CINTA GAVESHA

CINTA GAVESHA
Tukar Cincin


__ADS_3

Tiga Minggu telah berlalu, Bryan sudah mengutarakan keinginannya pada Vesha dan keluarganya untuk melamar gadis itu. Selama satu Minggu Bryan dan Vesha terus meyakinkan Adam dan Vita, kalau niat baik Bryan itu sangat tulus.


Hingga akhirnya Naura dan Sean mendatangi kediaman rumah nenek Tini. Dua Minggu lalu, mereka datang berkunjung ke Surabaya tanpa sepengetahuan Vesha dan keluarganya.


Keduanya datang tanpa Bryan menemani. Hanya Devano dan Gricella saja yang menemani Sean dan Naura ke Surabaya. Gricella memaksa ikut karena sangat ingin minta maaf dengan cepat dan langsung pada Vesha.


Kedatangan Sean dan yang lainnya saat itu benar-benar membuat suasana begitu haru. Dari permintaan maaf Naura dan Gricella, cukup membuat Adam dan Vita memikirkan kembali niat baik Bryan untuk melamar putri mereka. Tambah lagi wejangan yang diberikan nenek Tini sangat menyentuh hati mereka semua.


"Berhentilah membenci mereka yang pernah menyakiti kalian. Mereka pun juga sudah meminta maaf dengan datang ke sini langsung. Jika kalian berdua kembali menyakiti keluarga Bryan, bukankah kalian sama saja dengan mereka. Sama karena telah saling menyakiti," ucap Nenek Tini.


"Berhentilah mencambuk diri kalian atas kesalahan masa lalu, dan kenangan menyakitkan di masa lalu," sambung Nenek Tini kala itu.


Mendengar kata-kata tersebut dari sang ibu, baik Adam maupun Vita menundukkan kepala dan merenung akan sikap mereka. Adam dan Vita pun menyetujui juga merestui hubungan Bryan dan Vesha. Hingga akhirnya, mereka memutuskan untuk melakukan acara lamaran.


Nenek Tini meminta acara lamaran dilaksanakan di Surabaya saja. Mengingat dirinya juga sering sakit-sakitan, ia tidak sanggup jika harus naik pesawat. Karena baginya, pesawat itu sangat mengerikan. Ia takut jatuh saat menaiki pesawat itu.


Akhirnya semua menyetujui keinginan nenek Tini. Acara akan digelar Minggu depan. Vesha juga sudah memberitahukan kabar tersebut pada Shena dan juga Sagara. Adam pun tidak lupa memberitahukan kabar baik itu pada sahabatnya, Darel dan Mike. Sedangkan Bram dan Dewi sendiri juga sudah diberitahukan Adam dan Vita. Mereka semua sudah berjanji akan datang ke Surabaya untuk menyaksikan hari baik tersebut.


Kini waktu yang telah ditentukan pun tiba. Bryan dan keluarganya sudah tiba di Surabaya satu hari sebelum acara. Sedangkan dari Bram, Darem dan Mike sudah tiba dua hari lalu. Mereka sengaja datang lebih awal karena mereka ingin agak lama berada di Surabaya. Anggaplah mereka sedang pulang kampung untuk berlibur. Walau kenyataannya mereka berbeda kota kelahiran.


Rumah nenek Tini menjadi sangat berbeda, hari ini semua orang terlihat sangat sibuk. Bahkan rumah itu telah didekor sebagus mungkin untuk acara lamaran Vesha dan Bryan hari ini. Teras depan pun diubah dan terlihat sangat luas dan indah.


Vesha masih berada di dalam kamar bersama Shena. Gadis itu terlihat gugup, namun dengan cepat Shena selalu mengalihkan perhatiannya Vesha, agar tidak terlalu gelisah.


"Akhirnya, setelah sekian lama drama percintaan dalam hidup kamu. Akhirnya kamu dilamar juga sama si Bryan," celetuk Shena.


Vesha tersenyum, ya memang Shena lah yang sangat tahu tentang kehidupan percintaannya.


"Ya, kau benar. Maka dari itu aku sangat bersyukur, karena Allah telah mendengar semua doaku dan doa kalian yang menginginkanku bahagia," jawab Vesha.


"Hmm, tentu saja kami sangat ingin melihatmu bahagia. Aku harap Bryan tidak menyakitimu," ucap Shena.


"Jika dia menyakitimu sedikit saja. Maka aku akan memukulnya dengan sangat keras," sambung Shena.


Vesha terkekeh mendengar ucapan Shena. "Tidak perlu kau lakukan itu. Aku pun juga bisa melakukannya," sahut Vesha yang masih tertawa kecil.


Disela obrolan mereka, tiba-tiba saja pintu kamar diketuk dari luar. Saat pintu terbuka, Dewi masuk ke dalam kamar Vesha. Wanita itu tersenyum saat melihat Vesha yang berpenampilan sangat berbeda.


"Keponakan Ante cantik sekali," puji Dewi seraya mengusap pipi Vesha.


"Terimakasih, Ante!" jawab Vesha.


"Aku pun juga cantik," celetuk Shena.


Dewi dan Vesha pun tertawa mendengar ucapan Shena yang tidak mau kalah.


"Iya, putri Mommy juga sangat cantik," sahut Dewi.


"Oh, iya. Teman-teman kalian yang dari Jakarta sudah datang," ucap Dewi lagi.

__ADS_1


Dahi Vesha dan Shena berkerut. "Mungkin itu Sagara dan yang lainnya," ucap Shena.


"Sebaiknya kamu temui mereka, Shen. Vesha biar Mommy yang temani," pinta Dewi.


Shena pun mengangguk. "Siap, Mom!" jawab Shena.


Shena pun keluar dari bilik Vesha, ia pun segera menemui Sagara dan yang lainnya. Saat tiba di teras, Shena dapat melihat Sagara, Marvin, Langit, dan satu wanita yang belum pernah Shena lihat.


Shena pun bersalaman dengan keempatnya, dan saat dia berhadapan dengan wanita itu. Shena menatap bingung pada Marvin, dan Marvin paham apa yang ada di pikiran Shena.


"Namanya Aruna. Dia satu kampus sama kita, bahkan satu jurusan juga," ucap Marvin.


Shena bernoh ria sambil tersenyum pada Aruna. "Shena," ujar Shena memperkenalkan dirinya.


"Aruna," jawab gadis itu seraya tersenyum sambil menjabat tangan Shena.


"Kalian baru sampai langsung ke sini, atau ke hotel dulu?" tanya Shena.


"Kami ke hotel dulu, baru ke sini. Tadi kami tiba jam 9 pagi. Lumayan istirahat 2 jam," jawab Marvin.


Shena berdecak. "Kenapa tidak mengabari kalau kalian sudah tiba dua jam yang lalu?" keluh Shena.


"Sengaja, karena kami ingin buat surprise dikit," celetuk Langit.


Shena kembali berdecak kesal, lalu ia menatap ke arah Aruna. "Oh, kamu juga berangkat bareng mereka dari Jakarta?" tanya Shena.


"Urusan pekerjaan?" selidik Shena.


Aruna menganggukkan kepalanya. "Iya," jawab Aruna.


Mereka pun asyik berbincang-bincang sambil menikmati cemilan yang sengaja disajikan untuk para tamu. Shena pun berbincang banyak dengan Aruna, dalam sekejap mereka terlihat sangat akrab.


Tidak lama Bryan dan keluarganya pun datang. Kedatangan mereka disambut hangat oleh keluarga Vesha. Acara sambutan pun dimulai, sepatah demi sepatah kata telah disampaikan oleh perwakilan dari kedua belah pihak.


Hingga acara dimana Bryan akan menyematkan cincin di jari tangan Vesha tiba. Vesha dipanggil untuk berdiri tepat di sebelah Bryan. Bryan pun menyematkan cincin pertunangan mereka, begitupun dengan Vesha.


Disaat bersamaan Chandra datang bersama sang adik dan juga ibunya. Kedatangan mereka sangat disambut oleh nenek Tini. Setelah acara tukar cincin, kini mereka semua dipersilakan untuk menikmati hidangan yang sudah terjadi. Mengingat saat ini sudah memasuki jam makan siang.


"Aku kira kamu dan anak-anakmu tidak datang, Ayu. Jika itu terjadi aku sangat kecewa," ucap Nenek Tini.


Wanita bernama Ayu yang diketahui sebagai ibu kandung Chandra pun tersenyum.


"Tentu saja aku pasti datang, Mbak. Mana mungkin acara penting seperti ini aku tidak datang," jawab wanita itu.


Chandra dan sang adik hanya tersenyum menanggapi obrolan kedua wanita itu. Tini pun menoleh ke arah Chandra dan sang adik.


"Nenek tidak menyangka kalau Arlan ini teman satu kampus Sasa. Kamu tampan sekali, dan kamu juga Karina sangat cantik," ucap Nenek Tini.


"Terimakasih, Nek." jawab Chandra dan Karina.

__ADS_1


Dari jarak tidak jauh, seorang gadis dan pria sejak tadi terus menatap ke arah Chandra dan Karina. Gadis itu siapa lagi kalau bukan Gricella. Sedangkan seorang pria yang sejak tadi menatap Karina adalah Langit. Ya, saat pertama kali Chandra datang bersama Karina dan Ayu. Langit pikir Karina adalah kekasih Chandra. Tetapi saat mereka berkenalan, entah kenapa Langit merasa senang bahwasanya Karina itu adalah adik Chandra.


Marvin menyenggol lengan Langit. "Suka pada pandangan pertama?" bisik Marvin.


Langit pun tersadar dan langsung menatap tajam ke arah Marvin. "Bukan urusanmu," ketus Langit.


Marvin pun tertawa dan membuat Sagara, Shena juga Aruna mengerutkan dahinya. Bryan dan Vesha pun berjalan menghampiri mereka yang sedang berkumpul.


"Ada apa ini? seperti kau sangat bahagia, Vin?" tanya Vesha sambil duduk di kursi yang diberikan Bryan.


"Terima kasih," ucap Vesha pada Bryan.


Bryan tersenyum. "Sama-sama sayang," jawabnya.


Vesha kembali menatap ke arah Marvin. "Kau kenapa, Vin?" tanya Vesha kedua kalinya.


"Aku tidak apa-apa. Tapi dia," jawab Marvin seraya menunjuk ke arah Langit.


Semuanya pun langsung menatap ke arah Langit, sedangkan yang ditatap memasang wajah bingung.


"Sialan kau, Vin!" Langit memukul lengan Marvin.


Marvin pun tertawa terbahak-bahak melihat kekesalan Langit. Sedangkan Langit sendiri merutuki Marvin dalam hatinya sambil memberi tatapan tajam ke arah pria itu. Tawa Marvin menjadi perhatian Chandra dan Karina. Tidak lama Chandra pun mengajak sang adik untuk ikut bergabung dengan mereka. Marvin yang melihat Chandra datang bersama Karina pun memberi kode pada Langit.


"Bidadarimu datang, Lang." ucap Marvin seraya menunjuk dengan dagunya.


Vesha dan yang lainnya mengerti apa yang sedang Marvin dan Langit bicarakan. Mereka pun ikut menoleh ke arah Chandra dan Karina yang sedang berjalan menghampiri mereka.


"Ah, aku paham maksudmu. Langit tertarik dengan adiknya Chandra kan?" tanya Shena.


Langit langsung melototkan matanya. "Sstt, tidak bisakah kau pelankan sedikit suaramu?" celetuk Langit.


Semua tertawa sekaligus menggoda Langit saat Karina dan Chandra sudah berdiri di dekat mereka.


"Cie, Chandra sebentar lagi mau punya adik ipar," celetuk Shena.


Langit semakin dibuat geram oleh Shena. "Diam!" geram Langit.


Chandra yang bingung hanya diam saja. "Siapa yang kalian maksud?" tanya Chandra.


"Ada yang menyukai adikku kah?" selidik Chandra.


Sedangkan Karina hanya tersenyum sambil menundukkan kepalanya saja. Chandra melirik ke arah Sagara dan Langit, karena dia tidak mungkin melirik ke arah Marvin. Chandra tahu kalau Marvin menyukai Shena. Saat matanya tertuju pada Sagara, pria itu langsung mengibaskan tangannya di depan. Dengan maksud bukan dirinya lah yang ingin menjadi adik ipar Chandra.


Chandra menaikkan satu alisnya ke arah Langit yang sejak tadi hanya menunduk. "Jadi kau menyukai adikku, Lang?" tanya Chandra.


Langit pun bergeming dan saat itu juga terlihat sangat gugup. "A-aku," tunjuk Langit ke dirinya sendiri.


Tangan pria itu langsung mengibas dengan cepat. "B-bukan aku," sambungnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2