CINTA GAVESHA

CINTA GAVESHA
Sarang Semut


__ADS_3

Sagara membawa Aurel ke belakang gedung kampus, lebih tepatnya dekat area parkir. Saga menghempaskan tangan Aurel dengan cukup kasar.


"Kamu tahu nggak apa kesalahan kamu, Rel?"


"Mau sampai kapan kamu bersikap seperti itu pada Vesha?" tanya Sagara dengan intonasi penuh kekesalan.


Aurel menundukkan kepalanya saat mendapat pertanyaan seperti itu dari kekasihnya. Bahkan suara Sagara terdengar seperti orang yang sangat marah terhadapnya.


"Ma-maaf, kak!" jawab Aurel dengan suara lirih.


"A-aku hanya tidak suka melihat Kakak dekat-dekat dengan Kak Vesha," jawab Aurel kembali dengan suara terbata.


Sagara mengusap wajahnya dengan kasar. Sagara tidak habis pikir dengan jalan pikiran Aurel yang terlalu cemburuan.


"Astaga, Aurel. Aku dengan Vesha tidak ada apa-apa, kami hanya berteman. Vesha juga selalu menjaga jarak denganku karena dia juga menghargaimu sebagai kekasihku. Tapi, kamu malah memperlakukan Vesha seperti itu," sahit Sagara dengan hati yang sangat kesal.


Mara Aurel mulai mengembun. "Maaf, Kak!"


Sagara berdecak kesal. "Kamu selalu saja minta maaf. Tetapi kamu terus mengulanginya lagi, Rel. Kalau kamu terus seperti ini sebaiknya kita selesai sampai sini saja, Rel. Jujur aku capek ngadepin sikap childish kamu," keluh Sagara dengan perasaan lega karena telah mengungkapkan perasaannya yang terpendam selama ini.


Aurel tercengang mendengar perkataan Sagara. Gadis itu menggelengkan kepalanya.


"Nggak, Kak. Aku nggak mau kita putus, aku sangat mencintai Kak Saga."


Aurel memohon dengan menggenggam kedua tangan Sagara. Sagara mengalihkan tatapannya ke sembarang arah, kali ini ia tidak ingin kembali luluh saat melihat wajah Aurel yang memelas.


Sagara kembali menghempaskan tangan Aurel dengan kasar. "Maaf, Rel. Ini sudah menjadi keputusan aku. Aku lelah, Rel. Aku juga butuh health mental dalam kehidupanku," ucap Sagara.


"Jujur ngadepin sikap kamu yang childish seperti ini membuat aku gila, Rel." pekik Sagara.


Pria itu terlihat sangat marah pada Aurel. Sedangkan aurel semakin tergugu mendengar ucapan Sagara. Beberapa menit berlalu, akhirnya Sagara memilih untuk pergi dari tempat tersebut dan meninggalkan Aurel sendirian di area parkir. Kaki Aurel terasa lemas, gadis itu pun merosotkan tubuhnya di jalan beraspal.


Gadis itu menangis sendirian meluapkan kesedihannya. Sedangkan Sagara sendiri sudah pergi meninggalkan Aurel di kampus. Selang beberapa menit Saga pergi, Langit dan Marvin baru saja selesai bimbingan. Tidak sengaja mereka mendengar suara tangisan.


Marvin mencegah Langit yang akan hendak mencari tahu sumber suara tangisan tersebut.


"Lang,"


"Apa sih?"


Marvin berdecak. "Kamu mau kemana?" tanya Marvin.


"Aku penasaran ini suara tangisan siapa?"


Marvin semakin berdecak kesal. "Udahlah, nggak usah dicari tahu. Palingan juga si mbak Kunti lagi salah jam tayang," ucap Marvin.


Langit memutar bola matanya malas. "Ngaco kamu, mana ada makhluk begituan di siang begini. Sudahlah, aku mau mencari tahu. Sebaiknya kamu diam-diam saja disini!" titah Langit pada Marvin.


Marvin tidak mengendahkan ucapan Langit, pria itu malah memilih untuk tetap mengikuti Langit. Langkah mereka semakin dekat dengan suara tangisan tersebut.


Mata kedua pria itu memicing, dan mereka pun saling menatap satu sama lain. Baik Marvin maupun Langit pun akhirnya menghampiri gadis yang begitu familiar bagi mereka.


"Aurel," panggil Langit.


Tangis gadis itu pun mereda, lalu mengusap air matanya dan sedikit menoleh. Kedua pria itu melihat Aurel sangat berantakan sekali. Keduanya tidak tahu perihal kejadian tadi yang mengakibatkan Saga mengakhiri hubungannya dengan gadis tersebut.


"Kamu sedang kesurupan?" tanya Langit.


Marvin langsung menyikut perut Langit, dan membuat pria itu meringis. Langit melototkan matanya pada Marvin pertanda ia kesakitan.


"Apa yang kamu lakukan disini? Dimana Saga?" tanya Marvin melihat ke sekeliling area tersebut.


Aurel bergeming dan masih terisak. Marvin kembali melirik Langit yang sedang menatap Aurel heran. Langit pun mendekat ke arah Aurel dan meninggalkan Marvin yang masih bingung dengan keberadaan Sagara. Marvin semakin bingung saat Langit menghampiri gadis itu.


"Lang," Marvin segera menyusul Langit yang sudah berada di depan Aurel.

__ADS_1


Langit menatap bingung pada gadis yang masih duduk di jalan beraspal itu. Lalu ia pun berjongkok dan sedikit menelisik wajah Aurel.


"Kamu kenapa nangis? Apa Sagara meninggalkan kamu?" tanya Langit dengan ekspresi wajah seriusnya.


Aurel mengusap air matanya kembali dengan kedua tangannya, lalu ia menatap Langit sekilas dan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


Aurel masih saja diam dan tidak menjawab, namun gadis itu berdiri dari posisinya. Membuat Langit pun ikut berdiri. Kedua pria itu masih terus memperhatikan apa yang akan Aurel lakukan.


"Kak Saga, dia…" ucap Aurel terjeda karena sesak dalam dadanya belum mereda.


Langit dan Marvin mengernyitkan alisnya menunggu Aurel menyelesaikan ucapannya.


Aurel terisak. "Dia mengakhiri hubungan kami hanya karena membela Kak Vesha," sambung Aurel yang kembali terisak.


Kedua tangannya terulur untuk menutup wajahnya, gadis itu kembali menangis. Marvin dan Langit cukup tercengang mendengar jawaban Aurel. Keduanya pun saling melirik, marvin memberi kode seakan sedang bertanya pada Langit. Namun Langit hanya membalasnya dengan mengangkat kedua bahunya.


"Lalu dimana Saga?" tanya Langit.


Aurel mengusap air matanya sebelum menjawab pertanyaan Langit. "Dia sudah pergi," jawab Aurel pelan tapi masih dapat didengar oleh Langit dan Marvin.


Marvin menghela nafasnya sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal. Marvin kembali menoleh ke arah Langit yang sejak tadi hanya diam saja.


Marvin menyenggol lengan Langit, dan pria itu hanya menoleh dengan wajah heran dan penuh tanya pada Marvin.


"Kenapa?" tanya Langit dengan suara berbisik.


"Anterin dia," jawab Marvin yang berbisik pada Langit.


Langit melototkan matanya dengan menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak mau!" tolak Langit.


Marvin berdecak dengan menatap sinis pada Langit. "Kamu nggak kasihan sama dia? Lihat penampilannya sudah kacau begitu," ucap Marvin yang masih berbisik.


Langit memutar bola matanya malas. "Aku bilang nggak ya nggak, Vin. Kamu saja yang anterin dia," jawab Langit dengan kesal.


"Sebaiknya kamu pulang, Rel. Ini sudah sangat siang," ucap Marvin.


Aurel yang masih sesegukan pun hanya mengangguk. Marvin tersenyum tipis sambil menepuk pundak gadis itu pelan.


"Kamu harus sabar, kalau sudah tenang sebaiknya kamu bicarakan hal ini kembali dengan Saga. Bicarakan semuanya baik-baik dengan kepala dingin," pesan Marvin pada Aurel.


Aurel mengangguk tanpa berkata sepatah katapun. Lalu Langit merogoh kantong celananya dan mengambil ponselnya.


"Sudah jangan nangis lagi! Aku akan pesankan taksi online untukmu. Kami akan menemanimu di lobi sambil menunggu taksinya datang," ucap Langit.


Marvin tersenyum tipis. "Ayo, kami akan mengantarkanmu ke lobi," ujar Marvin.


Aurel hanya diam dan menurut saja. Ketiganya pun pergi dari tempat tersebut dan segera menuju lobi kampus.


Taksi yang dipesan Langit untuk Aurel pun telah tiba. Aurel berterima kasih pada kedua pria itu sebelum berpamitan. Marvin dan Langit hanya tersenyum dan mengangguk.


Sepeninggalnya Aurel bersama dengan taksi onlinenya, kedua pria itu segera menuju parkir motor.


"Sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka ya, Vin?" tanya Langit yang sudah duduk di atas motornya.


Marvin menaikkan kedua bahunya. "Mana aku tahu. Kamu tanya saja langsung sama Saga," jawab Marvin.


Langit masih diam, entah kenapa jiwa kepo nya sangat tinggi. "Aku ingin temui Saga, kamu mau ikut?" ucap Langit seraya bertanya pada Marvin.


"Ayo,"


Mereka pun segera pergi menemui Saga di rumahnya. Sementara itu setelah kejadian tadi di kampus, Chandra segera mengajak Vesha untuk pergi ke suatu tempat.


Disinilah mereka berdua, di suatu taman kota tidak jauh dari kampus mereka. Chandra sengaja mengajak Vesha untuk sekedar meredam rasa kesal dalam diri Vesha karena ulah Aurel.


"Minumlah," Chandra menyodorkan minuman pada Vesha.

__ADS_1


Vesha tersenyum seraya menerima teh berkemasan botol. "Terima kasih, Chan!" jawab Vesha.


Mereka berdua pun langsung minum teh dingin berkemasan tersebut. Keduanya nampak menikmati pemandangan di sekitar taman. Chandra sekilas melirik Vesha yang sedang tersenyum menatap lurus ke arah anak air mancur di taman itu.


Sinar matahari yang bersinar cerah tidak membuat Chandra dan Vesha terganggu oleh panasnya terik matahari hari ini. Karena mereka berdua sedang duduk dibawah pohon besar yang mampu melindungi mereka dari terik matahari.


"Kamu suka tempatnya?" tanya Chandra yang sedang tersenyum memperhatikan wajah cantik Vesha.


Vesha tersenyum dan menoleh ke arah Chandra. "Iya, aku suka. Tempatnya lumayan buat ngilangin rasa bete," jawab Vesha.


Chandra mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Lalu pria itu teringat dengan kejadian tadi saat Aurel berkata kasar dengan Vesha.


"Sha," panggil Chandra dengan suara lembut.


"Hmm," jawab gadis itu.


"Apapun yang dikatakan oleh Aurel tolong kamu abaikan saja. Anggap saja angin lalu," ucap Chandra.


Vesha tertawa kecil sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. "Santai saja, Chan. Aku masih bisa mengatasinya," jawab Vesha terlihat santai.


Chandra membalas dengan tawanya juga. "Hmm, aku tahu kamu gadis kuat. Pasti bisa mengatasi sarang semut seperti Aurel," celetuk Chandra.


Vesha tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Chandra. Vesha tidak habis pikir kalau pria di sebelahnya ini bisa berkata seperti itu.


"Sarang semut," ulang Vesha yang masih tertawa.


Chandra hanya tertawa sambil memperhatikan wajah Vesha saat sedang tertawa. Terlihat lebih cantik dan natural saat gadis itu tertawa. Chandra langsung menggelengkan kepalanya dan merasa salah tingkah karena ulahnya yang curi-curi pandang dari gadis di sebelahnya.


Dari kejauhan ada sepasang mata terus memperhatikan Vesha dan Chandra. Orang itu tersenyum dan berjalan mendekati keduanya.


"Sayang," panggil orang itu.


Vesha dan Chandra yang sedang asyik tertawa pun segera diam dan menoleh ke arah orang itu. Vesha terlihat nampak terkejut dengan kedatangan orang itu.


"Kamu," ucap Vesha yang langsung berdiri dari posisi duduknya.


Chandra pun segera berdiri melihat Vesha yang terlihat tidak suka dengan kehadiran pria itu.


Pria itu tersenyum saat Vesha berdiri di hadapannya. "Hai, sayang! Lama tidak berjumpa, apakah kamu merindukanku? Kalau aku sangat merindukanmu," ucap pria itu yang masih tersenyum pada Vesha.


Vesha menautkan alisnya. "Diamlah Bryan! sudah aku katakan padamu untuk tidak sembarangan memanggilku dengan kata-kata 'sayang' seperti yang kamu ucapkan tadi," jawab Vesha dengan raut wajah kesal.


Bryan tidak peduli dengan ucapan Vesha. Pria itu semakin tersenyum lebar saat melihat gadis yang dicintainya terlihat kesal dan marah terhadapnya.


Bryan sekilas melirik ke arah Chandra yang sedang menatapnya tidak suka. Tiba-tiba saja pria itu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Vesha.


"Kamu semakin cantik jika sedang marah seperti ini," bisik Bryan.


Chandra langsung mendorong tubuh Bryan, agar menjauh dari Vesha. Bahkan saat ini posisi Chandra berdiri tepat di depan Vesha. Chandra masih menatap tajam ke arah Bryan, namun tidak dengan pria itu. Bryan terlihat masih begitu santai dan bahkan pria itu malah tertawa.


"Menjauhlah dari Vesha!" ucap Chandra seperti sebuah perintah.


Bryan tersenyum miring dan masih tertawa kecil. "Siapa kamu? sebaiknya kamu menyingkir, aku hanya ingin bicara dengan kekasihku!" Bryan berkata sambil sedikit menyentuh lengan Chandra, agar pria itu sedikit menyingkir.


Dengan cepat Chandra menghempaskan tangan Bryan dengan cepat, dan kembali mendorong Bryan. Vesha dengan cepat pun mencegah Chandra yang hendak memukul Bryan.


"Berhenti, Chand! jangan kotori tanganmu dengan memukulnya. Sebaiknya kita pergi dari sini saja, tidak perlu mengurusi orang gila sepertinya." cegah Vesha.


Chandra masih diam dan terus menatap tajam pada Bryan. Vesha yang sudah melihat ke sekelilingnya merasa sedikit khawatir.


"Ayo, Chand!" Vesha kembali mengajak Chandra dan segera menarik tangan pria itu.


Chandra terpaksa mengikuti kemauan Vesha, mereka berdua pun pergi meninggalkan Bryan yang masih terus menatap kepergian mereka dengan seringaian mengerikan.


"Untuk kali ini kamu bisa bebas, Vesha. Tapi untuk tidak dikemudian hari," gumam Bryan dengan senyum smirk di wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2