
Vesha terdiam saat Shena berkata demikian. Jujur saja ia pun merasa tidak enak hati dengan Shena mengingat sahabatnya itu sempat dijodohkan dengan Bryan. Shena menyadari ucapannya menyinggung Vesha pun merasa bersalah.
"Ya ampun, Sha. Aku minta maaf, bukannya aku ingin menyinggungmu soal perjodohan aku dan Bryan," sesal Shena.
Vesha tersenyum tipis dan menoleh ke arah Shena. "Tidak apa, Shen. Justru aku yang minta maaf sama kamu. Karena aku perjodohan kamu dan Bryan jadi batal," lirih Vesha seraya menundukkan wajahnya.
"Hei!" Shena langsung menggenggam tangan Vesha.
"Lihat aku, Sha!" pinta Shena, dan Vesha pun langsung mendongakkan wajahnya menatap Shena.
"Aku tidak menyesal sama sekali soal perjodohan itu. Malah aku sangat bersyukur karena Bryan mau menolak perjodohan kami. Dengan seperti itu aku dan Bryan tidak menyakiti kamu, sudah cukup kamu merasakan sakit hati dengan kisah kamu bersama si daun Saga itu. Aku ingin sahabatku ini bahagia,"
"Aku akan terus mendukung hubungan kamu dan Bryan, ya walaupun kamu malah memilih untuk menjauh darinya. Jujur aku sangat menyayangkan keputusanmu ini," ucap Shena.
Vesha tersenyum tipis mendengar perkataan Shena. Ya, memang sangat disayangkan dirinya harus mengorbankan cintanya hanya untuk membuat Naura senang. Vesha tahu keputusannya ini hanya sepihak, karena Bryan tidak mengetahui perihal keputusannya itu.
Vesha terpaksa melakukan itu hanya karena tidak ingin Bryan menentang ibunya. Vesha tidak mau Bryan berubah menjadi si Tanggang Anak Durhaka seperti cerita dongeng Upin dan Ipin. Ia tahu konsekuensinya, ia tahu Bryan akan marah terhadapnya. Ya, Vesha dapat menerima hal itu. Karena itu memang kesalahannya.
Vesha menghela nafasnya dan menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak ingin semakin larut memikirkan masalah itu, keputusannya sudah bulat dan ia tidak ingin goyah kembali. Kedua orang tua dan neneknya juga sangat setuju saat Vesha akan ke Surabaya. Namun mereka tidak tahu kalau kedatangannya ke kota itu untuk meninggalkan kenangannya bersama Bryan.
"Besok pagi kamu jadi antar aku ke bandara kan, Shen?" tanya Vesha mengalihkan pembicaraan.
Shena mengangguk cepat. "Hmm, tentu saja aku akan mengantarkanmu." jawab Shena.
"Aku akan menginap di sini," sambung Shena kembali.
Senyum Vesha terukir. "Gitu dong, temenin aku bombo malam ini," Vesha menunjukkan deretan giginya yang putih.
Shena pun berdecak. "Ck, bahasa apa itu bombo?"
Vesha masih menunjukkan cengirannya. "Bahasanya si Farel," jawab Vesha.
Dahi Shena berkerut. "Farel ?" beo Shena.
Vesha mengangguk. "Anaknya tetangga sebelah," jawab Vesha.
Shena menepuk keningnya. "Astaga," ucapnya seraya menggelengkan kepalanya.
Malam pun tiba, Shena membantu Vesha merapikan barang yang akan dibawa ke Surabaya. Setelah selesai, Shena berniat mengajak Vesha untuk keluar makan malam.
Shena turun ke bawah menyusul Vesha yang sedang menerima telepon dari Adam. Setelah beberes tadi, Adam langsung menghubungi Vesha entah apa yang ingin dibicarakan oleh Adam. Shena berjalan perlahan saat mendengar Vesha berbicara dengan Adam di sambungan telepon tersebut.
"Penerbanganku besok pukul 5 pagi, Pa. Aku sudah mengecek penerbangan malam ini, tetapi tidak ada." jawab Vesha terdengar begitu lirih.
Vesha mendengar helaan nafas sang papa yang terdengar sangat gusar. Vesha semakin merasa bersalah karena tidak dapat berangkat malam ini juga. Setelah mendengar ucapan Adam, akhirnya Vesha pun mengakhiri panggilan tersebut.
"Iya, Pa. Sampaikan permintaan maafku pada Nenek, katakan padanya aku akan datang besok pagi," jawab Vesha lagi.
Panggilan pun berakhir setelah Vesha mengucapkan salam pada Adam. Shena pun mendekat ke arah Vesha.
"Ada masalah?" tanya Shena.
Vesha menghela nafasnya. "Papa memintaku untuk datang malam ini juga. Tapi kamu tahu sendiri 'kan, aku tidak dapat tiketnya. Aku hanya dapat penerbangan pukul 5 pagi," jawab Vesha dengan suara lirih.
Shena mengusap punggung sahabatnya. "Ya sudah, tidak apa! Besok pagi kan kamu juga akan datang," ujar Shena menenangkan Vesha.
__ADS_1
"Sebaiknya kita makan malam diluar saja, itung-itung buat menyegarkan pikiran kamu. Aku yakin suasana malam pasti sangat menyenangkan," sambung Shena.
Vesha mengangguk. "Ayo!" jawabnya.
Mereka berdua pun keluar bersama, kali ini Shena ingin mengajak Vesha untuk makan malam di sebuah cafe yang tempatnya instagramable banget. Shena mendapat rekomendasi tempat itu dari salah satu pasiennya.
Setelah melewati beberapa menit akhirnya mereka berdua pun tiba di cafe tersebut. Vesha tersenyum melihat tempat tersebut yang memang sangat nyaman. Shena langsung mengajak Vesha duduk di tempat yang sangat bagus untuk berfoto.
"Darimana kamu tahu tempat ini, Shen?" tanya Vesha.
"Bagaimana bagus gak?" bukannya menjawab malah balik bertanya.
Vesha mengangguk. "Bagus, keren juga nyaman," komentar Vesha.
Shena tersenyum. "Ada live musik juga, seru kan?" tanyagadia itu dan dibalas anggukan oleh Vesha.
"Untuk reunian cocok dan bagus tempatnya," cetus Vesha.
"Hmm, nanti kalau kamu mau ke sini lagi sekalian saja ajak Marvin dan yang lainnya." celetuk Shena tanpa sadar.
Dahi Vesha berkerut. "Marvin dan yang lainnya?" selidik Vesha. "Kok kamu malah ada kepikiran untuk ngajak Marvin dan yang lainnya? Itu artinya ada Chandra, Gara dan Langit. Kamu sudah mulai akrab sama mereka?" Vesha mencecar beberapa pertanyaan pada Shena.
Tentu saja Shena yang keceplosan berbicara pun merasa canggung dan tiba-tiba saja rasa gugup menjalar dalm dirinya.
"Eh, i-itu…" Shena menarik nafasnya dalam-dalam.
"M-maksud aku, kali saja kamu ingin mengajak Marvin and the gank untuk temu kangen di cafe ini," jawab Shena yang mati-matian menutupi rasa salah tingkahnya.
Vesha tersenyum. "Ya, nanti aku akan ajak mereka kalau aku kembali ke Jakarta," ucap Vesha seraya tersenyum menggoda Shena.
"Sudahlah, sebaiknya kita pesan makanannya. Kamu mau makan apa?" Shena bertanya untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
Shena dan Vesha memilih kembali pulang setelah menikmati kebersamaan mereka. Keduanya sudah berada di dalam mobil, mereka kembali diam dan hanya menikmati jalan raya yang masih padat kendaraan.
Saat mobil Shena melewati lampu merah, Shena melajukan mobilnya dengan pelan. Dahinya berkerut saat memperhatikan jalan yang sedikit padat. Begitupun juga dengan Vesha.
"Ada apa?" tanya Vesha.
"Entahlah!" Shena menjawab sambil membuka kaca jendela.
Shena melihat ada seorang yang sedang mengatur jalan. Shena pun berinisiatif bertanya.
"Permisi, Pak! Didepan sana ada apa ya?" tanya Shena.
"Oh, itu Neng ada kecelakaan. Mobilnya menabrak truk," jawab pria itu.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun," ucap Shena dan Vesha bersamaan.
Vesha langsung merasakan tidak enak dalam hatinya. Entah firasat apa yang melanda dirinya secara tiba-tiba, Shena pun melanjutkan mobilnya kembali dengan perlahan. Saat melewati mobil yang tertabrak itu, entah kenapa Vesha merasa mengenal mobil tersebut.
"Shena tolong berhenti di depan!"
Shena yang bingung pun langsung menghentikan mobilnya di jarak yang cukup jauh dari lokasi kecelakaan.
"Ada apa, Sha?" tanya Shena.
__ADS_1
Namun gadis itu tidak menjawab malah langsung membuka pintu mobil dan berlari menuju arah kecelakaan tersebut. Shena pun tidak tinggal diam, ia pun menyusul sahabatnya itu.
Vesha menerobos kerumunan orang-orang yang sedang menyaksikan korban kecelakaan tersebut. Vesha dengan berani menghampiri salah satu korban yang baru saja berhasil dikeluarkan dari dalam mobil.
Kedua mata Vesha melotot sempurna hingga tubuhnya hampir limbung, jika Shena tidak cepat menahannya.
"Kamu kenapa, Sha?" tanya Shena.
Vesha yang sedang panik pun menoleh dan menatap Shena. "I-itu,"
Shena yang bingung pun mengikuti arah tunjuk Vesha. Shena pun terlihat terkejut saat melihat salah satu korban yang mereka kenal.
"T-Tante Naura," ucap Shena dan dibalas anggukan pelan oleh Vesha.
*
Shena dan Vesha membantu mendorong brankar dimana Naura sedang tergeletak tidak sadarkan diri dengan darah membasahi sebagian wajahnya. Di tubuhnya pun juga banyak sekali darah. Naura tidak sendiri, sang supir pun juga terluka parah seperti dirinya.
Vesha dan Shena menunggu di luar ruang UGD, mereka menunggu dengan harap-harap cemas. Shena menepuk pundak Vesha dan memeluk gadis itu.
"Aku akan menghubungi Mommy untuk memberitahukan kabar ini pada Om Sean," ucap Shena.
"Hmm, sebaiknya memang seperti itu," jawab Vesha.
"Sebaiknya aku urus administrasi terlebih dahulu baru menghubungi Mommy," ujar Shena dan dibalas anggukan oleh Vesha.
Shena melepas pelukannya pada Vesha dan meraih ponselnya. Shena sedikit menjauh dari Vesha saat berbicara dengan Dewi. Dewi sangat terkejut mendengar berita kecelakaan yang dialami Naura.
Saat Shena sibuk dengan teleponnya, pintu ruang UGD terbuka dan seorang dokter keluar. Vesha langsung menghampiri dokter tersebut.
"Permisi, Dokter. Bagaimana keadaan Nyonya Naura?" tanya Vesha.
Vesha melihat kebingungan di raut wajah dokter tersebut pun langsung kembali menjelaskannya.
"Pasien kecelakaan yang baru saja masuk, Dokter." jelas Vesha.
"Oh, maaf tadi saya sempat bingung karena belum tahu nama pasien," jawab sang dokter.
"Iya Dokter, saya juga minta maaf karena langsung mencecar pertanyaan mengenai kondisi pasien," ucap Vesha.
Dokter itu pun mengangguk. "Kondisi pasien masih kritis, karena lukanya cukup parah di bagian kepala. Pasien juga mengeluarkan darah cukup banyak, sehingga pasien kekurangan darah," jawab dokter.
Vesha terkejut mendengar jawaban dari dokter tersebut. "Kekurangan darah?"
"Iya, tapi anda tenang saja. Kami akan mengusahakan untuk mencairkan darah di rumah sakit lain. Mengingat golongan darah pasien sangat langka," jelas dokter itu lagi.
Disaat Vesha dan dokter itu sedang berbincang, seorang suster menghampiri mereka. Bersamaan dengan Shena yang sudah selesai menghubungi Dewi.
"Maaf Dokter! Bisa bicara sebentar?" tanya suster tersebut.
Dokter itu pun mengangguk dan keduanya kembali masuk ke dalam ruang UGD. Shena segera menghampiri Vesha.
"Bagaimana, Sha?" tanya Shena.
"Nyonya Naura masih kritis, bahkan beliau kekurangan banyak darah," jawab Vesha.
__ADS_1
"Astaghfirullah, semoga Tante Naura bisa melewati masa kritisnya," gumam Shena pelan.
Vesha dan Shena menatap nanar ke arah pintu ruang UGD. Doa dari keduanya pun tidak berhenti.