
Semenjak pertemuan Aruna dengan Justin dan pengacaranya. Kehidupan Aruna semakin berubah, namun Aruna tetap mengingat apa yang Justin pesan untuk kehidupan wanita itu kedepannya.
"Aku yakin setelah ini kehidupanmu dan Sagara akan berubah. Apalagi satu Minggu lagi kalian akan menikah. Aku hanya ingin berpesan pada kalian berdua, terutama kamu Sagara."
Justin menatap ke arah Sagara. "Aku titipkan Aruna padamu. Aku mengatakan hal ini, karena kamu tahu kalau Aruna adalah saudaraku satu-satunya. Aku sangat menyayangi Aruna, tolong bantu dia dalam mengelola bisnis keluarganya. Jika suatu saat nanti kamu atau Aruna ada kendala segera hubungi aku. Aku akan selalu ada dan membantu kalian,"
"Jangan pernah berubah, jadilah diri kalian sendiri. Untukmu Aruna, aku harap kelak kamu tidak melupakan statusmu sebagai seorang istri disela kesibukanmu dalam menjalankan bisnis kedua orang tuamu. Tetaplah saling setia dan percaya dengan pasangan kalian,"
Bayang-bayang perkataan Justin masih terngiang di pikirannya. Pesan dari seorang kakak untuk sang adik, Aruna sangat bersyukur karena hidupnya masih dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Tambah lagi, ada seorang pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Yang akan selalu menemaninya hingga menua nanti. Aruna tersenyum kala menatap dirinya di depan cermin setelah ia selesai di rias.
Degup jantung Aruna kian berdebar, karena sebentar lagi ia akan melaksanakan resepsi pernikahan bersama Sagara.
Pintu kamar mandi terbuka, dan menampakkan Sagara yang baru saja selesai buang air kecil. Pria itu tersenyum sambil berjalan menghampiri Aruna.
Aruna tersentak saat merasakan sebuah tangan memeluk pinggangnya dan mencium pipinya. Aruna menoleh dan membalikkan tubuhnya dengan tangan yang langsung ia lingkarkan di leher Sagara.
Sagara menatap kagum pada kecantikan istrinya, karena tidak tahan ia pun mencium sekilas bibir Aruna.
"Aku mencintaimu," ujar Sagara.
Aruna tersenyum. "Aku pun sangat-sangat mencintaimu," jawabnya sambil terkekeh.
Sagara nampak menghela nafasnya. "Tidak bisakah resepsi pernikahannya kita tunda beberapa jam lagi?" tanya pria itu dengan ekspresi wajah memelas.
Dahi Aruna berkerut. "Kenapa harus ditunda?" Aruna bertanya balik pada Sagara.
Sagara berdecak kecil. "Karena kita belum melakukannya," jawab Sagara terdengar sedikit ambigu.
Aruna semakin mengerutkan dahinya, jujur saja ia bingung harus menjawab apa. "Maksud kamu apa sih, Ga? Melakukan apa?" tanya Aruna yang masih bingung.
Sagara semakin gemas dengan Aruna. Tanpa berbasa basi lagi ia pun akhirnya mencium dan ******* bibir Aruna.
"Aku ingin kita menghabiskan kebersamaan kita di atas ranjang, aku ingin mendengar kau mendesah seperti malam itu," bisik Sagara disela ciumannya.
Aruna melototkan matanya, dengan terpaksa ia menjauhkan wajahnya dari Sagara. Aruna memukul dada pria itu, dan membuat Sagara tertawa kecil.
"Kau mesum sekali," kesal Aruna.
"Mesum sama istri sendiri itu halal. Kita juga sudah sah menjadi suami istri, jadi gak apa-apa dong! Kalau aku mesum sama istri sendiri," jawab Sagara yang terkekeh melihat wajah merah Aruna.
__ADS_1
Ya, keduanya telah melangsungkan akad nikah tadi pagi di gedung KUA. Siang ini adalah acara resepsi pernikahan keduanya yang akan digelar di sebuah gedung serba guna.
Aruna memilih acara resepsi yang sederhana. Karena baginya, itu hanya buang-buang waktu dan uang saja. Dari pada melangsungkan acara pernikahan dengan mewah, lebih baik uangnya disumbangkan saja ke panti asuhan dan berbagi pada kaum dhuafa.
"Kita bilang ke Kak Justin, yuk!" ajak Sagara yang tidak menyerah.
"Bilang apa?"
Sagara berdecak kesal. "Kita bilang untuk menunda acaranya dua jam lagi. Biar kita bisa melakukannya," jawab Sagara yang semakin tidak tahu malu.
Aruna menepuk keningnya. "Astagaaahhh, kamu mau diamuk sama Kak Justin dan yang lainnya?"
Sagara menggeleng dengan cepat sambil mengerucutkan bibirnya. Aruna yang melihat suaminya cemberut, sangat gemas dengan pria itu.
[Cup..]
Sebuah kecupan mendarat di bibir Sagara. "Tahan dulu, ya! Nanti malam aku kasih full servicenya," ucap Aruna.
Seketika itu juga wajah Sagara terlihat sumringah. Ia tersenyum lebar mendengar ucapan Aruna.
"Janji?" Sagara mengangkat jari kelingkingnya.
Aruna pun tersenyum dan menautkan jari kelingkingnya di kelingking Sagara. "Aku janji!" jawab Aruna.
Bridesmaids dan Groomsmen pun juga telah siap. Alunan musik mengiringi langkah kedua pengantin, tepuk tangan dan seruan nama kedua mempelai ikut memeriahkan penyambutan sang Raja dan Ratu sehari itu.
Sagara dan Aruna tidak berhenti tersenyum sambil melambaikan tangannya pada para undangan yang telah hadir. Sesuai keinginan Aruna dan Sagara, dengan konsep Black Swan gedung serba guna itu kini telah disulap bernuansa hitam bercampur rose gold sebagai pelengkap warna agar semakin hidup.
Kini Sagara dan Aruna telah berdiri di panggung pelaminan. Satu persatu tamu undangan pun bergantian bersalaman dengan kedua mempelai.
Karena kedua orang tua Aruna sudah tidak ada, jadi Richard dan Tiara yang menggantikannya untuk berdiri di sebelah Aruna. Sedangkan Justin sendiri sedang menemani sang istri di rumah sakit. Setelah tadi datang menghadiri akad nikah Aruna dan Sagara di KUA, tiba-tiba saja Lina merasakan perutnya sakit. Justin segera membawanya ke rumah sakit, dan setibanya disana mereka masih harus menunggu pembukaan lengkap.
Akhirnya Justin minta pada dokter agar Lina dirawat inap saja, dia tidak ingin mengambil risiko dengan keadaan istri dan calon anak kedua mereka yang sebentar lagi akan lahir.
Dari kejauhan Vesha dan Bryan tersenyum saat melihat kedua mempelai. Kini Bryan dapat bernafas lega, akhirnya rivalnya sudah tidak ada. Karena mulai hari ini rivalnya telah menjadi milik wanita lain, dan Vesha hanya milik Bryan seorang. Begitulah yang ada di dalam benak Bryan saat ini.
Pria itu memeluk tubuh Vesha dari samping. "Aku mencintaimu, Mom." Bryan mencium pipi Vesha dengan tangan yang mengusap lembut perut sang istri.
Vesha tersenyum sambil mengusap tangan Bryan. "Aku juga mencintaimu, Daddy." Vesha mencium bibir Bryan sekilas.
Tanpa mereka ketahui, kalau aksi mesra mereka dilihat oleh Marvin dan yang lainnya.
__ADS_1
"Lihatlah mereka, kalau sudah bucin sampai tidak tahu tempat." Marvin menggerutu kesal sambil menggelengkan kepalanya.
Chandra dan Langit hanya tertawa melihat kekesalan Marvin. Keduanya pun saling melirik.
"Sepertinya ada yang iri, Chan." sindir Langit.
"Hmm, benar. Seharusnya tidak perlu iri, ajak saja kekasihnya itu menikah. Kalau sudah halal mau bermesraan dimanapun hukumnya tidak dosa," celetuk Chandra.
"Benar! Tapi sayangnya kekasihnya tidak mau menikah dengannya," ejek Langit yang diiringi tawa kedua pria itu.
Marvin yang kesal karena disindir kedua sahabatnya itu pun langsung melempar sendok plastik ke arah keduanya. Langit dan Chandra tertawa terbahak-bahak karena berhasil membuat Marvin kesal. Tidak lama Gricella, Karina dan Shena pun datang menghampiri ketiga pria itu.
Ketiga gadis itu pun duduk di tempat masing-masing. Marvin tersenyum melihat Shena yang begitu berbeda dan terlihat sangat cantik. Ia pun sedikit menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Shena.
"Beb, nikah yu!" ajak Marvin dengan berbisik.
Shena yang sedang fokus pada makanannya pun menghentikan pergerakannya. Kedua alis gadis itu berkerut.
"Kau kesambet setan apa, tiba-tiba mengajakku menikah?" tanya Shena.
Marvin menampilkan cengiran di senyumnya. "Aku serius, Beb. Nikah yu!" Marvin kembali mengajak Shena untuk menikah.
Shena menghela nafasnya dan meletakkan sendoknya. "Apa seperti itu mengajak seorang wanita untuk menikah, hmm?" Shena menaikkan satu alisnya saat bertanya pada Marvin.
Marvin mengusap tengkuk lehernya. "Ya, gak begitu juga sih! Tapi kalau kamu mau menikah denganku, aku tidak akan membuang waktu lagi. Setelah ini kita bisa temui kedua orang tuamu, aku akan melamarmu di hadapan mereka."
Marvin berkata begitu yakin, Shena masih bergeming. Hingga Marvin menautkan kedua tangan mereka.
"Aku serius, Beb!" ucap Marvin kembali.
Shena menopang dagunya dengan satu tangan, dan menatap ke arah Marvin. Lalu Shena sedikit mendekatkan tubuhnya pada Marvin, ia tidak ingin obrolan mereka terdengar oleh yang lainnya.
"Kamu tahu, Bub. Pernikahan itu adalah suatu ikatan suci bukan karena kecocokan yang bisa pergi jika tidak lagi cocok. Pernikahan adalah selalu bersama dan tetap dalam satu tujuan meski dengan cara yang terkadang berbeda. Suami ibarat kata adalah hakim, sedangkan istri hanya penasihat. Kamu harus ingat itu dalam pernikahan jika ingin biduk rumah tangga kita selamat. Apakah kamu siap untuk selalu ada dan menemaniku, serta menjadikanku satu-satunya wanita yang kamu cintai setelah Ibumu?" tanya Shena.
Marvin tersenyum tipis, sedikit membenarkan posisi duduknya. "Kamu tahu betapa aku sangat mencintaimu dan sampai kapanpun akan ku buktikan, cinta tulus dariku untukmu tak pernah sirna oleh usia," jawab Marvin penuh percaya diri dan tekad yang bulat.
Shena tersenyum lebar, ia sangat yakin kalau Marvin akan selalu menepati janjinya. "Temui lah kedua orang tuaku. Mintalah aku pada mereka," ucap Shena.
Marvin pun menyeringai. "Tentu,"
__ADS_1
(Anggap aja seperti ini konsep pernikahan Sagara & Aruna, ya geys)