Cinta Kedua CEO

Cinta Kedua CEO
Bab. 23. Merasa Tidak Pantas


__ADS_3

Mereka ikut melongok keluar dan tidak percaya melihat begitu banyaknya barang bawaannya hingga sudah memenuhi separuh dari ukuran rumahnya Bu Laila Sari.


"Aku akan memberikan apa pun itu saya asalkan Adriana bisa menikah secepatnya dengan Akmal putra tunggal ku," Bu Dewi membatin dengan senyuman simpulnya.


"Aku harus gimana ya Allah… aku sama sekali tidak mencintai putranya Nyonya Dewi dan juga aku sudah tidak suci lagi," batinnya Adriana dengan sendu hingga tetesan demi tetes air matanya mengalir membasahi pipinya itu.


Bu Laila yang menyadari jika putrinya itu menangis segera mendekatinya dan mencoba untuk menenangkan diri anak semata wayangnya.


"Sayang kamu kenapa,kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya yang heran melihat anaknya sudah menangis tersedu-sedu.


"Aku…. A-ku…" jawabnya Adriana yang terbata-bata karena bingung apa harus jujur atau bungkam untuk selamanya.


Nyonya Dewi yang melihat hal itu segera mendekati Riana karena ia sudah mengerti jika Adriana akan jujur tentang masalah pelik yang tengah dihadapinya.


"Sayang, aku yakin kamu pasti terlalu gembira atas kedatangan kami yang datang tiba-tiba untuk melamar kamu, jadinya kamu sedih,iya kan Nak?" Tanyanya Bu Dewi dengan sedikit menekan lengannya Adriana agar Riana mengerti dengan maksud dari perlakuannya.


Adriana hanya melongok ke arah Bu Dewi sedangkan Bu Dewi diam-diam menggelengkan kepalanya.


"Semoga saja Riana mengerti dengan maksudku, bukannya aku takut jika ketahuan kalau anakku lah yang menghamilinya, tapi itu sama saja akan mencoreng nama baik Adriana sebagai seorang gadis yang sholeha, aku tidak ingin sampai hal itu terjadi padanya," Bu Dewi membatin.


"Sebaiknya kamu duduk dulu nak, pikirkan baik-baik sebelum kamu menjawab maksud baiknya Bu Dewi, Ibu juga tidak bakalan memaksa kamu untuk menerimanya atau pun menolaknya semuanya keputusan ada di tanganmu Nak," ucap bijak Bu Laila ibunya Adriana.

__ADS_1


"Apa yang dikatakan oleh Ibu ada benarnya, tapi mungkin sebaiknya aku berbicara terlebih dahulu dengan Ibu Dewi untuk membicarakan semuanya, kalau pun aku sudah berterus terang dan Bu Dewi membatalkan lamarannya aku hanya bisa sabar, ikhlas dan tawakal menghadapi semua ujian dan cobaan dari Allah SWT," batinnya Adriana.


"Bagaimana sayang, apa kamu bersedia menerima lamaran kami untuk putraku?" Tanyanya lagi Bu Dewi yang menatap penuh harap ke arah Adriana.


Adriana menghembuskan nafas terakhirnya sebelum berbicara, "Nyonya mungkin sebaiknya kita berbicara empat mata terlebih dahulu, setelah itu barulah aku akan menjawab permintaan pinangan Nyonya," ujarnya Adriana yang sedari tadi menundukkan kepalanya karena merasa malu dan tidak pantas untuk dilamar.


"Baiklah kalau itu permintaan kamu, kita bicaranya mungkin di dalam mobil ibu saja bagaimana menurut Ibu Laila?" Tanyanya Bu Dewi sambil melihat ke arah calon besannya itu.


"Kalau memang seperti itu keputusannya Adriana, saya hanya bisa mengiyakan saja Bu karena ini adalah pilihan dan kehidupannya Adriana jadi dia lebih berhak untuk menentukan apa yang terbaik untuk masa depannya," tutur Bu Laila yang sedari dulu tidak pernah menentang ataupun memaksa kehendaknya kepada putrinya itu.


Adriana dan Bu Dewi segera berjalan ke arah mobilnya yang terparkir tidak jauh dari rumahnya. Bu Dewi memberikan kode kepada anak buahnya untuk segera mengamankan lokasi tempat itu dan berdiri mengjauh dari mobil siapa pun itu kecuali Prita. Anak buahnya beserta beberapa body guard nya spontan bergerak cepat untuk mengikuti perintah dari bosnya.


"Katakan Nak apa yang kamu ingin sampaikan kepada Mama!" Pinta Bu Dewi yang sudah memanggil dirinya sendiri sebagai Mamanya Adriana.


"Karena kamu tidak lama lagi akan menjadi menantunya Mama dan bagian dari anggota keluarga besar Pradipta Saiden," ujar Bu Dewi sembari memegang kedua tangannya Adriana yang sudah basah terkena tetesan air matanya.


Bu Dewi mengangkat sedikit dagunya Adriana ke arahnya agar mereka bisa saling bertatapan langsung. Bu Dewi menghapus air matanya Adriana yang tak henti-hentinya menetes membasahi pipinya itu.


"Stop!! Mulai detik ini kamu jangan menangis lagi,air matamu terlalu berharga untuk kamu buang percuma, Mama tahu apa yang kamu risaukan dan takutkan karena Mama sama sekali tidak pernah mempermasalahkan status kamu apa pun itu," ungkap Bu Dewi dengan penuh keyakinan.


"Tapi Bu, aku sudah tidak suci lagi," tutur Adriana yang kembali tergugu dalam tangisnya.

__ADS_1


"Husshhh!!! Jangan bicara seperti itu lagi, cukup Mama yang tahu, Mama minta sama kamu cukup detik ini saja dan hanya kepada Mama kamu mengatakan jika kamu tidak utuh lagi," jelas Bu Dewi kemudian menaruh jarinya ke atas bibirnya calon menantunya itu.


Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:



Dilema Diantara Dua Pilihan


Cinta dan Dendam


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Cinta ceo Pesakitan


Ketika Kesetiaan Dipertanyakan


Menggenggam Asa


Kau Hanya Milikku

__ADS_1



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all…


__ADS_2