
Bryan terlihat gelisah setelah beberapa jam tiba di hotel, pria itu terlihat sibuk dengan ponselnya. Mondar mandir seperti setrikaan saat mencoba menghubungi seseorang. Bryan berdecak, hingga akhirnya ia menghubungi orang lain.
Tidak lama pintu kamar hotelnya pun diketuk. Ia pun segera membuka pintu, dan mempersilahkan orang itu masuk.
"Ada apa kamu memintaku datang ke kamarmu? Ini sudah malam, dan aku mengantuk Bryan. Besok sajalah," keluh Devano.
Bryan berdecak kesal mendengar keluhan Devano. "Ck, coba kau hubungi asisten mu itu. Minta dia untuk memantau Vesha kalau perlu tanyakan padanya, kenapa ponsel Vesha tidak aktif?"
Devano memutar bola matanya. "Mungkin Vesha lupa mengecas ponselnya. Sudahlah Bryan, sebaiknya kamu tidur karena besok pagi kita akan bertemu dengan Mr. Ronald." jawab Devano.
Bryan meremas rambutnya karena merasa sangat frustasi. Ia tidak bisa bersabar menunggu hari esok, rasa rindunya terhadap sang kekasih begitu besar.
"Tidak bisakah kau tidak membantahku, Devan! Kau tahu aku sangat merindukan Vesha," ucap Bryan.
Devano menghela nafasnya. "Ya, aku tahu kau sangat bucin padanya," celetuk Devan.
Bryan menatap tajam ke arah Devano. "Kau tahu aku seperti ini karena sangat mencintainya, Dev. Aku tidak mau kehilangan wanita yang aku cintai untuk kedua kalinya. Aku tidak mau kejadian dulu terulang kembali dan menyisakan penyesalan yang begitu dalam di kehidupanku," lirih Bryan.
Devan terdiam, Devan sangat tahu bagaimana dulu Bryan begitu terpuruk bahkan menutup hatinya bertahun-tahun. Bahkan sikap dingin Bryan tidak luput dari kisah lalunya. Jujur Devan sangat senang melihat Bryan yang sudah kembali seperti dulu.
Devan bersyukur akan kehadiran Vesha dalam kehidupan Bryan. Deva juga saksi hidup kisah Bryan dan kekasihnya sebelum Vesha. Ya, dulu saat Bryan baru beberapa bulan berkuliah di luar negeri. Pria itu sempat menjalin kisah dengan seorang gadis bernama Geiko.
Gadis blasteran Jepang dan Amerika itu adalah cinta pertama Bryan. Satu tahun mereka menjalin cinta, hingga hubungan mereka tercium oleh Naura dan juga Sean.
Kisah Bryan dan Geiko agak sedikit berbeda dari kisah Bryan dan Vesha. Disini kedua orang tua Geiko tidak setuju dengan hubungan mereka dengan alasan status sosial mereka berbeda. Ayah Geiko adalah pengusaha dari negeri sakura yang cukup terkenal dimasa itu.
Tambah lagi saat itu Geiko juga sudah dijodohkan oleh keturunan pengusaha kaya, dan masih memiliki darah mafia yang cukup terkenal di negara itu.
Saat itu Bryan tidak bisa berbuat apa-apa mengingat kekuasaan orang tua dan calon tunangan Geiko lebih kuat dibanding dirinya. Sejak itu juga, Geiko langsung dibawa kembali ke negaranya dan langsung dinikahkan oleh pria pilihan kedua orang tuanya. Mendengar hal itu, Bryan semakin terpuruk dan tidak menerima dengan apa yang telah terjadi pada dirinya dan Geiko.
Setelah perpisahan antara Bryan dan Geiko, pria itu setiap hari selalu terpuruk dan sangat frustasi karena merindukan sang kekasih. Namun Bryan harus bisa menerima semuanya dan belajar ikhlas, mengingat Geiko sudah menjadi istri dari pria lain.
Devano selalu ada di sisi Bryan saat pria itu dalam keadaan down. Bryan menjadi pribadi yang begitu dingin dan sangat sulit tersentuh hatinya. Banyak gadis yang selalu mengharapkan dirinya untuk membuka hati, namun harapan gadis itu selalu pupus karena Bryan juga tidak memberikan kesempatan untuk mereka.
Bryan terlihat menundukkan wajahnya saat mengingat semua yang sudah terjadi dalam kisah cintanya.
__ADS_1
"Aku takut akan kehilangan Vesha, Dev. Apapun akan aku lewati, agar aku tetap bersama Vesha. Walau Mommy tidak menyetujui hubungan kami," ujar Bryan.
"Aku tahu Mommy seperti itu karena masih merasa sakit hati atas kejadian yang menimpaku dulu. Kau tahu 'kan, sejak dulu Mommy sangat menjaga harga dirinya. Sebab itu Mommy bersikap tidak suka dengan Vesha," lirih Bryan.
Pria itu kembali mengusap wajahnya dengan kasar. Devan semakin merasa kasihan terhadap sahabat sekaligus saudara angkatnya itu.
"Maafkan aku, aku akan mencoba menghubungi Angga. Tunggulah, dan tenangkan kembali pikiranmu," ucap Devano seraya menepuk pundak Bryan.
Bryan hanya mengangguk, sedangkan Devan langsung kembali ke kamar hotelnya. Beberapa detik kemudian, Devano kembali ke kamar Bryan.
"Aku sudah menghubungi Angga, katanya dia juga tidak tahu. Aku juga sudah memintanya untuk menemui Vesha di rumahnya," ucap Devano.
Bryan hanya diam saja, pria itu masih merasakan kekhawatiran dalam dirinya mengenai Vesha. Cukup lama pria itu diam, sampai tiba-tiba ponselnya pun berdering. Devano melirik ke arah layar ponsel Bryan, dan menegur pria itu.
"Bryan, ponselmu berdering." ucap Devano.
Bryan pun melirik dan meraih ponselnya, matanya membulat dengan senyum lepas menghiasi wajahnya.
"Vesha," ujar Bryan seraya menunjukkan layar ponselnya pada Devano.
Devano tersenyum. "Angkatlah! Aku kembali ke kamar,"
*
Langit senja menghiasi kota Jakarta sore ini, banyak yang suka akan kedatangan senja. Senja yang selalu setia mendengarkan keluh kesah seseorang yang datang menghampirinya. Walau senja selalu hadir sesaat dan menghilang. Namun senja selalu setia, ia akan terus datang setiap hari pada waktu petang sebelum malam menggantikan hadirnya.
Vesha tersenyum saat senja menyapa dirinya. Seutas rindu memenuhi ruang dalam hatinya. Rindu akan kebersamaannya dengan kedua orang tuanya, rindu akan kelembutan dan kasih sayang dari pria yang berhasil menguasai hatinya. Bryan, nama itu saat ini sedang Vesha rindukan.
Vesha menghela nafasnya, rasanya ia sangat ingin memeluk Bryan. Sudah dua hari ini Bryan berada di Paris, entah sampai kapan pria itu berada di sana. Tidak terasa air matanya menetes membasahi pipinya. Vesha menghapus air matanya dengan kasar.
Tanpa Vesha ketahui, dari arah belakang Shena datang dengan membawa dua cangkir teh hangat.
"Sha," panggil Shena.
Vesha pun tersenyum. "Iya,"
__ADS_1
"Minum," Shena menyodorkan satu cangkir pada Vesha.
Vesha tersenyum dan meraih cangkir tersebut. "Terimakasih,"
Kedua gadis itu pun menikmati sore ini dengan dua cangkir teh yang menemani mereka. Shena sudah tahu apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Jujur saja ia sangat kesal dengan sikap Naura, sikap itu sungguh sangat keterlaluan.
Ingin rasanya Shena memaki Naura dan juga Gricella. Ia tidak akan memandang siapa yang akan dimaki olehnya, masa bodo dengan usia. Jika yang lebih tua saja tidak menghargai dan menghormati yang lebih muda, maka untuk apa diberi toleransi. Tidak ada dalam kamus Shena, ia akan tetap melawan siapapun orangnya.
"Kamu yakin berangkat besok?" tanya Shena.
Vesha mengangguk. "Hmm,"
Shena memperhatikan raut wajah sahabatnya itu. Terlihat raut sedih diwajah cantik itu, Shena meraih tangan Vesha dan menepuk pelan punggung tangan Vesha.
"Aku tahu kamu wanita yang hebat, Sha. Aku yakin kamu bisa melewati ini semua, apapun keputusan yang kamu ambil aku hanya bisa mendukungmu. Aku juga akan terus berdoa, agar kamu selalu hidup bahagia dengan siapa dan dimanapun kamu berada," kata Shena.
Shena menghela nafasnya. "Aku pasti akan merindukanmu. Rasanya sangat berat jika berjauhan denganmu, Sha." lirih Shena.
Vesha tersenyum dan langsung memeluk Shena. "Aku pun juga akan sangat merindukanmu, Shen. Jangan pernah melupakan aku dan kedua orang tuaku," ujar Vesha disela pelukan mereka.
"Bagaimana bisa aku melupakan kalian dasar bodoh," sahut Shena yang diiringi tawa kecil dari Vesha.
Tanpa sepengetahuan siapapun, Vesha memilih untuk menetap di kampung halaman sang ayah, Surabaya. Ya, Vesha sudah mengambil keputusan untuk menjauh dari kehidupan Bryan sesuai permintaan Naura tempo hari.
"Kamu yakin tidak ingin membicarakan hal ini dengan Bryan?" tanya Shena seraya melepaskan pelukannya dengan Vesha.
Vesha menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak ingin mengganggunya saat bekerja. Aku mohon padamu untuk tidak mengatakan apa yang terjadi sebenarnya pada Bryan. Bahkan tolong jangan katakan padanya kalau aku ada di Surabaya. Katakan saja aku ada di Jambi atau dimana lah terserah kamu," Vesha berkata begitu lirih namun masih dapat terkekeh.
Shena pun ikut terkekeh. "Ya, tenang saja aku akan katakan padanya kalau kamu tidak ada di Jakarta atau di kota manapun. Karena kamu sedang berada di planet Neptunus," jawab Shena menggoda Vesha.
Vesha langsung memukul lengan Shena, tawa keduanya pun keluar bersamaan.
"Kejauhan, Shena. Kasihan kalau dia benar-benar menyusul ku kesana," jawab Vesha yang masih tertawa kecil.
"Biarkan saja, sekalian membuktikan seberapa besar cinta Bryan ke kamu," ujar Shena.
__ADS_1
Vesha menggelengkan kepalanya. "Ada-ada saja kamu itu. Tapi Bryan tidak perlu diuji seberapa besar cintanya padaku. Karena aku sudah pernah melihatnya dan merasakannya sendiri," jawab Vesha.
"Ya, ya, aku tahu karena aku bisa melihatnya juga. Bahkan dengan terang-terangan dia menolak dan menentang perjodohan antara aku dan dia hanya untuk tetap bersamamu. Aku salut dengannya karena sangat berani menentang keinginan Tante Naura," ucap Shena.