CINTA GAVESHA

CINTA GAVESHA
Permintaan Maaf Naura


__ADS_3

Pergerakan Bryan terhenti saat mendengar suara Naura yang terdengar bergetar.


"Bawa Vesha kembali, Nak!" ucap Naura.


Bryan pun langsung membalikkan tubuhnya. Ia menatap tidak percaya kalau sang mommy berkata demikian. Namun keraguannya tertepis saat melihat senyum Naura.


"Benarkah Mommy mengatakan itu?" tanya Bryan yang nampaknya masih meragukan Naura.


Naura mengangguk cepat sambil menangkupkan kedua tangannya didepan dada. "Maafkan atas sikap egois Mommy. Tolong bawa Vesha kembali, Nak. Mommy ingin bertemu dengannya dan meminta maaf padanya," ucap Naura kembali.


Suara Naura kembali terdengar begitu bergetar. Air matanya tidak dapat dibendung lagi. Bryan menatap nanar ke arah Naura, jujur saja ia tidak sanggup melihat mommy nya menangis. Saat itu juga Bryan segera menghampiri Naura dan memeluk wanita yang telah melahirkannya itu.


"Maafkan Mommy, Nak!" lirih Naura di dalam pelukan Bryan.


Bryan mengangguk. "Maafkan Bryan juga, Mom!" jawabnya.


Ketika Bryan memaafkan sang mommy, berarti ia telah memulihkan hati dua orang sekaligus. Hati Naura yang berbuat salah, dan hati Bryan yang ikhlas menerima permintaan maaf dari sang mommy.


Sean, Gricella dan Devano tersenyum melihat ibu dan anak yang saling memaafkan. Sean pun ikut memeluk Naura dan Bryan. Tidak mau kalah akhirnya Gricella dan Devano pun ikut-ikutan memeluk mereka.


"Ugh, kalian terasa sangat berat," keluh Naura.


Devano yang tersadar lebih dulu pun langsung melepaskan pelukannya. Berlanjut Gricella, Sean dan Bryan. Mereka tertawa kecil sambil tersenyum atas sikap manja mereka.


Naura meraih tangan Bryan. "Pergilah! Cepat jemput calon menantu Mommy. Tapi, jika Vesha tidak ingin kembali katakan saja pada Mommy. Biar Mommy datang ke sana juga untuk menjemputnya," titah Naura.


Bryan tersenyum manis. "Bryan akan berusaha untuk membawa Vesha kembali, Mom. Walau kedua orang tuanya menentang niat Bryan. Bryan akan terus berusaha hingga mereka luluh akan sikap dan perjuangan Bryan," jawab Bryan dengan begitu percaya diri.


Naura tersenyum. "Inilah putra Mommy dan Daddy yang tidak pantang menyerah," cetus Naura.


"Jelas, siapa dulu dong Daddy nya." celetuk Sean seraya menepuk punggung Bryan.


Bryan dan Naura menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil, begitupun juga dengan Gricella dan Devano.


Bryan kembali melirik ke arah arlojinya, ia pun segera pamit kepada kedua orang tuanya. Tidak lupa Bryan mencium punggung telapak tangan Sean dan Naura bergantian sebelum dirinya benar-benar pergi.


"Doakan Bryan, Mom, Dad, semuanya. Doakan aku biar semuanya berjalan lancar," ucap Bryan.


"Tentu! Kami akan selalu mendoakan kamu. Jika kamu kesulitan segera hubungi kami. Kami akan selalu ada untuk membantu kamu," jawab Sean.


"Semangat, Nak!" cetus Naura.


"Ayo, Kak semangaaatttt!" Gricella pun tidk mau kalah menyerukan suaranya untuk sang kakak.


"Aku akan siap kapan pun kau membutuhkan, Bryan." ucap Devano.

__ADS_1


Bryan tersenyum, dirinya semakin bersemangat untuk menjemput kembali cintanya yang meninggalkannya tanpa persetujuan darinya. Bryan melambaikan tangannya sebelum tubuhnya menghilang di balik pintu ruangannya.


Sepeninggalnya Bryan, Sean langsung merangkul tubuh Naura. Mereka pun saling melempar senyum lebar mereka.


"Aku harap Vesha mau kembali bersama Bryan, dan juga mau memaafkan aku," ucap Naura penuh harap.


Sean meremas pelan lengan istrinya. "Aku yakin kalau Vesha akan memaafkanmu. Walau aku tidak yakin kalau Vesha akan mau kembali ke Jakarta," jawab Sean.


Naura langsung mendongakkan kepalanya, Gricella pun duduk di tepi ranjang sng Mommy.


"Kenapa Daddy berpikir seperti itu? Sebaiknya kita berdoa saja, agar Kak Vesha mau kembali ke kota ini," cetus Gricella.


Sean menghela nafasnya. "Daddy juga berharap begitu sayang. Tetapi yang Daddy tahu saat ini Ayahnya Vesha sudah dipindah tugaskan di kota itu. Jadi untuk Vesha kembali ke Jakarta sangat tipis," jawab Sean yang sangat terlihat pasrah akan keraguannya.


Gricella dan Naura cukup terkejut mendengar itu. Sebelumnya Devano sudah menyelidiki keluarga Vesha dan keseharian gadis itu. Semua Devano lakukan atas perintah Sean setelah Vesha mendonorkan darah dan pergi dari Jakarta.


Sementara itu di kota tempat kelahiran sang ayah, setibanya Vesha di rumah gadis itu langsung menuju rumah sakit bersama sang Mama dan juga Shena. Shena terpaksa mengambil cuti dua hari lagi untuk menjenguk nenek Vesha.


Disinilah mereka saat ini berada di rumah sakit RSUD DR. Soetomo Surabaya. Kedua gadis itu sepertinya tidak mengenal rasa lelah. Padahal Vita dan Adam sudah meminta mereka untuk istirahat, namun Shena dan Vesha kekeh ingin ke rumah sakit malam ini juga.


Dasar memang keduanya keras kepala, mereka hanya menjawab kalau mereka hanya membutuhkan waktu 1 jam saja untuk beristirahat.


Baik Vita maupun Adam tidak bisa membantah keinginan mereka berdua. Shena dan Vesha sudah berada di ruang rawat VIP dimana sang nenek dirawat. Mereka pun masuk ke dalam, dan hanya ada Vita yang sedang membantu ibu mertuanya itu untuk minum.


"Assalamualaikum, Nenek…" ujar kedua gadis itu.


Sang nenek tersenyum sumringah saat melihat cucu semata wayangnya. Vesha dan Shena pun langsung mencium tangan Vita dan sang nenek. Bahkan Vesha memeluk lama tubuh lemah sang nenek.


"Sasa kangeeennn banget sama Nenek," lirih Vesha yang masih berada di dalam pelukannya.


Sasa adalah nama kesayangan yang diberikan sang nenek untuknya. Nene Tini pun tersenyum dan merenggangkan pelukannya.


"Kalau kangen kenapa tidak pernah mengunjungi Nenek lagi? Giliran Nenek sakit baru kamu datang," jawab Nenek Tini sembari mencubit lengan Vesha.


Vesha meringis sedikit, walaupun sedang sakit tetap saja tenaga sang nenek cukup kuat.


"Maaf, Nek. Sasa akhir-akhir ini sangat sibuk," ucap Vesha yang merasa bersalah.


"Sibuk apa? Sibuk cari calon untuk cucu menantu Nenek, hmm? Sudah dapat belum?" goda sang nenek.


Vesha tersenyum getir. "Apa sih, Nek? Sasa sibuk kuliah dan setelah lulus kuliah, Sasa langsung bekerja. Jadi mana sempat mencari calon cucu menantu untuk Nenek," jawab Vesha sedikit berbohong.


Nenek Tini tersenyum miring. "Masa cucu Nenek yang cantik ini tidak ada yang melirik. Apa perlu kamu Nenek jodohkan dengan cucu teman Nenek, hmm?" ujar sang nenek.


Vesha menggelengkan kepalanya. "Sasa tidak suka perjodohan, Nek. Tolong jangan lakukan itu," tolak Vesha.

__ADS_1


"Sekedar berkenalan saja tidak apa kan? Nanti Nenek kenalkan kamu dengan Arlan. Dia itu anak yang sopan dan sangat baik," ucap nenek Tini.


Vesha mendengus kesal. "Nenek," rengek Vesha.


Nenek Tini pun tertawa karena berhasil menggoda cucu kesayangannya itu, lalu ia beralih menatap ke arah Shena. Shena juga sangat dekat dengan nenek Tini, karena dulu saat beliau masih segar sering berkunjung ke Jakarta.


Disela kebahagiaan Vesha yang sedang meluapkan rasa rindunya pada sang nenek. Di kota lain, seorang pria sedang sibuk mengemasi beberapa pakaiannya.


Dia Sagara, setelah mendengar kabar mengenai Vesha. Malam ini juga ia pun langsung memesan tiket, dan pesawat yang akan ditumpangi olehnya akan berangkat pukul 3 pagi.


Sagara tidak ingin kalah star oleh Bryan. Pria itu nampaknya masih sangat ingin kembali mendapatkan hati Vesha. Sagara ingin memperbaiki kesalahan di masa lalunya bersama Vesha.


Marvin menghubungi Sagara, dan segera meraih ponselnya yang sejak tadi berdering.


"Ada apa?" tanya Sagara tanpa mengucapkan salam.


Marvin berdecak kesal. "Assalamualaikum," ucap Marvin.


Sagara pun menghela nafasnya dan menghentikan pergerakannya. "Hmm, waalaikumsalam. Ada apa, langsung to the point saja," jawab Sagara.


"Aku ikut ke Surabaya," celetuk Marvin.


Sagara pun membulatkan matanya. "Untuk apa?" selidik Sagara.


"Menjemput calon istriku," jawab Marvin santai.


Dahi Sagara pun berkerut. "Siapa yang kamu maksud? Tidak mungkin itu Vesha kan?"


Marvin kembali berdecak. "Tentu bukanlah. Untuk apa aku menyusulnya kalau kamu dan Bryan juga kesana. Yang ada aku ingin sekali mengomeli Vesha, karena dia sudah mengajak calon istriku," sahutnya.


"Shena?"


"Hmm, siapa lagi yang sedang bersama Vesha. Aku merasa menjadi duda kesepian karena tidak ada Shena," keluh Marvin.


"Kau belum menikah. Ingat itu corong merah!" geram Sagara.


"Sebentar lagi," celetuk Marvin.


"Ck, memangnya Shena mau sama kamu? Melihat wajahmu saja dia sudah kesal saat di restoran waktu itu," Sagara terkekeh mengingatkan kejadian beberapa bulan yang lalu.


"Aish, jangan ingatkan kejadian itu lagi. Rasanya aku sangat malu,"


Mendengar ucapan Marvin, Sagara pun tertawa terbahak-bahak. Jelas saja Sagara masih sangat ingat waktu mereka berencana untuk kumpul bersama di restoran itu.


Visual Marvin & Shena

__ADS_1



__ADS_2