirnya kembali di meja. "Sebelumnya saya minta maaf sama Om, karena telah mengganggu waktu istirahat Om. Saya kesini hanya ingin bertemu dan berbicara sebentar pada Vesha," jawab Bryan.
"Hmm, kapan kau tiba?" tanya Adam.
"Saya baru saja tiba di kota ini, Om. Setibanya di bandara, saya langsung kesini menggunakan mobil anak buah saya." jawab Bryan.
Adam hanya menganggukkan kepalanya. Bryan menggigit bibir dalamnya, rasa gugup mulai melanda dirinya. Bahkan keringat dingin pun mulai terlihat di keningnya. Bryan benar-benar merasa sangat gugup, ia lebih baik bertemu dengan klien untuk memenangkan tender daripada harus duduk berdua bersama ayah dari kekasihnya.
"Sekali lagi saya minta maaf karena sudah mengganggu waktu istirahat, Om." ucap Bryan.
Bryan tersenyum kecut. "Maaf, Om. Kalau begitu sebaiknya saya pergi," jawab lirih Bryan.
"Hmm, katakan saja apa tujuanmu selain ingin bertemu dengan putriku!" ucap Adam.
Bryan menundukkan kepalanya sejenak, lalu dia kembali mendongakkan kepalanya. "Sebenarnya tujuan saya kesini karena ingin meluruskan kesalahpahaman antara saya dan Vesha, Om. Saya ingin minta maaf padanya," jawab Bryan.
Adam menghela nafasnya. "Kesalahpahaman mengenai Ibumu yang meminta Vesha untuk keluar dari perusahaanmu?" sindir Adam kembali.
Bryan mengatupkan bibirnya, sudah diduga karena Adam pasti tahu soal permasalahan antara dirinya dan Naura.
"Maafkan saya, Om. Seandainya saya tidak pergi ke Paris saat itu, mungkin Vesha tidak akan mengalami hal tersebut. Saya pasti akan tetap membela Vesha di depan Mommy. Tetapi untuk saat ini, Mommy telah menyadari kesalahannya dan meminta saya untuk datang kesini dan menjemput Vesha," jawab Bryan.
Bryan pun akhirnya menceritakan apa yang terjadi pada Naura. Adam hanya menyimak apa yang disampaikan oleh Bryan, semua yang dikatakan Bryan sangat mirip dengan yang Shena ceritakan.
Tetapi Bryan tidak tahu kalau Naura sudah menyadari akan kesalahannya. Adam pun menghela nafasnya, bagaimanapun juga dirinya tidak boleh egois. Ia memang sangat sakit hati atas perlakuan Naura terhadap Vesha.
"Sebagai sang Ayah, jujur saja saya sangat sakit hati atas apa yang sudah Ibumu lakukan terhadap putri kesayangan saya, Bryan. Apa salah Vesha, hingga Ibu kamu berpikir pendek tentang putriku?"
__ADS_1
Bryan terdiam dan kembali menundukkan kepalanya. "Saya tahu bagaimana perasaan Om saat ini. Maka dari itu saya datang kesini untuk minta maaf atas apa yang telah terjadi," jawab Bryan.
Bryan menghela nafasnya. "Ini sudah sangat larut malam, istirahatlah!" ucap Adam.
Bryan mengerutkan dahinya mencerna ucapan Adam. Adam yang sudah berdiri pun menoleh ke arah Bryan.
"Masuklah! Kau bisa tidur di sofa bed ruang tengah," ucap Adam lagi.
Bryan masih tercengang. "M-maksudnya, Om?"
"Ini sudah sangat malam, dan saya tahu kau sangat lelah. Menginap semalam disini, sebelum besok kau kembali ke hotel. Saya tidak akan mengulang kembali ucapan saya. Kau mau masuk atau tidak itu terserah kau. Karena saya ingin segera mengunci pintu," jawab Adam seraya berbalik badan dan masuk ke dalam rumah.
Bryan dengan cepat menyusul masuk ke dalam rumah sebelum Adam benar-benar menutup pintu dan menguncinya.
"Terimakasih, Om!" ucap Bryan.
Adam hanya berdehem dan berlalu meninggalkan Bryan di ruang tengah. Adam masuk ke dalam dan tak lama keluar membawa sebuah bantal dan juga selimut.
Bryan menerima benda tersebut dan mengangguk pelan. "Sekali lagi terima kasih," ujar Bryan.
"Ya, sama-sama. Saya melakukan ini juga atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa dan Persatuan Indonesia." celetuk Adam.
Bryan sempat ingin tertawa, namun diurungkan olehnya ketika Adam menunjukkan wajah datarnya.
"Berdoalah agar Vesha mau bicara denganmu besok pagi," pesan Adam.
Setelah berucap, Adam pun berlalu begitu saja meninggalkan Bryan. Bryan tersenyum, karena ketakutannya dalam berhadapan dengan Adam sirna begitu saja.
Bryan kira Adam akan mengusirnya dengan kasar dan menimbulkan kegaduhan di rumah itu. Tetapi semua pikiran tentang Adam bertolak belakang dengan kenyataannya.
Tapi Bryan tidak boleh senang begitu saja. Karena dirinya belum bertemu dengan Vesha. Orang yang paling penting untuk ditemui dan dimintai maafnya. Bryan menghela nafasnya, ia memilih merebahkan tubuhnya di atas sofa bed.
Dia merasa tubuhnya memang sangat lelah, untuk Vesha dapat dihadapi besok pagi dan hari seterusnya kalau masih belum mendapatkan maaf dari gadis itu. Tidak lama matanya pun terpejam karena rasa kantuk yang memang sudah menyerangnya.
Pagi pun menjelang dan berhubung ini hari Sabtu, Adam pun kembali merebahkan tubuhnya setelah sholat Subuh. Begitupun juga dengan Bryan, Vesha dan Shena. Vesha dan Shena masih belum menyadari keberadaan Bryan. Karena kedua gadis itu tidak keluar kamar setelah sholat Subuh.
Bryan tang sejak sholat subuh tidak bisa memejamkan matanya pun memilih untuk membersihkan dirinya. Setelah membersihkan diri, Bryan memilih untuk ke dapur. Di dapur ia melihat stok bahan mentah untuk diolah menjadi makanan.
Senyum Bryan merekah saat melihat ada banyak bahan untuk dimasak. Akhirnya ia memilih membuat sandwich dan nasi goreng seafood. Ia sangat ingat kalau Vesha menyukai dua makanan itu. Dengan wajah berseri Bryan mulai mengolah semua bahan.
__ADS_1