
Bryan tersenyum dan berloncat kegirangan saat Vesha setuju ikut dengannya untuk jalan-jalan malam ke pasar malam. Bryan memang sangat yakin Vesha tidak akan menolak ajakannya ke tempat itu. Sebelumnya Bryan memang sudah menyelidiki apa yang disuka dan tidak disukai oleh Vesha.
Contohnya pasar malam itu, Vesha sangat suka ke pasar malam. Selain disana banyak permainan, di pasar malam juga banyak yang menjual beraneka macam jenis kuliner yang mampu menggugah selera makannya.
Vesha sudah siap, kali ini dia hanya mengenakan celana jeans panjang dengan kaos hitamnya. Tidak lupa tas kecil yang selalu dibawanya.
"Ayo," ajak Vesha pada Bryan.
Bryan menaikkan satu alisnya sambil melihat ke arah tangga. "Dimana kedua orang tuamu?" tanya Bryan.
"Mereka di kamar, aku sudah berpamitan dengan mereka. Ayo, keburu malam,"
Bryan bergeming dan masih diam. "Aku harus berpamitan pada kedua orang tuamu. Setidaknya minta bantuan izin terlebih dahulu karena akan mengajak anak gadis mereka untuk keluar rumah," ucap Bryan.
Pria itu menatap lekat ke arah Vesha yang bergeming mendengar ucapan Bryan. Vesha sedikit mengempotkan pipi dan mengerucutkan bibirnya.
"Oke, wait!"
Vesha berjalan kembali hendak naik ke atas menuju kamar kedua orang tuanya. Namun baru saja gadis itu menaiki satu anak tangga, tiba-tiba saja Adam sudah berada di ujung atas anak tangga.
"Kamu belum berangkat?" tanya Adam yang diikuti oleh Vita menuruni tangga.
Vesha kembali memundurkan langkahnya. "Ah, itu.. Bryan ingin pamitan sama Papa dan Mama," jawab Vesha sambil sekilas melirik ke arah Bryan.
Bryan tersenyum dan mengangguk. Adam dan Vita yang sudah di sebelah Vesha pun tersenyum.
"Maaf Oom, Saya izin mengajak Vesha untuk jalan-jalan ke pasar malam di seberang komplek perumahan ini," izin Bryan.
Adam mengangguk. "Iya, silakan! Tapi, jangan malam-malam!" jawab pria itu serata tersenyum.
"Siap, Oom! Terima kasih sudah mengijinkan kami," ucap Bryan kembali.
Bryan dan Vesha pun segera keluar dari rumah dan menuju mobil milik Bryan. Adam dan Vita mengantarkan mereka hingga teras depan rumah. Vesha sempat mengernyitkan dahinya saat melihat mobil yang dibawa oleh Bryan. Begitupun juga dengan Vita yang melongo melihat mobil yang dibawa Bryan.
Vita menyenggol pinggang suaminya, dan Adam pun menoleh seraya tersenyum sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Vesha sempat melirik Bryan dengan tatapan penuh tanya, namun pria itu hanya menganggap nya dengan senyuman.
"Silakan masuk Tuan Putri," ucap Bryan seraya membukakan pintu mobil untuk Vesha.
Vesha menggelengkan kepalanya dan hanya menurut saja. Karena dia merasa sudah malas meladeni Bryan, terlebih dibelakang masih ada kedua orang tuanya. Mungkin saja jika tidak ada Adam dan Vita, Bryan sudah habis kena makian dari Vesha.
Bryan kembali menoleh dan membungkukkan sedikit tubuhnya di saat melihat kedua orang tua Vesha. Bryan pun sedikit berlari kecil menuju pintu kemudi.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Sengaja, itulah yang Bryan lakukan. Ia tidak ingin terlalu cepat sampai di pasar malam, karena ingin berlama-lama di dalam mobil bersama Vesha.
Vesha tersadar kalau Bryan terlalu pelan mengendarai mobilnya. Gadis itu pun melirik ke arah Bryan dan memberi tatapan tajamnya.
"Bisa lebih cepat mengendarai mobilnya, apa perlu aku yang menyetir?" tantang Vesha.
Bryan menaikkan satu alisnya dan menoleh sekilas ke arah Vesha. "Oh, tidak perlu. Aku sengaja melakukannya supaya kita bisa berlama-lama di dalam mobil," jawab nyeleneh Bryan.
Vesha melototkan matanya dan memutar sedikit tubuhnya, hingga posisi gadis itu miring menghadap Bryan.
"Kamu ingin menipuku dan kedua orang tuaku dengan alasan mengajakku ke pasar malam?" Vesha bertanya dengan suara begitu lantang.
"Ssst, diamlah! kita sudah sampai," jawab Bryan dengan santai.
Vesha tercengang mendengar jawaban Bryan. Gadis itu pun melihat ke depan dan ke sekelilingnya, dan benar saja apa yang diucapkan Bryan. Mereka sudah hampir sampai di pasar malam tersebut dan tinggal memutar arah mobil saja.
__ADS_1
Vesha menghela nafasnya sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil. Gadis itu pun memijat pelan pangkal hidungnya sambil memejamkan matanya sejenak.
"Ya Tuhan, berikan aku stok kesabaran unlimited dalam menghadapi makhluk astral di sebelahku ini," monolog Vesha dalam hatinya.
Mobil Bryan pun sudah memutar arah jalan dan mereka pun telah sampai di pasar malam. Bryan membuka pintu mobil dengan cepat, agar dia bisa membukakan pintu untuk Vesha.
"Silakan turun sayangku," ucap Bryan.
Vesha menatap sinis Bryan. "Terima kasih, tapi aku bisa sendiri," ketus Vesha.
Vesha pun berjalan terlebih dahulu masuk ke dalam pasar malam. Matanya berbinar cerah saat melihat wahana permainan bianglala, kora-kora, ombak banyu dan rumah hantu yang dapat memicu adrenalinnya.
Vesha terus berjalan menuju stan penjual tiket, tanpa menghiraukan Bryan yang sedang mencarinya. Bryan sempat kesulitan mencari keberadaan Vesha, namun matanya dengan cepat menangkap siluet gadis pujaannya yang sedang mengantri untuk membeli tiket.
Bryan pun mendekati Vesha, berdiri di sebelah gadis itu dan menjadi pusat perhatian beberapa pengunjung wanita yang melihatnya. Wajah blasterannya menjadi pusat perhatian para gadis remaja yang baru puber saat mengantri membeli tiket.
Vesha memutar bola matanya malas saat melihat Bryan menjadi perhatian para gadis cabe-cabean di sekitarnya.
"Untuk apa kamu kesini, heoh? Ingin mencari perhatian dan tebar pesona sama para gadis itu?" Vesha yang sudah kesal pun bertanya dengan suara berbisik.
Bryan mengulum senyumnya dan terus menatap ke arah Vesha. Tanpa aba-aba pria itu merangkul pundak Vesha dan menariknya dengan pelan.
"Diam dan jangan memberontak, aku sedang menunjukkan kalau diriku hanya milikmu dan kamu hanya milikku!" bisik Bryan seakan itu adalah sebuah perintah.
Vesha mengepalkan kedua tangannya, dengan cepat ia menginjak kaki pria itu. Membuat Bryan meringis, namun segera ditahan olehnya. Bryan tetap tersenyum menatap Vesha yang terus menekan kakinya diatas kaki Bryan. Vesha menampilkan cengiran tanpa berdosanya sambil menatap Bryan.
"Kamu manis sekali, sayang!" ucap Vesha dengan berpura-pura manis.
Bryan pun mengangguk pelan diiringi oleh senyum paksaan, karena dirinya saat ini masih menahan rasa sakit di kakinya akibat injakan kaki Vesha.
"Tentu sayang, aku akan selalu ada disampingmu," jawab Bryan dengan suara tercekat.
Vesha kembali meninggalkan Bryan yang sedang meringis kesakitan. Bahkan terlihat pria itu berjalan sedikit pincang. Vesha tersenyum miring melihat cara jalan Bryan.
Vesha melipat kedua tangannya di depan dadanya. "Mau aku injak lagi, hmm?" tanya Vesha seakan menantang Bryan.
Bryan berdecak seraya mencebikkan bibirnya. "Tidak bisakah kamu lembut sedikit padaku, Sha?" keluh Bryan.
Vesha tertawa sinis. "Tidak akan pernah. Karena kamu bukan siapa-siapa aku," jawab Vesha dengan penuh ketegasan.
Vesha berbalik badan dan meninggalkan Bryan begitu saja. Bryan tersenyum hambar menatap punggung Vesha, tanpa berpikir lagi pria itu segera menyusul gadis itu yang tengah berdiri mengantri di sebuah antrian wahana ombak banyu.
Bryan memperhatikan cara bermain wahana tersebut. Matanya memicing saat melihat petugas pria wahan tersebut sedang menaikkan seorang gadis yang hendak bermain dengan cara mengangkat pinggang perempuan tersebut.
Antena kebucinan dan keposesifan Bryan langsung menyala. Dengan cepat dia berjalan mendekati Vesha dan menyelak antrian. Beberapa orang yang mengantri sempat berdecak kesal karena Bryan langsung menyerobot antrian mereka.
"Kamu lagi, tidak bisakah kamu bermain di wahana lain?" tanya Vesha dengan nada sinis.
"Sudah aku katakan padamu kan, kalau aku akan selalu ada disampingmu," jawab Bryan.
Vesha tidak mau ambil pusing, yang terpenting saat ini dirinya ingin menikmati wahana ombak banyu tersebut.
Kini giliran Vesha dan Bryan menaiki wahana tersebut. Saat petugas mendekati Vesha dan hendak membantu gadis itu naik, tiba-tiba saja Bryan mencegah dan langsung mengambil posisi untuk membantu Vesha.
Vesha terkejut karena tiba-tiba Bryan mengangkat tubuhnya untuk duduk di wahana tersebut. Setelahnya Bryan menyusul duduk di sebelah Vesha dengan bantuan sebuah tangga kecil.
"Kenapa duduk di sini, di sana masih banyak tempat duduk yang kosong. Cepat pindah!" protes Vesha berbentuk pengusiran.
Bryan diam dan tidak menjawab, membuat Vesha semakin kesal dengan pria itu. Ingin kembali memaksa petugas untuk memindahkan Bryan, namun permainan wahana tersebut sudah dimulai.
__ADS_1
"Menyebalkan," celetuk Vesha.
Bryan mengulum senyumnya menahan tawanya. Permainan pun dimulai, Vesha sempat berteriak saat putaran ombaknya semakin kencang. Bahkan tanpa disadari gadis itu, saat ini dirinya sedang berpegangan pada lengan Bryan.
Teriakan Vesha sempat memekakkan telinga Bryan. Rasanya Bryan ingin sekali mencopotkan telinganya terlebih dahulu, sebelum mendapatkan teriakan kencang dari Vesha.
Permainan pun telah usai, Bryan kembali membantu Vesha turun. Mereka berdua kembali menuju wahana berikutnya, yaitu kora-kora. Vesha kembali berteriak di samping Bryan. Pria itu terpaksa menerima suara magnitudo berkekuatan tinggi dari Vesha.
Tawa ceria Vesha membuat hati Bryan bahagia. Dirinya sangat bersyukur telah membawa Vesha untuk jalan-jalan ke tempat itu.
"Sepertinya kamu sangat menikmati semua wahana?" Bryan bertanya pada Vesha.
Vesha tersenyum. "Hmm, aku sangat suka wahana di pasar malam ini. Bay the way, terima kasih ya!" jawab Vesha.
Bryan pun membalas senyuman Vesha. "Syukurlah kalau kamu senang. Aku juga ikut senang melihat kamu bahagia seperti ini," ucap Bryan.
Vesha tertegun mendengar apa yang baru saja Bryan katakan. Gadis itu pun tersenyum kikuk sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya.
"Kita duduk disana saja, aku tahu kamu pasti lelah," ujar Bryan seraya menunjuk kursi panjang yang kosong.
Vesha mengangguk dan mengikuti apa yang diperintahkan Bryan.
"Tunggu sebentar, ya!" kata Bryan.
Vesha hanya mengangguk sambil memperhatikan apa yang dilakukan Bryan. Vesha tersenyum saat melihat Bryan kembali dengan membawa dua botol kemasan air mineral.
"Minumlah, aku tahu kamu haus!" Bryn menyodorkan satu botol air mineral pada Vesha.
"Thanks," jawab gadis itu sambil menerima botol air mineral tersebut.
Vesha dan Bryan sama meminum air mineral tersebut, hingga menyisakan setengah botol. Sepertinya mereka berdua memang sangat haus, terlebih Vesha yang sejak tadi terus berteriak di setiap dirinya menaiki wahana permainan.
"Mau naik itu gak?" tanya Bryan sambil menunjuk ke arah wahana bianglala.
Vesha nampak mengerutkan dahinya sambil mendongak ke atas.
"Boleh," jawab Vesha seraya menganggukkan kepalanya.
Bryan pun tersenyum, lalu berdiri sambil mengulurkan tangannya pada Vesha. Walaupun gadis itu sempat mengerutkan dahinya, namun perlahan Vesha mulai terbiasa bergandengan tangan dengan Bryan.
Mereka pun menaiki wahana bianglala, Vesha sangat senang dapat melihat suasana malam hari dari atas wahana tersebut. Tanda gadis itu sadari dirinya semakin dekat dengan Bryan, bahkan Vesha tidak sungkan untuk sekedar bercerita tentang masa kecilnya. Begitupun juga dengan Bryan yang menceritakan keluarganya.
Vesha juga sangat terkejut kalau ternyata Bryan adalah putra sulung dari keluarga Heinzee. Vesha juga baru tahu kalau Bryan memiliki seorang adik perempuan yang mungkin seumuran dengannya. Mengingat adik Bryan akan kembali tahun ini setelah menyelesaikan kuliahnya di London.
"Jadi, kamu benar-benar putra sulung dari keluarga Heinzee?" tanya Vesha untuk meyakinkan dirinya kembali.
Bryan mengangguk pelan. "Iya, dan adikku bernama Gricella Queen Heinzee," jawab Bryan.
Vesha semakin tercengang saat melihat foto Bryan sedang bersama sang adik. Bahkan Bryan juga menunjukkan foto keluarganya saat liburan di Swiss tahun lalu.
"Tapi aku minta tolong sama kamu, untuk merahasiakan siapa aku yang sebenarnya," ucap Bryan lagi.
Vesha mengangguk. "Kamu bisa percayakan rahasia ini padaku," jawab Vesha.
Bryan tersenyum. "Iya, tentu aku sangat percaya dengan calon istriku ini," kata Bryan sambil menoel hidung Vesha.
Vesha segera menepis pelan tangan Bryan. "Apa sih?" jawab Vesha malu-malu.
Bryan tersenyum melihat wajah Vesha yang merona karena malu.
__ADS_1
"Aku serius, Sha."