
"Siapa yang kamu maksud sebagai calon istrimu?"
Bryan tertawa kecil mendengar pertanyaan Vesha. Pria itu masih terfokus dengan kemudinya.
"Tentu saja seorang gadis yang duduk di sebelahku ini, gadis yang sangat jago dalam ilmu bela diri. Beruntungnya bukan ilmu kebal yang sedang digelutinya," celetuk Bryan.
Bola mata Vesha melotot sempurna, dan memposisikan dirinya menghadap ke arah Bryan. Satu pukulan di lengan pria itu berhasil didaratkan oleh Vesha. Bryan hanya tertawa melihat Vesha yang kesal dengan dirinya.
"Aku hanya bercanda. Maafkan aku sayang!" goda Bryan.
Vesha mencebikkan bibirnya sambil memutar bola matanya malas. Gadis itu tidak meladeni ucapan Bryan yang menurutnya sudah sangat diluar kendali. Vesha memilih membiarkan Bryan yang terus memanggilnya 'sayang', Vesha sudah tidak peduli. Kalau ditanggapi pun, Bryan akan semakin disengaja.
Vesha mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela. Gadis itu seketika teringat dengan kejadian di ruang rawat Sagara saat Aurel datang.
"Bryan," panggil Vesha pada pria disebelahnya.
"Iya, sayang. Kenapa?" jawab pria itu.
Vesha menghela nafasnya mendengar suara sok lembut Bryan. "Kamu tadi dengan apa yang dikatakan Aurel?" tanta Vesha.
Alis Bryan saling bertautan. "Yang mana?" tanya balik Bryan.
"Yang saat dia baru datang," cetus Vesha.
Bryan nampak mengingat-ingat kejadian di ruangan Sagara. "Oh, yang dia berkata hanya mengira-ngira?"
Vesha mengangguk dengan cepat membenarkan ucapan Bryan.
"Aku merasa kalau Aurel tahu soal kejadian yang menimpaku dan Gara," ucap Vesha.
Bryan tersenyum miring. "Jangan berburuk sangka begitu, nanti timbulnya jadi fitnah." jawab Bryan.
Vesha terdiam sejenak, memikirkan kata-kata Bryan. Benar apa yang dikatakan pria itu, dirinya tidak boleh memiliki pikiran seperti itu.
"Tapi, entah kenapa aku punya feeling yang kuat soal itu," ucap Vesha.
Bryan tersenyum tipis. "Kita tunggu saja laporan dari pihak kepolisian. Aku sudah meminta Devan untuk menyelidiki kasus ini. Kamu tenang saja besok juga pelakunya akan tertangkap," jawab Bryan.
Vesha cukup tercengang mendengar ucapan Bryan. Seketika dirinya merasa tertampar mengenai status sosial Bryan. Dirinya lupa kalau Bryan bisa melakukan apapun dengan cepat selagi uang itu berkuasa. Vesha menghela nafasnya gusar, dirinya berharap jika pelakunya bukanlah orang terdekatnya.
"Kenapa wajahmu terlihat gelisah begitu?" tanya Bryan yang sesekali melirik ke arah Vesha.
Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, hanya saja aku memikirkan si pelakunya. Apakah orang itu sangat mengenalku dan juga Gara?"
Bryan memperlambat lajunya saat di depan sana lampu merah sedang menyala. Pria itu pun menoleh ke arah Vesha.
"Aku tidak tahu siapa pelakunya. Tetapi menurut Devan, orang itu memiliki dendam dengan kamu. Aku tidak tahu apa alasan dari dendamnya itu karena Devan juga tidak memberitahuku dengan detail," jawab Bryan.
Bryan terpaksa berbohong di depan Vesha. Pria itu tidak ingin Vesha memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya dipikirkan oleh gadis itu. Bryan melihat wajah Vesha yang masih terlihat gusar.
"Sudah, jangan terlalu kamu pikirkan. Aku tidak ingin kamu jatuh sakit karena memikirkan suatu hal yang tidak penting," ujar Bryan seraya tersenyum manis.
Vesha menghela nafasnya. "Bagaimana aku tidak memikirkannya. Tadi kamu bilang orang itu memiliki dendam padaku. Apakah aku ada berbuat salah pada seseorang? Apakah aku sejahat itu sama orang lain, sampai-sampai ada orang yang ingin mencelakaiku. Sebegitu bencinya kah orang itu padaku?"
Vesha menundukkan wajahnya sambil sedikit meremas jemarinya. Bryan menghela nafasnya berat mendengar pertanyaan dari Vesha. Pria itu melajukan kembali mobilnya setelah lampu merah berubah menjadi hijau. Setelah melewati pertigaan, Bryan menepikan mobilnya.
Bryan melepas seatbelt yang digunakannya, lalu ia merubah posisi menghadap ke arah Vesha.
__ADS_1
"Hei, lihat sini!" Bryan meraih wajah Vesha yang sedang menunduk.
Tatapan mata mereka saling bertemu, Bryan menatap nanar saat matanya melihat mata Vesha sudah mulai berkaca-kaca.
Bryan menangkup wajah Vesha. "Jangan terlalu memikirkan mereka yang membencimu. Abaikan orang-orang yang membenci dirimu, karena itu juga akan membuatmu rugi. Rugi dalam kesehatan fisik dan juga mental kamu. Aku mohon sama kamu untuk tidak memikirkan kasus ini. Biar aku yang menangani semuanya," ucap Bryan sebagai penenang untuk Vesha.
"Jika kamu ingin tahu kamu melakukan kesalahan apa, aku bisa menjawabnya. Kamu mau dengar?"
Dahi Vesha berkerut saat Bryan berucap demikian. "Apa?" tanya balik Vesha.
Bryan tersenyum tipis. "Kesalahanmu adalah mencintai orang yang salah seperti Sagara," jawab Bryan.
"Aku hanya berharap kamu bisa melupakan orang itu, dan memulai membuka hatimu untukku seorang." Sambung Bryan yang mampu membuat debaran dalam jantung Vesha berdetak cukup kencang.
Vesha mengerucutkan bibirnya, membuat Bryan menelan salivanya dengan kasar. Bryan langsung menjauhkan tangannya dari wajah Vesha. Bagaimanapun juga Bryan adalah pria normal, apalagi yang ada di hadapannya itu adalah gadis yang sangat ia cintai.
"Apa aku sebodoh itu ya? Mencintai seseorang selama bertahun-tahun, tapi cintanya bertepuk tangan," lirih Vesha.
"Bersebelah tangan, Sha. Bukan bertepuk tangan," koreksi Bryan sambil bertepuk tangan di depan Vesha.
Vesha tertawa melihat tingkah Bryan, begitupun juga pria itu yang ikut tertawa. Bryan menggelengkan kepalanya, ia tidak habis pikir dengan Vesha. Bisa-bisanya disaat sedang sedih gadis itu masih bisa bercanda.
"Kamu tidak bodoh, Sha. Hanya salah dalam menempatkan hati kamu saja," Bryan kembali meralat ucapan Vesha.
Vesha pun menghela nafasnya. Vesha mengerutkan dahinya saat menyadari kalau sejak tadi mereka sedang berhenti.
"Kenapa kita berhenti disini?" tanya Vesha.
Bryan menaikkan satu alisnya. "Tadi aku berhenti karena bayi singaku sedikit bersedih," celetuk Bryan dengan tawa kecilnya.
"Maksud kamu aku bayi singanya?"
Bryan tertawa terbahak-bahak melihat Vesha yang sedang kesal dengannya. Gadis itu semakin memukul lengan Bryan, bahkan Vesha mencubit pinggang Bryan tiada hentinya.
*
Pihak kepolisian sudah mengantongi identitas si pelaku yang memerintahkan keempat orang yang sudah mencoba menculik Vesha dan berujung pengeroyokan.
Setelah anak buah Devan berhasil mengejar keempat pria bertopeng itu, mereka segera membawanya sebuah tempat. Disana Devan menginterogasi keempatnya, dan sebuah nama keluar dari pemimpin pria bertopeng itu.
"Hubungi wanita itu, katakan rencanamu gagal karena ada beberapa warga yang membantu Sagara dan Nona Vesha. Dan katakan juga kalau Sagara saat ini sedang dirawat di rumah sakit." titah Devan.
"B-baik Tuan,"
Pimpinan pria itu menghubungi orang yang telah membayarnya. Setelah mengatakan apa yang diperintahkan Devan, orang yang dihubungi oleh pria itu terdengar sangat marah dan juga gelisah. Tidak lupa Devan merekam melalui video semua pembicaraan mereka dari sambungan telepon tersebut.
"Dasar bodoh, nggak becus, nggak guna!" caci orang diseberang telepon sana.
Devan dan yang lainnya dapat mendengar ucapan makian dari seorang wanita yang sedang mereka hubungi. Devan menyeringai saat mendapati posisi wanita itu saat ini. Dengan cepat Devan memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi wanita itu.
Setelah selesai menginterogasi keempat orang itu, Devan segera membawa mereka ke kantor polisi. Devan membuat laporan ke pihak kepolisian mengenai kejadian yang dialami oleh Vesha dan Sagara. Devan juga memberikan sebuah video percakapan tadi.
Devan dengan mudah menjebloskan keempat orang tersebut. Karena dia cukup mengenal beberapa anggota kepolisian. Kini mereka semua sudah berada di kantor polisi. Sebelum kedua orang tua Sagara dan yang lainnya datang, dua orang dari pihak kepolisian datang untuk menginterogasi Vesha dan Sagara mengenai penyerangan tersebut.
Vesha dan Sagara sudah memberi laporan mengenai kronologis kejadian yang mereka alami. Semua bukti sudah dikantongi oleh pihak polisi, kini tinggal menangkap dalang dari penyerangan terhadap Vesha dan Sagara.
Pagi ini pihak kepolisian sudah bersiap di sebuah gedung dengan melakukan penyamaran. Mereka akan menangkap si pelaku pagi ini, tidak ada yang mengetahui kalau mereka sedang menyamar untuk proses penangkapan. Kecuali beberapa pihak dari gedung tersebut.
__ADS_1
Terlihat target sudah keluar dari lift, dua orang petugas polisi yang menyamar pun segera mendekat dan dengan cepat menangkap si pelaku. Anggota polisi yang lainnya pun juga ikut bergerak dengan cepat.
"Lepas!" bentak wanita itu. "Siapa kalian, main menangkapku seperti ini?" ucap wanita itu dengan penuh emosi.
"Kami dari pihak kepolisian. Anda kami tahan, Nona Aurel."
Aurel terkejut bukan main, secepat inikah dirinya tertangkap. Padahal baru saja ia hendak kabur ke luar kota, lalu melanjutkannya ke luar negeri. Ya, Aurel sudah merencanakan semuanya setelah menerima telepon dari orang suruhannya itu.
"Kalian tidak bisa menangkapku tanpa ada surat izin penangkapan dan atas dasar apa kalian menangkapku, heoh?" pekik Aurel.
Semua yang ada di lobi apartemen tersebut terlihat saling berbisik dan juga ada yang memvideokan kejadian tersebut.
Salah satu petugas polisi menunjukkan surat izin penangkapan atas nama Aurel. "Anda kami tahan atas upaya penculikan Nona Vesha, yang berujung penyerangan terhadap Nona Vesha dan Tuan Sagara. Semua bukti sudah kami terima, sebaiknya Anda ikut dengan kami ke kantor polisi!"
"Tidak, kalian salah orang. Aku tidak pernah melakukan hal semacam itu. Lepaskan tangan kalian aku tidak bersalah!" teriak Aurel.
"Bawa dia,"
"Siap, laksanakan!"
Aurel dibawa paksa oleh anggota kepolisian tersebut. Wanita itu terus saja memberontak untuk segera dilepaskan. Suara sorakan dari penghuni dan petugas apartemen tersebut mengiringi kepergian Aurel yang dibawa paksa oleh polisi.
Setibanya mereka di kantor polisi, Aurel langsung di cecar beberapa pertanyaan. Namun ia tetap bisa dan terus mengelak kalau dirinyalah yang telah menyuruh seseorang untuk menculik Vesha.
Polis tidak kehabisan akal, mereka pun membawa keempat orang suruhan Aurel dan kini mereka saling berhadapan. Bahkan polisi juga memperlihatkan semua bukti bahwa Aurel yang telah menyuruh mereka.
Aurel sudah tidak bisa mengelak lagi, ia pun menangis dan tidak bisa menutupi rasa bersalahnya. Akhirnya ia pun jujur dan mengakui semua kesalahannya. Pihak kepolisian menghubungi kedua orang tua Aurel yang ada di luar kota. Mereka pun segera mengambil menerbangan hari itu juga.
Polisi menanyakan motiv dari tindakan yang Aurel lakukan. Aurel pun menceritakan alasan dirinya melakukan hal itu. Aurel juga mengatakan pada polisi kalau ia memiliki ide itu atas saran dari tantenya.
Darinketerangan Aurel, pihak polisi juga akan memanggil nama Gina untuk dimintai keterangan. Namun, sejak tadi polisi tidak bisa menghubingi nomor ponsel wanita itu.
Aurel terlihat semakin menegang saat Gina susah dihubungi. Padahal tadi pagi menurut Aurel, ia masih sempat berkirim pesan dan menelpon.
Devan yang sedang bersama Sean, melihat sebentar ke ponselnya. Sebuah pesan dari salah satu anggota polisi yang ia kenal telah mengabari bahwa Aurel telah ditangkap. Pria itu pun langsung memberitahukan kabar tersebut pada Bryan.
Berita tertangkapnya Aurel pun ikut menyebar luas ke kampus tempat ia menimba ilmu. Bahkan video penangkapannya pun juga sudah tersebar luas dimedia sosial. Vesha dan keempat anggota kura-kura ninja pun terkejut mendengar kabar tersebut.
"Aku tidak menyangka kalau Aurel yang sudah merencanakan ini," ucap Langit yang masih tidak percaya.
"Tapi, faktanya dia lah yang menjadi dalang atas penculikan dan penyerangan terhadap Vesha dan Sagara. Dasar gila!" cetus Marvin.
"Lalu kapan kalian akan ke kantor polisi, bukankah kalian harus ke sana?" tanya Chandra.
Mereka saat ini sedang duduk di taman rumah sakit, Sagara dan Vesha saling melirik. Namun dengan cepat Sagara langsung menundukkan wajahnya, Vesha hanya menghela nafasnya.
"Aku menunggu kabar dari Bryan," jawab Vesha.
Sagara masih diam, rasanya ia sangat enggan untuk berkata apapun. Mingkin pria itu sedang merasa sangat kecewa dengan Aurel atas apa yang sudah dilakukan oleh wanita itu.
Vesha melirik ketiga pria yang ada di hadapannya. Tanpa diduga, Sagara langsung berdiri dan pergi begitu saja masuk ke dalam ruang rawatnya.
Vesha pun langsung berdiri dari duduknya, ia ingin mengejar dan menyusul Sagara, namun Chandra mencegahnya.
"Biarkan saja! mungkin dia masih syok tentang Aurel," ujar Chandra.
Vesha diam dan mengangguk, ia pun kembali duduk kembali. Cukup lama keempatnya diam, hingga akhirnya Langit memulai perbincangan terlebih dahulu. Suasana pun kembali santai dan mereka juga kembali berbincang hal lainnya.
__ADS_1