Cinta Kedua CEO

Cinta Kedua CEO
Bab. 22. Lamaran


__ADS_3

Seorang pria akan membimbing anda kepada Allah SWT dan bukan ke jalan penuh dosa yang selalu layat dinanti kehadirannya.


Adriana pun ikut menyalakan mesin mobilnya lalu berjalan ke arah jalan raya dengan mengendarai motor kesayangannya. Adriana sudah berbaur dengan pengendara sepeda motor lainnya.


Berselang beberapa saat kemudian, dia sudah sampai di depan pagar rumah minimalis milik Ibunya. Dia melangkahkan kakinya dengan pasti menuju ke dalam rumahnya, tapi baru dia mengucapkan salam terlebih dahulu langkahnya terhenti karena, ia kaget melihat kedatangan tamu yang datang ke rumahnya.


Langkahnya langsung terhenti dan tidak menyangka jika, orang itu mengetahui rumahnya. Padahal mereka bertemu itu pun hanya baru sekali.


"Nyonya Dewi," cicitnya Adriana.


"Ya Allah… ini anak gadisnya Ibu! masuk ke rumah main nyelonong saja, seperti seekor kucing betina!" gurau ibunya Bu Laila yang menyambut kedatangan anaknya dengan candaan.


"Hehehe, maaf Ibu soalnya ucapnya hanya dalam hati saja," jawab Riana yang tersenyum cengengesan sambil menenteng tas selempangnya itu.


Apa yang mereka lakukan diperhatikan secara seksama oleh Bu Dewi yang duduk cantik dan elegan di atas sofa berwarna abu-abu yang ada di dalam ruangan tamunya Adriana.


"Jangan-jangan Bu Dewi datang ke sini untuk memintaku menjadi istri kedua putranya, orang kaya pasti dengan mudahnya mendapatkan alamat kami yang hanya orang biasa dan rakyat jelata," batinnya Adriana yang berdiri mematung.


Bu Dewi yang melihat Adriana sedari tadi berdiri langsung menghampirinya, " ayo Nak sini duduk di sampingnya Ibu."


Nyonya Dewi menarik tangannya Riana agar segera duduk. Adriana yang diperlakukan seperti itu hanya mengikuti perintah dari Bu Dewi tanpa berbicara sepatah kata pun atau pun menolaknya.


"Kamu tidak boleh banyak berdiri, duduk juga pun begitu harus seimbang seperti makanan, kamu kan seharian sudah bekerja dengan semangat dan penuh ketekunan jadi sebagai imbalannya Ibu bawa ini untuk kamu," tutur Bu Dewi sembari memperlihatkan parcel yang berisi banyak aneka macam buah-buahan yang segar dan sangat bagus untuk kesehatan terutama bagi ibu hamil muda.

__ADS_1


Tetapi, itu tidak mungkin Bu Dewi jelaskan karena satupun diantara orang yang berada di depannya mengetahui jika, Adriana sudah hamil jalan tiga bulan.


"Aku akan lakukan apapun itu demi penerus dari keluarga Pradipta Saiden," lirihnya Bu Dewi.


"Adriana, dengarkan perkataannya Bu Dewi, semua itu benar adanya mana ada orang lain yang peduli terhadap nasib kita jika orang tersebut hatinya tidak baik seperti setulus hatinya Bu Dewi," timpal Bu Laila yang ikut menimpali percakapan keduanya.


"Makasih banyak Bu, tapi aku rasa ini terlalu berlebihan kalau menurut saya, lagian aku seperti orang yang sedang mengandung saja yang harus minum susu segala," ucapnya Adriana dengan spontan tanpa mengetahui kalau sebenarnya dia diperlakukan seperti itu karena sedang berbadan dua.


Bu Dewi terkekeh mendengar perkataan dari Adriana, " yaelah Adriana, apa perlu kamu hamil duluan baru Ibu bawain makanan dan buah-buahan? Atau kamu bersedia menikah dan menjadi Ibu dari cucuku kelak?" Tanyanya Bu Dewi dengan sengaja berkata seperti itu karena dia ingin melihat reaksi dari Bu Laila dan Adriana kasusnya.


Jeder… keder…


Adriana tidak menduga jika Bu Dewi akan bercanda seperti itu. Adriana pun tersenyum menanggapi perkataan dari Mama dari pemilik perusahaan yang ditempati bekerja baru dalam hitungan jam itu.


"Mungkin cukup basa basinya, aku akan berterus terang kepada Ibu kebetulan Adriana juga sudah datang, kedatanganku kesini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk melamar Adriana sebagai menantu di keluarga Pradipta Saiden," tuturnya Bu Dewi sambil memberikan kode kepada Prita.


Prita segera bergerak sesuai dengan arti kode yang diberikan oleh Bu Dewi untuknya. Tidak butuh waktu lama, rombongan iring-iringan orang membawa banyak barang bawaan seserahan Lamaran yang sangat lengkap bentuk dan macamnya itu.


Mereka berjejer rapi memasuki area pekarangan rumahnya Bu Laila. Semua pegawainya yang saat itu sedang bekerja membuat aneka macam kue kering dan basah sesuai dengan pesanan dari pelanggan bakery dan catering ibunya.


Mereka ikut melongok keluar dan tidak percaya melihat begitu banyaknya barang bawaannya hingga sudah memenuhi separuh dari ukuran rumahnya Bu Laila Sari.


"Aku akan memberikan apa pun itu saya asalkan Adriana bisa menikah secepatnya dengan Akmal putra tunggal ku," Bu Dewi membatin dengan senyuman simpulnya.

__ADS_1


"Aku harus gimana ya Allah… aku sama sekali tidak mencintai putranya Nyonya Dewi dan juga aku sudah tidak suci lagi," batinnya Adriana dengan sendu hingga tetesan demi tetes air matanya mengalir membasahi pipinya itu.


Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:



Dilema Diantara Dua Pilihan


Cinta dan Dendam


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Cinta ceo Pesakitan


Ketika Kesetiaan Dipertanyakan


Menggenggam Asa


Kau Hanya Milikku


__ADS_1


Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all…


__ADS_2