CINTA GAVESHA

CINTA GAVESHA
Ungkapan Perasaan


__ADS_3

"Aku serius, Sha. Aku tidak pernah bermain-main soal menjalin hubungan dengan seseorang yang aku cintai. Bukankah aku pernah mengatakannya padamu saat kita ke danau bulan lalu," ucap Bryan bersungguh-sungguh.


"Aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu. Disaat kamu menangis di dalam mobil taksiku," lanjut Bryan.


Vesha dibuat tidak bisa berkata apapun oleh Bryan. Pria yang baru saja dikenalnya beberapa bulan lalu. Vesha tidak menyangka kalau pertemuan mereka membuat Bryan langsung jatuh cinta kepadanya di pandangan pertama.


Vesha masih bergeming, dia bingung harus menjawab apa. Disatu sisi hatinya masih tersimpan nama Sagara. Namun disisi lain, hatinya masih merasakan sakit atas sikap dan perilaku dari pria tersebut.


Bryan tersenyum melihat Vesha hanya diam dan tidak menjawab. Bryan tahu ini terlalu cepat untuk Vesha menerima dirinya. Bagaimanapun juga Bryan tahu kalau Vesha masih merasakan sakit hati atas kejadian lalu antara dirinya dengan Sagara.


Bryan meraih kedua tangan Vesha dan menggenggamnya sambil memberi usapan lembut.


"Aku tahu kamu masih merasakan luka atas apa yang dilakukan oleh mantan kekasihmu terdahulu. Aku juga tahu kalau kamu masih belum siap untuk menerima diriku sebagai pengganti mantanmu itu dihatimu. Tapi kamu harus tahu, aku sangat mencintaimu dan menerima dirimu apa adanya. Aku akan selalu menunggumu untuk kembali membuka hatimu," ungkap Bryan yang terlihat begitu tulus.


Vesha kembali merasakan sesuatu yang aneh dalam hatinya. Ada rasa sesak bercampur senang, namun dirinya sulit untuk mengungkapkan isi hatinya.


Vesha sangat senang mengetahui kalau masih ada seorang pria yang mau mencintainya. Akan tetapi Vesha ragu, ia takut kalau dirinya akan merasakan sakit hati yang sama. Vesha menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Gadis itu menatap sendu ke arah Bryan. "Maaf, a-aku tidak bisa," ucap Vesha.


Hanya itu yang dapat diucapkan oleh gadis itu. Bryan sedikit kecewa mendengar jawaban Vesha, akan tetapi Bryan mengerti posisi Vesha saat ini. Bryan tersenyum dan menarik tubuh Vesha. Tanpa penolakan, gadis itu pun menurut dan bahkan membalas pelukan Bryan.


"Aku akan menunggumu sampai kamu benar-benar menerimaku dan juga mencintaiku. Aku minta kepadamu jangan pernah melarangku untuk bertemu denganmu. Kamu tahu rasanya sangat sakit saat kamu memintaku untuk tidak menemuimu lagi waktu itu," bisik Bryan yang masih memeluk Vesha.


Air mata gadis itu sudah menetes, Vesha segera menghapus air matanya. Gadis itu pun mengangguk di dalam pelukan Bryan. Bagi Bryan biarlah seperti ini, dekat tapi mesra. Vesha masih butuh waktu, selama itu dirinya hanya harus berjuang dan meyakinkan Vesha kalau dirinya benar-benar serius dalam menjalin hubungan tersebut bersama Vesha.


Bryan mengajak Vesha untuk kembali pulang, karena jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Bryan tidak ingin dicap sebagai pria yang tidak menepati janjinya pada kedua orang tua Vesha.


Mobil Bryan sudah berhenti di depan rumah Vesha. Bryan pun kembali membukakan pintu untuk Vesha.


"Terima kasih,"


"Sama-sama Tuan Putri,"


Mereka saling melempar senyuman dengan wajah senang dan malu. Vesha pun masuk ke dalam dengan diikuti Bryan dibelakangnya.


"Kenapa kamu mengikutiku?" tanya Vesha yang heran melihat Bryan ada di belakangnya.


"Ijinkan aku berpamitan dengan kedua orang tuamu. Karena tadi aku mengajakmu terlebih dahulu meminta izin kepada mereka," jawab Bryan.


Vesha nampak ragu, ia pun melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. "Biasanya jam segini mereka sudah tidur," ucap Vesha.


Bryan menaikkan satu alisnya. "Kamu yakin?" tanya Bryan.


Vesha pun menautkan kedua alisnya. "Kamu tidak percaya denganku? Aku kan anak mereka dan aku setiap hari dekat dengan mereka. Jadi aku tahu kalau jam segini Papa dan Mama sudah tidur," jawab Vesha bernada ketus.


Bryan tertawa kecil, pria itu menarik hidung Vesha dengan pelan. Membuat gadis itu langsung menepis tangan Bryan dengan pukulan pelan.


"Coba kamu lihat ke dalam," ujar Bryan.


Vesha masih terus mengerutkan dahinya, dirinya tidak membantah atau bertanya lagi. Gadis itu membuka pintu dan ternyata di ruang tamu ada Adam dan Vita yang sedang duduk manis menunggu kedatangan Vesha.


"Papa, Mama, kalian belum tidur?" tanya Vesha sambil membuka pintu lebar-lebar.


Bryan pun segera berdiri di samping vesha. Adam dan Vita yang sedang sibuk masing-masing pun segera menoleh saat tadi pintu terbuka. Mereka berdua tersenyum dan berdiri. Vita menaruh novelnya di meja, sedangkan Adam segera menutup layar laptopnya.


"Kalian sudah pulang, bagaimana seru?" tanya Adam.

__ADS_1


Adam dan Vita menghampiri keduanya yang sedang berdiri di depan pintu. Vesha tersenyum dan mengangguk.


"Seru, Pa!" jawab Vesha dengan ekspresi senangnya.


Bryan hanya tersenyum melihat Vesha yang terlihat sangat senang. Bryan pun menatap kedua orang tua Vesha.


"Saya pamit, Om, Tante," ucap Bryan.


"Lho, tidak mau ngopi atau minum teh dulu?" tanya Vita.


Bryan tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. "Tidak Tante, ini sudah malam. Nggak enak sama tetangga kalau Saya masih bertamu malam-malam begini," jawab Bryan dengan sopan.


Vita tersenyum. "Ya, sudah! lain kali saja, kalau kamu main lagi ke sini. Makannya kalau main jangan malam-malam," ujar Vita.


Vesha tercengang mendengar ucapan sang mama, dalam benaknya Vesha merasa sangat bingung pada kedua orang tuanya. Kenapa mereka begitu welcome saat Bryan datang. Padahal ini pertama kalinya mereka bertemu dengan pria itu.


"Iya, Tante. Nanti Saya akan main lagi ke sini," jawab Bryan dengan senang hati.


Vita tersenyum dan mengangguk, Adam pun hanya diam sambil memperhatikan Bryan. Bryan pun berpamitan dengan kedua orang tua Vesha sambil mencium punggung telapang mereka sebagai tanpa berpamitan.


Sepeninggalnya Bryan, Vesha segera menutup pintu dan menatap satu persatu kedua orang tuanya dengan tatapan mencurigai dan penuh tanda tanya.


"Kenapa kamu menatap kami seperti itu, Vesha?" tegur Vita yang merasa tidak enak ditatap aneh oleh anak sendiri.


"Iya, kamu kenapa melihat Papa sama Mama seperti mencurigai begitu!" sambung Adam membenarkan apa yang dikatakan istrinya.


Vesha menautkan kedua ujung alisnya. "Aku heran sama Mama, tidak biasanya Mama atau Papa welcome sama teman priaku yang datang berkunjung ke sini. Apa ada sesuatu yang kalian berdua rencanakan?" selidik Vesha pada kedua orang tuanya.


Adam dan Vita menghela nafasnya. "Astaghfirullah," ucap keduanya bersamaan helaan nafas lelah mereka.


"Papa tidak menyangka kamu akan berpikir seperti itu sama kami," ucap Adam.


Vesha menaikkan kedua bahunya. "Ya, aku tidak tahu. Tapi kalian berdua terlihat mencurigakan, Ma, Pa. Apalagi tadi Mama terlihat sangat welcome sama Bryan. Padahal kan dia baru saja bertemu dengan kalian," cetus Vesha.


Adam dan Vita saling melirik. "Oh itu," Vita menggantung ucapannya.


Vita menelan salivanya. "Itu karena Mama merasa tidak asing dengan wajah Bryan. Mama sepertinya pernah melihat wajah itu, tapi dimana ya?" Vita terlihat sedang berpikir.


Wanita itu seolah sedang mengingat-ingat wajah yang begitu familiar di dalam ingatannya. Vesha menelan salivanya kasar, bagaimanapun juga kedua orang tuanya tidak boleh tahu kalau Bryan adalah putra sulung dari keluarga Heinzee.


"Sudahlah, Ma. Ini sudah malam, sebaiknya Mama dan Papa kembali ke kamar. Aku juga sudah sangat mengantuk," Vesha menguap sangat lebar.


Gadis itu terlihat sangat lelah. Adam pun mengiyakan usulan Vesha. Pria itu mengajak sang istri untuk kembali ke kamar mereka. Karena besok mereka masih ada pekerjaan yang menanti, mengingat besok adalah hari Kamis.


*


Bryan sudah tiba di rumah kedua orang tuanya. Biasanya Bryan akan tinggal di rumahnya sendiri, tetapi mengingat janjinya dengan sang adik untuk selalu ada di rumah saat dirinya sedang berkuliah di luar negeri.


Bryan baru saja masuk ke dalam dan dirinya sudah disambut oleh Sean yang memang sengaja menunggu anaknya pulang.


"Darimana kamu, Bryan?" tanya Sean.


Bryan menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya menghadap sang ayah.


"Aku habis dari rumah teman, Dad."


Bryan menjawab dengan begitu santai, bahkan Sean dapat melihat kalau putranya saat ini sedang merasakan bahagia.

__ADS_1


Sean nampak menaikkan satu alisnya. "Teman atau?"


"Baru calon, Dad. Doakan Bryan agar bisa mendapatkan hatinya," jawab Bryan yang sengaja memotong ucapan Sean.


Sean mengangguk seraya membuka mulutnya hingga berbentuk huruf O. "Oh, baru calon. Kenapa tidak kamu lamar saja?" cetus Sean seraya bertanya.


Bryan tersenyum miring. "Eum, dia masih kuliah. Bryan tidak ingin mengganggu kuliahnya," jawab Bryan sedikit berbohong.


"Memangnya kenapa, Mommy kamu saja Daddy nikahi pas baru masuk kuliah. Mommy tidak merasa terganggu dengan pernikahan kami. Bahkan Mommy bisa lulus dengan nilai terbaik," balas Sean.


"Sudah, kasih tahu Daddy siapa wanita itu? Biar Daddy dan Mommy seleksi kembali," sambung Sean seraya berkacak pinggang.


Bryan tertawa kecil. "Tidak perlu, Dad. Bryan bisa sendiri, yang jelas gadis ini dari keluarga baik-baik." jawab Bryan.


Sean nampak menghela nafasnya. "Ya sudah, terserah kamu saja."


"Bryan ke kamar dulu, Dad. Selamat malam,"


"Hmm, malam,"


Sean masih menatap punggung Bryan yang telah menaiki anak tangga menuju lantai dua rumahnya. Wajah Sean nampak berubah serius, pria itu segera berjalan menuju ruang kerjanya.


Selang beberapa.menit, seseorang berperawakan tinggi dan masih muda masuk ke dalam ruang kerja Sean.


"Selamat malam, Tuan."


Sean melirik sekilas. "Malam, maafkan Om yang terpaksa memintamu ke sini, Devan."


Devan tersenyum, ia adalah asisten Sean. Pria berusia 35 tahun itu bekerja menjadi asisten Sean, karena meneruskan pekerjaan mendiang ayahnya yang meninggal 3 tahun lalu.


"Tidak apa, Om. Ada apa Om memanggil Devan?" tanya Devan.


"Duduk dulu," pinta Sean meminta Decan untuk duduk di sebelahnya.


Sean nampak berpikir. "Dev, apakah akhir-akhir ini kami tahu gadis mana yang sedang dekat dengan Bryan?" tanya Sean.


Devan mengerutkan dahinya. "Sebenarnya ini rahasia, Om."


Devan menghela nafasnya sebelum melanjutkan ucapannya. "Devan harap Om tidak membuat Bryan marah atau kesal. Beberapa bulan yang lalu, Devan pernah diperintahkan untuk mengawasi seorang gadis oleh Bryan. Saat itu Bryan sedang Om perintahkan ke Thailand untuk mengurus perusahaan cabang," jawab Devan.


Sean membenarkan posisi duduknya. "Benarkah? Siapa namanya?" selidik Sean.


Devan nampak berpikir, karena terlihat jelas kerutan dahinya yangembentuk tiga barisan.


"Kalau tidak salah, namanya Gavesha. Dia berkuliah di kampus XX semester akhir," jawab Devan.


Sean mengangguk pelan sambil mengusap dagunya. "Kamu memiliki data pribadinya?" tanya Sean.


"Ada, Om. Nanti Devan kirim lewat email," jawab Devan


Sean tersenyum. "Bagus, Om tunggu. Jangan lama-lama, karena Om sangat penasaran sama gadis yang sudah membuat senyum Bryan kembali lagi," ucap Sean.


Devan menaikkan satu alisnya. "Gadis itu cantik, Om. Jangan sampai Om juga ikut terpikat oleh gadis itu. Bisa-bisa Tante Naura menghukum Om lagi," goda Devan.


Sean melototkan matanya. "Sembarangan kamu, hati-hati kalau bicara. Jangan bikin Tante kamu salah paham lagi," cetus Sean yang langsung memukul lengan Devan pelan.


Devan tertawa. "Aku 'kan hanya bercanda, Om." Devan berkata sambil terus tertawa geli.

__ADS_1


Sean nampak masih kesal dengan godaan asisten yang sudah dianggap keponakannya itu.


"Awas saja kalau sampai Tante kamu salah paham tentang ini. Kamu harus menjelaskannya lebih detail," ancam Sean yang hanya ditanggapi tawa oleh Devan.


__ADS_2