CINTA GAVESHA

CINTA GAVESHA
Bertemu Marvin


__ADS_3

Pertemuan pertama antara Vesha dan kedua orang tua dari Bryan, terutama dengan Naura. Membuat Vesha merasakan kalau pertemuan itu sangat buruk. Terlebih dengan sikap terang-terangan Naura menunjukkan kalau dirinya sangat tidak menyukai Vesha.


Sejak pertemuan tersebut Vesha jadi sering melamun dan kurang fokus pada pekerjaannya. Bryan yang tahu akan hal itu pun langsung memanggil Vesha ke ruangannya. Disinilah mereka sedang duduk berdua di sofa dalam ruangan Bryan.


Bryan menggenggam tangan Vesha dan memberi usapan lembut pada tangan putih dan mulus itu.


"Apakah kamu memikirkan sikap Mommy saat pertemuan tadi?" tanya Bryan dengan suara lembut.


Vesha tertegun karena pasalnya gadis itu tidak mengatakan apa yang Nauta lakukan padanya.


"Kamu bicara apa, Bryan? Kenapa kamu menyalahkan sikap Mommy kamu padaku? Nyonya Naura itu sangat ramah dan baik hati, Bryan." jawab Vesha.


Bryan tersenyum tipis. "Kamu tidak cocok untuk berbohong padaku, sayang." ucap Bryan.


Pria itu menghela nafasnya. "Tidak perlu membohongiku, aku tahu kamu sedang memikirkan sikap Mommy padamu. Aku juga tahu apa yang Mommy katakan padamu saat tadi kalian mengambil makanan," sambung Bryan.


Vesha kembali terkejut mendengar ucapan Bryan. "B-bagaimana kamu tahu?" Vesha langsung terlihat panik.


Bryan malah tertawa melihat wajah panik Vesha. "Ssst, tenanglah! Nanti kamu juga akan tahu, bagaimana aku bisa mengetahui semuanya."


"Yang terpenting sekarang ini, aku hanya ingin kamu tidak memikirkan yang sudah Mommyku lakukan padamu. Dibalik sikapnya Mommy yang seperti itu, Mommy adalah wanita yang sangat aku sayangi. Kamu dan Mommy adalah wanita yang harus aku jaga,"


Vesha tersenyum mendengar penuturan Bryan. Jujur hatinya semakin hari semakin luluh dengan sikap dan tutur kata lembut dari Bryan.


"Kata-katamu kenapa lembut sekali, Bryan? Aku takut, aku takut kalau hatiku akan luluh padamu." gumam Vesha dalam hatinya.


Bryan mengerutkan dahinya. "Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apakah kamu mulai terpesona pada ketampananku, hmm?" Bryan memainkan kedua alisnya naik turun.


Vesha berdecak kesal. "Pede sekali," sahutnya dengan kesal.


Bryan tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kesal di wajah Vesha. Pria itu bahkan sempat mencubit pipi gadis itu hingga Vesha meringis dan berujung dirinya mencubit perut Bryan.


"Aww, sakit!" rintih Bryan.


Bryan langsung meraih tangan Vesha dan membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Vesha sempat terkejut, ingin rasanya ia menolak pelukan dari Bryan. Namun, rasanya gadis itu sudah terlanjur nyaman. Ya, pelukan Bryan sangat nyaman untuk Vesha.


"Aku mencintaimu, Sha. Sangat mencintaimu, aku berjanji akan selalu ada dan terus memperjuangkan dirimu. Percayalah padaku," bisik Vesha.


Vesha mengeratkan pelukannya, gadis itu sedikit meremas kemeja yang dikenakan Bryan.


"Buktikan! Aku tidak butuh janjimu, Bryan. Aku hanya membutuhkan bukti dari semua ucapanmu," jawab Vesha.


Bryan mengerjapkan matanya, lalu ia sedikit merenggangkan pelukannya. Ditatapnya wajah Vesha dengan sangat lekat.


"Aku akan membuktikannya mulai saat ini. Kamu hanya untuk Bryan Heinzee, begitupun juga Bryan untuk Vesha. Aku sangat mencintaimu,"


Mata Vesha berkaca-kaca mendengar ucapan Bryan. Jantungnya pun berdegup kencang. Bryan mengusap pipi Vesha dengan begitu lembut, hingga tidak terasa wajah mereka begitu dekat. Entah siapa yang memulai, bibir keduanya saling menempel. Awalnya ciuman itu hanya berupa kecupan, namun Bryan semakin menekan tengkuk leher Vesha. Hingga ciuman mereka semakin dalam.


Bryan melepas pagutan mereka saat merasakan Vesha yang kehabisan pasokan udara di paru-parunya. Bryan menempelkan keningnya pada kening Vesha. Lalu mereka pun tersenyum bersama.


"Aku harus kembali ke mejaku," ucap Vesha pelan.

__ADS_1


"Tidak perlu!" jawab Bryan dengan diiringi kerutan dahi di kening Vesha.


"Kenapa?" tanya Vesha yang heran. "Aku harus kembali bekerja," ujarnya kembali.


Bryan menoel hidung Vesha. "Aku bos disini, jadi tidak perlu kembali ke mejamu. Aku memerintahkan kamu untuk tetap berada di ruangan ini sampai jam pulang," jawab Bryan.


Vesha membulatkan matanya. "Apa? tapi…!"


Bryan langsung menempelkan jari telunjuknya ke bibir Vesha. "Diamlah! Sebaiknya kamu menurut saja. Ingat aku bos disini, dan aku adalah atasanmu!" ujar Bryan dengan membusungkan sedikit dadanya ke depan.


Vesha mencebikkan bibirnya. "Sombong sekali," celetuk gadis itu.


Lalu Vesha pun berdiri dari duduknya. "Baiklah Tuan muda yang terhormat!" Vesha membungkukkan tubuhnya sambil tersenyum paksa.


Bryan menahan tawanya, ia pun ikut berdiri di hadapan Vesha. "Bagus! Itu baru sekretaris kesayanganku," jawab Bryan yang kembali menarik tubuh Vesha agar lebih dekat dengannya.


Bryan menahan pinggang Vesha, agar gadis itu tidak bisa menghindarinya. "Boleh aku minta satu kecupan di sini?" tanya Bryan seraya menunjuk ke arah bibirnya.


Vesha menjauhkan wajahnya dengan mata yang membulat sempurna. "Tidak, sebaiknya kamu kembali bekerja." tolak Vesha.


"Oh, ayolah! Sebentar pun tidak apa, anggaplah sebagai penyemangat untuk aku bekerja," Bryan berkata dengan nada begitu memelas.


Vesha tidak habis pikir dengan sikap Bryan yang mulai terlihat seperti anak kecil yang sedang manja.


Vesha menggeleng kuat. "Aku bilang tidak, ya tidak. Sudahlah sebaiknya kamu kembali bekerja, aku akan keluar dari ruangan ini. Agar kamu bisa konsentrasi dalam bekerja," jawab Vesha yang masih menolak halus permintaan Bryan.


Wajah Bryan langsung berubah pias, pegangan pada pinggang Vesha pun mulai merenggang. Bryan kembali menatap Vesha dengan senyum tipisnya.


Vesha malah merasa bersalah pada Bryan. Vesha menggigit bibir dalamnya saat melihat Bryan yang sudah mulai berjalan ke arah meja kerjanya. Vesha pun berbalik dan menghampiri Bryan.


"Bryan, aku…"


"Tidak apa!" Bryan tersenyum. "Maafkan aku yang sempat memaksa meminta sesuatu yang tidak mungkin kamu lakukan," potong Bryan dengn cepat.


Vesha menghela nafasnya. "Bukan begitu,"


"Sudahlah, Sha. Aku harus kembali bekerja, itu kan yang tadi kamu perintahkan kepadaku." lagi-lagi Bryan memotong ucapan Vesha.


Vesha meremat kedua tangannya, lalu dengan kesal ia berjalan cepat menghampiri Bryan. Bryan pun mengerutkan dahinya saat melihat Vesha menghampirinya.


Vesha mendorong tubuh Bryan dan membuat pria itu duduk di kursi kerjanya. Dengan sangat beraninya, Vesha mengecup dan mengulum bibir Bryan. Membuat pria itu terkejut dan tidak menyangka kalau Vesha akan melakukan hal itu.


Bryan yang diberi lampu hijau pun tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Pria itu meraih tubuh Vesha hingga gadis itu berada di pangkuan Bryan. Ciuman mereka semakin panas dan bergairah.


"Sayang, kamu membuat aku gila."


Vesha tersenyum mendengar suara Bryan yang terdengar begitu lirih dan tersiksa. Vesha pun melepaskan pagutan mereka, dapat gadis itu melihat tatapan Bryan sudah dipenuhi hasrat terpendamnya. Vesha tersenyum dan memberi kecupan di kening dan bibir Bryan.


"Semangat kerjanya," ujar Vesha.


Bryan tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih, sayang!" jawabnya.

__ADS_1


Vesha pun langsung bangun dari posisinya, dan sedikit memperbaiki pakaiannya yang terlihat agak berantakan.


"Aku harus kembali ke depan," ucap Vesha.


"Tetaplah di sini," sahut Bryan dengan cepat.


Vesha kembali menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa, kalau aku disini yang ada kamu tidak bisa konsentrasi dalam pekerjaanmu. Aku keluar, semangat kerjanya!" kata Vesha menyemangati Bryan.


Bryan hanya tersenyum saat melihat Vesha yang sudah keluar dari ruangannya sambil melambaikan tangan pada dirinya. Bryan pun memilih kembali menghadap laptop yang ada di meja kerjanya. Sedangkan Vesha, gadis itu tidak langsung ke meja kerjanya. Tetapi Vesha pergi ke toilet.


Di lain tempat, di sebuah restoran Shena sedang menunggu seseorang yang sudah beberapa hari selalu meneror dirinya melalui pesan singkat. Shena yang sangat geram dengan teror itu pun segera mengajak orang itu untuk bertemu dengannya.


Shena yang sedang sibuk membalas pesan dari kakak sepupunya pun terkejut saat tiba-tiba seseorang duduk di hadapannya dan meminum minuman yang sudah dipesan olehnya.


Bola mata Shena melotot melihat pria itu yang sudah lancang meminum minumannya.


"Apakah kamu tidak diajarkan sopan santun, Tuan?" ujar Shena yang menatap tajam pada pria dihadapannya itu.


Seakan tuli, pria itu pun hanya tersenyum dan tidak pedulikan ucapan Shena.


"Maaf, tapi aku sangat haus. Kita bisa memakainya lagi, tunggu sebentar akan aku pesankan!" ujar pria itu.


"Tidak perlu!" jawab Shena yang masih memberi tatapan tajam pada pria itu.


"Lagi pula siapa kamu tiba-tiba duduk di sini. Pergilah! aku sedang menunggu seseorang," usir Shena.


Pria itu tidak marah, malah tersenyum manis. "Akulah orang yang sedang kamu tunggu," jawab pria itu dengan santai.


Shena mengerutkan alisnya. "Oh, jadi kamu pria gila yang selalu meneror diriku tiap malam dengan pesan-pesan unfaedah seperti ini?" selidik Shena.


Pria itu tersenyum lebar saat Shena menunjukkan semua pesan di layar ponselnya.


"Tentu saja, itu aku." jawab pria itu dengan begitu santai.


Shena menghela nafasnya seraya melipat kedua tangannya di depan dada. "Langsung saja, apa yang kamu inginkan?"


Pria itu baru saja hendak menjawab, namun tangan Shena tiba-tiba saja terangkat satu. Mencegah pria itu untuk berbicara.


Mata Shena memicing tajam ke arah pria itu. "Tunggu! Bukankah kamu teman si daun Saga?"


Pria itu hanya tersenyum lebar seraya menjulurkan tangannya yang ingin berkenalan dengan Shena.


"Ya, kamu benar. Namaku Marvin," jawabnya seraya tersenyum.


Shena masih memicingkan matanya, dan enggan berjabat tangan dengan Marvin. Merasa uluran tangannya tidak disambut baik, maka dengan cepat Marvin menarik kembali tangannya.


"Apa maumu?" selidik Shena.


Marvin mengedikkan kedua bahunya. "Tidak terlalu berat keinginanku. Aku hanya ingin berkenalan denganmu. Hanya itu keinginanku," jawab Marvin yang masih bersikap santai.


Shena berdecak kesal. "Cih, jangan harap aku mau berkenalan dengan kamu. Kamu dan si daun Saga itu sangat dekat, dan aku tidak ingin berdekatan dengan teman dari pria yang sudah menyakiti sahabatku," jawab Shena dengan sangat ketus.

__ADS_1


__ADS_2