Cinta Kedua CEO

Cinta Kedua CEO
Bab. 41. Tidak Mungkin


__ADS_3

Owek.. oek.. oek..


Nyonya Dewi segera berjalan ke tempatnya Adriana untuk membantunya. Ia segera memijat perlahan bagian tengkuknya Adriana dengan terlebih dahulu mencepol rambut panjangnya Riana.


"Prita!! Tolong bawa segera ke sini balsemnya, dan jangan lupa telpon dokter Sinta agar segera datang ke sini," perintahnya dengan berteriak cukup kencang di dalam ruangan makan tersebut.


Suaranya Nyonya Dewi cukup menggelegar mengisi ruangan itu, Prita Mulyasari yang dipanggil pun segera menjalankan titah dari Nyonya besarnya.


"Apa yang terjadi padaku Ma! Kenapa aku mual-mual terus padahal hanya cium aroma wangi lezatnya makanan kesukaan aku pula itu Mama," tuturnya Adriana yang heran dengan apa yang dialaminya yang baru kali ini dia rasakan dalam seumur hidupnya itu.


"Tunggu dokter Sayang, kalau dokternya datang dan kamu sudah diperiksa barulah kita tahu semua itu," jawabnya Bu Dewi.


Beberapa maid segera membawa kembali semua nampan yang berisi makanan yang tidak disukai oleh Adriana untuk saat itu juga.


"Apa yang harus aku lakukan ya Allah… kalau Adriana tahu jika dia hamil bagaimana? Pasti dia akan kembali histeris, langkah dan cara apa yang harus aku tempuh yang Allah.." Bu Dewi membatin sambil memijit punggung lehernya Adriana yaitu dengan cara mengoleskan minyak angin aromatherapy ke lehernya Adriana.


Beberapa saat kemudian, dokter yang telah ditelepon oleh Prita sudah datang, ternyata dokter Andrea dan dokter yang diminta oleh Nyonya Dewi tidak bisa datang. Sedangkan dokter Andrea sudah diputuskan kontrak kerjasamanya.


"Silahkan masuk Dokter Pria! Kehadiran Anda sudah ditunggu sedari tadi oleh Nyonya Besar," ujarnya Prita sambil mempersilahkan Dokter keluarga barunya.


Dokter Priyatna adalah dokter spesialis umum yang diserahi tugas khusus untuk menjadi dokter di keluarga besar Pradipta Saiden melalui tes yang cukup ketat dan tentunya dokter tersebut harus sesuai dengan kriteria dan persyaratan yang ditentukan oleh Bu Dewi sendiri.


Dokter Priyatna adalah seorang perempuan yang sudah berumur sekitar 38 tahun, memiliki seorang suami dan tiga orang anak. Sesuai dengan permintaan dari Adriana sendiri yang tidak menginginkan dokter yang masih gadis menangani kesehatannya.


Dok Priya tersenyum penuh kelembutan sebelum berucap," Terima kasih Nona Prita."


"Sebaiknya Nyonya Muda dibawah ke dalam kamarnya saja, agar bisa beristirahat dengan tenang dan tidak kecapean," pinta Dokter Priya yang melihat raut wajahnya Adriana yang sudah memucat dan peluh keringat membasahi pipinya.

__ADS_1


"Baik Dokter," jawabnya Bu Dewi Mama mertuanya Adriana.


"Kamu harus banyak istirahat sayang, dengarkan apa yang disampaikan oleh dokter yah," ujarnya Bu Dewi dengan penuh lembut.


Adriana hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan sedikit lemah karena serasa tenaganya terkuras habis setelah beberapa kali memuntahkan semua makanan dan cairan bening yang ada di dalam perutnya itu.


"Maaf! Aku periksa dulu yah," Tutur Dokter Priya.


Adriana kembali hanya bisa mengangguk sambil tersenyum dengan perasaan yang masih sedikit merasakan mual yang kadang datang tiba-tiba. Dokter Priya pun mulai memeriksa keadaan dari Riana dengan penuh ketelitian dan sesekali melirik ke Nyonya Dewi.


Sedangkan Nyonya Dewi yang ditatap hanya menganggukkan kepalanya dan pasrah dengan apa yang akan terjadi. Beliau sudah kehabisan akal juga lagian tidak mungkin selamanya dia menutupi kebenaran dan kenyataan tentang kehamilannya Adriana. Dokter Priyatna tersenyum manis ke arah Adriana.


"Dokter apa sebenarnya yang terjadi padaku? Kenapa aku muntah-muntah terus setiap kali aku mencium aroma bumbu makanan? Apa aku punya penyakit yang berbahaya dokter?" Tanyanya yang penuh dengan kebingungan sekaligus keheranan dalam waktu yang bersamaan.


"Syukur Alhamdulillah.. kamu tidak memiliki riwayat penyakit apapun, kamu juga baik-baik saja hanya saja…," ucapan dokter sengaja dia jeda karena harus meminta jawaban persetujuan dari Nyonya Dewi terlebih dahulu.


"Alhamdulillah, tapi dokter kenapa aku muntah-muntah kalau memang aku tidak sakit?" Tanyanya lagi.


Tapi, dokter belum menjawab pertanyaan dari Adriana karena harus mencari jawaban yang paling baik dan tepat Agar Adriana bisa menerima nya.


Adriana spontan menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan apa yang ada di dalam pikirannya itu.


"Ini tidak mungkin!! Pasti aku tidak hamil?" Lirihnya Adriana yang mampu didengar oleh semua orang yang berada di dalam ruangan kamar pribadinya Adriana.


"Tidak!!!" Pekiknya Adriana.


...----------------...

__ADS_1


Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya dengan judul:



Dilema Diantara Dua Pilihan


Cinta dan Dendam


Pelakor Pilihan


Pesona Perawan


Cinta ceo Pesakitan


Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan


Menggenggam Asa


Kau Hanya Milikku



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all…


Tetap Dukung Cinta Kedua CEO dengan cara, Favoritkan, Rate Bintang 5, like Setiap Episodenya, gift seikhlasnya..


Mohon maaf jika banyak terdapat beberapa kesalahan dalam penulisannya atau typo yang meresahkan..

__ADS_1


.


__ADS_2