
Sagara nampak terlihat gelisah, pasalnya sudah beberapa hari dia datang berkunjung ke rumah Vesha. Tetapi rumah kedua orang tua gadis itu terlihat sangat sepi. Sagara juga sudah bertanya pada tetangga sebelah rumah Vesha dan juga sekuriti penjaga komplek perumahan daerah sana. Mereka hanya mengatakan kalau kedua orang tua Vesha ada di Surabaya, tapi tidak tahu kemana Vesha pergi.
Lalu Sagara menghubungi Adam, setelah mengetahui Adam dan Vita berada di Surabaya. Sagara menanyakan keberadaan serta kondisi Vesha pada Adam. Sayangnya Adam tidak mau memberitahukan kemana Vesha pergi. Bahkan Sagara juga bertanya apakah Vesha sedang ada masalah, dan Adam pun tentu saja tidak mudah untuk menceritakan apa yang terjadi pada putrinya itu.
Hari ini Sagara izin mengambil cuti dua hari hanya untuk mencari keberadaan Vesha. Bahkan saat ini Sagara mengajak Marvin dan Chandra untuk menemui Bryan.
Disinilah mereka berempat, di ruangan Bryan. Sagara hanya ingin tahu kemana perginya Vesha.
"Apa kau sengaja menyembunyikan keberadaan Vesha dari kami, Tuan Bryan?" selidik Sagara.
Bryan menggelengkan kepalanya. "Untuk apa aku menyembunyikan kekasihku sendiri? Bahkan sampai sekarang pun aku juga sedang mencarinya. Aku juga sempat mendatangi kediaman Neneknya Vesha di Surabaya. Tapi mereka juga tidak tahu dimana Vesha," jawab Bryan.
Ya, beberapa hari yang lalu Bryan datang berkunjung ke Surabaya. Setelah Sean memberitahukan semuanya mengenai kejadian antara Vesha dan juga Naura, hari itu juga Bryan langsung menyusul Vesha yang ia duga ada di Surabaya.
Namun sayangnya disana dirinya hanya bertemu dengan Adam, Vita dan juga Neneknya Vesha. Bahkan Bryan sempan mengintai rumah Neneknya Vesha dan juga menyewa beberapa orang untuk memantau rumah itu.
Beberapa hari tidak bertemu dengan sang kekasih membuat Bryan terlihat sangat frustasi. Bahkan dia tidak memikirkan penampilannya sekarang ini, pola makan pun juga tidak terurus olehnya. Sampai Devano dan Gricella terus mengingatkannya untuk makan.
"Bahkan sampai sekarang aku belum mendapat kabar dimana Vesha berada. Aku sangat merindukannya, Saga. Bukan hanya kalian," lirih Bryan.
Sagara terdiam, begitupun juga dengan Marvin dan Chandra. Chandra melirik sekilas ke arah Bryan, memang terlihat jelas kalau pria itu sangat frustasi kehilangan Vesha.
"Kita tinggal menunggu kabar dari Shena saja," cetus Marvin.
"Aku yakin dia tahu dimana Vesha berada," sambung pria itu.
Semuanya menatap ke arah Marvin. Benar apa yang dikatakan pria itu, tinggal menunggu kabar dari Shena saja. Karena hanya gadis itu harapan mereka. Sagara menatap Bryan dengan tatapan tajamnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi diantara kalian, Tuan Bryan yang terhormat? Kalau kau tidak bisa menjaga Vesha dan membahagiakannya, sebaiknya kamu lepaskan Vesha. Biar aku yang maju untuk membahagiakan dirinya. Aku juga tahu kalau Ibumu tidak menyetujui hubungan kalian," ujar Sagara yang mampu menyulutkan emosi dalam diri Bryan.
Bryan tersenyum smirk. "Tidak segampang itu, Tuan Saga. Memang Mommy ku tidak menyetujui hubungan kami, tapi aku akan tetap mempertahankan Vesha. Karena Vesha adalah berlian yang begitu sulit aku dapatkan. Apakah kau yakin dapat membahagiakan Vesha, heoh? Bahkan kau dulu pernah menorehkan luka di hatinya," jawab Bryan dengan sinis.
Sagara mengepalkan kedua tangannya dan hendak melayangkan pukulan pada Bryan. Namun segera dicegah oleh Chandra dan juga Marvin.
"Tenangkan dirimu, Ga!" bisik Chandra.
Sagara mendengus kasar, tatapannya masih begitu tajam menatap ke arah Bryan yang sedang tersenyum smirk. Sagara mengalihkan pandangannya ke sembarang arah dengan tangan yang masih terkepal kuat, bahkan nafasnya pun berburu kencang.
"Harap kalian tenang, aku akan mencoba menghubungi Shena. Berdoalah semoga Shena tahu dan mau memberitahukan keberadaan Vesha," ucap Marvin.
Ketiga pria itu pun terdiam, dan membiarkan Marvin menghubungi Shena. Marvin pun mencoba menghubungi nomor ponsel Shena, namun entah disengaja atau memang ponsel gadis itu sedang lowbat. Jadi, Marvin tidak dapat menghubungi Shena.
Marvin berdecak kesal. "Ck, tidak aktif!" celetuknya.
__ADS_1
"Coba terus," pinta Sagara.
"Iya, ini juga aku lagi coba. Sabarlah!" sahut Marvin yang masih terus berusaha menghubungi ponsel Shena.
Sementara itu Shena sendiri sedang menikmati hari cutinya bersama Vesha di pinggir pantai. Mereka terlihat sangat bahagia bermain dengan pasir, walau hanya berdua saja.
"Kau sedang buat benteng Takeshi, Shen?" tanya Vesha.
Shena mengukur dan memperhatikan kembali karyanya. "Aku sedang membuat benteng si Patrick Star," jawab Shena.
Vesha pun mendekat dan ingin menilai bangunan pasir yang dibuat oleh sahabatnya itu.
"Kok mirip kotak amal," gumam Vesha yang masih dapat didengar Shena.
Shena pun mengerucutkan bibirnya. "Ini tuh seni, Sha. Kau tahu ini adalah mahakarya terkeren yang pernah aku buat," ucapnya mengagumi pahatan indah berbahan pasir itu.
Vesha menahan tawanya, ia tidak ingin sahabatnya kecewa padanya. "Tapi kenapa bentuknya hanya kotak begitu. Ini malah terlihat seperti yang tadi aku katakan, tingga kau kasih lubang kecil di atas sini. Jadi deh kotak amal," ucap Vesha yang akhirnya tidak bisa menahan tawanya.
Shena menghentakkan kakinya sambil mendengus kesal melihat Vesha menertawai dirinya.
"Tawa terus… seneng banget godain aku," sahut kesal Shena.
Vesha masih tertawa terbahak-bahak. "Aku pinjam ponselmu, biar aku foto buat kenang-kenangan. Kemarikan ponselmu!" pinta Vesha sambil menadahkan satu tangannya di depan Shena.
"Yahh, sayang banget. Padahal aku ingin menunjukkannya ke Marvin," Vesha langsung menutup mulutnya.
Shena pun melototkan matanya. "Ternyata kau memiliki rencana jahat, Sha. Untunglah Tuhan tidak mengabulkannya," cetus Shena dan berhasil membuat Vesha tertawa.
"Ya, maaf. Memang niatnya seperti itu, biar kalian semakin dekat," jawab Vesha.
"Rencana macam apa itu? Mana ada hubungannya dengan bangunan pasir yang aku buat ini? Lagipula memangnya dia tahu seni, bukannya Marvin hanya tahu soal onderdil dan mesin mobil?" tanya Shena.
Vesha mengedikkan kedua bahunya. "Siapa tahu saat aku kirimkan gambarnya dia akan memuji kamu, dan buat kamu berbunga-bunga… uuuhhh so sweet," ujar Vesha dengan menampilkan wajah gemasnya.
Shena menatap jijik pada Vesha. "Jauhkan wajah jelekmu itu dariku!" titah Shena sambil mendorong kepala Vesha.
Vesha mengerucutkan bibirnya, sedangkan Shena sudah berjalan meninggalkan Vesha.
"Mau kemana kamu, Shena?" teriak Vesha.
"Balik!"
Shena tetap berjalan menuju ke arah villa tanpa menoleh ke belakang. Vesha pun segera menyusul Shena dengan sedikit berlari kecil.
__ADS_1
Setibanya di villa, keduanya pun segera mencuci tangan dan kaki mereka. Shena berjalan menuju kamar untuk mengambil ponselnya. Sedangkan Vesha langsung menuju dapur untuk mengambil minum.
Di dalam kamar Shena menyalakan ponselnya. Setelah beberapa detik ponsel menyala, gadis itu cukup terkejut saat mendapatkan notifikasi dari panggilan tidak terjawab dan beberapa pesan.
"Gila! 25 panggilan tidak terjawab dan 10 pesan WhatsApp. Ini yang menghubungiku bodoh atau bagaimana, ya? Sudah tahu sedang tidak aktif ponselnya, kenapa terus saja menghubungiku?" ujar Shena sambil menggelengkan kepalanya.
Shena merutuki orang-orang yang sudah menelponnya sampai sebanyak itu. Saat mengetahui siapa yang menghubunginya, dahinya pun berkerut.
"Kenapa Marvin menghubungiku sebanyak ini?" Shena kembali berdecak.
Ia pun mulai membaca pesan yang ada di aplikasi WhatsApp. Nama. Marvin pun terpampang jelas di layar ponselnya. Shena mulai membaca pesan dari Marvin, ada juga pesan dari salah satu pasiennya.
Shena tersenyum miring. "Lihatlah, Sha! Ternyata banyak sekali yang menanyakan keberadaan dirimu. Bahkan si daun Saga pun ikut khawatir tentang keberadaanmu," Shena tertawa kecil.
Ia menertawakan sikap orang-orang yang sedang merasa kehilangan Vesha. Marvin juga mengirim foto Bryan yang terlihat sangat frustasi dan tidak terurus.
Shena memperhatikan wajah Bryan. "Kasihan dia, padahal dia tidak ada sangkut pautnya dengan kepergian Vesha. Tapi kedua orang tuanya lah yang membuat Vesha harus meninggalkannya," gumam Shena.
Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Ah, masa bodo lah,"
"Kalau sudah tiada baru terasa… bahwa kehadirannya baru terasa…." Shena menyanyikan lagu dangdut yang dipopulerkan oleh si Raja Dangdut.
"Mampus...!" celetuknya lagi.
"Biar kalian tahu rasa," ucapnya kembali sambil tertawa.
Vesha yang mendengar tawa Shena pun mengerutkan dahinya. "Kalau sudah ketemu ponsel gilanya kumat," gumamnya.
"Shen, jangan lupa minum obat cacingnya biar nggak tambah gila!" teriak Vesha.
Sedangkan Shena sendiri mendengar teriakan Vesha pun segera berhenti tertawa. Shena langsung melongokkan kepalanya dari pintu kamar.
"Berisik cacing pita!" sahut Shena.
Vesha hanya tertawa menanggapi celetukkan Shena. Tidak lama Shena pun keluar dari dalam kamar dan ikut duduk di depan televisi bersama Vesha.
"Besok cuti kamu berakhir. Apakah kamu yakin mau mengantarkan aku sampai di Surabaya?" tanya Vesha.
Shena mengangguk. "Yakinlah! Aku sudah janji sama Papa dan Mama untuk mengantarkanmu sampai ke Surabaya," jawab Shena.
"Aku takut kamu kelelahan di jalan, Shen." khawatir Vesha.
Shena menaikkan satu alisnya. "Cie, yang khawatir sama aku..."
__ADS_1