
"Forget the about one who coused the pain, Lupakan seseorang yang membuatmu sakit."
Pagi itu, mereka sedang duduk di depan meja makan karena sudah siap menyantap sarapan pagi mereka masing-masing. Hingga suara instruksi dari Nyonya Besar Dewi membuat mereka saling pandang dan melongok tidak percaya dengan perkataan dan penjelasan dari Bu Dewi.
"Ini ada dua tiket pesawat serta paket honeymoon untuk kalian berdua, Akmal dan Adriana," pungkas Nyonya Dewi.
Adriana spontan menatap ke arah suaminya yang seakan-akan bertanya apa maksud dari perkataan Ibu mertuanya itu sedangkan Akmal sudah tahu dan mengerti apa maksud dan rencana yang terselubung dibalik semua keputusan Mamanya tersebut.
"Ambillah Amplopnya dan Mama ingin besok pagi kalian harus berangkat Qatar untuk berbulan madu, Mama harap agar kalian bisa bersedia dan menerima permintaan Nenek tua ini," ujarnya Bu Dewi yang sengaja berpura-pura sendu.
Akmal sekali lagi menatap ke arah Adriana untuk meminta jawaban atas permintaan sekaligus permohonan dari Mamanya menunggunya itu. Bu Laila dan Pak Barata bersyukur dan bahagia jika mereka memenuhi permintaan dari besannya sekaligus adiknya itu.
"Semoga saja Adriana setuju dengan rencana bulan madunya, Ibu ingin melihat hubungan kalian lebih dekat lagi dan normal seperti layaknya pasangan suami istri lainnya yang ada di luaran sana Nak," batinnya Bu Laila Sari.
"Aku berharap dengan bulan madu itu, Akmal bersedia membuka pintu hatinya untuk putriku tercinta aku kasihan melihat rumah tangga mereka yang berpura-pura bahagia dan harmonis di depan kami padahal di dalamnya penuh dengan aura dingin," gumam Pak Barata.
"Tidak mungkin aku menolak permintaan Mama itu sama saja dengan mengecewakan dan membuat hatinya Mama sedih dan hal itu sangat tidak ingin aku lakukan ya Allah… tapi aku harus gimana nantinya jika kami akan berangkat bulan madu, apa lagi kami sama-sama tidak saling mencintai," lirihnya Akmal.
"Riana! Sayang apa kamu siap dan Setuju dengan rencana Mama ini?" Tanyanya Bu Dewi yang melihat kearah Adriana.
Dengan perlahan menghembuskan nafasnya dengan cukup kasar dan pasrah dengan keadaan ia pun berniat untuk menyetujui permintaan dari Ibu mertuanya itu.
"Insya Allah… aku siap pergi ke Qatar Ma, aku dan Maa Akmal pasti akan memenuhi permintaan dari Mama dan saya sangat bahagia dan bersyukur karena Mama menyempatkan waktu untuk memikirkan semua ini, iya kan Mas besok kami akan terbang ke Qatar?" Ujarnya Adriana sembari memegang tangan kirinya Akmal agar mereka tidak ketahuan jika hubungan mereka hanya sebatas kedua orang tuanya baby kembar tiga itu saja.
"Iya Ma! Kami besok akan pergi tapi kami minta untuk dibantu jagain ketiga anak-anak kami, karena aku yakin Adriana istriku pasti tidak akan tenang jika meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan yang tidak baik," timpal Akmal lalu mengecup punggung tangan istrinya itu.
__ADS_1
Adriana yang beberapa hari belakangan ini selalu mendapatkan perhatian dan perlakuan khusus dari Akmal membuat hatinya berdebar dan berdesir. Ia spontan memegang tubuh bagian dadanya itu.
"Kenapa hatiku dan dadaku bergetar dan berdetak kencang seakan-akan mau melompat dari tempatnya saja, tubuhku gemetar dan jantungku terasa memompa darahku dengan penuh irama seirama dengan dentang jarum jam di dinding," bathinnya Adriana yang wajahnya merah merona seperti layaknya buah ceri yang kemerahan.
"Semakin hari wajahnya semakin cantik saja padahal kadang hanya memakai makeup biasa dan alami dan terkesan natural, tapi mampu membuatku bahagia dan terasa ingin terbang ke langit tingkat tujuh," Akmal menbatin wajahnya berseri-seri.
Bu Dewi dan yang lainnya menatap kedua pengantin baru itu yang pastinya mereka sadari diantara mereka belum pernah merasakan indahnya malam pertama selama mereka sah dan sudah menjadi pasangan suami istri.
Mereka melanjutkan perbincangan santai mereka sambil sesekali menyantap makanan mereka. Tapi, suara cempreng dan suara hentakan kaki kecil dari anak kecil yang tiba-tiba datang dari arah belakang mereka.
"Bunda!!!" Teriak seorang anak kecil yang berlarian ke arah mereka.
Prita yang menyadari kedatangan bocah cilik itu yang ternyata adalah putri kandungnya membuat wajahnya langsung pucat pasi, keringat dingin membasahi pipinya dan mulai ketakutan jika rahasia besar yang selama hampir enam tahun itu dia sembunyikan.
Semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut segera mengarahkan pandangannya ke arah pelangi yang datang bersama dengan neneknya.
Sedangkan yang ditatap seperti itu hanya tersenyum sumringah menanggapi kearahnya Prita.
"Maafkan Bibi Nak, ini saatnya mereka mengetahui jika mereka memiliki cucu diluar sana yang sama sekali mereka tidak ketahui," cicitnya Bu Salma.
Bu Laila dan Pak Barata terkejut melihat wajah dari anak itu. Sedangkan Sam yang menyadari jika anak kecil itu yang berteriak Bunda ternyata berlari ke arah Prita yang langsung memeluk kakinya Prita yang sesuai dengan ukuran tingginya yang belum lima tahun itu.
"Prita!!" Lirihnya Sam.
"Salma!!" Ucap Bu Laila Sari yang menyadari jika wanita paruh baya itu adalah sahabat lamanya saat mereka sekolah di SMA.
__ADS_1
"Kenapa wajahnya mirip dengan seseorang, tapi apa hubungannya dengan Samuel? Karena aku masih mengingat dengan jelas foto masa kecilnya Sam karena akulah yang selalu menjaga dan menimangnya semasa kecilnya," Bu Dewi membatin dan tidak ingin percaya dengan apa yang dilihatnya itu.
......................
Jangan pernah bosan untuk baca novelnya Fania Yah..
Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya judulnya ada di bawah ini, ceritanya pasti berbeda dan tetap recehan tapi beda dengan novel author lainnya dan insya Allah menghibur..
Dilema Diantara Dua Pilihan
Pelakor Pilihan
Pesona Perawan
Cinta ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Kau Hanya Milikku
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all…
__ADS_1
Tetap Dukung Cinta Kedua CEO dengan cara, Favoritkan, Rate Bintang 5, like Setiap Episodenya, gift poin dan koin seikhlasnya.