
Terdengar suara rintihan di dalam ruangan yang redup pencahayaan. Ia menangis seakan menyesali segala perbuatannya. Ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa karena jujur saja tubuhnya terasa sangat sakit. Beberapa luka masih ada yang mengeluarkan darah segar.
"Seharusnya aku tidak melakukan itu," gumamnya pelan dengan penuh penyesalan.
"Aku tidak tahu kalau ternyata Aruna adalah adik sepupunya Tuan Justin,"
"Sial,"
Geram pria itu dengan sedikit menahan rasa sakit di perutnya. Suara pintu terbuka menyadarkannya untuk kembali waspada. Entah apa yang akan dilakukan oleh anak buah Justin pada dirinya.
Pintu terbuka, dan salah satu pengawal menekan saklar lampu. Justin menatap datar pada pria yang sedang meringkuk di lantai saat lampu mulai menerangi ruangan tersebut. Justin menghampiri pria itu, berjalan sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana.
Justin berjongkok, tangannya terulur meraih rambut pria itu. Dengan kasar Justin menjambak rambut pria itu hingga wajah pria itu mendongak menghadapnya.
Justin tersenyum menyeringai. "Apa kau menyesal atas apa yang telah kau lakukan, Tuan Erik?" suara Justin terkesan dingin dan juga datar.
"M-maafkan saya, Tuan. S-saya menyesal," jawab Erik dengan suara tercekat.
Justin melepaskan tangannya dengan kasar dari rambut Erik. Hingga kepala pria itu terhuyung dengan kasar. Justin berdiri, dan duduk di kursi yang langsung disediakan oleh anak buahnya. Pria itu duduk dengan menaikkan satu kaki kanannya ke atas kaki kirinya.
"Apa alasanmu menjebak adikku dengan cara murahan seperti itu, hmm?" selidik Justin dengan pembawaan cukup tenang.
Erik bergeming, kalau ia jujur alasan yang sebenarnya hanya masalah kecil pasti Justin akan semakin kesal dan marah padanya. Tetapi kalau ia tidak mengatakannya, itu sama saja Erik benar-benar menggali kuburannya sendiri.
"S-saya melakukan itu karena…" Erik menjeda ucapannya
Pria itu sedikit kesulitan menelan salivanya, tenggorokannya sangat kering. Bolehkah ia minta air terlebih dahulu sebelum mengatakan alasannya? Tetapi itu tidak mungkin karena tatapan Justin begitu tajam menghunus jantungnya.
"A-Aruna sempat membentak saya, Tuan. J-jadi s-saya merasa kesal dan ingin memberi perhitungan padanya. Maafkan saya Tuan, saya melakukan itu hanya untuk membuat Aruna jera dan minta maaf pada saya."
Justin tersenyum sinis mendengar semua alasan dari aksi Erik dalam menjebak Aruna dan Sagara. Tak lama Justin berdiri sambil tertawa, Erik yang mendengar Justin tertawa hanya bisa menunduk. Karena tawa Justin terdengar begitu mengerikan.
"Alasan yang tidak masuk akal. Kau ini bodoh atau apa, haah?" bentak Justin.
Pria itu menunjuk-nunjuk kepala Erik dengan jari telunjuknya. "Tidakkah kau berpikir akibat dari perbuatanmu itu, hmm?" geram Justin dengan rahang mengeras.
"Bukankah itu hanya perkara kecil?" tanya Justin dengan mata menyorot tajam pada Erik.
Tubuh Erik semakin bergetar, ia hanya bisa mengangguk pelan. "M-maaf," lirih Erik.
"Cih," Justin kembali berdiri dan berjalan ke arah pintu.
Langkah Justin berhenti sebelum benar-benar keluar dari ruangan tersebut. "Bersiaplah menerima semua akibat dari apa yang telah kau lakukan pada adikku," ujar Justin tanpa menoleh ke belakang.
Erik tercengang mendengar ucapan Justin. Pria itu terus berteriak memanggil nama Justin dan juga mengucapkan kata maaf. Namun Justin tidak menghiraukan apa panggilan dari Erik.
Justin menghela nafasnya, ia terus berjalan sambil memijat sedikit keningnya yang tidak pusing.
"Lakukan sesuai apa yang sudah aku perintahkan," ucapnya pada pengawal yang berada di belakangnya.
"Siap Tuan!" jawab pengawal itu.
Justin segera keluar meninggalkan markasnya. Namun saat hendak menuju mobil, matanya memicing saat melihat sosok yang selalu ada untuknya. Richard, ya pria itu adalah Richard.
Justin tersenyum smirk. "Kenapa kau datang ke sini?" tanya Justin.
__ADS_1
Richard berdecak, lalu menghampiri Justin sambil berjalan dengan tangan yang dimasukkan ke dalam kantong celananya.
"Sudah kau urus orang itu?" bukannya menjawab pertanyaan Justin, pria itu malah balik bertanya.
"Hmm, sudah."
Richard menaikkan satu alisnya. "Kau ungsikan dia kemana?" tanya Richard lagi.
Justin tersenyum miring. "Ke tempat biasa," jawabnya santai.
Richard mengangguk paham, lalu ia merangkul Justin. Mereka pun berjalan bersama sambil menuju ke arah mobil.
"Jadi apa alasan pria itu menjebak Aruna?" tanya Richard.
Justin berdecak kesal jika harus mengingat jawaban dari Erik. "Kau tahu dia beralasan kalau Aruna membentaknya. Dia hanya ingin Aruna jera dan menyesal karena telah membentaknya. Dasar pria gila dan bodoh," kesal Justin saat menjelaskan pada Richard.
Richard tertawa mendengar jawaban Justin. Sementara Justin sudah sangat kesal melihat Richard yang hanya tertawa.
"Oh, my god. Alasan yang tidak masuk akal," Richard menggelengkan kepalanya dan masih tertawa.
"Jujur saja aku sangat kesal saat mengetahui alasannya," Justin berkacak pinggang dengan deru nafas menggebu-gebu.
Richard yang masih tertawa langsung menepuk-nepuk punggung Justin. "Sabar, Bro. Anggap saja ini hiburan,"
"Sial, baru kali ini aku menangani masalah yang sangat menggelikan." Justin menggeleng tidak percaya dengan apa yang terjadi belakangan ini.
"Sudah, sebaiknya kita kembali ke kantor. Biarkan anak buahmu yang mengurus pria itu," usul Richard.
"Hmm, aku juga ingin menemui Aruna dan Sagara."
"Bukan."
"Lalu apa?" tanya Richard yang sangat penasaran.
Justin menghela nafasnya. "Aku ingin membahas kehidupan mereka setelah menikah nanti. Kau tahu 'kan Aruna adalah adik sepupuku. Dia sudah tidak memiliki kedua orang tua, dan setelah mereka pergi aku lah yang bertanggung jawab atas kehidupan Aruna. Aku juga yang memegang seluruh kekayaan Aruna. Aku hanya tidak ingin Aruna hidup dalam kesulitan," ujar Justin.
Richard menautkan kedua alisnya, ia paham dengan maksud Justin. "Jadi…"
"Aku akan menyerahkan seluruh warisan yang telah ditinggalkan oleh kedua orang tua Aruna. Sudah saatnya ia tahu soal ini, dan sudah saatnya juga ia mengelola bisnis peninggalan Om Edgar, Papanya Aruna. Aku yakin Sagara mampu membantu Aruna mengelola bisnis itu," sahut Justin memotong ucapan Richard.
Richard mengangguk. "Ya, memang sudah saatnya Aruna mengetahui semuanya. Kita bisa membantunya dengan terus memantau mereka," ujar Richard.
Justin menggelengkan kepalanya. "Tidak, kita tidak akan melakukan itu. Karena aku yakin mereka berdua bisa menjalankan bisnis ini tanpa campur tangan kita." Jawab Justin.
Richard tersenyum tipis. "Baiklah jika kamu sudah sangat yakin kalau Aruna dan Sagara bisa menjalankan bisnis itu," ucap Richard.
"Aku akan mengatakannya hari ini, hanya saja aku takut. Aku takut Aruna marah padaku karena telah membohonginya,"
Richard dapat melihat kegelisahan dalam diri Justin. Lalu Richard tersenyum tipis dan kembali merangku Justin.
"Kau tenang saja, aku akan membantu bicara pada Aruna. Kita temui Aruna bersama-sama. Aku juga mengenal Aruna, ia wanita hebat yang memiliki hati seluas samudra. Dia pasti mengerti dan mau memaafkan mu. Kau juga melakukan itu demi kebaikannya," ucap Richard menenangkan sahabat sekaligus saudara angkatnya itu.
*
Setelah jam makan siang, sesuai janji Justin pagi tadi untuk bertemu Aruna dan Sagara, kini mereka sudah berkumpul di ruangan Justin. Richard sudah ada di kantor Justin sejak jam makan siang tadi.
__ADS_1
Sagara menatap Aruna, wanita itu tahu kalau calon suaminya itu saat ini sedang gugup dan gelisah. Pasalnya mereka berdua tidak tahu alasan apa hingga Justin ingin bertemu dengan keduanya. Tambah lagi ada pengacara Justin di dalam ruangan itu.
Richard menangkap gelagat kedua calon mempelai itu yang saat ini sedang gelisah hanya bisa mengulum senyumnya.
"Baiklah, tidak menunda waktu lagi. Aku minta kalian berdua untuk datang ke kantorku karena ada suatu hal yang ingin aku sampaikan pada kalian berdua. Terutama kamu, Na!" ucap Justin.
Aruna menatap kakak sepupunya itu dengan penuh rasa was was. Justin tersenyum melihat kegelisahan adik sepupunya itu.
"Tidak ada yang perlu kamu takutkan, Na. Disini aku hanya ingin menyampaikan sesuatu yang memang sudah seharusnya kamu tahu," ucap Justin lagi.
"Pengacaraku yang akan menjelaskan semuanya. Silakan, Tur!" tambah Justin.
Catur sebagai pengacara Justin dan Richard pun tersenyum. "Baiklah! tentu kamu sudah mengenal saya kan, Na?" tanya Catur pada Aruna.
Wanita itu hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Catur pun masih tersenyum dan menatap ke arah Sagara.
"Tapi calon suamimu belum tahu siapa saya. Perkenalkan saya pengacara keluarga Tuan Justin dan Tuan Richard," ucap Catur memperkenalkan diri pada Sagara.
Sagara pun tersenyum dan mengangguk. "Senang bertemu dengan anda, Tuan. Saya Sagara," jawab Sagara.
Catur mengangguk. "Oke, disini saya akan menyampaikan keinginan dari Tuan Justin. Yaitu menyerahkan seluruh harta waris peninggalan dari kedua orang tua dari Nona Aruna Isabela," ucap Catur.
Aruna tercengang mendengar apa yang Catur sampaikan. Wanita itu menoleh ke arah Justin, seakan sedang berkata 'apa ini?'
Justin hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi tatapan mata Aruna.
"W-warisan?" beo Aruna.
Catur mengangguk. "Iya, selama ini Tuan Justin lah yang memegang seluruh harta peninggalan dari kedua orang tua kamu. Termasuk bisni yang selama ini dijalankan oleh Tuan Edgar, selaku Papa kandung kamu." jawab Catur sedikit menjelaskan.
Aruna nampaknya masih agak bingung. "T-tapi, bukankah waktu itu seluruh harta Papa dan Mama semuanya sudah disita oleh bank?" tanya Aruna yang masih sangat ingat kalau seluruh harta kedua orang tuanya disita.
"Itu tidak benar," sahut Justin.
Aruna mengerutkan dahinya menatap ke arah Justin. Sagara mengusap punggung Aruna, seakan memberi tahukan kalau wanita itu harus tetap tenang. Sebenarnya Sagara juga masih bingung, kenapa dirinya juga diikutsertakan dalam urusan seperti ini. Bukankah itu milik Aruna, jadi kenapa ia harus juga ikut hadir di pertemuan ini.
"Sebelumnya aku minta maaf, karena aku telah memalsukan semuanya. Itu pun atas permintaan Papa kamu sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Maafkan aku yang baru bisa memberitahukan kabar ini padamu,"
"Aku melakukan hal itu karena suatu hal," tambah Justin.
Alis Aruna saling bertautan. "Apa, Kak? Alasan apa yang membuat Kakak memalsukan semua itu?" tanya Aruna dengan suara terdengar lirih.
Justin menghela nafasnya. "Papamu mengatakan kalau ada seseorang yang sangat ingin menguasai seluruh harta miliknya. Bahkan orang itu pun nekat mencelakai Tante Riska hanya untuk mempermudah jalannya mendapatkan harta Om Edgar,"
Aruna semakin terkejut mendapati fakta yang sebenarnya. "Tapi siapa yang tega melakukan itu pada Papa dan Mama, Kak?" tanya Aruna dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Sagara merangkul pundak Aruna dan memberi usapan lembut di lengan wanita itu.
"Tenanglah sayang," bisik Sagara agar Aruna tetap tenang.
Justin melihat apa yang Sagara lakukan hanya bisa tersenyum.
"Nanti akan aku pertemukan kamu dengan orang itu. Yang terpenting saat ini, aku ingin menyerahkan seluruh harta peninggalan kedua orang tuamu. Aku harap kamu menerimanya karena memang sudah sepatutnya kamu mendapatkannya," ucap Justin.
__ADS_1
Pengacara Catur Alexander