CINTA GAVESHA

CINTA GAVESHA
Kecurigaan Naura


__ADS_3

Devano dan Bryan telah mengakhiri sambungan telepon mereka. Sebelum Devano mengikuti Vesha dan Saga, sepeninggalnya Bryan setelah mengantarkan Vesha pulang selepas dari pengadilan.


Anak buah Devano yang ditugaskan untuk menjaga Vesha pun memberitahukan Devan kalau Vesha akan pergi bersama Sagara. Bryan yang mengetahui hal tersebut meminta langsung Devano untuk segera menyusul keduanya, sedangkan dirinya sendiri menggantikan Devano mendampingi Sean selama jalannya meeting.


Dengan sangat berat hati, Devano terpaksa mengikuti apa yang diperintahkan Tuan mudanya itu.


"Menyusahkan sekali," gerutu Devano kala itu.


Walau hatinya kesal dan selalu menggerutu tidak jelas, Devano tetap menjalankan tugasnya. Devano mendapat laporan kalau Vesha ada di taman kota di jalan D. Kebetulan sekali saat itu juga posisinya sedang berada di taman tersebut.


Devano dapat melihat Sagara dan Vesha dari jarak tidak terlalu jauh. Ia pun segera mengikuti kemanapun mereka berdua pergi. Setelah melihat Sagara dan Vesha hanya duduk saja, akhirnya Devano berinisiatif untuk lebih dekat dengan mereka.


Tidak lupa Devano mengubah mode dering menjadi senyap pada ponselnya. Ia takut ketahuan oleh kedua orang yang sedang diikutinya itu. Kalau ketahuan Devan bingung harus mengatakan apa, yang ada Vesha malah semakin curiga.


Benar saja, baru juga disenyapkan ponselnya Bryan sudah menghubunginya melalui video call. Devan mendengus pasrah saat melihat Bryan sedang memintanya untuk menjawab melalui VC. Akhirnya Devan ikut duduk di belakang Sagara dan Vesha dengan penghalang pepohonan yang ada di sana.


Semuanya berjalan lancar, baik Vesha maupun Sagara tidak mencurigai kehadiran Devano yang berada di belakang mereka.


Sagara mengantarkan Vesha hingga ke rumah gadis itu. Karena waktu sudah menunjukkan adzan maghrib, akhirnya Sagara mampir sejenak untuk sholat. Adam dan Vita juga sudah berada di rumah, mereka pun bersiap untuk melaksanakan shalat maghrib berjamaah.


Setelah melaksanakan shalat maghrib, Sagara sempat berbincang sejenak dengan Adam. Lalu, tepat pukul 7 malam Sagara hendak berpamitan pada Vesha dan kedua orang tuanya.


"Pulangnya nanti saja, kita makan malam dulu."


Adam mencegah Sagara yang akan hendak pulang. Sagara tersenyum namun dirinya harus segera menolak, karena tidak enak dengan bundanya di rumah.


"Gara makan di rumah saja, Om. Kasihan Bunda, kalau Gara tidak ikut makan malam dengannya di rumah," tolak Sagara secara halus.


Vita menepuk pundak Sagara. "Bunda kamu juga tidak masalah jika kamu makan malam di sini. Sudah sebaiknya kita makan, Bunda kamu juga sedang makan malam romantis bersama Ayah kamu," ujar Vita seraya menunjukkan foto kedua orang tua Sagara yang sedang berada di sebuah restoran cepat saji.


Sagara tentu saja tercengang melihatnya. Namun tidak dengan kedua orang Vesha dan Vesha sendiri. Mereka tertawa kecil melihat ekspresi Sagara yang cengo.


"Sudah, ayo makan! Jangan menolak rezeki," ajak Vesha.


Sagara pun akhirnya ikut makan malam bersama mereka. Sagara tersenyum saat Vesha membantunya untuk menuangkan nasi ke piringnya. Mereka makan sambil diselingi obrolan kecil dan sedikit gurauan. Suasana di meja makan terlihat sangat nyaman dan kekeluargaan. Sagara dapat merasakan hangatnya keluarga dari Vesha.


Sementara itu di rumah kediaman Heinzee, Bryan dan kedua orang tuanya sedang makan malam bersama.


"Jadi kamu sudah siap untuk menggantikan Deddy di perusahaan, Bryan?" tanya Sean.


Bryan mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menelan makanan yang sudah dikunyahnya.

__ADS_1


"Siap, Daddy."


"Hmm, kalau begitu Daddy akan mencarikan sekretaris untukmu,"


Bryan langsung menatap sang ayah. "Tidak perlu, Dad. Bryan sudah mendapatkan seseorang yang cocok untuk Bryan jadikan sekretaris," tolak Bryan dengan cepat.


Naura yang sejak tadi menyimak langsung menatap Bryan. "Siapa? Jangan bilang kamu akan mempekerjakan Devano untuk menjadi sekretaris kamu juga," cetus Naura.


Bryan tersenyum. "Devan akan aku jadikan wakilku, Mom. Daddy juga sudah sepakat akan hal itu," jawab Bryan yang masih sibuk dengan makanannya.


Dahi Naura berkerut. "Lalu, siapa yang akan menjadi sekretaris sekaligus asistenmu?"


Bryan menaikkan satu alisnya. "Nanti juga Mommy akan bertemu dengannya di kantor. Minggu depan Mommy akan melihatnya," jawab Bryan.


Naura menghela nafasnya. "Ya, sudah. Terserah kamu saja asal dia tidak pernah macam-macam dengan kamu dan juga perusahaan,"


"Tentu, Mom. Dia gadis yang baik," tutup Bryan dalam pembicaraan mereka malam ini.


Sean menatap Bryan. "Gadis? Jangan bilang kamu akan menjadikan gadis itu sekretaris kamu," ucap Sean.


"Gadis siapa? Apakah ada yang kalian sembunyikan dari Mommy?"


Saat itu juga Bryan sempat marah dan enggan berbicara dengan ayahnya. Bahkan Bryan sempat mengancam sang ayah, jika pria itu mengganggu hubungannya dengan Vesha. Maka tidak segan-segan Bryan akan keluar dari keluarga Heinzee dan menikahi Vesha tanpa restu dari kedua orang tuanya.


Sean yang tidak ingin Bryan melakukan itu hanya bisa menyetujui dan merelakan Bryan menjalin hubungan dengan Vesha.


"I-itu, gadis yang bernama Vesha." jawab Sean gugup.


Naura semakin mengerutkan dahinya seraya memberi tatapan tajam pada Bryan dan juga suaminya.


"Siapa Vesha?" selidik Naura dengan tatapan yang mencurigai. "Jawab dengan jujur siapa gadis itu dan apa hubungannya dengan kalian?"


Sean menelan salivanya dengan kasar, sedangkan Bryan hanya bisa menghela nafasnya.


"Vesha itu kekasihku, Mom. Apakah Daddy tidak memberitahukan Mommy?" tanya Bryan.


Naura langsung menatap suaminya dengan begitu tajam. "Bisa kamu jelaskan?" tanya Naura pada sang suami.


Sean pun menghela nafasnya. "Sebaiknya habiskan dulu makananmu, sayang. Setelah ini aku dan Bryan akan menceritakannya," jawab Sean.


Naura membanting sendok dan garpunya di atas piring. "Aku sudah kenyang," ujar Naura seraya mengelap bibirnya dengan tisu.

__ADS_1


Lalu wanita itu berdiri dn kembali menatap Bryan dan juga Sean. "Mommy tunggu kalian di ruang tengah," ujarnya kembali seraya meninggalkan meja makan.


Sepeninggalnya Naura dari meja makan, Sean menatap Bryan yang malah terlihat sangat santai menghabiskan makan malamnya. Tidak lama Bryan pun berdiri dan membuat dahi Sean berkerut.


"Kamu mau kemana?" tanya Sean.


Bryan menatap Sean dengan satu alis terangkat. "Apakah Daddy tidak mendengar ucapan Mommy? Mommy menunggu kita di ruang tengah," jawab Bryan dan langsung meninggalkan Sean di meja makan sendirian.


Sean berdecak kesal, dengan pasrah dirinya pun ikut meninggalkan meja makan dan menghampiri Bryan dan Naura yang sudah duduk di sofa ruang tengah.


Naura menatap serius ke arah putra dan suaminya bergantian sambil melipat kedua tangan di depan dada.


"Jadi, bisa kalian jelaskan siapa gadis itu? Dan bagaimana kamu bisa tahu nama gadis itu, Mas?" Naura memulai bertanya menginterogasi keduanya.


Bryan dan Sean masih bergeming. Ayah dan anak itu malah saling melempar tatapan.


"Vesha itu kekasih Bryan, Mom." jawab Bryan.


Naura nampak terkejut, namun dirinya masih dapat menutupi keterkejutannya itu dengan wajah datarnya.


"Jadi kamu sudah tahu soal ini, Dad?" selidik Naura pada Sean.


Sean meneguk salivanya dengan kasar. "I-iya," jawabnya seraya menundukkan kepalanya.


"Apakah Devano juga tahu soal ini?" tanya Naura kembali.


"Hmm, Daddy yang meminta Devan untuk mencari tahu tentang gadis itu," jawab Sean.


Naura nampak menghela nafasnya. "Kenapa kamu tidak memberitahukan soal ini padaku, Dad? Apakah aku tidak boleh tahu siapa wanita yang saat ini sedang dekat dengan Bryan?"


"Dan kamu, Bryan." mata Naura langsung tertuju pada pria muda yang sedang duduk di sebelah Sean.


"Kenapa juga kamu tidak memberitahukan soal gadis itu pada Mommy?"


Bryan menjadi salah tingkah, sebenarnya tidak ada maksud dari Bryan untuk menyembunyikan Vesha dari kedua orang tuanya. Tetapi Bryan sedikit tahu bagaimana karakter Mommy nya itu.


"Sebenarnya Bryan ingin memperkenalkan Vesha pada Mommy dan Daddy setelah dia sudah menjadi sekretaris Bryan. Tetapi kejadiannya seperti ini," jawab Bryan.


"Alasan," celetuk Naura.


Naura pun bangkit dari posisinya dan membuat Sean juga ikut berdiri. Tanpa berkata lagi Naura langsung meninggalkan suami dan putranya di ruangan tersebut. Bryan menghela nafasnya seraya memijat pangkal hidungnya.

__ADS_1


__ADS_2