
Pernikahan yang bahagia dimulai saat kita menikahi orang yang kita cintai dan berkembang saat kita mencintai orang yang kita nikahi. Begitulah yang saat ini Vesha dan Bryan lakukan.
Semenjak menikah Vesha dibawa oleh Bryan dan tinggal di rumah baru mereka. Satu minggu menjadi nona muda dari keluarga Heinzee sangat merubah kehidupan Vesha.
Setiap hari Vesha menyiapkan kebutuhan Bryan. Vesha juga sesekali menemani Bryan di kantor, itupun atas permintaan Bryan. Seperti pagi ini, Vesha sibuk mempersiapkan sarapan untuk sang suami. Walaupun ada beberapa pekerja di rumah itu dan Bryan pun juga sudah melarang Vesha untuk melayaninya, namun Vesha kekeh ingin membantu dalam memasak dan memberikan pelayanan terbaik untuk sang suami.
"Selamat pagi sayang," Bryan mencium pipi istrinya saat sudah berdiri di dekat Vesha.
Vesha pun tersenyum. "Ayo, segera dimakan sarapannya!" ajak Vesha.
Bryan tidak membantah, ia pun patuh atas apa yang Vesha pinta. Vesha mengambilkan makanan untuk sang suami, Bryan tersenyum menatap Vesha. Hatinya sangat senang bisa dilayani oleh sang istri tercintanya.
"Ada apa? Kenapa kamu terus menatapku seperti itu?" tanya Vesha yang sudah mulai tersipu malu.
Bryan mencubit pelan pipi Vesha. "Kamu selalu menggemaskan, sayang. Aku semakin jatuh cinta padamu," jawab Bryan.
Vesha mencebikkan bibirnya dan tersenyum tipis. "Dasar tukang gombal," sahut Vesha.
Bryan terkekeh mendengar ucapan Vesha. "Itu fakta sayang, bukan gombalan."
Vesha hanya mengerucutkan bibirnya saja, mereka pun menikmati sarapan pagi ini dengan penuh kehangatan. Vesha mengantarkan Bryan hingga depan teras.
"Hari ini kamu pergi ke butik?" tanya Bryan.
Vesha yang sedang bergelayut manja di lengan Bryan pun mengangguk. "Iya, hari ini beberapa temanku akan datang ke butik. Mereka mau mengambil barang yang sudah dipesan," jawab Vesha yang membuat raut wajah Bryan murung.
"Itu artinya kamu tidak ke kantor?" tanya Bryan dengan tidak bersemangat.
Vesha tersenyum. "Aku akan datang saat jam makan siang," jawab Vesha seraya menoel hidung suaminya.
"Ya sudah, aku akan menunggumu." ucap Bryan.
Vesha mencium pipi Bryan dan juga bibir suaminya itu. "Untuk penyemangat," ujar Vesha yang tersenyum.
Bryan pun tersenyum mendapat bekal semangat pagi ini. Beruntung sang supir tidak melihat adegan tadi. Jadi Vesha tidak malu saat kepergok mencium Bryan.
Setelah Bryan sudah berangkat ke kantor, Vesha pun bersiap untuk ke butik. Mulai saat ini butik milik Vita sudah diserahkan oleh Vesha. Mengingat Vita dan Adam sudah menetap di Surabaya, untuk rumah yang lama telah dijual oleh Adam.
Adam sengaja membeli rumah di sebelah rumah nenek Tini. Memang sangat kebetulan rumah itu sudah satu bulan kosong. Adam sengaja membelinya karena untuk berjaga-jaga kalau nanti Vesha dan keluarga kecilnya berlibur ke Surabaya. Jadi mereka tidak perlu menyewa hotel atau tempat penginapan lainnya, karena sudah tersedia rumah untuk Vesha dan keluarga kecilnya.
Vesha berangkat diantar sang supir menuju butiknya. Setibanya di butik Vesha disambut hangat oleh empat orang pegawainya. Vesha tersenyum membalas sapaan dari mereka. Setelah saling menyapa, Vesha segera menuju ruangannya. Vesha yang baru saja menyalakan PC nya, mendengar ada yang mengetuk pintunya.
"Masuk," ujar Vesha dengan suara sedikit kencang agar terdengar dari luar.
Orang yang mengetuk pun masuk dan menunduk hormat. "Maaf Mbak, di luar ada Mbak Aruna ingin bertemu dengan ibu," ujar orang itu.
"Oh, iya. Suruh dia masuk ke sini saja, Rahma. Aku juga minta tolong ke kamu untuk siapkan pesanannya dan bawa ke sini," pinta Vesha pada Rahma.
Rahma pun mengangguk. "Baik Mbak," jawab Rahma patuh.
"Terimakasih," ucap Vesha.
"Sama-sama, Mbak."
Rahma pun tersenyum dan keluar dari ruangan Vesha. Selang beberapa menit Aruna pun datang sambil membawa sesuatu di tangannya selain tas gadis itu.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucap salam Aruna.
"Waalaikumsalam. Masuk, Na!" jawab Vesha.
Aruna pun masuk, lalu mereka berpelukan sambil mencium pipi kanan dan kiri.
"Duduk, yuk!" ajak Vesha sambil menggiring Aruna untuk duduk.
"Kau sedang sibuk?" tanya Aruna saat dirinya sudah duduk di sebelah Vesha.
Vesha menggelengkan kepalanya. "Tidak juga," jawab Vesha.
Aruna tersenyum miring. "Ah, iya. Ini untukmu," Aruna menyodorkan bingkisan yang dibawanya pada Vesha.
Vesha pun menerima bingkisan itu. "Kenapa repot-repot seperti ini sih, Na?" jawab Vesha yang merasa tidak enak.
"Apa sih! Cuma kue doang kok, kenapa harus merepotkan. Aku tidak merasa direpotkan. Aku tahu kamu sangat menyukai kue brownis dan kebetulan sekali Mama ku sedang membuatnya. Jadi aku bawakan sekalian untukmu," ujar Aruna sedikit protes.
Vesha tersenyum lebar. "Makasih, ya! Titip salam untuk Mama kamu. Kapan-kapan aku mampir ke rumah kamu dan mengajak Gara sekalian," celetuk Vesha.
Aruna membulatkan matanya, sangat terkejut mendengar ucapan Vesha. "Kenapa mengajak Gara? Suami kamu bagaimana?" tanya Aruna yang menutupi kegugupannya.
Vesha tersenyum penuh arti. "Ya, aku ajak juga. Kan yang mau bertemu Gara bukan aku tapi kamu,"
Aruna semakin terbelalak mendengar penuturan Vesha. Vesha pun tertawa melihat ekspresi dari Aruna. Aruna baru menyadari kalau Vesha sedang menggoda dirinya. Lantas dengan sangat kesal Aruna mencubit pinggang Vesha, hingga wanita itu merintih kesakitan sambil menahan tawanya.
"Ampun, Na! Geli dan sakit tau," keluh Vesha yang masih menahan tawanya.
"Rasakan itu! Siapa suruh pagi-pagi sudah menggodaku," Aruna nampak mengerucutkan bibirnya.
Aruna langsung melototkan matanya di hadapan Vesha, dan lagi-lagi wanita itu tertawa terbahak-bahak melihat mata Aruna yang pada dasarnya sangat sipit dan mencoba melotot. Vesha tertawa karena Aruna berusaha membesarkan mata sipitnya itu. Bukannya takut dengan pelototan Aruna, Vesha malah semakin tertawa karena wajah Aruna terlihat sangat lucu.
"Sudah, ah. Jangan melotot seperti itu! Bukannya terlihat seram, kamu malah terlihat sangat lucu." Vesha langsung mendekap mulutnya dengan satu tangannya.
Aruna masih menatap tajam Vesha dengan bibir yang maju ke depan. "Setelah menikah kamu semakin menyebalkan, Sha. Malah semakin senang sekali menggodaku," gerutu Aruna.
"Hahaha… aduh kamu semakin menggemaskan dengan wajah seperti itu, Na. Aku yakin Gara akan semakin gemas melihatmu seperti itu," bukannya merasa bersalah Vesha malah semakin membuat Aruna terpojok dan malu.
"Iiissshh, Vesha…!!" teriak Aruna.
Tawa Vesha semakin kencang saat Aruna mulai menggelitikinya. Mereka pun saling tertawa.
"Kamu itu sejak kemarin selalu menyinggung nama Gara. Apakah kamu juga masih belum bisa move on, Sha?" tanya Aruna yang membuat tawa Vesha terhenti dan berganti senyuman.
"Kalau aku belum bisa move on untuk apa aku menikah dengan Bryan Heinzee?" jawaban Vesha membuat Aruna nampak berpikir.
"Iya, kali gitu kamu masih memikirkan Gara." ujar Aruna yang nampak ragu.
Vesha menggelengkan kepalanya. "Aku sudah melupakan Gara jauh sebelum aku dekat dengan Bryan dan menikah dengan pria itu," jawab Vesha.
Vesha masih memperhatikan raut wajah Aruna. "Aku sering menyinggung Gara di depan kamu itu, karena aku sering melihat kedekatan kalian," ucap Vesha
Aruna mengerutkan kedua alisnya. Vesha paham betul apa yang ada di pikiran Aruna.
"Aku sering melihat kamu jalan bersama Gara setelah kalian pulang bekerja," cetus Vesha.
__ADS_1
Aruna terkejut mendengar perkataan Vesha. "Kamu memata-matai kami?" curiga Aruna pada Vesha.
[Tak…]
"Aaakkkh…" Aruna mengusap keningnya yang kena sentil oleh Vesha.
"Aku tidak sengaja melihat kalian pulang bareng dan pergi ke sebuah cafe di daerah Kemang," seru Vesha.
Aruna masih mengusap keningnya yang sedikit sakit akibat sentilan dari Vesha. Badan kecil tapi tenaga besar, mungkin itulah yang saat ini ada di benak Aruna tentang Vesha. Aruna seketika menunduk dan agak malu pada Vesha, karena dirinya dan Sagara terciduk sering bersama selepas pulang kerja.
Aruna menggigit bibir bawahnya, jujur ia merasa tidak enak. Dia takut dicap perebut pacar atau pria yang dicintai Vesha.
"Eum, Sha. A-aku minta maaf," ucap Aruna dengan suara lirih.
Dahi Vesha berkerut. "Maaf untuk apa?" tanya Vesha.
Aruna meremas jemarinya. "K-Karena a-aku sering jalan bersama Gara," jawab Aruna seraya menundukkan wajahnya.
Vesha menautkan alisnya dan menatap tajam ke arah Aruna, membuat gadis itu semakin merasa tidak enak dengan Vesha. Tidak lama terdengar tawa Vesha yang membuat Aruna bingung.
"Astaga, Aruna…" Vesha masih tertawa terbahak-bahak.
Sedangkan Aruna semakin bingung dibuatnya. Ekspresi wajah Aruna benar-benar membuat Vesha semakin terhibur.
"Ya, ampun." Vesha menengadahkan kepalanya menahan air mata sembari mengibaskan tangannya di wajahnya.
"Kamu benar-benar membuatku tidak ingin berhenti tertawa. Kenapa ekspresi wajahmu itu sangat lucu dan menggemaskan. Hahaha…."
Akhirnya Vesha kembali tertawa, ia benar-benar tidak bisa menahan tawanya saat melihat wajah Aruna.
Aruna mendengus kesal. "Iiihh, kamu tuh benar-benar mengesalkan!" Aruna yang sudah kesal pun mencoba menggelitik Vesha kembali.
"Iya, iya, ampun…" Vesha masih terus tertawa sambil mencoba menghentikan pergerakan tangan Aruna yang menggelitik perutnya.
Aruna pun menghentikan menggelitik Vesha, dan memberi tatapan tajam pada wanita itu.
"Mengesalkan," dengus Aruna.
Vesha menutup mulutnya, ia tidak ingin tertawa lagi. Takut kena klitikan dari Aruna.
"Maaf, ya…. Calonnya Gara," Vesha kembali membekap mulutnya dengan kedua tangannya.
"Oops, keceplosan!" sambung Vesha.
Sedangkan Aruna sudah melotot kembali dan memposisikan dirinya untuk mulai mencubit atau menggelitik Vesha. Namun dengan cepat Vesha mengangkat tangannya dengan jari yang membentuk huruf V.
"Kamu suka sekali menggodaku, Sha. Kalau nanti Gara dengar bagaimana? Aku tidak enak dengannya tau," kesal Aruna.
"Hehe, iya… maaf ya, Na. Semoga saja kalian memang berjodoh,"
Aruna kembali melotot. "Iiisshhh,"
Sagara & Aruna
__ADS_1