
"Bahkan aku akan meminta pada Allah untuk mempersatukan aku denganmu dua kali. Pertama di dunia dan yang kedua di surga," tambah Marvin.
Shena menggelengkan kepalanya, Marvin menangkap raut wajah Shena yang seakan tidak percaya padanya. Wajar saja sih, menurut Marvin kalau Shena tidak percaya dengan dirinya. Karena selama ini diantara mereka tidak ada hubungan seperti layaknya sepasang kekasih.
Walaupun disini hanya Marvin yang selalu mengejar cinta Shena. Padahal Shena sudah sering diberitahu oleh Vesha kalau apa yang dilakukan oleh gadis itu sangatlah salah.
Salah karena selalu menggantungkan perasaan Marvin. Padahal sudah sangat jelas kalau Marvin sangat serius dan mencintai Shena.
Marvin mengulum senyumnya, seakan tekadnya sudah sangat bulat untuk mempersunting Shena. Marvin berdiri dan membuat Shena mengerutkan dahinya. Gadis itu hanya bisa diam dan memperhatikan apa yang dilakukan oleh Marvin.
Seketika matanya membulat dan wajahnya nampak tegang saat melihat Marvin menghampiri kedua orang tuanya. Shena langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain saat arah pandang Marvin dan kedua orang tuanya ke arah dirinya.
Shena sangat ingin menghampiri Marvin dan kedua orang tuanya, namun sayangnya Vesha dan Bryan datang menghampirinya.
Shena mau tidak mau harus mengobrol dengan ibu hamil itu. Mereka terlibat obrolan ringan, cukup lama mereka berbincang. Namun nampaknya Vesha menangkap gelagat aneh dari Shena.
"Kau kenapa, She?" tanya Vesha dengan mata sedikit memicing.
"A-aku gak apa-apa kok!" jawab Shena gugup.
Tidak mungkin Shena mengatakan apa yang terjadi dengan dirinya pada Vesha. Shena yakin kalau sahabatnya itu akan menceramahinya, dan otomatis semuanya tahu kalau Marvin tadi sempat mengajaknya menikah.
Vesha mengerutkan dahinya, ia puns merasa sangat curiga pada sahabatnya itu. Vesha pun menangkap arah pandang Shena, dan akhirnya Vesha tahu kenapa Shena terlihat gelisah dan sedikit gugup.
"Marvin terlihat sangat dekat dengan Daddy dan Mommy, ya She?" tanya Vesha sedikit menyinggung Shena.
"Eh," Shena semakin terlihat gugup.
Vesha mengulum senyumnya, ia pun melirik ke arah suaminya yang juga ikut tersenyum.
"Sepertinya Marvin sangat ingin serius denganmu, She!" celetuk Bryan.
Wajah Shena semakin memerah menahan malu. "A-apa yang kalian bicarakan?" gugup Shena.
Vesha dan Bryan pun semakin senang menggoda Shena. Sementara itu Marvin dan kedua orang tua Shena terlihat asyik berbincang seru. Bahkan sesekali terlihat Dewi dan Bram tertawa terbahak-bahak bersama Marvin.
"Kau ini benar-benar lucu, Marvin. Senang sekali membuat kami tertawa," ucap Dewi.
Marvin tersenyum lebar, justru ia sangat senang dapat menghibur calon mertuanya itu.
"Jadi, Shena masih belum mau menerima dirimu?" tanya Bram.
__ADS_1
Marvin tersenyum tipis. "Begitulah, Om. Sepertinya dia masih meragukan ku," jawab Marvin yang terlihat lesu.
Bram menepuk pundak Marvin pelan. "Sabar! Mungkin putriku masih membutuhkan waktu untuk meyakinkan dirinya sendiri. Om dan Tante yang sebagai orang tua kandungnya pun tidak tahu kenapa Shena seperti itu," ujar Bram.
Marvin pun mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tapi kalau aku langsung datang kerumah untuk melamar Shena, bagaimana Om?" tanya Marvin dengan penuh keberanian.
Bram dan Dewi tersenyum. "Apakah kau serius dengan ucapanmu itu? Apakah kamu juga sudah siap untuk meminang putri kami?" Dewi balik bertanya pada Marvin.
Marvin tersenyum dan mengangguk yakin. "Aku sudah siap lahir batin, Tante, Om. Aku sangat mencintai Shena. Aku tidak ingin menunda niat baikku ini, karena aku takut Shena diambil pria lain," jawab Marvin sambil tertawa.
Bram dan Dewi pun ikut tertawa. "Kau ini,"
"Datanglah dan jalankan niat baikmu itu. Kami akan menunggu kedatanganmu di rumah," ucap Bram memberi semangat pada Marvin.
Bram dan Dewi sudah merestui hubungan Marvin dan Shena. Walau mereka tahu kalau di antara keduanya tidak ada hubungan apapun selain berteman. Akan tetapi baik Dewi dan Bram sudah sangat menyukai Marvin.
Marvin kembali ke tempat duduk dimana Shena dan yang lainnya sedang berbincang. Marvin mengajak semuanya untuk menemui kedua mempelai.
Sagara dan Aruna tersenyum bahagia saat melihat para sahabatnya datang memberi selamat untuk mereka. Satu persatu bergantian memberi selamat pada kedua mempelai. Mereka pun beberapa kali mengambil foto.
Ketiga sahabat Sagara dan Gricella sangat tahu mengenai pernikahan keduanya. Ya, saat pertemuan hari itu di apartemen Langit. Sagara memberitahukan semuanya, keempat orang itu sempat terkejut dengan alasan Sagara dan Aruna mempercepat pernikahan mereka.
Namun ada sedikit rasa gelisah, Sagara takut kalau Gricella akan mengatakan semuanya pada Vesha atau Bryan. Tetapi Chandra selalu meyakinkan kalau Gricella tidak akan pernah bercerita pada siapapun.
"Selamat, Ga!" ucap Chandra sambil memeluk Sagara.
"Thanks, Chan." Jawab Sagara
"Kapan kamu mau menyusul ku?" tanya Sagara sambil melepaskan pelukan mereka.
Chandra tertawa kecil. "Masih lama," jawab Chandra.
Sagara melirik Gricella yang masih sibuk berfoto bareng Aruna dan yang lainnya.
"Sepertinya dia gadis yang baik, Chan. Jangan sia-siakan gadis sebaik dia," saran Sagara.
Chandra lagi-lagi tertawa hambar. "Aku dan dia hanya rekan bisnis saja. Tidak ada hubungan spesial diantara kami," jawab Chandra.
Sagara memukul lengan Chandra. "Jangan sampai kamu menyesal, Chan!"
Chandra hanya tertawa menanggapi ucapan Sagara. Ia tidak peduli dengan apa yang dikatakan pria itu.
__ADS_1
*
Malam pun tiba, di sebuah kamar terlihat Vesha sedang sibuk mengoles krim malam sebelum ia benar-benar tidur. Pintu kamar mandi terbuka dan Bryan baru saja selesai membersihkan dirinya. Hari ini keduanya terlihat sangat lelah.
Bryan tersenyum saat melihat sang istri masih duduk di kursi depan meja riasnya. Vesha sudah selesai memakai krim malamnya, Bryan pun mendekati Vesha, lalu ia berjongkok di depan wanita itu.
Bryan mengusap perut Vesha yang mulai membuncit, lalu pria itu pun mencium sayang perut sang istri.
"Halo, Boy. Sehat-sehat di dalam sana, Daddy dan Mommy menunggu kehadiranmu di dunia ini."
Vesha tersenyum mendengar ucapan Bryan. Ini bukan pertama kali Bryan berinteraksi dengan sang baby yang masih di dalam kandungan Vesha. Tapi rasanya sangat senang dan bahagia dengan apa yang dilakukan Bryan. Hal-hal sekecil inilah yang sangat disukai Vesha dari Bryan.
"Tidur, yuk! Aku sangat lelah," ajak Vesha.
Bryan mendongakkan kepalanya dan mengecup bibir Vesha. "Kamu duluan, aku mau pakai baju dulu," jawab Bryan.
Vesha pun mengangguk dan langsung menuju tempat tidur. Bryan pun langsung menuju walk in closet, sementara Vesha merebahkan tubuhnya di atas kasur berukuran besar dan empuk itu.
Vesha memejamkan matanya, namun tubuhnya terasa tidak nyaman. Vesha membuka matanya kembali, sepertinya ia tidak bisa tidur jika belum dipeluk dan diusap perutnya oleh Bryan.
Bryan pun sudah selesai memakai pakaiannya. Ia pun tersenyum saat tahu kalau istrinya tidak bisa tidur. Bryan menaiki tempat tidur dan ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Vesha.
Bryan langsung membawa tubuh istrinya ke dalam pelukannya dan mengusap lembut perut Vesha.
"Terimakasih, Daddy." ucap Vesha saat merasakan kenyamanan.
Bryan mengecup kening Vesha. "Sama-sama, Mommy. Daddy sayang kalian," jawab Bryan yang kembali mengecup kening Vesha.
Bryan sangat bersyukur dalam hidupnya memiliki wanita sebaik dan secantik Vesha. Kebahagiaannya semakin berlipat ganda saat mengetahui sang istri sedang mengandung benih cintanya pada sang istri. Bryan mengusap pipi Vesha dengan lembut.
"Aku ingin menghabiskan sisa waktu hidupku hanya bersama dirimu dan anak-anak kita. Karena aku tahu ada disampingmu dan anak-anak adalah kebahagiaan yang besar untukku," ucap Bryan pelan.
"Aku mencintaimu, Mom!"
"Eum, akupun sangat mencintaimu," dengan mata yang terpejam Vesha menjawab ucapan suaminya.
Bryan tercengang mendengar ucapan Vesha. Dia pikir istrinya itu sudah tertidur, ternyata hanya matanya saja yang terpejam. Bryan kembali mencium wajah Vesha dengan gemas.
"Tidurlah!" bisik Bryan.
Pria itu kembali mengusap perut Vesha. Tidak lama Bryan pun ikut memejamkan matanya dan menyusul Vesha ke dalam mimpinya. Bryan selalu berharap agar dirinya dan Vesha selalu bersama walau ada di dalam mimpi.
__ADS_1