
Suasana ballroom hotel bintang lima terlihat begitu ramai. Bukan hanya pegawai dan petinggi perusahaan kantor cabang SRC Company saja yang datang. Rupanya di luar hotel juga sudah banyak beberapa wartawan dari berbagai stasiun tv menunggu kedatangan para undangan dan pemilik perusahaan yang sedang menggelar acara tersebut.
Pemilik perusahaan itu adalah orang terkaya di Indonesia dan masuk ke dalam lima besar. Siapa yang tidak mengenal dengan Richard Alvaro, sang pemilik perusahaan dari RC Corp (perusahaan pusat). Bukan hanya Richard saja yang sedang mereka tunggu, mereka juga sedang menunggu Sandra si pemilik kantor cabang.
(Jika kalian baca cerita saya yang berjudul The Coolest, pasti tidak asing dengan si Richard dan Sandra. Nanti saya juga akan membawa Mas Kendra dan Dira juga di novel ini.)
Di dalam ballroom hotel, semua tamu undangan sudah hadir. Mereka menunggu si pemilik acara tiba di pesta itu sambil menikmati hidangan yang sudah tersaji.
Bryan dan Vesha berjalan memasuki ruangan tersebut dan disambut hangat oleh para pelayan. Vesha terlihat begitu cantik dengan balutan dress berwarna merah. Begitupun dengan Bryan yang sangat terlihat tampan dengan tuxedo berwarna hitamnya.
Dari kejauhan Sagara dapat melihat kedatangan Vesha dan Bryan. Ia pun tersenyum dan menghampiri keduanya.
"Hai," sapa Sagara.
Vesha dan Bryan tersenyum. "Hai, juga. Aku pikir kamu tidak datang," balas Vesha.
"Tadi tidak ingin datang. Tapi Ayah memaksa," ujar Sagara.
"Dimana Om Darel?" tanya Vesha.
Sagara pun mencari keberadaan sang ayah melalui matanya. "Oh, disana. Sedang berbincang dengan asisten Tuan Richard," jawab Sagara seraya menunjuk ke arah Darel.
Vesha pun menoleh ke arah tunjuk Sagara. "Tante Safira tidak ikut?" tanya Vesha lagi.
"Tidak, Bunda sedang berada di Bandung. Karena lusa adik sepupu ku menikah," jawab Sagara.
Vesha pun hanya mengangguk paham. Tidak lama seorang gadis cantik menghampiri ketiganya. Mereka juga sempat terkejut dengan kedatangan gadis itu.
"Aruna," ujar Vesha yang masih terkejut.
"Hai, apa kabar?" tanya Aruna sambil memeluk dan cium pipi kanan dan kiri Vesha.
"Kabarku baik. Kamu juga diundang ke acara ini?" tanya Vesha.
Aruna mengangguk. "Apakah kamu lupa aku kan bekerja di perusahaan Tuan Aaram," jawab Aruna seraya tersenyum.
Disela obrolan mereka, akhirnya tamu yang sejak tadi ditunggu oleh mereka semua telah tiba. Satu persatu tamu istimewa itu memasuki ballroom hotel.
"Itu siapa?" bisik Vesha pelan dan masih dapat didengar Bryan dan Aruna.
"Dia Tuan Kendra bersama keluarga kecilnya," jawab Aruna pelan.
Sagara mendengar jawaban Aruna pun menoleh ke arah gadis itu. Dahi Sagara pun berkerut, seakan berpikir kenapa Aruna tahu mereka.
Sagara semakin mengerutkan dahinya saat Aruna kembali menyebutkan nama-nama tamu undangan istimewa itu. Setelah Kendra dan Dira datang, ternyata Kevin dan Aleana pun juga datang. Tidak lama kemudian, Justin dan sang istri datang bersamaan dengan Sandra dan Aaram.
"Nah, itu baru Tuan Richard dan Nyonya Tiara. Mereka sangat terlihat serasi," ujar Aruna setelah memperkenalkan semuanya.
"Sepertinya kamu sangat mengenal mereka, Aruna." Cetus Bryan.
Aruna tersenyum kikuk. "Eum, itu… aku tidak sengaja mencari tahu tentang mereka," jawab Aruna seraya menampilkan cengirannya.
"Sebaiknya kita mencari tempat duduk. Kasihan ibu hamil kalau lama-lama berdiri," ajak Aruna yang seakan sedang mengalihkan pembicaraan.
Bryan sempat mengerutkan dahinya, seakan memiliki kecurigaan pada Aruna. Ternyata Sagara pun merasakan hal yang sama, seperti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Aruna. Entah itu apa, untuk saat ini ia tidak ingin ambil pusing dengan itu. Ia pun mengikuti arah Aruna yang mengantarkan mereka ke tempat duduk.
__ADS_1
Mereka pun menikmati makan malam bersama. Setelah cukup lama memperhatikan situasi, akhirnya Bryan pun mengajak Vesha untuk menemui Richard. Bryan dan Vesha berpamitan pada Sagara dan Aruna untuk menemui Richard.
"Selamat malam Tuan Richard," sapa Bryan ramah pada Richard.
"Wow, selamat malam juga Tuan Bryan Heinzee. Apa kabar, Bro?" Richard menyalami dan memeluk Bryan.
Bryan tersenyum. "Alhamdulillah, baik. Kabarmu juga bagaimana?" tanya Bryan.
"Alhamdulillah, baik juga. Ini.." Richard menjawab sambil melirik ke arah Vesha.
"Ini istriku. Sayang, perkenalkan ini Tuan Richard," Bryan pun memperkenalkan Vesha pada Richard dan juga Tiara.
Bukan hanya Tiara saja, bahkan Richard juga memperkenalkan seluruh keluarganya. Bahkan Richard juga memperkenalkan Kendra dan Dira juga pada Bryan dan Vesha. Mereka sempat terlibat obrolan kecil.
Begitupun juga dengan Vesha yang malah asyik berbincang-bincang dengan Sandra, Dira dan Tiara. Bahkan Vesha juga asyik bercanda dengan anak Richard dan Tiara yang masih berusia 2 tahun.
Seorang wanita yang sedang hamil besar pun menghampiri keempat wanita itu. Tiara pun memperkenalkan Vesha dengan Lina, istri dari Justin.
"Kalian lihat Aruna?" tanya Lina.
Dahi Vesha berkerut mendengar Lina menyebutkan nama Aruna.
"Tadi aku lihat dia duduk disana bersama seorang pria. Aku tidak tahu siapa, mungkin kekasihnya." jawab Sandra.
Lina pun mencari arah dimana Sandra menunjukkan keberadaan Aruna. Lina berdecak kesal karena tidak menemukan gadis itu.
"Anak itu kebiasaan sekali. Selalu kabur-kaburan," keluh Lina.
Dira menepuk pundak Lina. "Sabar, ingat kamu sedang hamil. Lagipula biarkan saja, mungkin dia sedang tidak ingin diganggu waktunya saat sedang bersama kekasihnya," ujar Dira.
"Aruna sudah dewasa, Lina. Please deh, kamu jangan kayak orang tua yang over protektif banget sama anak gadisnya!" protes Sandra.
Lina hanya menghela nafasnya saja. Vesha sempat melirik sekilas ke arah Lina. Ada keraguan dari Vesha mengenai Aruna yang dimaksudkan oleh Lina, tetapi tadi Sandra menunjuk arah kursi dimana Aruna dan Sagara duduk.
"Maaf, Kak! Apa yang Kakak maksud itu Aruna Isabel?" tanya Vesha yang penasaran.
Lina pun menoleh ke arah Vesha dan menaikkan satu alisnya. "Iya, kamu kenal dengan Aruna?" tanya Lina balik.
Vesha pun mengangguk. "Dia teman satu kampus dan satu jurusan denganku," jawab Vesha.
Semuanya terkejut mendengar jawaban Vesha. Lina nampak berpikir sejenak, sepertinya ia pernah melihat Vesha saat di kampus Aruna dulu.
"Wah, kebetulan sekali! Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu," cetus Lina.
"Iya, Kakak mau tanya apa?"
Sandra dan yang lainnya hanya menyimak obrolan Vesha dan Lina. Mereka juga tahu apa yang dikhawatirkan oleh Lina saat ini.
"Apakah kamu tahu siapa pacar Aruna?" tanya Lina to the point.
Vesha nampak mengerutkan dahinya. Jujur saja ia bingung mau jawab apa, kalau soal pacar Vesha memang tidak tahu menahu. Tetapi kalau soal Aruna dekat dengan seorang pria, Vesha sangat tahu.
"Eum, soal itu. Aku sih, kurang tahu Kak. Tapi kalau soal Aruna sedang dekat dengan pria, aku tahu. Tapi setau aku kedekatan mereka hanya sebatas teman saja," jawab Vesha.
Lina menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ekspresi wajahnya sangat serius. Membuat Vesha sedikit gugup.
__ADS_1
"Siapa pria itu?" tanya Lina lagi.
Vesha baru saja ingin menjawab pertanyaan Lina. Namun orang yang sedang mereka bicarakan itu akhirnya datang. Vesha dapat bernafas lega karena Aruna sudah datang.
"Wah, sepertinya obrolan kalian seru nih!" celetuk Aruna.
"Nah, ini dia orangnya. Sini duduk!" cetus Sandra seraya menepuk kursi kosong di sebelahnya.
"Dari tadi Kakak kamu itu terus khawatir sama kamu. Kamu dari mana saja, heoh?" selidik Sandra.
Aruna mengerutkan dahinya. "Memangnya ada apa? Aku hanya berbincang dengan temanku saja disana," jawab Aruna.
Lina memberi tatapan tajamnya pada Aruna. Membuat gadis itu sedikit susah menelan salivanya.
"Siapa pria itu?" tanya Lina.
"Namanya Sagara, dia teman satu kampus kami." Jawab Aruna seraya menunjuk ke arah dirinya dan juga Vesha.
"Oh, kenapa kamu tidak mengenalkannya pada kami?" tanya Lina lagi.
Aruna menghela nafasnya. "Harus, ya?" tanya Aruna dengan suara lirih.
"Harus!" ucap Lina penuh ketegasan.
Vesha hanya bengong menyimak percakapan keduanya. Sedangkan yang lain hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Vesha masih bingung dengan status Aruna yang begitu dekat dengan Lina dan yang lainnya. Dari pada Vesha terus penasaran dan tidak bisa tidur memikirkan hal itu, akhirnya Vesha bertanya mengenai status Aruna di keluarga Richard.
"Maaf! Boleh saya bertanya, Kak?" izin Vesha ragu pada Lina.
Lina pun menatap Vesha. "Hmm, apa yang ingin kamu tanya?"
Vesha sejenak melirik ke arah Aruna yang juga sedang menatap dirinya. "Kalau boleh tahu, Aruna siapanya Kakak?" tanya Vesha.
Semuanya mengulum senyum mereka. Begitupun juga dengan Lina, sedangkan Aruna sendiri hanya menundukkan kepalanya saja.
"Memangnya Aruna tidak mengatakan dengan jujur siapa dia?" tanya Lina.
Vesha menggelengkan kepalanya. "Tidak, Kak!" jawab Vesha.
"Aiiisshshh, kebiasaan kamu." Sandra langsung menjewer telinga Aruna hingga gadis itu merintih kesakitan.
"Sakit, Kak!" rengek Arun sambil mengusap telinganya.
Lina hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. "Aruna itu adik sepupu Mas Justin. Dia memang sengaja tidak memberikan informasi lebih tentang kehidupannya," jawab Lina.
Jawaban Lina benar-benar membuat Vesha terkejut. Sebenarnya masih banyak yang ingin Vesha tanyakan tentang Aruna. Akan tetapi, segera ia urungkan mengingat acara telah dimulai. Sambutan demi sambutan diberikan oleh Richard dan juga Sandra.
Vesha benar-benar sangat mengagumi sosok Sandra yang sangat cantik. Bahkan Sandra dan Aaram tidak segan-segan menunjukkan kemesraan mereka di depan umum. Keluarga mereka terlihat sangat bahagia, tambah lagi dengan dua anak kembar yang sangat menggemaskan.
Bryan menggenggam tangan Vesha dan tersenyum padanya. Bahkan Bryan pun menarik sedikit kursi yang didudukinya untuk lebih dekat dengan Vesha.
"Aku mencintaimu," Bryan mengecup pipi Vesha.
Membuat wanita itu menatap tajam suaminya. Bryan hanya tersenyum menanggapi kekesalan sang istri.
Pesta pun kembali meriah, suasana semakin riuh. Suara dentuman musik semakin memeriahkan pesta malam ini. Terlihat Sagara begitu menikmati pesta itu bersama Aruna, bahkan Vesha sempat mengabadikan momen indah saat keduanya berjoget bersama. Dari kejauhan seseorang terus memperhatikan mereka.
__ADS_1
Sagara dan Aruna terlihat sangat serasi dan tercetak jelas wajah bahagia mereka. Merasa sudah cukup berjoget bersama, Sagara dan Aruna pun memutuskan untuk beristirahat. Seorang pelayan menawarkan mereka minum, tanpa merasa curiga Sagara dan Aruna pun mengambil minuman tersebut.