Cinta Kedua CEO

Cinta Kedua CEO
Bab. 43. Ngidam Yang Sama


__ADS_3

"Mungkin sebaiknya aku katakan sejujurnya perlahan-lahan kepada Adriana agar tidak adanya lagi masalah yang seperti ini kedepannya," gumam Bu Dewi.


"Mama, apa sudah tahu kalau aku hamil?" Tanyanya Adriana yang menatap intens Bu Dewi yang sama sekali tidak berkedip sedikit pun.


Mama sudah tahu semuanya Sayang, Mama sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu karena bayi yang ada di dalam kandunganmu adalah….,"


Perkataannya terputus karena pintu kamar Adriana tiba-tiba terbuka dan masuklah seseorang yang sangat dikenali oleh mereka semua termasuk juga dengan Adriana.


"Dia kan….?" Tunjuknya Adriana ke arah orang itu.


Orang yang ditunjuk malah hanya tersenyum cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kamu sudah datang," ujarnya Bu Dewi yang berbicara ke arah keponakannya itu.


"Apa Mama mengenal dia?" Tanyanya Adriana yang menelisik ke arah Mama mertuanya.


"Apa kamu mengenalnya, Nak?" Tanyanya balik Bu Dewi yang pura-pura tidak tahu masalah yang sebenarnya.


"Dia itu pria kurir yang selalu datang mengantar makanan untukku setiap kali waktu jam makan," jawabnya Adriana yang masih penasaran dengan sosok pria yang tidak kalah ganteng dengan suaminya.


"Alhamdulillah, Adriana bisa melupakan sesaat masalah kehamilannya, sehingga dia bisa santai dan tidak berpikiran yang tidak-tidak," batinnya Nyonya Dewi.


"Selamat pagi Nyonya Muda," sapanya Samuel ke arahnya Adriana.


"Maaf kamu itu siapa? Terus yang menyarankan kepada kamu untuk mengantarkan makanan kepada saya siapa?" Tanyanya Ardiana dengan raut wajahnya yang penasaran tingkat akut.


Adriana yang to the point saja tidak mau menunda-nunda lebih lama lagi untuk mengetahui alasan dibalik semua itu karena menurutnya itu pasti ada hubungannya dengan kehamilannya.


Nyonya Dewi melirik sekilas ke arah Samuel agar berterus terang kepada Adriana saja.


"Itu.. aku diperintahkan sama Aunty Dewi katanya kamu adalah calon istrinya Abang Akmal jadi aku harus mengantar makanan setiap hari," jawabnya Sam yang masih sedikit menutupi kenyataan yang ada.

__ADS_1


"Abang Akmal," beo Adriana.


"Iya Abang Akmal adalah Kakak sepupuku, Papiku dan Mamahnya Abang Akmal Kakak adik," balasnya Sam dengan senyuman yang selalu tersungging dari wajahnya itu.


"Oh begitu! Pantesan saja kamu antar makanan untuk aku," tuturnya Adriana yang mulai bisa berpikiran positif dan melupakan kepelitan yang terjadi di dalam hatinya.


"Kalau gitu Mama dan Sam ke luar dulu, kamu silahkan untuk istirahat yang cukup, Mama minta padamu tolong jangan banyak pikiran negatif ingat kamu sekarang itu sedang hamil," Bu Dewi mewanti-wanti anak menantunya itu ia tidak ingin membuat calon cucunya itu kenapa-kenapa dan akan fatal kedepannya jika ibunya tertekan dan stress.


Adriana hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum sebelum ibu mertuanya pergi dari kamarnya itu tapi, langkahnya terhenti saat Adriana memanggill namanya.


"Mama, apa aku boleh minta tolong?" Tanya Adriana sembari menundukkan kepalanya setelah berbicara seperti itu.


Nyonya Dewi dan Sam spontan menghentikan langkahnya sejenak lalu mereka menoleh ke arah Adriana.


"Kamu kenapa sayang?" Tanyanya Bu Dewi.


"Aku ingin makan rujak buah, Ma," jawab Adriana dengan malu-malu dengan perkataan yang baru saja meluncur dari mulutnya itu.


Wajahnya Adriana langsung berubah drastis, dia menundukkan kepalanya dan tetesan air matanya mulai menetes membasahi pipinya itu.


Nyonya Dewi yang melihat hal tersebut segera berjalan ke arah menantunya dan heran dengan perubahan sikap dan moodnya Adriana yang mudah sekali berubah-ubah. Bu Dewi mengerti dengan hal tersebut karena Ibu hamil kebanyakan seperti itu sifatnya.


Nyonya Dewi mengangkat sedikit dagunya ke atas hingga mereka saling bertatapan anak dan ibu mertua itu dengan senyuman teduh dan penuh kasih sayang yang diberikan oleh Bu Dewi untuknya.


"Katanya tadi mau makan rujak kok sekarang sedih nangis pula lagi putrinya Mama," tutur Bu Dewi yang mendudukkan tubuhnya di sampingnya Adriana dengan tangannya yang mulai menggenggam tangan Adriana.


"Aku maunya dia yang beliin, Ma!" Pintanya Adriana yang menunjuk ke arah Sam.


"Aku?" Tanyanya Sam yah menunjuk ke arah dadanya sendiri dengan raut wajah yang kebingungan plus tidak menyangka dengan permintaan dari istri kakak sepupunya itu.


"Ya Allah… kenapa cara ngidam Adriana sama dengan aku waktu mengandung Akmal, waktu itu aku juga selalu mau makan dengan Papinya Sam yang beliin makanan itu dan aku tidak mau dengan orang lain, aku semakin yakin kalau itu adalah Cucu penerus keluarga Besar Pradipta Saiden," Bu Dewi membatin.

__ADS_1


Kesenangan bermula dari kebersamaan bersama orang-orang terdekat, terutama keluarga.


Fun starts from being together with the closest people, especially family.


......................


Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:



Dilema Diantara Dua Pilihan


Cinta dan Dendam


Pelakor Pilihan


Pesona Perawan


Cinta ceo Pesakitan


Ketika Kesetian Dipertanyakan


Menggenggam Asa


Kau Hanya Milikku



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all…


Tetap Dukung Cinta Kedua CEO dengan cara, Favoritkan, Rate Bintang 5, like Setiap Episodenya, gift seikhlasnya..

__ADS_1


Mohon maaf jika banyak terdapat beberapa kesalahan dalam penulisannya atau typo yang meresahkan Readers..


__ADS_2