CINTA GAVESHA

CINTA GAVESHA
Sagara


__ADS_3

(Beberapa hari sebelum pernikahan Vesha dan Bryan)


Rasa penyesalan selalu saja menyelimuti hati dan pikiran Sagara. Penyesalan telah menyia-nyiakan orang yang begitu tulus mencintainya. Penyesalan Sagara adalah pernah hadir ke dalam kehidupan Vesha dan menghancurkan kesempurnaan gadis itu. Dengan menyakiti hatinya dan membuat cinta itu pergi meninggalkannya.


Sagara menangisi penyesalannya, ia tahu ini mungkin karma. Ya, dia menerima karma ini, karena kenyataan jika waktu memang tidak akan bisa kembali lagi. Dengan penuh harap ia menunggu Vesha, seperti gedung pencakar langit yang tidak mampu menembus indahnya awan. Tetapi Sagara sadar, bahwa ia sedang menunggu sesuatu yang tidak pasti dan tidak akan pernah terjadi.


Dengan hati yang sakit, jiwa yang sedih, dan kepala tertunduk. Sagara terus bergumam, melontarkan kata maaf untuk Vesha. Namun hanya ia dan Tuhan yang dapat mendengar kata itu.


"Hatiku telah hancur berkeping-keping sejak hari dimana aku menyakitimu, Sha. Maafkan aku, maaf Sha…" lirih Sagara.


Pria itu kembali menelungkupkan wajahnya di sela lututnya. Isakan lirih mulai terdengar begitu pilu memenuhi kamar bernuansa monokrom tersebut.



Cukup lama dalam posisi seperti itu, lalu ia menengadahkan wajahnya dan mengusap air matanya dengan kasar. Sagara kembali menghela nafasnya, dering ponsel yang berada di atas nakas mengalihkan perhatiannya.


Sagara menoleh sekilas, tanpa penasaran siapa yang menghubunginya. Sagara hanya meraih ponselnya dan mensilent nada deringnya. Setelahnya ia mengabaikan ponselnya kembali.


Pagi menjelang Sagara mengerjapkan matanya berkali-kali saat mendengar suara ketukan dari pintu kamarnya. Samar-samar ia mendengar suara teriakan sang Bunda dari balik pintu kamar tersebut.


"Iya, Bund." lirih Sagara


Dengan tubuh yang terasa pegal, ia bangun untuk duduk dengan perlahan. Sagara baru menyadari kalau dirinya semalam tertidur di lantai samping tempat tidurnya. Pantas saja badannya terasa sangat pegal. Sagara sedikit merenggangkan tubuhnya, ia pun akhirnya bangun dan berjalan menuju pintu kamar.


Saat dibuka pintu tersebut, nampaklah wajah khawatir sang bunda. Sagara mengerutkan alisnya.


"Ada apa Bund?" tanya Sagara dengan suara seraknya.


Safira menghela nafasnya. "Kamu tidak bekerja?" tanya balik sang bunda.


"Kerja, Bun. Ini juga baru mau mandi," jawab Sagara.


"Ya sudah, cepat mandi. Ayah sudah menunggu di meja makan," ujar Safira.


Sagara mengangguk menanggapi ucapan sang bunda, setelah Safira meninggalkan kamarnya. Pria itu segera masuk dan kembali mengunci pintu kamar, lalu bergegas menuju kamar mandi.


Setelah beberapa menit, Sagara keluar dari kamar dan segera menuju meja makan. Safira memicingkan matanya saat melihat Sagara berjalan menghampiri mereka. Wajah pria itu sedikit pucat, tentu membuat hati Safira khawatir.


"Wajahmu pucat, apa kau sakit?" tanya Safira seraya berdiri dari duduknya.


Safira menyentuh kening Sagara saat pria itu duduk di sebelahnya. Sagara tersenyum tipis.


"Aku tidak apa-apa, Bunda. Semalam aku hanya kurang tidur saja," jawab Sagara.


Safira menghela nafas gusarnya. "Lain kali jangan begadang, itu kurang baik untuk kesehatanmu. Kamu juga akhir-akhir ini jarang sekali keluar untuk berolahraga," ucap sang bunda.


Sagara tersenyum. "Iya, Bun. Libur nanti aku akan pergi berolahraga," jawabnya.


Safira memilih untuk tidak lagi bertanya atau membicarakan perihal apa yang saat ini sedang putranya pikirkan. Safira yakin apapun masalahnya Sagara pasti dapat menyelesaikannya. Karena ia tahu kalau putranya itu sudah dewasa.


Sagara dan ayahnya sudah berpamitan untuk berangkat bekerja bersama. Darel sudah menawarkan untuk bareng berangkat menggunakan mobil, namun Sagara memilih membawa motornya saja. Baginya lebih nyaman berkendara sendiri daripada pergi bersama sang ayah.


Di Kantor Sagara terlihat kembali melamun, hingga teman satu divisinya menegur dirinya yang hanya menatap lurus ke arah laptopnya tanpa melakukan apapun.

__ADS_1


"Hei, jangan melamun!"


Sagara tersentak mendengar suara dari teman yang berada di meja sebelahnya. Sagara pun menoleh.


"Ada apa denganmu, Ga? Apa kamu punya masalah?" tanya Arga teman satu divisi.


Sagara menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ar. Aku tidak apa-apa," jawab Sagara.


"Lalu kenapa kamu melamun, Ga? Kalau punya masalah berbagilah padaku. Insyaallah aku bisa bantu memberi saran," tanya Arga kembali.


Sagara tersenyum. "Thank, Ar. Tapi beneran aku nggak apa-apa kok," jawabnya.


Arga menghela nafasnya. "Ya sudah, kalau ada apa-apa cerita saja. Ayo, semangat!"


Arga mengangkat tangannya sebagai bentuk penyemangat untuk temannya itu. Sagara hanya terkekeh dan mengangguk.


"Semangat!" sahut Sagara yang masih terkekeh.


Tanpa terasa waktu terus berlalu, jam kerja pun telah usai. Sagara segera matikan PC nya dan bergegas untuk pulang, begitupun juga dengan Arga.


"Saga, kau mau ikut denganku?" tanya Arga.


"Kemana?" Sagara malah balik bertanya.


"Aku mau kumpul bersama teman-temanku di cafe S. Kamu mau ikut?" jawab Arga.


Sagara nampak berpikir sejenak, tidak lama ia pun menggelengkan kepalanya. "Tidak, lain kali saja." Tolak Sagara.


Sagara hanya mengangguk, lalu mereka pun berpisah dan balik ke arah tujuan masing-masing.


Saat dijalan Sagara berubah pikiran, sepertinya dia butuh sedikit hiburan. Sagara merasa menyesal karena tidak menerima ajakan Arga. Kini ia malah pergi sendiri ke sebuah cafe saat dirinya melewati jalan Kemang.


Disinilah Sagara duduk sendirian sambil menunggu menu yang baru saja dipesan olehnya. Ingin menghubungi ketiga sahabatnya itu tidak mungkin, karena Sagara yakin mereka pun juga sedang sibuk.


Seorang pegawai cafe datang membawakan pesanan Sagara. Pria itu pun menikmati spageti dan choco float menjadi pilihan pria itu. Sagara hampir lupa memberitahukan Safira, tangannya pun mulai mengetik beberapa kata di ponselnya. Setelah mengirim pesan untuk sang bunda, Sagara kembali melanjutkan makannya.


Disaat pria itu menikmati makan malamnya, tiba-tiba suara familiar memanggil namanya membuat Sagara harus menoleh dan melihat orang itu. Sagara pun tersenyum saat melihat seorang gadis berdiri di sebelahnya.


"Aruna," gumam Sagara.


Gadis itu tersenyum. "Ternyata benar ini kamu. Aku pikir bukan kamu, kamu sendiri?" tanya Aruna.


Sagara tersenyum dan mengangguk. "Iya," jawabnya.


"Kalau begitu boleh aku duduk disini, aku pun juga datang sendiri ke sini,"


"Tentu. Kamu sudah pesan makananmu?" tanya Sagara.


"Sudah. Sebaiknya kamu makan saja makananmu takut keburu dingin. Nanti tidak enak," jawab Aruna.


Sagara mengangguk dan ia pun kembali makan spaghetti pesanannya. Sesekali Sagara bertanya dan Aruna pun menjawab. Hingga makanan pesanan Aruna pun datang. Mereka menikmati makan malam berdua tanpa direncanakan oleh Sagara atau Aruna. Semua real ketidaksengajaan.


Aruna mengusap bibirnya dengan sehelai tisu. Lalu ia menatap Sagara yang sedang melihat ke arah para pemain band di cafe itu. Dahi gadis itu mengkerut saat melihat tatapan Sagara berubah sendu saat penyanyi itu menyanyikan lagu dari band ternama di tanah air.

__ADS_1


"Apakah Sagara sedang mengingat Vesha?" monolog Aruna.


Entah dorongan dari mana, akhirnya Aruna memberanikan diri menyentuh tangan Sagara. Membuat pria itu cukup terkejut saat merasakan sentuhan tangan Aruna.


"Are you ok?" tanya Aruna dengan wajah khawatirnya.


Sagara mengerjapkan matanya seraya membenarkan posisi duduknya. "Hmm, aku baik-baik saja. Memangnya aku kenapa?" tanya balik Sagara seraya terkekeh.


Aruna menghela nafasnya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Jangan membohongiku, Tuan Sagara. Kau bisa membohongi orang lain dan menyembunyikan masalahmu dari mereka. Tapi tidak denganku," Aruna menampilkan senyum smirk nya di wajahnya.


Membuat Sagara menelan salivanya dengan kasar. Senyum Aruna membuatnya bergidik ngeri, sepertinya memang dirinya tidak dapat berbohong di depan Aruna.


"Aku tahu kau sedang memikirkan Gavesha. Kau masih mencintainya, ya kan?" selidik Aruna.


Deg…


Sagara tergugu, ia tidak bisa menjawab apa yang baru saja Aruna katakan. Memang benar apa yang dikatakan Aruna, saat ini Sagara memang sedang memikirkan Vesha. Pria itu sangat merindukan gadis itu.


Sagara menundukkan wajahnya seraya menghela nafasnya. "Apakah aku salah kalau aku merindukannya?" tanya Sagara seraya terkekeh.


"Tidak! Kau tidak salah," jawab Aruna membuat Sagara langsung mengangkat wajahnya dan menatap Aruna.


Sagara mengerutkan alisnya, tatapan Aruna padanya begitu sulit untuk diartikan olehnya.


"Merindukan seseorang itu wajar, kau berhak merindukannya. Aku tahu saat ini kau sedang terjebak pada rasa rindu terhadap Vesha. Itu adalah hal yang sangat menyiksa bagimu kan?"


"Ya, benar. Apa yang dikatakan Aruna memang benar. Ini sangat menyiksaku karena merindukan Vesha," batin Sagara.


Aruna tersenyum melihat keterdiaman Sagara. "Tapi kau harus ingat siapa yang saat ini sedang kau rindukan. Sebentar lagi Vesha akan menikah dan itu artinya sebentar lagi ia akan menjadi istri orang lain," sambung Aruna yang begitu menohok.


Aruna memajukan tubuhnya seraya menepuk lengan Sagara. "Belajarlah untuk mengikhlaskan semua yang terjadi dalam hidupmu. Lupakan Vesha dan jalani hidupmu untuk kedepannya tanpa bayang-bayang penyesalan,"


Perkataan Aruna kembali menohok hati Sagara. Sagara mengalihkan tatapannya ke arah lain, semua yang dikatakan Aruna memang benar adanya. Haruskah ia menerima semua kenyataan dalam hidupnya untuk melepaskan dan mengikhlaskan Vesha menjadi milik orang lain.


"Apakah tidak ada kesempatan kedua untukku?" tanya Sagara dengan suara lirih.


Aruna tersenyum miring seraya mengangkat kedua bahunya. "Entahlah! Tapi sepertinya memang sudah terlambat. Mengingat Vesha sebentar lagi akan menikah," jawab Aruna.


Sagara kembali termenung, sepertinya memang tidak ada kesempatan kedua untuk dirinya memperbaiki semua kesalahannya terhadap Vesha.


Sagara dan Aruna pun memutuskan untuk pulang. Sagara berniat mengantarkan Aruna, tetapi gadis itu membawa motor sendiri. Akhirnya mereka pun berpisah menuju jalan arah pulang yang berbeda arah.


Selama dijalan, Sagara terus memikirkan apa yang dikatakan Aruna. Hingga tidak terasa Sagara masuk ke perumahan dimana Vesha tinggal. Ia pun bingung kenapa dirinya datang ke sana.


Cukup lama penuh pertimbangan, akhirnya Sagara memutuskan untuk menekan bel rumah Vesha.


(Baca Bab 71 dimana Sagara datang kerumah Vesha malam-malam)



Aruna

__ADS_1


__ADS_2