
Sagara benar-benar membawa Vesha ke sebuah taman kota. Mereka berjalan beriringan sambil mencari sebuah kursi atau tempat, agar mereka dapat singgah dan duduk bersantai sambil menikmati suasana taman sore ini.
Taman ini tidak terlalu luas, tapi cukup nyaman dan bersih untuk duduk-duduk atau jogging dengan keluarga. Taman ini dilengkapi dengan pos satpam dan kamar mandi yang cukup bersih, jadi kalau bawa anak-anak atau pengen duduk duduk sambil ngemil ga khawatir soal kebelet.
Sayangnya area parkir disini agak sulit, karena biasanya selalu penuh dengan motor dan pedagang.
Namun sore ini Sagara dan Vesha beruntung, karena area parkir tidak terlalu ramai. Jadi mereka masih bisa mendapatkan tempat untuk menaruh motor Sagara.
Sagara dan Vesha duduk di atas rumput, karena mereka tidak mendapatkan kursi kosong. Keduanya menatap lurus ke arah depan dimana banyak sekali anak-anak kecil sedang bermain bola.
"Disini tempatnya nyaman," ucap Vesha.
"Hmm, beruntung tidak terlalu ramai. Biasanya tempat ini selalu ramai," jawab Sagara.
Keheningan kembali tercipta, keduanya kembali fokus ke arah para anak-anak yang sedang berebut bola dari lawannya. Cukup lama terjadi keheningan diantara keduanya, hingga Vesha kembali berucap.
"Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Vesha seraya menoleh ke arah Sagara yang sedang duduk di sebelahnya.
Sagara menghela nafasnya, lalu menundukkan sebentar. Kemudian pria itu kembali mendongak dan menoleh ke arah Vesha.
"Entahlah," jawab Sagara membasahi bibirnya dengan lidahnya.
Sagara menggeleng pelan. "Jujur saja aku merasa malu padamu, Sha." lirih Sagara yang kembali menundukkan wajahnya.
Vesha terdiam, gadis itu pun kembali menatap segerombolan anak-anak yang sedang bermain.
Sagara menengadahkan kepalanya seraya mengusap kasar wajahnya. Lalu pria itu menyugar rambutnya ke belakang.
"Aku malu padamu dan juga pada diriku sendiri, Sha. Apakah ini karma untukku atas apa yang sudah aku lakukan padamu. Menyakiti dan mengecewakan hatimu," ujar Sagara kembali memecah keheningan di antara dirinya dan Vesha.
Vesha menghela nafasnya kasar. "Ketika tindakan muncul dari ketidaksadaran, karma akan mengikutinya. Kita tahu karma itu memang ada, tetapi aku selalu berharap agar Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk kamu. Jadi anggaplah apa yang kamu alami saat ini adalah hal terbaik yang Tuhan berikan padamu," jawab Vesha.
Sagara tersenyum, seakan sedang menertawakan dirinya sendiri. Bagaimana bisa dirinya menyakiti gadis seperti Vesha. Gadis yang memiliki hati begitu tulus.
"Maafkan aku, Sha!" lirih Sagara.
Vesha tersenyum mendengar permintaan maaf Sagara yang terdengar begitu tulus padanya.
__ADS_1
"Aku sudah memaafkan dirimu jauh sebelum kamu minta maaf padaku, Ga." jawab Vesha.
Tatapan mereka saling bertemu, Sagara tersenyum saat melihat Vesha yang sedang tersenyum padanya.
"Boleh aku bertanya?" tahya Sagara.
"Hmm, boleh."
"Apakah aku masih memiliki kesempatan kedua untuk bisa bersamamu, Sha?"
Vesha tertegun mendengar pertanyaan Sagara. Jujur saja jauh dari lubuk hati kecilnya, Vesha masih sangat mencintai Sagara. Bagaimanapun juga tidak segampang itu Vesha melupakan cintanya pada Sagara.
Bertahun-tahun dirinya mencintai Sagara dalam diam, hingga akhirnya Vesha memiliki keberanian untuk mengutarakan sendiri bahwa dirinya sudah lama mencintai Sagara. Sampai kejadian taruhan itu terjadi, rasa cinta Vesha pada Sagara memang sempat terganti dengan rasa kecewa pada pria itu. Namun beberapa bulan ini Vesha mampu melewatinya, ditambah lagi ada sosok pria yang selalu membuat Vesha melupakan luka dalam hatinya.
Vesha tersadar dalam hati dan pikirannya saat mengingat sosok pria itu. Bryan, ya saat ini Vesha teringat dengan pria itu. Pria yang selalu membuat dirinya kesal, namun rindu saat pria itu tidak mengganggu dirinya.
"Bryan," gumam Vesha dalam hatinya.
Vesha kembali menatap Sagara yang sedang menunggu jawaban dari dirinya. Vesha menelan salivanya seraya menundukkan wajahnya.
"Maaf, Ga. Aku tidak bisa," jawab lirih Vesha.
Sagara mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. "Ya, aku tahu. Pasti kamu akan menjawab seperti itu," ujar Sagara.
Vesha tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan kembali menatap ke arah depan.
"Apakah dia pria yang baik?"
Vesha langsung menoleh kembali ke arah Sagara. Dahinya sedikit berkerut seakan sedang mencerna pertanyaan Sagara.
"Maksudmu Bryan?" tanya Vesha balik.
Sagara tersenyum tipis seraya mengangguk. "Ya, siapa lagi pria yang selalu bersamamu itu." jawab Sagara seraya tertawa miris.
Vesha pun ikut tertawa kecil, sambil menghela nafasnya. "Bryan adalah sosok pria yang tanpa aku sadari, adalah pria yang telah berhasil membuat aku lupa atas luka yang pernah kamu berikan padaku, Ga. Walau kehadirannya selalu seperti Jelangkung," Vesha tertawa saat mengingat masa-masa pertama kali bertemu Bryan.
"Tapi aku akui, kehadirannya selalu menghibur diriku. Kesedihanku terganti saat Bryan berulah dan membuat aku kesal dengannya."
__ADS_1
Sagara masih menyimak dan bahkan dia sangat memperhatikan Vesha yang sedang menggambarkan sambil bercerita tentang sosok Bryan pada Sagara.
"Jujur saja, dia pria yang bisa menempatkan dirinya untuk menggantikan bayang-bayang dirimu di hidupku hanya dalam hitungan bulan. Aku sangat bersyukur pada Tuhan, karena telah menghadirkan sosok pria seperti Bryan."
Vesha mengerjapkan matanya berkali-kali, lalu ia sedikit menoleh ke arah Sagara yang masih menatapnya.
"Maaf, bukan maksudku.."
"Tidak apa, Sha. Aku sangat bersyukur karena ada sosok yang telah menyembuhkan luka yang aku berikan padamu," potong Sagara dengan cepat.
"Lupakan!" sahut Vesha seraya menoleh ke arah Sagara.
"Ayo, kita lupakan semua yang sudah terjadi di antara kita. Kita jalani kehidupan kita tanpa mengingat masa lalu yang telah terjadi. Ayo, berteman!" Vesha segera mengulurkan tangannya di depan Sagara.
Sagara menatap Vesha dan tangan gadis itu bergantian. Lalu pria itu juga membalas uluran tangan Vesha.
"Teman," jawab Sagara seraya tersenyum lebar.
Vesha pun tersenyum. "Kita berteman," ucapnya sambil tertawa.
Keduanya pun saling melempar senyum dan menertawai sikap mereka. Sagara dan Vesha kembali berbincang-bincang, tidak ada percakapan mengenai masa lalu yang akan membuat keduanya kembali canggung. Vesha pandai membuat topik obrolan yang tidak membosankan. Hingga tidak terasa waktu semakin sore.
"Sudah sore, sebaiknya kamu aku antar pulang. Aku tidak ingin kekasihmu itu tahu dan marah padamu kalau kamu jalan denganku," ucap Sagara.
Vesha tertawa. "Bryan tidak seperti itu," jawabnya.
Mereka pun segera meninggalkan taman itu dan kembali ke rumah Vesha. Tanpa mereka ketahui sejak tadi ada seseorang yang sedang mengawasi keduanya. Seorang pria berpakaian casual dengan masker dan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.
Pria itu pun menatap kepergian Sagara dan Vesha. "Kamu mendengar semua percakapan mereka kan, Bryan?" tanya pria itu sambil melihat ke arah ponselnya.
Terlihat wajah Bryan yang sedang tersenyum dalam layar ponsel pria itu. Ya, saat ini mereka sedang melakukan video call sejak pertama kali Sagara dan Vesha tiba di taman itu.
"Tentu aku mendengar semuanya, Dev. Thanks sudah menuruti kemauanku untuk melakukan VC selama itu," jawab Bryan yang tertawa di seberang sana.
Devano berdecak kesal. "Kamu harus memberiku imbalan untuk ini. Bukan hanya ucapan terima kasih doang," celetuk Devano.
Bryan tertawa di seberang sana. "Ya, ya. Aku akan memberikanmu hadiah," jawab Bryan.
__ADS_1
"Oke, aku tunggu."