
Gricella harus terpaksa menerima kerja sama dengan Chandra. Karena hanya Arlan Vegeblend milik Chandra lah yang mampu memenuhi persyaratan yang diinginkan oleh restoran Gricella. Apalagi Yanto juga sudah mengecek kualitas dari bahan-bahan yang ada di Arlan Vegeblend tersebut.
Begitupun juga dengan Chandra yang terpaksa harus menerima kerjasama itu untuk mengembangkan usaha yang pertama kali dikembangkan olehnya. Apalagi restoran yang dimiliki Gricella adalah restoran besar dan cukup terkenal di Jakarta.
Mereka sudah selesai menandatangani kontrak kerjasama mereka. Yanto mengajak berjabat tangan setelah selesai bersepakat. Gricella yang masih nampak gugup pun terpaksa ikut berjabat tangan dengan Chandra. Namun saat kedua tangan mereka berjabat tangan, gadis itu merasakan sesuatu yang aneh menjalar dalam dirinya. Entah desiran aneh apa yang mampu membuat jantung Gricella berdegup kencang.
"Senang bisa bekerjasama dengan anda, Nona." ucap Chandra yang nampak biasa saja.
Berbeda dengan Gricella yang sedikit gerah. "S-saya juga senang bekerjasama dengan anda, Tuan." jawab gadis itu yang tergagap.
Yanto tahu kalau atasannya ini masih terlihat gugup. Entah apa yang sebenarnya terjadi dengan atasan dan kliennya itu. Dari pada pusing, akhirnya Yanto memilih mengajak Chandra dan asistennya untuk makan siang bersama. Gricella hanya mengikuti mereka keluar dari ruangan, bagaimanapun juga gadis itu harus bersikap profesional.
"Saya sudah menyiapkan menu makan siang andalan restoran ini. Semoga anda menyukainya, Tuan Chandra." ucap Yanto seraya tersenyum.
Chandra pun tersenyum. "Wah, saya jadi tidak sabar ingin mencicipinya," jawab Chandra tersenyum lebar.
Tanpa Chandra sadari senyumnya itu telah membuat Gricella tertegun dan terpesona. Jika digambarkan di drama-drama korea atau animasi lainnya, dalam diri gadis itu terpancar berbagai love yang bersinar terang.
Chandra mengerutkan dahinya dengan alis terangkat satu menatap ke arah Gricella.
"Kau tidak apa-apa, Nona Gricella?" tanya Chandra yang masih menaikkan satu alisnya.
Gricella pun tersadar setelah mendapat teguran pertanyaan dari Chandra. Yanto dan asisten Chandra pun iku menatap ke arah Gricella. Sehingga membuat gadis itu salah tingkah dan menundukkan kepalanya. Wajahnya bersemu merah, Gircella meremas jemari tangannya.
"Mm, m-maaf! S-saya permisi ke toilet sebentar," Gricella pun berdiri dan langsung bergegas ke toilet.
Chandra dan yang lainnya saling melirik, saat itu juga Yanto pun hanya mengedikkan kedua bahunya seraya menggelengkan kepalanya. Lalu ketiga pria itu pun kembali berbincang-bincang.
Sementara itu di toilet wanita, Gricella langsung menuju wastafel dan mematutkan dirinya di depan cermin. Gricella menepuk-nepuk oelan pipinya yang masih terlihat memerah.
__ADS_1
"Astaghfirullah, ini kenapa pipi aku panas seperti ini sih?" keluhnya dengan diri sendiri.
Gricella menengadahkan kepalanya ke atas sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Gadis itu pun menghembuskan nafasnya kasar.
Haahhh,..
"Oke, Cell. Kamu harus bersikap biasa saja di depan pria itu. Huff!" gumam Gricella kembali.
Gricella membuka kran air, lalu membasuh wajahnya dan kembali menatap ke arah cermin sambil mengeringkan wajah basahnya dengan tisu.
"Aku siap," ucapnya bersamaan dengan helaan nafas gusarnya.
Gadis itu pun berjalan keluar dan kembali menuju meja dimana ketiga pria itu sedang menunggunya. Yanto dan asiaten Chandra tersenyum menyambut kedatangan Gricella. Namun tidak dengan Chandra yang fokus dengan ponselnya.
Gricella meminta maaf karena menunggu dirinya mereka jadi belum menyentuh makanan yang sudah terhidang di atas meja. Yanto dan asisten Chandra yang bernama Ridho pun memakluminya.
Gricella sempat melirik ke arah Chandra yang masih diam dan tidak peduli dengan kehadiran gadis itu. Gricella pun mempersilahkan mereka untuk makan. Gadis itu sesekali melirik dan mencuri pandangannya ke arah Chandra.
Membuat Chandra dan yang lainnya menatap heran pada Gricella. Yanto menyadari adanya ketidakberesan pada atasannya itu pun segera menegurnya kembali.
"Nona kau baik-baik saja?" tagur Yanto.
Gricella kembali tersadar kalau apa yang dilakukannya telah menarik perhatian ketiga pria yang sedang menatapnya heran saat ini.
Gricella tercengang saat nyatanya dirinya menjadi pusat perhatian ketiga pria itu. Malu, itulah yang ada dalam pikirannya saat ini. Gricella kembali menundukkan kepalanya.
"Maaf," hanya itu yang dapat gadis itu katakan.
Chandra tersenyum tipis, dan kembali melanjutkan menyantap hidangannya. Sepertinya ia sangat menyukai menu utama di restoran milik Gricella.
__ADS_1
"Aku baru tahu kalau menu andalan restoran ini sangat enak dan lezat," ucap Chandra mengalihkan perhatiannya.
Mungkin itu salah satu cara untuk menarik perhatian yang lainnya, dan mungkin juga agar Gricella tidak merasa canggung dan semakin malu akan sikapnya.
Yanto tersenyum. "Syukurlah, jika anda suma Tuan. Maka dari itu Nona Gricella sangat ingin bekerjasama dengan perusahaan anda. Karena kami tahu kalau tempat anda memiliki kualitas sayur dan buah yang segar-segar dan sangat baik," jawab Yanto seraya memuji usaha Chandra.
Chandra mengangguk seraya tersenyum miring. "Tentu saja, memang itu tujuan utama saya mendirikan usaha ini. Saya selalu mengutamakan kepuasan setiap pelanggan dengan memberikan kualitas tinggi untuk buah dan sayuran," jawab Chandra.
Pembicaraan mereka pun semakin menarik. Hingga akhirnya Yanto melontarkan satu pertanyaan yang membuat Gricella sangat ingin tahu jawaban dari Chandra.
"Maaf Tuan Chandra, bolehkah saya bertanya mengenai hal pribadi pada anda?" tanya Yanto.
Chandra mengerutkan dahinya. "Soal apa?" tanya balik Chandra pada Yanto.
Yanto tersenyum. "Apakah anda sudah menikah atau memiliki seorang calon istri?" tanya Yanto.
Chandra tersenyum tipis. "Belum Tuan. Saya masih single," jawab Chandra seraya terkekeh kecil.
"Oh, saya pikir anda sudah bertunangan atau menikah. Maaf jika pertanyaan saya agak menyinggung anda," ucap Yanto merasa tidak enak dengan Chandra.
"Tidak masalah bagiku, Tuan. Karena memang pada kenyataannya seperti itu. Ya, walaupun Ibu dan adik saya di kampung sangat ingin melihat saya dekat dengan seorang wanita. Tapi ya, mau dikata apa kalau jodohnya belum ketemu," jawab Chandra sambil mengangkat kedua bahunya.
Jawaban Chandra entah kenapa sungguh membuat Gricella bernafas lega. Gadis itu mengulas senyum tipisnya, dan bersorak kegirangan di dalam hatinya.
"Anda benar Tuan. Karena jodoh, rezeki dan kematian kita sudah diatur oleh Allah S.W.T. Tapi kalau anda berkenan boleh kapan-kapan saya kenalkan dengan adik saya," kata Yanto
Saat itu juga Gricella menatap tajam ke arah Yanto, hingga membuat pria itu terkejut dan menelan salivanya dengan kesusahan.
"Yanto kurang ajar! Apa-apaan maksud dia ini, heoh? Meminta Chandra untuk berkenalan dengan adiknya. Menyebalkan sekali, awas saja nanti aku potong gaji baru tahu rasa kau!" geram Gricella dalam hatinya.
__ADS_1
Chandra tersenyum menanggapi tawaran Yanto. "Tapi sayangnya saya tidak ingin dekat siapapun dulu, Tuan Yanto. Karena saya sedang fokus untuk membesarkan usaha peninggalan Bapak saya di kampung," tolak Chandra dengan halus.