CINTA GAVESHA

CINTA GAVESHA
Syulit Bobo


__ADS_3

Malam semakin larut, namun Vesha masih belum bisa memejamkan matanya. Gadis itu masih terus memikirkan kata-kata yang telah disampaikan oleh Bryan tadi. Vesha memikirkan setiap kata dan perlakuan Bryan yang begitu lembut dan perhatian padanya. Bahkan Vesha sadar kalau pria itu sempat menunjukkan keposesifan nya saat mereka menaiki wahana di pasar malam.


Vesha menghela nafasnya, tatapannya lurus ke atas menatap langit-langit kamarnya. Cukup lama dalam posisi seperti itu, hingga akhirnya gadis itu kembali mencoba memejamkan mata. Barang jali setelah memejamkan matanya Vesha dapat tertidur.


Namun baru beberapa detik Vesha memejamkan matanya, ia tersentak dan langsung membuka matanya, gadis itu langsung bangun dan duduk bersandar di headboard tempat tidurnya.


"Astaghfirullah," gumamnya.


"Kenapa wajah Bryan selalu muncul setiap aku memejamkan mata?" monolog Vesha.


Vesha menggelengkan kepalanya dengan cepat, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Pasalnya sudah dua kali ia seperti itu, namun bayang-bayang wajah Bryan lah yang selalu muncul setiap dirinya memejamkan mata.


Gadis itu pun melirik jam yang ada di dinding dekat meja belajarnya. Helaan nafas pun dihembuskannya secara halus, namun terkesan sedikit gusar.


Vesha memilih untuk melakukan shalat malam, ia berpikir mungkin saja setelah shalat malam hati dan pikirannya menjadi tenang. Dirinya pun bisa tertidur nyenyak setelahnya.


Beberapa menit berlalu, Vesha sudah selesai menjalankan shalat malamnya. Gadis itu melanjutkan dengan membaca Al-Qur'an.


Setelah membaca Al-Qur'an, Vesha segera merapikan mukena dan sajadahnya. Ia juga meletakkan kembali kitab suci Al-Qur'an tersebut pada tempatnya.


Vesha kembali merebahkan tubuhnya, kali ini rasa kantuknya kembali menyerangnya. Ia berharap kali ini juga dirinya dapat memejamkan matanya tanpa ada bayang-bayang wajah Bryan.


Di tempat lain, seorang pria sedang menatap layar ponselnya. Lebih tepatnya menatap foto seorang gadis yang disimpan di dalam galeri ponselnya.


Asap mengepul keluar dari mulut pria itu yang sedang menghisap rokok. Malam ini Sagara merasakan hal yang sama seperti Vesha yang sulit tidur. Ia sudah menghabiskan beberapa batang rokok, namun nyatanya matanya enggan untuk terpejam.


Sagara terasa sulit untuk tidur karena pikiran dan hatinya selalu tertuju pada kedua gadis yang terus menghantuinya.


Ia juga teringat dengan perbincangan tadi siang bersama kedua sahabatnya. Ya, sesuai ucapan Langit tadi yang ingin bertemu dengan pria tersebut. Langit dan Marvin datang kerumah Sagara, mereka berdua menanyai perihal kejadian tadi saat bertemu dengan Aurel.


Sagara membenarkan apa yang terjadi di antara dirinya dan juga Aurel. Sagara juga menceritakan awal kekesalannya terhadap Aurel, hingga berujung dirinya memutuskan hubungan dengan Aurel.


"Jadi intinya ini juga karena Vesha?" tanya Langit.


Sagara langsung menatap tajam pada Langit. "Jangan sembarang ngomong! Vesha tidak ada sangkut pautnya dengan permasalahanku dan Aurel," cetus Saga yang tidak terima kalau Vesha disalahkan.


Marvin juga menatap tajam pada Langit. "Intinya Aurel kurang bersabar dan selalu bersikap tidak dewasa, Lang. Jadi dia tidak bisa mengontrol emosinya saat bertemu Vesha. Karena ia sudah dikuasai oleh rasa cemburu yang besar itu, " sambung Marvin.


Langit mengangguk-anggukkan kepalanya. "Oh, maaf kalau kata-kataku tadi salah," ucap Langit.


Sagara mendengus kesal. "Dimaafkan, tapi lain kali tidak ku maafkan," sahut Saga yang sudah kesal dengan Langit.


"Apa kamu sudah mulai jatuh cinta dengan Vesha, Ga?"


Pertanyaan itu sukses membuat Sagara terdiam, pria itu menatap Marvin dengan sangat serius. Karena pertanyaan itu dari Marvin, cukup lama Sagara diam. Langit menyikut lengan Marvin, dn keduanya pun tersenyum tipis.


"Kita berdua sudah tahu jawabannya, Ga. Jadi kamu nggak usah menjawab pertanyaan Marvin," ucap Langit yang masih tersenyum menggoda Saga.


Dahi Saga berkerut dengan alis yang terangkat satu. "Memangnya apa jawabannya? Aku saja belum menjawabnya," cetus Sagara.


"Jelas kami berdua tahu. Kamu sudah jatuh cinta sama Vesha," jawab Langit.


Sagara langsung memberi tatapan tajam pada kedua sahabatnya. "Kenapa kalian langsung berpikir seperti itu, heoh?" ucap Sagara sedikit tidak terima.


Marvin dan Langit pun tertawa, membuat Sagara semakin kesal dengan keduanya.


"Kamu cukup lama diam dan tidak menjawab pertanyaanku, Ga. Jadi kami pikir kalau kamu sudah jatuh cinta pada Vesha," jawab santai Marvin.


Sagara langsung melempar bantal ke arah Marvin. "Jangan sembarangan kalau ngomong. Vesha hanya aku anggap teman saja," cetus Sagara.


"Tapi kalau benar juga tidak apa-apa, Ga." goda Marvin.


Langit mengangguk kepalanya cepat. "Benar, kami sangat setuju kamu dengan Vesha kembali bersama. Tapi itu artinya kamu menjilat ludahmu sendiri," Langit berkata seraya tertawa terbahak-bahak.


Sagara mengatupkan bibirnya, dengan cepat ia pun memukul Langit dengan bantal berkali-kali, hingga Langit berlindung di belakang tubuh Marvin.


"Sialan kau," geram Sagara.

__ADS_1


Langit tidak peduli dengan Sagara yang kesal dengannya. Pria itu malah semakin tertawa kencang di belakang tubuh Marvin.


Percakapan tersebut terus diingat Sagara. Kini pria itu kembali merenungi soal hatinya. Apakah benar dirinya sudah mulai jatuh cinta pada Vesha? Lalu bagaimana dengan aurel? Walaupun ia sudah mengakhiri hubungan dengan gadis itu, tetapi nyatanya di dalam hatinya masih tersimpan lekat nama Aurel.


Sagara menghela nafasnya sambil mengepulkan asap rokoknya. Lalu ia mematikan puntung rokok tersebut dan kembali menyandar pada sandaran kursi.


"Apakah benar yang Marvin dan Langit katakan, kalau aku sudah jatuh cinta pada Vesha?" monolog Sagara.


Pria itu menggelengkan kepalanya dengan cepat sambil mengacak rambutnya kasar. Terlihat sekali wajah kusutnya, tambah lagi dirinya juga masih memikirkan Aurel. Rasanya sangat berat melepaskan gadis itu. Tetapi sikap Aurel yang terlalu childish membuat Sagara tidak bisa mempertahankan hubungan mereka.


"Astaghfirullah, apa yang harus aku lakukan?"


Malam pun semakin larut, Sagara masih betah duduk sendirian di balkon kamar hingga jam menunjukkan pukul 2 pagi.


*


Pagi menjelang kampus pun semakin ramai, Vesha berjalan memasuki ruang kelas. Gadis itu tersenyum saat melihat teman yang duduk di sebelahnya.


"Pagi Na," sapa Be Vesha.


"Pagi juga, Sha." jawab Aruna sambil tersenyum.


Mereka berdua saling berbincang, hingga Sagara dan ketiga temannya masuk ke dalam kelas. Sagara terus memperhatikan Vesha, namun gadis itu hanya fokus berbincang dengan Aruna.


Chandra pun tersenyum dan menyapa Vesha. Gadis itu membalas senyuman Chandra dan juga sapaannya tersebut, hingga membuat Sagara merasa kesal.


Pria itu menatap tajam pada Chandra. Namun Chandra tidak terlalu menanggapinya, bahkan saat ini Chandra tersenyum penuh kemenangan.


Selepas jam kuliah, Vesha dan Aruna pulang bersama. Namun sebelum mereka benar-benar meninggalkan kampus Chandra mengejar Vesha. Apa yang dilakukan Chandra membuat Sagara geram. Pria itu pun ikut mengikuti Chandra yang mengejar Vesha.


"Sha," Chandra sedikit berteriak memanggil nama gadis itu.


Vesha dan Aruna pun menoleh. Keduanya pun tersenyum, Chandra sedikit berlari menghampiri kedua gadis itu dengan nafas terengah-engah.


"Pulang bareng sama aku, ya!" ajak Chandra.


Vesha nampak berpikir, ia menoleh ke arah Aruna. Aruna pun paham, ia langsung mengangguk.


Vesha tersenyum. "Oke, kamu hati-hati ya!" jawab Vesha.


Aruna mengangguk. "Kau juga," kata Aruna. Lalu gadis itu pun menoleh ke arah Chandra.


"Hati-hati dijalan! jangan ngebut-ngebut bawa motornya, Chan."


Chandra mengangguk saat mendengar pesan secara lisan dari Aruna. Gadis itu pun tersenyum manis, lalu pergi meninggalkan Chandra dan Vesha.


Chandra pun segera mengajak Vesha ke arah parkir untuk mengambil motornya. Mereka berdua akan hendak keluar parkiran, namun Sagara datang menghadang jalan mereka dengan motornya. Membuat Chandra terpaksa berhenti.


Sagara turun dari motor dan langsung menarik tangan Vesha. Membuat gadis itu bingung dan terpaksa turun dari motor Chandra. Begitupun juga dengan Chandra yang langsung turun dari motor tanpa mematikan mesin motornya.


"Kamu harus pulang sama aku!" ucap Sagara dengan penuh penekanan.


Vesha langsung menghempaskan tangannya. "Kamu apa-apaan sih, Ga? Aku nggak mau pulang sama kamu," jawab Vesha yang kembali berjalan ke arah motor Chandra.


Namun dengan cepat Saga menarik tangan Vesha dan memaksanya untuk ikut. Vesha pun memberontak dengan cepat, Chandra segera menahan dengan cara menarik tangan Vesha yang satu lagi.


"Lepaskan dia, Ga! Vesha sudah bilang nggak mau bareng sama kamu," ucap Chandra dengan sorot mata tajamnya.


Sagara yang sejak tadi memang sudah kesal dengan Chandra pun segera melepaskan tangan gadis itu. Lalu dengan cepat Sagara memukul wajah Chandra, hingga pria itu tersungkur.


"Chand," pekik Vesha.


Vesha menatap tajam ke arah Sagara, lalu dengan kesal gadis itu pun menonjok dada Sagara dan sedikit mendorongnya.


"Kamu keterlaluan, Ga!" Vesha membentak Sagara.


Vesha sudah tidak peduli dengan Sagara, lalu ia menghampiri Chandra dan membantu pria itu untuk berdiri. Chandra memegang sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah.

__ADS_1


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Vesha sambil memperhatikan luka diwajah Chandra.


Chandra tersenyum. "Aku nggak apa-apa. Terima kasih sudah memperhatikanku," jawab Chandra yang sengaja mengencangkan ucapannya.


"Sha,"


Vesha dan Chandra menoleh bersamaan, mereka masih melihat Sagara yang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Sudahlah, Ga. Sebaiknya kamu pulang bersama Aurel, dia sepertinya lebih membutuhkanmu. Aku bisa pulang bersama Chandra," kata Vesha yang memberi tatapan tajam pada Sagara.


Sagara sangat ingin mengatakan kalau ia dan Aurel sudah tidak berhubungan lagi. Namun entah kenapa lidahnya terasa begitu kelu. Vesha memang tidak tahu menahu mengenai kejadian antara Sagara dan Aurel saat di parkiran beberapa hari yang lalu.


Chandra kembali merapikan kemejanya, dan segera membawa Vesha untuk meninggalkan Sagara. Namun Vesha sedikit menahan langkahnya, dan ia menoleh kembali ke arah Sagara.


"Maaf, Ga! Aku hanya tidak ingin Aurel salah paham lagi tentang kedekatan kita berdua. Aku tidak ingin dicap sebagai wanita murahan atau wanita tidak tahu diri. Sekali lagi aku minta maaf," ujar Vesha yang langsung berbalik badan.


Chandra tersenyum penuh kemenangan di balik helm yang dikenakannya. Vesha pun sudah menaiki motor Chandra. Mereka berdua meninggalkan Sagara di area parkir kampus sendirian. Sagara masih bergeming sampai motor Chandra melewatinya begitu saja.


Sagara menatap nyalang kepergian Chandra yang membawa Vesha. Bibirnya mengatup dengan rahang yang mengeras, Sagara terlihat sangat kesal dan marah.


"Sial,"


Sagara menendang ban motor milik orang lain yang terparkir di dekat dirinya saat ini. Beruntung motor tersebut tidak roboh dan mengenai motor lainnya. Seorang gadis tengah menyeringai dengan senyum smirk di wajahnya.


"Kamu akan tetap menjadi milikku, Kak."


Gadis itu adalah Aurel, ia berkata begitu dengan hati yang sangat senang melihat Sagara ditolak Vesha. Aurel sejak tadi ada di balik tembok dekat parkiran. Ia mengikuti sagara yang terlihat mengejar Vesha dan Chandra.


Aurel meraih ponselnya yang ada di dalam tasnya. Nampaknya ia sedang mencoba menghubungi seseorang.


"Kamu dimana?" tanya Aurel.


"Saya sudah di restoran tempat yang Anda perintahkan, Nona." jawab orang dari seberang telpon sana.


Aurel tersenyum. "Oke, tunggu aku!" ucapnya.


Aurel pun segera mematikan sambungan telepon tersebut dan menaruh kembali ponselnya ke dalam tas sebelum gadis itu benar-benar pergi dari parkiran.


Beberapa menit berlalu, Aurel tiba di sebuah restoran yang sengaja menjadi tempat pertemuan mereka.


"Maaf menunggu lama," ucap Aurel saat dirinya sudah duduk di kursi di depan orang yang akan ditemuinya.


Orang itu pun tersenyum. "Tidak masalah Nona. Lagi pula Saya baru menunggu Anda 30 menit," jawab orang itu.


Aurel mengangguk dan tersenyum. "Oke, kita langsung saja pada inti pembahasannya. Ini…" Aurel menjeda ucapannya.


Gadis itu menyodorkan sebuah foto. "Dia orang yang harus kalian beri pelajaran," sambungnya seraya tersenyum menyeringai.


Pria itu meraih foto tersebut dan tersenyum. "Lumayan," jawab orang itu.


"Ingat! Hanya diberi pelajaran dan jangan sampai orang itu mati," ucap Aurel memperingati orang suruhannya.


"Siap Nona, Saya tidak akan mengecewakan Anda. Saya akan melakukan sesuai yang Anda perintahkan," jawab pria itu.


Aurel tersenyum miring. "Bagus, karena mood ku hari ini sedang baik. Kamu boleh memesan makanan sesukamu," kata Aurel lagi.


Pria itu tersenyum. "Oke, Saya akan membungkusnya saja. Karena 2 rekan Saya sudah menunggu di rumah," jawabnya.


Sesuai perintah pria itu pun memesan 3 menu makanan yang dibawa pulang. Sambil menunggu pesanan jadi, Aurel dan pria itu masih berbincang-bincang ramah.


Makanan pesanan pria itu pun sudah siap. Pria itu akan segera pergi dari tempat tersebut, namun Aurel kembali menahan pria itu.


"Ingat, jangan sampai ada yang tahu rencana ini!" kata Aurel yang kembali mengingatkan.


Pria itu mengangguk. "Anda tenang saja, Nona. Semua akan berjalan tanpa siapapun yang tahu soal rencana kita,"


"Bagus, jangan membuat aku kecewa!" ujar Aurel.

__ADS_1


Pria itu tersenyum tipis. "Anda tenang saja, Nona. Selama bertahun-tahun Saya tidak pernah mengecewakan pelanggan Saya,"


"Oke. Aku pegang kata-katamu itu,"


__ADS_2