Cinta Kedua CEO

Cinta Kedua CEO
Bab. 10. Keterkaitan


__ADS_3

Ibu Dewi tanpa banyak pikir segera membuka dan membaca map itu dengan seksama hingga mulutnya menganga dan matanya membulat sempurna. Nyonya Dewi hanya tersenyum tipis menanggapi keterkejutan Adriana.


"Aku yakin dia gadis yang baik dan cocok menjadi pendamping putraku, dari raut wajahnya sudah ketahuan," batinnya Bu Dewi.


"Maaf aku harus melakukan hal ini, agar kamu setuju menikah dengan putraku, aku tidak sanggup melihat putraku terus hidup dalam kenangan mendiang istrinya dan harus hidup menduda," Bu Dewi membatin sembari menatap ke dalam bola matanya Adriana.


Nyonya Dewi menyodorkan sebuah map ke hadapan Riana, sedangkan Adriana menatap ke arah Nyonya Dewi yang seolah-olah meminta jawaban maksud dari map tersebut.


"Bukalah, setelah kamu baca pasti akan mengetahui apa tujuanku memberikan map tersebut," ujarnya dengan tatapan matanya yang tajam.


Adriana tanpa banyak pikir segera membuka dan membaca map itu dengan seksama hingga mulutnya menganga dan matanya membulat sempurna. Nyonya Dewi hanya tersenyum tipis menanggapi keterkejutan Riana.


"Ya Allah… semoga apa yang saya lakukan ini bermanfaat untuk kehidupan anakku, walaupun ada tipuan dan kebohongan di dalamnya," batinnya Bu Dewi.


"Ini?" Tanyanya yang tidak mengerti dengan apa maksud dari map itu.


"Bacalah, kamu akan tahu jawabannya setelah membacanya," tuturnya Bu Dewi.


Adriana menduga jika isi tulisan dari dalam map tersebut setelah membacanya. Wajahnya langsung berubah dengan penuh tanda tanya.


"Jadi saya mohon terima lah permohonanku padamu, anggap saja ini adalah permintaan dari seorang Ibu yang menginginkan kebahagiaan putranya," ungkap Nyonya Dewi dengan sembari memegang tangannya Riana dengan setulus hati dengan penuh harap.

__ADS_1


Adriana kembali terdiam dan bungkam seribu bahasa. Dia tidak menyangka jika Nyonya Dewi mengidap penyakit yang berbahaya dan sesuai dengan hasil pemeriksaan terakhirnya adalah dokter memvonisnya akan hidup beberapa bulan lagi.


"Usiaku tidak lama lagi Nak, Ibu mohon dengan sangat penuhi lah permintaanku ini," pinta Bu Dewi dengan air matanya yang sudah menetes membasahi pipinya.


Adriana menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan kenyataan itu yang barusan dia ketahui.


"Ini tidak mungkin! Aku yakin Nyonya akan diberi umur panjang oleh Allah SWT," tuturnya Adriana.


Nyonya Dewi hanya tersenyum simpul menanggapi perkataan dari Adriana," betul sekali apa yang kamu katakan itu, dan hanya saya yang tahu penyakitku ini karena aku tidak ingin anak dan keluargaku sedih setelah mereka tahu kenyataannya, bahkan aku pun menutupinya dari putraku," jawabnya dengan berusaha menahan laju air matanya yang sudah berembun di kelopak matanya itu.


Adriana terdiam sambil mendengarkan dengan seksama penuturan dari Nyonya Dewi. Dia hanya terdiam dan membisu karena tidak tahu harus berbuat apa juga.


"Tapi, kenapa aku yang Nyonya pilih sedangkan di luar sana banyak perempuan yang lebih layak dan pantas untuk mendampingi hidup Tuan Muda Akmal," ujarnya yang tidak mengerti kenapa dia yang dipilih.


"Kenapa? Alasannya karena kamu lah gadis kecil yang selalu dicari oleh putraku hampir dua puluh tahun yang lalu," jelasnya dengan seulas senyumannya.


"Maksudnya Nyonya? Maaf aku semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Nyonya?" Tanyanya yang semakin dibuat kebingungan.


"Kamu adalah gadis kecil yang membantu cucuku dulu sewaktu dia dikejar oleh preman yang ingin mengambil tasnya waktu itu saat pulang sekolah, waktu itu untuk pertama kalinya putraku berbaur dengan anak seumurannya di luar tapi tidak disangka malahan menjadi akhir dari pilihannya juga untuk bermain dengan anak sebayanya karena harus trauma sewaktu itu," jawabnya dengan menatap ke arah Adriana.


Flashback on..

__ADS_1


Adriana berusaha untuk mencoba kembali mengingat kejadian itu saat umurnya baru berusia 15 tahun. Dia yang disuruh oleh kakeknya untuk membeli sesuatu di toko Indo Mei.


Dalam perjalanan pulang tanpa sengaja sudut matanya melihat ada seorang anak laki-laki yang tingginya lebih besar dari postur tubuhnya. Anak laki-laki itu, sedang berlari kencang dengan nafas yang ngos-ngosan sedang diburu oleh beberapa preman kampung. Riana yang melihat kejadian itu segera menghentikan laju sepedanya dan segera membantu anak itu.


Riana langsung memberikan kode kepada seekor anjing itu agar segera beralih ke arahnya, untuk membantunya mengusir dua preman itu. Anjing tersebut menggonggong terlebih dahulu lalu beralih menatap ke arah dia yang memegang sebuah benda yang sangat disukai oleh anjing itu.


Anak laki-laki itu setelah mengetahui jika dirinya mendapatkan bala bantuan segera berlindung dibalik punggungnya Riana. Dia segera melempar satu potong daging ayam yang ada di dalam kantong kresek yang dipegangnya ke arah yang jauh dari tempat mereka. Anjing itu segera berlari mengejar potongan daging ayam itu.


Keindahan hidup akan kamu rasakan ketika kamu mau mensyukuri segala hal yang sudah kamu miliki.


Silahkan mampir juga ke Novel aku yang lain judulnya:



Pesona Perawan


Dilema Diantara Dua Pilihan


Pelakor Pilihan


__ADS_1


__ADS_2