
Mereka saling berpandangan satu sama lainnya dan ada yang sudah khawatir dengan kondisi Riana yang bengong.
"Jangan-jangan dia kesambet makhluk tak kasat mata lagi," timpal Alita yang ikut menggoyangkan lengannya Adriana.
"ih kamu yah kalau ada orang yang menghayal pasti kamu ngomong ada yang masukin sesuatu yang tidak baik," sanggah Diana.
Rasya segera berjalan ke arah meja untuk mengambil segelas air putih yang rencananya akan dipercikkan ke wajahnya Adriana. Ririn mengambil air putih itu lalu mengambil sedikit air melalui telapak tangannya. Air itu mampu membasahi pipinya sehingga tersadar dari lamunannya.
"Eehhhhh ahhhhh…. Tidak!!!! Jangan!!!" Teriaknya Adriana yang membuat orang-orang yang berada di dalam sana terkejut dan mengalihkan pandangannya ke arah Adriana yang berteriak histeris.
Ibu Laila yang menyadari anaknya tiba-tiba histeris langsung berlari ke arah Adriana yang sudah berteriak hingga dia meraung-raung menangis tersedu-sedu. Semua sahabatnya terkejut melihat Adriana yang bereaksi tidak wajar dan tidak seperti biasanya.
"Sayang!! Apa yang terjadi padamu Nak?" Tanyanya Bu Laila Sari yang kebingungan melihat putrinya yang tanpa sebab langsung bertindak diluar kendali.
"Pergi kalian dari sini!! Jangan dekati aku, please pergi kalian dari sini!!" Pekiknya Adriana.
Bu Laila yang berusaha memeluk tubuh putrinya itu terdorong cukup kuat hingga tubuhnya terhuyung ke belakang. Untung saja Rasya dan Dimas segera bertindak untuk secepatnya menolong Bu Laila.
Tidak ada lagi yang berani mendekati Adriana. Mereka tidak berani karena mereka takut dan khawatir dan takut jika terjadi sesuatu diluar kendali mereka atau Adriana berbuat nekat dan melukai dirinya sendiri.
"Mbak Ririn apa sebenarnya yang terjadi padanya, kenapa Adriana tiba-tiba memberontak yah?" Tanyanya Ambar yang sedih melihat kondisi dari Adriana.
"Iya, aku pun heran karena beberapa hari ini selama dia bekerja satupun sikapnya Adriana tidak ada yang aneh ataupun menyimpang, iya kan?" Tanyanya Ririn.
Alita yang sedari dulu sudah menjadi sahabatnya Adriana sekalipun tidak pernah bertindak kasar, berkata kasar saja tidak pernah apalagi berperilaku kasar kepada orang lain.
Air matanya Bu Laila menetes membasahi pipinya, saking sedihnya melihat putri semata wayangnya berperilaku aneh dan ajaib.
"Aku mohon, jangan lakukan ini kepadaku, aku tidak punya salah apapun padamu!" Ucap Adriana yang terduduk di atas lantai dengan kondisi yang sudah mengkhawatirkan itu.
__ADS_1
Mereka saling berpandangan satu sama lainnya. Baru selangkah ingin maju, Dimas segera dilempari botol minuman air putih mineral hingga mengenai perutnya.
"Bagaimana caranya, agar Adriana terdiam, kasihan kalau dibiarkan seperti itu terus," ungkap Ambar Wati yang ikut sedih melihat Adriana yang seperti orang kesurupan.
Mereka tidak tahu harus bagaimana, mereka sama-sama tidak memiliki solusi dan jalan keluar yang terbaik untuk masalah tersebut. Suara deru mesin mobil berhenti tepat di depan rumahnya Bu Laila.
Masuklah Nyonya Rima bersama dengan asisten pribadinya yang selalu menemaninya kemanapun perginya yaitu Prita sang asisten cantik yang jadi idola dan gadis pujaannya Seto. Prita yang berjalan di belakang Nyonya Besar Rima tanpa sengaja tatapan matanya saling bersirobot dengan Seto tanpa sengaja.
Prita langsung mengalihkan pandangannya ke arah depan dan berpura-pura tidak melihatnya. Nyonya Rima yang melihat orang berkerumun dan ada suara tangisan sehingga membuatnya terkejut karena tujuan kedatangannya adalah untuk menjemput Adriana untuk pulang bersamanya.
"Apa yang terjadi di sini?" Tanyanya yang mampu membuat mengalihkan perhatian banyak orang di dalam sana.
Hatinya langsung tersentuh dan terenyuh melihat kondisi Adriana yang terduduk di atas lantai dengan wajahnya yang sembab dan kadang-kadang masih histeris.
"Boy!!" Teriaknya Bu Rima yang memanggil ajudannya untuk membantunya agar segera menggendong tubuhnya Adriana yang rencananya akan dia bawa ke rumah sakit.
Boy yang dipanggil segera berlari cepat ke arah Nyonya Rima.
"Menantu," Ririn membeo.
Bu Rima melirik sepintas lalu ke arah Ririn sedangkan yang ditatap langsung menundukkan kepalanya karena ada aura mencekam seakan-akan ingin menelannya hidup-hidup hanya dari tatapan matanya saja.
"Kami tidak tahu, karena Riana tiba-tiba histeris," ucapnya Bu Laila.
Alita maju ke depan dan menjawab pertanyaan dari Bu Rima" tadi kami hanya bercanda ngomong masalah malam pertama dan setelah itu seperti itulah akhirnya, Adriana menjerit-jerit minta tolong."
Bu Rima tidak percaya jika rasa trauma akibat ulah putranya baru dirasakan oleh menantunya itu.
"Aku yakin gara-gara itu dia menjadi tidak normal seperti ini," gumam Bu Rima.
__ADS_1
Bu Rima perlahan mendekat ke arah Adriana. Sedangkan Adriana yang menyadari dan melihat kedatangan Bu Rima menengadahkan kepalanya ke atas. Dia segera bangkit dari duduknya lalu berhambur ke arah Bu Rima. Ia memeluk tubuh itu dengan erat. Air matanya tumpah ruah dalam pelukan ibu mertuanya.
...----------------...
Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:
Dilema Diantara Dua Pilihan
Cinta dan Dendam
Pelakor Pilihan
Pesona Perawan
Cinta ceo Pesakitan
Ketika Kesetiaan Dipertanyakan
Menggenggam Asa
Kau Hanya Milikku
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all…
Tetap Dukung Cinta Kedua CEO dengan cara, Favoritkan, Rate Bintang 5, like Setiap Episodenya, gift seikhlasnya..
__ADS_1
Mohon maaf jika banyak terdapat beberapa kesalahan dalam penulisannya atau typo yang meresahkan..