
Suasana semakin meriah, gelak tawa dari Vesha dan teman-temannya ikut memeriahkan suasana kebersamaan mereka. Momen yang sangat disukai Vesha, dimana dirinya kembali berkumpul bersama para sahabat dan juga calon suaminya.
Tambah lagi Langit yang sejak tadi menjadi bulan-bulanan Marvin, Sagara dan juga Chandra. Wajah pria itu berubah merah padam akibat menahan rasa malu dan kesal terhadap ketiga sahabatnya itu. Menyebalkan, mungkin itulah yang ada dalam benak Langit untuk ketiga sahabatnya.
"Tidak bisakah kalian berhenti menggodaku?" tutur Langit yang sangat kesal.
Ketiga sahabatnya masih tertawa, sedangkan yang lainnya hanya mengulum senyum dan menahan tawa mereka.
"Sudah-sudah, tidakkah kalian lihat wajah Langit sudah memerah seperti Tuan Krab," ucap Vesha seraya terkekeh kecil.
Langit memicingkan matanya ke arah Vesha. "Kau sama saja seperti mereka," keluh Langit yang membuat Vesha terbahak-bahak.
"Oh, astaga! maafkan aku Langit. Kau benar-benar tidak bisa menahan tawaku. Tambah lagi wajahmu memang menggemaskan saat menahan malu," ujar Vesha.
Dari kejauhan Naura yang sedang duduk di kursi roda sambil berbincang-bincang dengan keluarga Vesha pun tersenyum melihat kebersamaan Vesha dan teman-temannya.
Gricella yang memang sejak tadi duduk di sebelah Naura pun ikut tersenyum saat melihat Chandra tertawa dan bergurau bersama para sahabatnya. Lalu matanya tertuju pada seorang gadis yang duduk di antara Sagara dan Shena.
Gricella menatap ke arah Naura dan sedikit bergeser. "Mom, bukankah itu Kak Aruna yang sempat akan Mommy jodohkan dengan Kak Bryan?" tanya Gricella seraya berbisik.
Naura pun refleks melihat ke arah Aruna. "Hmm, iya. Memang itu Aruna," jawab Naura.
"Apakah Mommy tidak tahu kalau Kak Aruna teman Kak Vesha? Apakah dia atau Kak Bryan tahu kalau mereka sempat ingin dijodohkan? Aku tidak bisa bayangkan jika Kak Aruna, Kak Bryan atau Kak Vesha tahu akan rencana Mommy itu," bisik Gricella kembali.
Naura menghela nafasnya. "Untungnya rencana itu hanya wacana saja. Mommy sangat beruntung perjodohan itu belum terlaksana, entah bagaimana kalau rencana itu terjadi. Sudah dapat pastikan Mommy akan semakin menyesal dengan keputusan egois Mommy," jawab Naura terdengar begitu lirih.
Gricella langsung merangkul dan sedikit memeluk Naura. "Alhamdulillah Tuhan telah memberikan jalan terbaik untuk memperbaiki hubungan antara Mommy dan Kak Vesha," ujar Gricella.
Naura mengusap lengan Gricella. "Hmm, kau benar sayang. Mommy sangat bersyukur akan hal itu,"
Mata Gricella terus menatap ke arah sekumpulan teman-teman Vesha. Tentu saja matanya mengunci ke arah Chandra. Pria yang telah berhasil mencuri pandangannya sejak pria itu datang. Darel yang duduk tidak jauh dari Gricella itu pun mengerutkan dahinya, pria itu pun ikut memperhatikan arah tujuan dari tatapan Gricella.
Mata Darel menatap ke arah Sagara, Marvin, Chandra dan Langit. Namun saat melihat Sagara berdiri dan berjalan ke arah meja prasmanan. Tatapan Gricella tetap tertuju pada Chandra. Darel pun menaikkan satu alisnya.
"Ehem, Tuan Sean. Sepertinya setelah Bryan dan Vesha menikah, anda akan meminang satu menantu lagi," sindir Darel seraya melirik ke arah Sean dan Gricella.
Sean mengerutkan dahinya, begitupun juga Naura. Keduanya menoleh ke arah Gricella sebentar dan kembali menatap ke Darel, seakan keduanya meminta penjelasan lebih.
"Maksudmu putri kami?" tanya Sean.
__ADS_1
Darel tertawa kecil. "Iya, sepertinya putri anda sedang jatuh cinta dengan pria yang sedang berkumpul di sana bersama Vesha dan Bryan," jawab Darel.
Wajah Gricella langsung berubah, gadis itu langsung menundukkan kepalanya. Darel semakin tertawa melihat tingkah Gricella yang malu-malu. Sedangkan Sean tersenyum tipis, ia memang tahu kalau putrinya tengah jatuh cinta. Tapi Sean tidak tahu, bahkan tidak mengenal siapa yang telah berhasil membuat putrinya jatuh cinta.
"Benarkah itu, Cella? Boleh Daddy tahu siapa pria yang mencuri pandang darimu, hmm?" goda Sean saat bertanya pada Gricella.
Gricella yang sudah sangat malu hanya memendamkan wajahnya di belakang punggung Naura. Yang membuat Naura semakin tertawa dan gemas dengan putrinya itu.
"Kok Mommy tidak tahu, ya! Kalau putri Mommy ini sedang jatuh cinta, siapa sih pria yang sudah menarik perhatian putri Mommy dan Daddy?" tanya Naura yang ikut menggoda Gricella.
"Mommy," rengek Gricella.
Semuanya orang tua yang sedang berkumpul itu pun tertawa melihat Gricella yang tersipu malu karena ulah Sean dan Naura.
"Ada lima pria di sana, dan tidak mungkin itu Bryan karena dia Kakak kamu sendiri. Tidak mungkin juga putra Om, Sagara. Karena saat Gara beranjak dari kursinya, tatapan matamu tetap mengarah ke arah sana. Jadi menurut Om, kamu sedang menatap 3 pria. Yaitu Chandra, Langit dan Marvin. Jadi siapa yang menjadi pusat perhatian kamu gadis manis?" kini Darel ikut-ikutan menggoda Gricella dengan sebuah pertanyaan yang langsung pada tujuan utamanya.
Darel sengaja melakukan itu, agar dirinya dan yang lainnya tidak penasaran. Terutama Sean dan Naura, sudah pasti keduanya lah yang paling sangat penasaran. Gricella pun semakin malu akibat pertanyaan Darel itu.
"Ish, Om. Jangan dibahas lagi, aku malu!" gumam Gricella yang masih dapat didengar semuanya.
Darel langsung tertawa terbahak-bahak melihat keluguan gadis itu. Adam yang sejak tadi ikut memperhatikan pun akhirnya memiliki satu tebakan yang mampu membuat Gricella bungkam karena semakin malu.
Gadis itu membulatkan matanya, wajahnya semakin merona karena malu. Adam pun bisa menebak kalau tebakannya itu benar.
"Jadi benar pria itu adalah Chandra," ucap Adam lagi dengan senyum penuh arti.
"Om," rengek Gricella. "Jangan kencang-kencang, nanti banyak yang dengar," keluh gadis itu.
Sean dan Naura terkejut mendengar ucapan Gricella. Mereka pun tertawa, semua yang ada di sana kembali menertawakan gadis itu.
"Tidak apa, Chandra itu anak yang sangat baik dan sangat sopan. Bahkan dia sangat sayang dengan keluarganya," ujar Adam yang seakan menyetujui Gricella menyukai Chandra.
"Kau bisa tanya-tanya langsung pada Nenek Tini, atau sekalian dekati Ibu nya Chandra." ucap Vita seraya menunjuk ke arah ibu mertuanya yang sedang berbincang dengan Ayu.
"Malu, Tante!" gumam Gricella seraya menundukkan kepalanya.
Vita dan yang lainnya tersenyum, bahkan Sean mengusap kepala Gricella dan mengacak-ngacak rambut gadis itu.
"Namanya perkenalan dan pendekatan. Ayo, Tante temani kau berbincang-bincang dengan Ibunya Chandra." Vita akhirnya mengajak Gricella untuk menghampiri nenek Tini dan Ayu yang sedang berbincang.
__ADS_1
Sean dan Naura memberi kode pada putri mereka. "Pergilah! nanti Mommy dan Daddy akan menyusul. Sekalian Daddy ingin mengenal calon besan," gurau Sean disertai senyum lebarnya.
Gricella pun terpaksa ikut dengan Vita menghampiri nenek Tini dan Ayu. Vita memperkenalkan Gricella pada Ayu, dan gadis itu pun tanpa ragu salim pada Ayu. Sempat terjadi kegugupan dalam diri Gricella, namun dengan cepat rasa gugup itu menghilang ketika Ayu mulai mengajak gadis itu berbincang dan bercanda.
Dari jarak beberapa meter, Chandra mengerutkan dahinya saat melihat ibunya sedang berbincang dengan Gricella. Hal yang baru disadari oleh Chandra, bahwa gadis itu ada di acara tersebut. Mengingat Gricella adalah adiknya Bryan.
"Astaga, bahkan aku lupa kalau gadis itu akan datang ke acara ini. Sial, kenapa aku melupakan hal itu. Menyebalkan," gerutu Chandra dalam hatinya.
Entah kenapa Chandra merasa sangat tidak suka melihat sang ibu berbincang, bahkan terlihat sangat akrab dengan Gricella. Perasaan was was pun menyelimuti diri Chandra. Pria itu takut kalau sang ibu akan tersakiti hatinya atau tersinggung dengan ucapan Gricella. Karena Chandra tahu bagaimana perangai Gricella.
Namun sayangnya Chandra tidak tahu kalau Gricella sudah sedikit berubah. Gadis itu sudah tidak terlihat arogan, memang perkenalan awal mereka sangat tidak baik. Namun seiring berjalannya waktu Gircella dapat menghilangkan sikap arogannya itu.
Disaat Chandra sibuk dengan pemikirannya, Ayu memanggil Karina dan juga dirinya. Chandra memiliki firasat kalau ibunya akan mengenalkan mereka pada Gricella. Mau tidak mau Chandra dan Karina pun menghampiri Ayu. Setelah tiba Chandra dan Karina diminta untuk duduk di dekat Gricella. Gadis itu mendadak gugup saat tatapan tajam Chandra menatapnya.
"Ibu dengar kalau restoran Gricella bekerjasama dengan kita. Apakah itu benar?" tanya Ayu pada Chandra.
Chandra menatap sinis ke arah Gricella sekilas sebelum menjawab pertanyaan Ayu.
"Hmm, iya Bu. Sudah satu bulan kami bekerja sama," jawab Chandra.
Ayu tersenyum lebar, sedikit memperhatikan Chandra yang agak berbeda saat berhadapan dengan Gricella. Sikap dinginnya lebih menonjol dibanding dengan sikap lembut dan ramahnya. Ayu tahu kalau Chandra kurang suka berdekatan dengan Gricella. Entah apa yang sebenarnya terjadi.
"Nak Gricella," panggil Ayu pada Gricella.
"Iya, Bu!" jawab Gricella.
Ayu tersenyum. "Ibu minta maaf, ya! Kalau terkadang sikap Chandra terlalu berlebihan dan terlalu dingin. Aslinya putra Ibu ini tidak seperti itu," ucap Ayu.
Chandra memutar bola matanya malas. "Ibu apa-apaan, sih? Chandra biasa saja, tidak berlebihan." sahut Chandra.
"Tidak berlebihan, tapi kok sinis gitu waktu lihat Gricella," celetuk Ayu sedikit menyindir Chandra.
Chandra pun membulatkan matanya. "Bu, ini masih ada orangnya, lho!" cetus Chandra seraya menunjuk ke arah samping dimana Gricella berada.
Sedangkan yang ditunjuk hanya mengulum senyum dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Gricella sangat ingin tertawa mendengar ucapan Chandra yang terang-terangan.
"Lho, biarin saja. Lebih baik ngomong langsung sama orangnya, daripada ngomong dibelakang. Ya, 'kan Gricella?" Ayu sengaja mengajak bicara Gricella.
Gricella pun mengangguk seraya tertawa kecil. "Iya, Bu. Ibu benar," jawab gadis itu yang masih terkekeh.
__ADS_1