
Sean sudah menghubungi Bryan dan memberitahukan apa yang telah menimpa Naura. Sean menceritakan semua yang terjadi di rumah sakit pada Bryan. Bahkan Sean juga memberitahukan Bryan kalau Vesha saat itu sedang mendonorkan darahnya untuk Naura.
Bryan cukup terkejut mendengar hal tersebut. Jujur saja pria itu sangat khawatir dengan kondisi Naura dan Vesha. Bryan dan Devano segera menyelesaikan urusan mereka di Paris hari itu juga. Setelah mengurus pertemuan mereka dengan kliennya, Devano segera memesan tiket untuk kembali ke Indonesia.
Sementara itu di rumah sakit Vesha terlihat sangat lemas dan wajahnya pun sudah sangat pucat.esha keluar dari ruang UGD dan disambut oleh Shena.
"Sudah aku katakan tidak perlu kamu mendonorkan darahmu untuk wanita seperti itu. Lihatlah sekarang kamu sangat pucat seperti mayat hidup," gerutu Shena.
Vesha hanya menanggapi ucapan Shena dengan senyuman saja. Shena membantu Vesha untuk duduk di kursi tunggu. Vesha merasa lemas dan enggan berbicara. Sean dan Gricella pun menghampiri Vesha dan Shena.
"Kami baik-baik saja, Nak?" tanya Sean agak khawatir terhadap Vesha.
Vesha tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan mengangguk. Rasanya sangat berat untuk berucap karena tubuhnya sangat lemah.
"Shena, sebaiknya kamu antarkan Vesha pulang. Om sangat khawatir dengan kondisi saat ini," ucap Sean.
Shena melirik Vesha yang sedang memejamkan matanya. Shena juga teringat kalau sebelum Subuh nanti sahabatnya itu harus berangkat ke bandara, dan Vesha harus beristirahat.
"Iya, Om. Kami akan pulang setelah kondisi Vesha lebih baik," jawab Shena.
Sean mengangguk. "Sekali lagi Om mengucapkan terimakasih pada kamu dan juga Vesha. Terutama pada Vesha yang sudah bersedia mendonorkan darahnya untuk istri Om," ujar Sean.
Sean terlihat mengeluarkan kertas dan menulis di kertas tersebut. "Ini, Om hanya bisa memberikan ini sebagai tanda terimakasih atas kesediaan Vesha dalam mendonorkan darahnya,"
Sean menyodorkan secarik cek pada Shena, Vesha masih bergeming dan hanya bisa melirik saja. Lalu gadis itu menghela nafasnya dan kembali memejamkan matanya. Shena menatap cek tersebut dan tatapannya beralih ke arah Sean. Shena merasa kesal dengan pikiran Sean yang menganggap kalau Vesha mendonorkan darahnya agar mendapatkan bayaran.
Shena tersenyum sinis. "Maaf Om, sebaiknya Om simpan saja cek itu. Atau Om berikan saja pada orang yang lebih membutuhkan, sahabat saya ini membantu dengan niat yang tulus tanpa adanya embel-embel berupa imbalan. Jadi maaf, karena saya maupun sahabat saya ini tidak bisa menerima cek itu," jawab Shena.
Sean cukup tertegun mendengar ucapan Shena. Gricella menggigit bibir bawahnya, karena ia tahu kalau Sean salah karena memberikan cek pada Vesha di hadapan Shena.
"Shen, pulang yuk!" ajak Vesha dengan suara lirihnya.
Shena pun mengangguk. "Ayo, memang seharusnya kita pulang sejak tadi," celetuk Shena.
Shena membantu Vesha berdiri. Sean sempat membantu Vesha.
"Terima kasih," ucap Vesha pada Sean.
"Nak, maafkan Om. Tapi tolong terima cek ini atau kamu mau Om transfer saja uangnya? Kamu bisa memberikan nomor rekening kamu sama Om," ujar Sean yang memohon.
Vesha yang masih sangat lemah pun terpaksa menoleh dan menatap Sean juga Gricella.
"Maaf Tuan! niat saya tulus dalam membantu Nyonya Naura. Jadi saya tidak bisa menerima cek atau apapun itu yang anda berikan. Saya permisi, Tuan!" jawab Vesha.
Shena pun langsung membantu menuntun Vesha berjalan meninggalkan keduanya. Sean dan Gricella hanya diam dan termangu dengan penolakan Vesha untuk menerima imbalan dari Sean.
__ADS_1
Sean menghela nafasnya, keduanya menatap nanar kepergian Vesha. Gricella menepuk punggung sang daddy dan memberi usapan lembut di sana.
"Sepertinya kita memang salah dalam menilai gadis itu," ujar Sean.
Gricella mengangguk. "Daddy benar! Mungkin itulah sebabnya Kak Bryan sangat mencintai Vesha," jawab Gricella.
"Cintanya sangat tulus terhadap Kak Bryan," sambung Gricella.
"Daddy, ada suatu hal yang ingin aku bicarakan. Ini soal Vesha dan juga Mommy," kata Gricella.
Sean mengerutkan dahinya. "Soal apa, Nak?" tanya pria itu.
"Sebaiknya kita duduk, Daddy!"
Gricella dan Sean pun memilih duduk, dn gadis itu pun mulai menceritakan kejadian beberapa hari yang lalu. Gricella menceritakan semua yang telah Naura lakukan terhadap Vesha. Sean yang mendengar cerita Gricella pun merasa kesal dengan Naura.
Sean mengusap kasar wajahnya dengan telapak tangannya. Ia tidak menyangka kalau tindakan istrinya akan sejauh ini untuk menyingkirkan Vesha.
"Astaghfirullah, kenapa kamu sampai melakukan hal memalukan seperti ini Naura?" geram Sean dengan tangan terkepal kuat.
"Kita sudah sangat bersalah pada gadis itu," gumam Sean.
"Iya, aku pun juga sangat bersalah pada Vesha, Daddy." jawab Gricella.
"Tidak bisakah kamu mencari tahu terlebih dahulu, Cella? Kalau sudah seperti ini keluarga kita sangat bersalah pada Vesha. Daddy tidak tahu apakah Vesha akan memaafkan kita, jika kita meminta maaf padanya?"
"Aku ragu soal itu, Dad. Saat ini yang aku takutkan adalah kemarahan Kak Bryan. Aku yakin dia sangat marah saat tahu kalau Vesha sudah tidak bekerja di perusahaan," lirih Gricella.
Sean kembali mengusap wajahnya, benar apa yang dikatakan putrinya itu. Sean harus segera menghubungi Angga dan kepala HRD untuk kembali memanggil Vesha ke perusahaan.
"Daddy akan meminta Angga dan juga Rico untuk memanggil Vesha untuk bergabung di perusahaan kita," ucap Sean.
"Semoga saja Vesha mau kembali bekerja," sambung Sean.
"Semoga saja, Dad. Aku sangat berharap Vesha dapat kembali ke perusahaan sebelum Kak Bryan kembali dari Paris," jawab Gricella.
Setibanya di rumah Vesha, Shena merebahkan gadis itu di ranjang kamarnya. Dengan telaten Shena membantu menyelimuti Vesha.
"Istirahatlah, karena jam 3 pagi kamu harus bangun," ucap Shena.
Vesha hanya mengangguk dan kembali melanjutkan tidurnya. Shena menghela nafasnya, lalu ia meraih ponselnya. Shena mengetik beberapa pesan di layar ponselnya, entah siapa yang sedang berkirim pesan dengannya. Setelah selesai Shena pun ke kamar mandi untuk membersihkan wajah dan menyikat giginya.
Setelah bersih-bersih gadis itu kembali ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di sebelah Vesha. Namun sebelum ia benar-benar terlelap, Shena menatap sendu ke arah sahabatnya.
"Kau gadis terbaik yang pernah aku kenal, Sha. Aku harap kamu selalu berbahagia dimanapun kamu berada," lirih Shena.
__ADS_1
Tidak lama gadis itu pun ikut menyusul Vesha ke dalam mimpi, karena ia juga harus bangun jam 3 pagi untuk membantu Vesha bersiap ke bandara.
*
Naura sudah dipindahkan ke ruang rawat inap VIP atas permintaan Sean. Naura juga sudah melewati masa kritisnya, namun sayangnya wanita itu masih belum sadarkan diri.
Sean dan Gricella masih setia menemani Naura di sana. Terlihat wajah lelah Sean sedang duduk di sebelah Naura sambil memegang lembut tangan sang istri. Sedangkan Gricella sedang terlelap di sofa bed, nyatanya gadis itu pun teramat sangat lelah. Mungkin itu juga efek dari datang bulannya, tambah lagi tekanan darahnya sangat rendah.
Menjelang pagi, Sean terbangun saat Gricella memintanya untuk sarapan. Gricella pagi-pagi sekali keluar untuk membeli keperluan kewanitaannya sambil membeli sarapan di kantin rumah sakit. Sean pun hanya menurut, namun sebelum itu ia terlebih dahulu membersihkan diri sebelum memakan sarapan paginya.
Pintu ruangan rawat diketuk dan memperlihatkan Angga dan juga Rico. Mereka datang atas permintaan Sean tadi malam.
"Selamat pagi Nona Gricella," sapa Rico dan angga hanya tersenyum dan mengangguk.
"Selamat pagi juga. Silakan duduk, Daddy sedang berada di toilet," jawab Gricella seraya mempersilakan Angga dan Rico untuk duduk.
"Terima kasih, Nona!" jawab keduanya bersamaan.
Tidak lama Sean pun keluar dari toilet, dan langsung menyapa keduanya. Mereka juga saling berjabat tangan, tidak lupa Sean pun menawarkan sarapan pada kedua pria itu.
"Jadi bagaimana dengan Vesha?" tanya Sean pada keduanya.
Gricella hanya menyimak dari tempat duduknya yang bersebelahan dengan ranjang Naura.
Angga dan Rico saling melirik, membuat Sean mengerutkan dahinya. Sean merasa ada sesuatu yang mereka sembunyikan.
"Ada apa? Kenapa kalian malah diam saja?" selidik Sean.
"Eum, begini Tuan. Sebelumnya kami minta maaf karena tidak bisa membujuk Nona Vesha untuk kembali bergabung di perusahaan. Karena…" Angga sedikit menjeda ucapannya dan kembali melirik Rico.
"Karena apa? Coba jelaskan padaku cepat!" ucap Sean yang tidak sabaran.
Angga menghela nafasnya. "Karena Nona Vesha sudah tidak berada di rumahnya. Menurut penjaga keamanan perumahan disana, Nona Vesha sudah pergi pagi sekali bersama teman wanitanya menggunakan mobil. Kami tidak tahu kemana perginya dan penjaga keamanan pun tidak bisa memberitahukan hal itu, karena menurut mereka itu adalah urusan pribadi Nona Vesha," jawab Angga menjelaskan semuanya.
Sebelum Angga dan Rico ke rumah sakit. Keduanya terlebih dahulu menuju rumah kedua orang tua Vesha. Keduanya cukup terkejut karena Vesha tidak berada di rumahnya. Rasa kecewa pun menyelimuti hati kedua pria itu, bahkan mereka juga bingung harus kemana mencari Vesha.
"Jadi, maksud kalian Vesha sudah pergi dari rumah itu? Lalu kedua orang tuanya?" tanya Sean kembali.
"Keduanya orang tuanya sedang berada di Surabaya, Tuan." jawab Rico.
"Coba kalian cari tahu keluarganya di Surabaya. Siapa tahu memang Vesha pergi ke sana," ucap Sean.
"Saya sudah memerintahkan seseorang untuk mencari tahu kemana Nona Vesha pergi, Tuan. Kita hanya menunggu kabar siang ini," jawab Rico.
Sean mengangguk. "Ya, secepatnya kabari saya. Semoga Vesha dapat kembali ke Jakarta dan bergabung di perusahaan kita lagi," harapan Sean.
__ADS_1