
Menjelang siang, Angga dan Rico kembali ke rumah sakit atas permintaan Sean. Saat ini Sean sedang menginterogasi Angga dan juga Gricella terkait kejadian saat Naura mengusir Vesha dari perusahaan. Sean masih sangat ingin tahu awal bagaimana Vesha mengundurkan diri secara paksa.
Angga pun menceritakan versinya sendiri, dan dibenarkan oleh Gricella. Jadi pada intinya Angga tidak tahu menahu soal kedatangan Naura dan juga Gricella ke perusahaan itu. Sean juga memaklumi ketidak berdayaan Angga dalam mencegah Naura yang meminta Vesha keluar dari perusahaan itu.
Sean memijat pangkal hidungnya yang mulai berdenyut. Gricella pun mengusap punggung belakang Sean.
"Maafkan aku, Dad. Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Semua diluar kuasaku, Daddy." ucap lirih Gricella.
"Tidak apa, Nak. Jangan berkecil hati seperti itu, kita akan terus mencari Vesha dan meminta maaf padanya." jawab Sean.
Ponsel Angga pun berdering, sebuah panggilan dari Devano mengalihkan perhatiannya. Angga izin keluar untuk bicara sebentar dengan Devano di telepon, Sean pun mempersilakannya.
Setelah beberapa menit berbincang dengan Devano, Angga pun masuk kembali ke ruang VIP.
"Apa yang dikatakan Devano, Ga?" tanya Sean.
"Mereka sudah tiba di tanah air, Tuan." jawab Angga.
Sean menghela nafasnya, lalu ia melirik ke arah Naura yang masih belum sadarkan diri. Gricella terlihat begitu gelisah, saat mengetahui sang kakak sudah kembali. Sean pun tahu kalau putrinya merasa takut akan kemarahan Bryan.
"Tenanglah, Nak! Kita akan menjelaskan semuanya pada Kakakmu," ujar Sean menenangan Gricella.
Tidak lama ponsel Rico pun berdering, sebuah pesan dari orang suruhannya semakin membuat Rico panik.
"Gawat!" lirih Rico.
Semuanya menoleh ke arah Rico. Rico pun menatap satu persatu yang duduk di hadapannya.
"Ada apa, Ric?" tanya Angga.
Rico memasang wajah gusar. "Nona Vesha tidak ada di Surabaya," jawab Rico
"Apa?" panik Sean, Gricella dan juga Angga.
"Apa kau yakin, siapa tahu orang suruhanmu itu tidak tahu wajah Vesha. Karena kamu tidak memberitahukannya," ucap Sean.
"Tidak Tuan, saya sudah mengirim data dan foto terbaru Nona Vesha. Mereka sudah memastikan kalau Nona Vesha tidak ada di rumah neneknya. Bahkan mereka juga sudah mengecek ke rumah sakit dimana Neneknya Nona Vesha di rawat," jawab Rico.
Sean mengusap wajahnya, bahkan terdengar jelas helaan nafas gusarnya.
"Sepertinya memang aku yang harus memberitahukan hal ini secepatnya pada Bryan. Aku akan menunggu mereka kembali, dan aku akan mencarinya bersama mereka," kata Sean.
Sementara itu di belahan kota lain, seorang gadis sedang duduk sambil menikmati angin sepoi-sepoi di bbawah pohon kelapa dengan pemandangan pasir putih dan deburan ombak yang mampu menenangkan hati dan pikiran.
__ADS_1
"Vesha," panggil seorang.
Gadis itu adalah Vesha, merasa namanya dipanggil pun ia menoleh dan tersenyum.
"Sini!" titah Vesha pada gadis seumurannya.
"Bagaimana tempatnya? Kamu suka?" tanya gadis itu.
Vesha mengangguk. "Hmm, aku sangat suka. Bagaimana bisa kamu punya pikiran seperti ini, Shen? Bukankah seharusnya aku ada di Surabaya saat ini?"
Shena tersenyum. "Ini semua aku lakukan untukmu dan atas persetujuan Papa Adam dan Mama Vira," jawab Shena santai.
Dahi Vesha berkerut dan memicingkan matanya pada Shena. "Jadi kamu sudah merencanakan ini semua sama Mama dan Papa?" tanya balik Vesha.
Shena pun mengangguk. "Jadi setelah kamu bercerita kalau kamu diusir oleh penyihir itu dari perusahaan. Malam harinya aku menceritakan kembali pada Mama Vita. Makanya Papa Adam meminta kamu untuk secepatnya datang ke Surabaya dengan alasan Nenek sudah sangat merindukan kamu." jawab Shena.
"Semua itu hanya rekayasa Papa saja, Papa sangat khawatir dengan dirimu. Papa juga tidak ingin kamu tahu kalau sebenarnya mereka sudah mengetahui apa yang terjadi padamu. Lalu saat semalam kita membantu si penyihir itu ke rumah sakit, aku pun sempat berkirim kabar dengan mereka. Aku meminta mereka untuk tidak mengirimkan pesan padamu dan bersikap biasa saja."
"Hingga akhirnya kamu memilih untuk mendonorkan darahmu pada si penyihir itu. Jujur aku sangat kesal, dan selama kamu berada di ruang UGD aku kembali berkomunikasi dengan kedua orang tuamu. Aku menyampaikan apa yang terjadi ada mereka dan tentu saja mereka pun juga sangat kesal dengan keputusanmu itu."
"Dan saat tiba di rumah, aku kembali berkirim pesan dengan Mama. Aku mengatakan ingin mengajak kamu kesuatu tempat terlebih dahulu untuk menenangkan pikiranmu,"
"Kamu tahu, Sha. Aku melakukan ini juga karena untuk mengalihkan perhatian dari orang-orang suruhan Om Sean,"
Shena menggelengkan kepalanya. "Kamu tidak membuat kesalahan apapun. Tapi aku sangat yakin kalau orang suruhan Om Sean sedang mencarimu dan ingin kamu kembali ke perusahaan. Tanpa sengaja semalam aku mendengar percakapan antara Om Sean dan juga Gricella. Gricella sudah memberitahukan semuanya soal kejadian itu, dan kau tahu…. Om Sean sangat kesal dan marah mendengar kejujuran Gricella."
"Aku sangat yakin kalau Om Sean dan Gricella sedang gelisah karena tidak menemukanmu di rumah. Tambah lagi laporan dari satpam perumahan kamu, yang baru saja mengatakan kalau ada dua orang pria datang ke rumah dan menanyakan dirimu,"
Vesha tercengang mendengar penjelasan Shena. Gadis itu tidak menyangka kalau kejadiannya akan seperti ini. Vesha juga tidak menyangka kalau Shena memiliki pemikiran jauh untuk melindungi dirinya.
"Apa kamu yakin kalau mereka ingin aku kembali ke perusahaan itu? Tapi kenapa, bukankah Nyonya Naura sendiri yang menginginkan aku keluar dari perusahaan itu?" bingung Vesha.
Shena tersenyum sinis. "Karena Bryan tidak tahu kau mengundurkan diri dari perusahaan itu, Vesha. Aku sangat yakin mereka takut akan kemarahan Bryan," jawab Shena menebak apa yang terjadi.
"Terima kasih, Shen. Aku sangat beruntung mendapatkan sahabat seperti kamu," ucap Vesha.
Shena tersenyum dan merentangkan kedua tangannya. Vesha pun membalasnya dan memeluk sahabatnya itu.
"Kita bersaudara, Sha. Ingat itu!" jawab Shena disela pelukan mereka.
Vesha mengangguk dan tertawa kecil. "Iya, maafkan aku yang sering lupa kalau kamu itu saudara aku." ledek Vesha.
Shena langsung melepaskan pelukannya begitu saja. "Menyebalkan sekali," ketus Shena.
__ADS_1
Vesha hanya tertawa melihat kekesalan Shena, lalu Vesha menyenggol lengan Shena dengan menampilkan cengiran di wajahnya.
"Bagaimana dengan Marvin?" tanya Vesha sambil memainkan kedua alisnya naik turun.
Shena pun mengerutkan dahinya. "Kenapa jadi tanya manusia itu?" kebiasaan sekali, bukannya menjawab malah bertanya kembali.
Vesha tersenyum miring. "Jangan bohong sama aku, Shen. Kamu tadi habis telponan sama Marvin, kan? Ngaku sajalah… untuk apa sih kamu sembunyikan kedekatan kamu sama dia?"
Shena mendengus kesal. "Ya, memang tidak ada untuk apa-apa. Tapi aku sama Marvin memang hanya dekat sebagai teman saja. Kebetulan Mamanya Marvin itu pasien aku, Sha. Jadi Marvin selalu konsultasi sama aku mengenai kesehatan Mamanya itu," jawab Shena.
"Oh, begitu!" cetus Vesha seraya menganggukkan kepalanya.
"Sudah, yuk! Mendingan kita masuk, makan siang sudah disiapkan," ajak Shena pada Vesha.
"Ayo!"
Keduanya pun masuk ke villa untuk makan siang yang sudah terlewat satu jam. Ditempat lain, Marvin yang sedang mengecek beberapa berkas yang harus di tanda tanganinya selalu bersin-bersin.
Marvin mengusap hidungnya dengan satu jari. Pria itu mulai merasa risih karena tiba-tiba saja hidungnya selalu terasa gatal.
"Aish, gatel banget ini hidung!" gumam Marvin yang masih mengusap hidungnya.
Pintu ruangan Marvin pun terbuka, dan Langit datang sambil membawa beberapa berkas.
"Ini laporan yang kamu minta kemarin," ucap pria itu seraya menyodorkan map biru di depan Marvin.
Marvin pun meraih map tersebut. "Oke, thanks!" jawab Marvin.
"Barusan Saga telpon, katanya rumah Vesha terlihat sangat sepi. Apa kamu tahu Vesha kemana?" tanya Langit.
Marvin mengerutkan dahinya sambil mengedikkan bahunya. "Kenapa tanya aku? Mungkin dia sedang keluar kota sama si Bryan," tanya balik Marvin.
"Ya, mungkin saja kamu tahu kemana Vesha pergi. Karena aku tahu kamu sangat dekat dengan sahabatnya Vesha. Lagipula Vesha tidak pergi dengan Bryan, karena pria itu sedang berada di Paris," celetuk Langit.
Marvin menggelengkan kepalanya. "Aku memang dekat dan sering komunikasi dengan baik sama sahabatnya Vesha. Tapi kalau untuk tanya soal Vesha aku tidak pernah. Lagipula kamu tahu darimana, kalau Bryan sedang ke Paris?" jawab Marvin sambil bertanya.
"Coba saja tanya Chandra. Siapa tahu saja dia tahu Vesha kemana," usul Marvin.
"Kau lupa Abang sepupuku bekerja di perusahaan yang Bryan pimpin. Sudah aku tanyakan pada Chandra. Tapi dia juga tidak tahu," jawab Langit.
Marvin nampak berpikir sejenak. "Maksudmu Bang Rico?" tanya pria itu dan dibalas anggukan oleh Langit.
Marvin merapatkan bibirnya. "Nanti aku coba tanyakan sama Shena. Semoga saja Vesha baik-baik saja," ucap Marvin.
__ADS_1