
Senyum Gricella tidak pernah luntur dari wajahnya. Semenjak mendengar penolakan dari Chandra pada Yanto, membuat hatinya menjadi tenang. Sangat tenang dan bahagia, mungkin. Bahkan Gricella sendiri tidak bisa menggambarkannya, apa yang terjadi terhadapnya.
Bryan mengerutkan dahinya saat melihat Gricella senyum-senyum sendiri. Bahkan Sean pun ikut menatap sang putri dengan tatapan penuh tanya. Bryan mengangkat kedua bahunya saat Sean memberi tatapan penuh tanya itu padanya. Sean menghela nafas sembari menggelengkan kepalanya.
Ketiganya saat ini sedang menikmati makan malam bersama. Naura sudah diperbolehkan pulang hari ini, dan saat ini wanita itu masih berada di dalam kamar bersama seorang suster yang sedang membantunya untuk makan malam.
"Cella," panggil Sean.
Gricella pun mendongakkan kepalanya. "Iya, Dad. Ada apa?" tanya Gricella.
"Kau baik-baik saja?" bukannya menjawab Sean malah berbalik bertanya.
Dahi Gricella berkerut, ia merasa heran dengan pertanyaan dari sang daddy.
"Aku baik-baik saja. Memangnya ada yang aneh denganku?" jawab Gricella.
Sean melirik sekilas ke arah Bryan. "Tapi, sejak tadi kamu senyum-senyum sendiri. Apakah ada yang membuat hatimu senang, hmm? Sampai kamu senyum terus seperti itu,"
Senyum Gricella semakin lebar. "Hari ini hatiku sangat senang dan bahagia," jawab Gricella.
Bryan menaikkan satu alisnya. "Kau sedang jatuh cinta?" celetuk Bryan saat melontarkan sebuah pertanyaan.
Gricella tersedak air liurnya sendiri ketika mendapati pertanyaan tersebut dari sang kakak. Gadis itu meraih segelas air yang diberikan Sean untuknya.
"Pertanyaan macam apa itu? Aku tidak sedang jatuh cinta," sahut Gricella seraya menundukkan kepalanya.
"Tapi sepertinya, iya. Aku sedang jatuh cinta pada pria itu," gumamnya dalam hati.
Gricella terpaksa berbohong, ia tidak berani mengatakan hal itu di depan ayah dan kakaknya sendiri. Dia lebih memilih memendamnya terlebih dahulu, jika sudah terealisasikan barulah Gricella mengatakan semuanya pada kedua orang tuanya dan juga pada Bryan.
Bryan dan Sean tersenyum miring, keduanya pun saling melirik. Mereka tahu kalau saat ini Gricella sedang merasakan jatuh cinta.
"Jangan berbohong sama Kakak apalagi di hadapan Daddy. Kami tahu kalau kamu sedang jatuh cinta," celetuk Bryan membuat Gricella kembali mendongakkan kepalanya.
Sean semakin tersenyum lebar saat melihat wajah putrinya yang seketika itu juga memerah karena malu.
"Daddy jadi penasaran, siapa sih pria yang berhasil mencuri hati putri Daddy?" tanya Sean.
Wajah Gricella semakin memerah menahan rasa malunya. "Daddy," lirihnya.
__ADS_1
Bryan dan Sean pun akhirnya tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Gricella yang seperti ABG baru mengenal cinta.
"Apakah dia pria baik-baik?" tanya Sean.
Gricella tersenyum simpul. "Iya, Dad. Tapi, sepertinya dia tidak suka denganku," lirih Gricella.
Sean dan Bryan mengerutkan dahinya. "Jadi cinta bertepuk sebelah tangan?" ledek Sean seraya menahan tawanya.
Gricella berdecak kesal. "Ish, bukan begitu! Bahkan aku menyukainya saja dia tidak tahu," bela gadis itu sambil menunduk.
"Ya, kamu beritahukan saja kalau kamu mencintainya. Simple kan?" usul Bryan.
Gricella semakin menundukkan wajahnya dan hanya mengaduk-aduk makanannya.
"Masalahnya kesan pertama jumpa pertama kali waktu itu, aku bersikap sangat arogan dan tidak ramah," lirih Gricella.
Bryan paham kondisi Gricella, memang sikap Gricella agak sedikit arogan dan angkuh. Bryan tahu itu, akan tetapi semenjak kejadian sang mama kecelakaan sikap Gricella semakin kesini semakin ada perubahan lebih baik. Bryan pun melirik ke arah Sean yang sedang menggaruk keningnya yang tidak gatal.
"Ya sudah, habiskan makananmu. Jangan sampai kau tidak makan karena memikirkan cinta," cetus Sean.
Gricella semakin nampak lesu, bahkan selera makannya mendadak menghilang begitu saja.
"Aku sudah kenyang," ucap Gricella.
"Biarkan saja. Kita beri dia waktu," ucap Sean saat melihat Bryan yang hendak meninggalkan meja makan.
Bryan menghela nafasnya, dan hanya menuruti apa yang diucapkan sang ayah. Bryan pun mengerti akan perasaan Gricella saat ini. Memang jatuh cinta itu benar-benar bisa membuat kita lupa akan diri sendiri. Ia pun juga seperti itu, namun akhirnya ia memenangkan cinta itu.
Ah, Bryan seketika teringat dengan sang kekasih. Maka dari itu Bryan segera menghabiskan makanannya. Setelah habis, Bryan izin ke kamar sang mommy. Sean pun hanya mengangguk menyetujui keinginan Bryan.
Bryan bergegas menuju kamar sang mammy yang ada di lantai bawah dekat kamar tamu. Setelah di depan pintu kamar, ia pun mengetuk pintu.
Saat masuk ke kamar orang tuanya, Bryan dapat melihat Naura sedang tersenyum lebar sambil duduk di tempat tidurnya.
"Ada apa, hmm? Pasti kangen ya, sama Mommy?" goda Naura pada Bryan.
Bryan terkekeh mendengar godaan dari sang mommy. "Iya, aku merindukan Mommy." jawabnya dengan jujur.
Bryan langsung duduk di dekat sang Naura, karena wanita itu pun memintanya untuk duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Vesha? Apakah dia mau menikah denganmu?" tanya Naura.
Bryan masih menampilkan senyum manisnya. "Tentu, Mom. Bahkan dia tidak bisa menolak," jawab Bryan dengan percaya diri.
Naura dapat bernafas lega. "Apakah dia juga mau memaafkan Mommy?" tanya wanita itu lagi dengan tatapan sendu.
"Vesha sudah memaafkan Mommy jauh sebelum Mommy minta maaf padanya," jawab Bryan.
"Tapi, rasanya Mommy belum bisa merasa tenang sebelum minta maaf padanya secara langsung. Mommy juga ingin minta maaf kepada kedua orang tua Vesha," ujar Naura.
"Izinkan Mommy menemui mereka. Mommy sangat ingin bertemu Vesha dan keluarganya. Ya, sekalian melamarnya secara langsung," sambung Naura seraya tersenyum.
Bryan menganggukkan kepalanya. "Oke, nanti Bryan bicarakan hal ini pada Daddy juga," jawab Bryan.
Naura menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, Daddy kamu sudah mendengarnya," ucap Naura seraya menunjuk ke arah pintu dengan dagunya.
Bryan pun menoleh dan sedikit membalikkan tubuhnya ke arah pintu. Dahinya berkerut saat melihat Sean sedang berdiri sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana pendeknya.
Bryan berdecak sambil memutar bola matanya malas. "Sejak kapan Daddy berdiri di situ?" tanya Bryan.
Sean tersenyum sambil berjalan menghampiri keduanya. "Sejak kau duduk di sebelah Mommy kamu," jawab Sean dengan santai.
Ya, memang Sean langsung menyusul Bryan ke kamarnya. Saat Naura meminta Bryan untuk duduk di sebelahnya, Sean masuk dan memberi kode pada Naura untuk jangan memberitahukan Bryan kalau dirinya ada di kamar itu juga.
Naura hanya tersenyum melihat tingkah suami dan putranya itu. Sedangkan Bryan hanya mencebikkan bibirnya saja.
"Jadi Daddy mendengar semua pembicaraan aku dan Mommy?" selidik Bryan dengan memicingkan kedua matanya.
Sean tersenyum miring sambil naik ke tempat tidur. "Tentulah, kan Daddy punya telinga," celetuk Sean.
Bryan sebenarnya sangat gedeg banget sama sang daddy, karena menjawab seperti itu. Bryan hanya bisa menatap sinis pada Sean, namun yang ditatap hanya tersenyum tipis.
"Jadi kapan mau ke Surabaya untuk melamar Vesha?" tanya Sean.
"Lebih cepat lebih baik," sambungnya lagi.
Naura menganggukkan kepalanya. "Benar apa yang dikatakan Daddy kamu. Sesuatu yang baik harus segera disegerakan. Jangan ditunda-tunda terus," ucap Naura membenarkan apa yang Sean katakan.
Bryan tersenyum di depan Naura. "Iya, Mom. Mungkin malam ini Bryan akan membicarakannya terlebih dahulu pada Vesha dan Om Adam. Biar nanti kesananya juga ada persiapan, karena Om Adam sudah berpesan pada Bryan, agar tidak mendadak datang ke sana," jawab Bryan.
__ADS_1
"Ya sudah, kamu bicarakan hal ini dulu pada Vesha dan sampaikan keinginan kita yang mau datang melamar. Kalau bisa Sabtu ini kita semua datang ke Surabaya," ucap Sean.
"Iya, Dad. Kalau begitu Bryan ke kamar dulu."