
Vesha yang masih bingung hanya bisa menatap pria itu dengan dahi dan alis yang saling bertautan.
"K-kalian siapa?" bukannya menjawab Vesha malah bertanya balik pada pria itu.
Pria itu kembali menundukkan kepalanya, lalu kembali menatap ke arah Vesha. "Kami orang suruhan Tuan Bryan. Sebaiknya Anda ikut kami ke rumah sakit untuk memastikan luka Anda, Nona." jawab pria itu.
Vesha terkejut mendengar ucapan pria tersebut. Vesha menundukkan kepalanya sedikit, ia tidak menyangka kalau Bryan tahu dirinya sedang berada dalam masalah, padahal Vesha tidak pernah memberi kabar pada pria itu. Bahkan setiap pesan yang diberikan Bryan ke nomor ponselnya selalu diabaikan olehnya. Vesha merasa sangat bersalah pada pria itu.
Vesha mendongakkan kembali kepalanya. "Dimana Bryan?" tanya Vesha.
"Tuan sedang berada di luar negeri, Nona. Kami diperintahkan Tuan untuk terus mengawasi dan menjaga Anda selagi Tuan Bryan tidak ada di negara ini," jawab pria itu lagi.
Vesha masih diam dan sibuk pada pemikirannya mengenai Bryan. Jika pria itu sedang berada di luar negeri, itu artinya Bryan memang memerintahkan seseorang untuk terus mengawasi dirinya.
Sagara datang menghampiri Vesha dengan langkah tergopoh-gopoh. Tubuhnya terasa sangat sakit, bahkan banyak darah di wajahnya. Vesha pun menghampiri pria itu.
"Kamu nggak apa-apa?" ucap keduanya bersamaan.
Vesha dan Sagara tertawa kecil saat menyadari kekonyolan mereka yang saling mengkhawatirkan.
"Aku tidak apa-apa. Hanya luka kecil saja," jawab Sagara.
"Apa sebaiknya kita ke rumah sakit saja?" tanya Vesha dengan wajah gelisah.
Sagara menggelengkan kepalanya. "Tidak us…" ucapan Sagara tertahan saat dirinya merasakan ngilu di bagian tulang rusuknya.
Vesha pun segera memegangi Sagara, orang yang disewa Bryan pun mendekat dan membantu Sagara.
"Sebaiknya kita kerumah sakit saja," ucap pria itu.
Vesha mengangguk dan menyetujui apa yang pria itu katakan. Mereka pun berjalan menuju mobil, namun mata Vesha tertuju pada motor Sagara.
"Lalu bagaimana dengan motornya?" tanya Vesha.
"Tenang saja, anak buahku yang akan mengurusnya."
Vesha mengangguk dan kembali membantu Sagara untuk masuk ke dalam mobil. Mereka pun pergi dari tempat tersebut dan menuju rumah sakit. Anak buah pria itu yang mengejar keempat orang bertopeng pun masih terus mengejar keempatnya.
Vesha dapat bernafas lega karena ada yang telah membantu mereka. Lalu ia melirik ke arah Sagara yang sedang memejamkan matanya. Gadis itu melirik ke arah tangan Sagara yang sedang menggenggam erat tangan Vesha.
Sagara membuka matanya dan menoleh ke arah Vesha. Ia pun tersenyum saat melihat wajah khawatir Vesha.
"Aku akan baik-baik saja," ucap Sagara dengan suara pelan.
Vesha tersenyum tipis sambil mengangguk pelan. "Iya," jawabnya.
Orang suruhan Bryan pun sempat melirik sekilas ke arah belakang dimana Sagara dan Vesha duduk. Pria itu menggelengkan kepalanya pelan dengan diiringi helaan nafas gusarnya. Pria itu nampak sedang berkutat dengan ponselnya.
Beberapa menit melewati jalan raya, kini mereka telah tiba di rumah sakit. Orang suruhan Bryan membantu Sagara untuk berbaring di brankar.
"Tolong periksa Nona ini juga," ucap orang suruhan Bryan.
Vesha terkejut dan langsung menggoyang kedua telapak tangannya. "Tidak perlu, aku tidak apa-apa. Tolong periksa teman Saya saja," jawab Vesha.
"Tolong jangan menolak, Nona. Biarkan Dokter memeriksa kondisi Anda. Saya tidak ingin ambil resiko jika Tuan Bryan marah," kata pria itu.
__ADS_1
Vesha semakin tercengang mendengar ucapan pria itu. Apa berkuasa sekali Bryan dimata mereka? Vesha menghela nafasnya, bagaimanapun juga dirinya bukan orang yang suka menyusahkan orang lain. Vesha tidak ingin karena dirinya menolak, pria di hadapannya itu terkena masalah.
"Oke, tolong periksa aku!" jawab Vesha.
Orang itu pun tersenyum karena Vesha mau menurut. Dokter pun langsung memeriksa seluruh tubuh Vesha, mereka menelisik setiap inci wajah gadis itu. Tidak ada luka yang parah seperti Sagara. Vesha hanya mendapatkan luka memar di tangan, kaki dan pipi.
Dokter menyarankan pada Sagara untuk di rawat 1 atau 2 hari. Pria itu sempat menolak, namun Vesha membujuk dan memberi penjelasan pada pria itu, hingga akhirnya Sagara menuruti apa yang Vesha katakan.
Vesha juga sudah memberitahukan kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Sagara. Vesha juga memberitahukan Shena kalau dirinya sedang menemani Sagara di rumah sakit. Shena sempat kesal dan memaki Vesha karena mau sekali menemani pria brengsek seperti Sagara.
Kini Sagara telah dipindahkan ke ruang rawat VIP. Vesha pun membantu Sagara untuk duduk di tempat tidurnya.
"Thanks, Sha!" ucap Sagara pelan.
"Hmm, sama-sama."
"Aku sudah memberitahukan Om Darel dan Tante Safira. Mungkin sebentar lagi mereka akan sampai," ucap Vesha.
Sagara mengangguk. "Sekali lagi aku ucapkan terima kasih. Maaf sudah membuat kamu terluka," jawab Sagara.
Vesha mengerutkan dahinya. "Sepertinya kata-kata itu seharusnya aku yang mengatakannya," kata Vesha dengan bibir mengatup.
Sagara tertawa kecil, dan Vesha pun ikut tertawa. "Kamu mengenal orang-orang itu, Sha?" tanya Sagara.
Vesha tersenyum miring seraya menggelengkan kepalanya. "Tidak sama sekali," jawab gadis itu.
"Lalu, kalau yang membantu kita. Apakah kamu mengenalnya? Karena sejak tadi aku mendengar salah satu dari mereka memanggilmu dengan sebutan 'Nona'. Aku merasa kamu ini sangat dilindungi oleh mereka," tanya Sagara.
Vesha menggigit bibir dalamnya, gadis itu menelan salivanya dengan kasar. Vesha nampak ragu antara mengatakan jujur atau tidak mengenai orang suruhan Bryan. Sagara mengernyitkan dahinya saat melihat Vesha hanya diam saja.
Vesha mengerjapkan matanya dan memberanikan diri menatap Sagara. Vesha membasahi bibirnya dengan lidahnya.
"Aku tidak mengenal mereka. Tapi," Vesha menjeda ucapannya. Sagara masih menunggu Vesha kembali melanjutkan ucapannya.
Vesha membenarkan posisi duduknya. "Tapi aku mengenal siapa yang menyuruh mereka dalam membantu kita," sambung Vesha.
Sagara menatap gadis di sampingnya itu dengan tatapan penuh tanya. Vesha menundukkan kepalanya sejenak sebelum ia kembali menatap Sagara.
"Siapa?" tanya Sagara.
Vesha masih diam, apakah dirinya harus mengatakan yang sebenarnya.
"Dia…"
Pintu kamar rawat terbuka dengan cukup kasar. Membuat Vesha dan Sagara menoleh ke arah pintu dengan cepat.
"Sayang!"
Vesha membulatkan matanya, ia terkejut dengan kedatangan orang yang saat ini sedang dipikirkannya. Bryan baru saja tiba, pria itu langsung berjalan menghampiri Vesha yang sedang duduk di sebelah ranjang Sagara.
Vesha segera bangun dari posisi duduknya dan menatap bingung pada Bryan. Bryan langsung memeluk tubuh Vesha, membuat Sagara dan Vesha terkejut. Terlebih Sagara, pria itu saat ini sedang membulatkan matanya dengan rahang yang mengeras. Bahkan tangannya saat ini sudah mengepal kuat.
"Bryan," gumam Vesha.
Bryan merenggangkan pelukannya, ia menatap Vesha dengan wajah khawatirnya. "Kamu nggak apa-apa, mana yang sakit?" Bryan bertanya sambil memeriksa seluruh tubuh Vesha.
__ADS_1
Vesha hanya terdiam saat mendapatkan perhatian dari Bryan. Bahkan Vesha juga bisa lihat bagaimana Bryan sangat mengkhawatirkannya. Bryan melihat ke arah wajah Vesha.
Pria itu sempat terkejut saat melihat pipi Vesha yang memar. Tangan Bryan langsung menyentuh pipi Vesha sambil memberi usapan lembut di pipi itu.
"Apakah ini sakit?" tanya Bryan.
Vesha tersadar saat Bryan menyentuh pipinya. "Ah, ini. Tidak sakit," jawab Vesha.
Bryan menatap lekat wajah gadisnya. Vesha yang dilihat seperti itu pun merasa malu dan salah tingkah. Sagara yang sejak tadi menahan rasa cemburunya pun langsung berdehem.
Mendengar suara deheman Sagara, Bryan pun melirik ke arah Sagara dengan satu alis yang terangkat satu. Berbeda dengan Vesha yang semakin malu pada Sagara. Vesha pun menoleh ke arah Sagara dengan perasaan gugupnya.
"Eum, Ga. Kenalkan ini Bryan," ucap Vesha yang masih merasa gugup.
Sagara menatap tidak suka pada Bryan. "Siapa dia?" tanya Sagara.
Vesha yang masih gugup sempat melirik ke arah Bryan. "D-dia,"
"Aku Bryan, calon suaminya Vesha." sahut Bryan dengan cepat.
Vesha langsung menatap Bryan dengan mata melotot. akan tetapi Bryan hanya tersenyum tipis saat melihat ekspresi Vesha. Sagara mengepalkan tangannya, ia pun ingat saat kejadian di kampus lalu. Dimana dirinya pernah salah paham dengan Vesha saat Aurel terjatuh. Sagara kembali menegasi wajah Bryan yang saat ini sedang tersenyum.
Sagara langsung mengenali wajah itu, walaupun pertama kali melihat Bryan sedang menggunakan masker. Tetapi Sagara tahu kalau itu adalah Bryan, karena ia ingat dengan sorot mata pria yang sedang merangkul Vesha.
Pintu kamar rawat kembali terbuka, ketiganya menatap ke arah pintu. Seorang suster membawakan makan siang untuk Sagara. Bukan hanya suster yang masuk, tetapi pria yang membantu Vesha dan Sagara pun juga ikut masuk.
Setelah suster tersebut menaruh makanan di atas nakas, beliau pun pamit undur diri. Sagara menatap pria yang sudah menolong dirinya dan juga Vesha.
"Maaf Tuan, Saya belum sempat mengucapkan terima kasih pada Anda," ujar Sagara.
Pria itu pun tersenyum. "Sama-sama Tuan, Saya hanya menjalankan tugas yang diperintahkan atasan Saya. Berterima kasihlah pada Tuan Saya, Tuan Bryan." jawab pria itu seraya menunjuk Bryan yang sedang tersenyum.
Sagara kembali terkejut mendengar jawaban pria itu. Lalu ia melirik ke arah Bryan yang sedang tersenyum lebar. Kedua alis Sagara saling bertautan, banyak pertanyaan dalam benaknya mengenai siapa Bryan.
Bryan pun melihat ke arah pria yang telah membantu Vesha dan Sagara. Lalu ia juga beralih menatap Vesha.
"Sayang, kenalkan ini Devano. Dia adalah sahabat sekaligus sekretaris Daddy ku," ucap Bryan memperkenalkan Devan pada Vesha.
Vesha pun tersenyum dan mengulurkan tangannya. Devan pun membalas senyuman Vesha dan mencoba ikut mengulurkan tangannya. Namun sebelum mengenai tangan Vesha, terlebih dahulu tangan gadis itu ditarik oleh Bryan.
Bryan pun segera memukul tangan Devan dan memberi tatapan tajam pada pria itu.
"Tidak perlu mengulurkan tanganmu padanya, Sayang." ucap Bryan pada Vesha.
"Dan kamu juga nggak usah ikutan mengulurkan tanganmu pada kekasihku," protes Bryan pada Devan.
Devan dan Vesha hanya bisa menghela nafas mereka. Devan pun menggelengkan kepalanya.
"Anak sama bapak sama saja. Sama-sama posesif sekali kalau menyangkut seorang wanita," gumam Devan dalam hatinya.
Sagara hanya diam saat melihat Bryan begitu perhatian dan posesif terhadap Vesha. Sagara mengepalkan kedua tangannya kembali, ada rasa iri dan tidak suka saat Bryan memberi perhatian lebih pada Vesha, dan Vesha pun menerima semua perlakuan Bryan pada dirinya. Di saat Sagara sedang bergelung dengan pikirannya, Vesha menegur pria itu karena sejak tadi dia memanggil Sagara tidak mendapat respon dari pria itu.
"Kamu kenapa melamun?" tanya Vesha.
Sagara salah tingkah dan gugup. "Ah, tidak apa-apa." jawab Sagara.
__ADS_1